NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5: Sentuhan Pertama

Meeting dengan klien berlangsung di sebuah restoran mewah di kawasan SCBD tempat yang biasanya hanya bisa Aluna lihat dari luar, tidak pernah terbayangkan untuk memasukinya. Restoran itu bernuansa klasik dengan lampu kristal besar menggantung di langit-langit, meja-meja kayu jati mengkilap, dan pelayan berseragam rapi yang melayani dengan sangat profesional.

Aluna berjalan di samping Arsen, langkahnya sedikit tertatih karena belum terbiasa dengan heels setinggi ini. Arsen sepertinya menyadarinya karena tanpa kata-kata, tangannya melayang ke pinggang Aluna menyentuh dengan ringan tetapi cukup untuk menstabilkan langkahnya.

Sentuhan itu membuat Aluna tersentak, tetapi ia tidak berani menolak. Tidak di depan orang banyak.

"Tenang," bisik Arsen di telinganya, suaranya rendah dan hanya untuk Aluna. "Percaya padaku."

Percaya pada seorang pria yang baru ia kenal dua hari? Pria yang telah mengontrol hidupnya dengan kontrak mencekik?

Mustahil.

Tetapi entah kenapa, sentuhan tangan Arsen di pinggangnya... membuat Aluna merasa sedikit lebih aman. Sedikit lebih stabil.

Dan itu membuatnya takut.

Mereka tiba di meja sudut yang sudah dipesan. Di sana, dua pria paruh baya dengan jas mahal sudah menunggu salah satunya tersenyum lebar melihat Arsen.

"Arsen! Lama tidak bertemu!" sapa pria itu sambil bangkit dan berjabat tangan dengan Arsen.

"Pak Hermawan," balas Arsen dengan senyum profesional senyum yang sangat berbeda dari ekspresi dinginnya saat berhadapan dengan Aluna. "Terima kasih sudah meluangkan waktu."

Pak Hermawan klien pemilik perusahaan developer yang ingin bekerja sama dengan Mahendra Property Group mengalihkan pandangannya pada Aluna. Matanya berbinar.

"Dan ini... siapa, Arsen? Kok cantik sekali?" tanyanya dengan nada bercanda yang sedikit... tidak nyaman.

Aluna merasakan tangan Arsen di pinggangnya mengerat tidak menyakitkan, tetapi jelas posesive.

"Aluna Pradipta," jawab Arsen dengan nada yang tiba-tiba dingin beberapa derajat. "Asisten pribadiku. Dan... orang yang sangat penting bagiku."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang membuat Pak Hermawan langsung paham ini bukan wanita yang boleh diganggu.

"Oh, asisten pribadi. Wah, beruntung sekali kamu, Arsen," ucap Pak Hermawan sambil tertawa canggung, lalu mengalihkan perhatiannya.

Mereka duduk Arsen di kursi utama, dan Aluna di sebelah kanannya. Sangat dekat. Terlalu dekat hingga paha mereka hampir bersentuhan di bawah meja.

Meeting dimulai. Pak Hermawan dan rekannya membahas proyek pembangunan apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan yang membutuhkan investasi dari Mahendra Property Group. Arsen mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang membuat klien itu harus berpikir keras untuk menjawab.

Aluna mencatat semua poin penting di tablet yang sudah disiapkan, berusaha fokus pada pekerjaannya. Tetapi konsentrasinya terus terganggu oleh kehadiran Arsen di sampingnya aroma cologne nya yang maskulin, cara ia sesekali menyentuh dagunya saat berpikir, dan... tangannya yang tiba-tiba menyentuh punggung kursi Aluna, jemarinya tanpa sadar (atau mungkin dengan sadar) menyentuh bahu telanjang Aluna yang terbuka karena potongan dress yang ia kenakan.

Sentuhan ringan itu membuat bulu kuduk Aluna berdiri.

Ia mencoba bergeser sedikit, tetapi tangan Arsen bergerak mengikuti seolah tidak ingin kehilangan kontak fisik itu.

"Aluna," panggil Arsen tiba-tiba, membuat Aluna terlonjak kecil.

"Y...ya?"

"Berikan tablet-mu. Aku perlu menunjukkan sesuatu pada Pak Hermawan."

Aluna menyerahkan tablet, dan saat jemari mereka bersentuhan dalam perpindahan benda itu, Arsen dengan sengaja menahan sentuhan lebih lama dari yang diperlukan. Matanya menatap Aluna sekilas tatapan yang membuat jantung Aluna berdetak tidak karuan.

Meeting berlangsung hampir dua jam. Saat hidangan penutup disajikan sebuah tiramisu mewah dengan garnish emas yang bisa dimakan Aluna hampir tidak menyentuh makanannya karena tegang.

Arsen menyadarinya.

Tanpa kata-kata, ia mengambil garpu, menusuk sepotong tiramisu, dan menyodorkannya pada Aluna.

"Makan," ucapnya pelan, tetapi itu adalah perintah.

Aluna menatap garpu yang tersodor itu, lalu menatap Arsen dengan mata membelalak. Pak Hermawan dan rekannya juga memerhatikan dengan tatapan penasaran.

"Arsen, saya bisa makan sendiri--"

"Makan," ulang Arsen, kali ini dengan nada yang tidak bisa ditolak.

Dengan wajah merona merah campuran malu dan marah Aluna membuka mulutnya dan membiarkan Arsen menyuapkan tiramisu itu. Rasanya manis, lembut, tetapi Aluna hampir tidak bisa menikmatinya karena kesadaran bahwa semua orang di meja memerhatikan mereka.

"Baik," gumam Arsen dengan senyum tipis yang puas.

Pak Hermawan tertawa.

"Wah, Arsen. Kamu sangat perhatian sekali sama asisten mu. Aku jadi iri," candanya.

Arsen tidak menjawab, tetapi tangannya kembali menyentuh pinggang Aluna di bawah meja kali ini lebih lama, lebih intens, jemarinya menekan lembut seolah mengatakan: Kamu milikku. Ingat itu.

Aluna menelan ludah, dadanya sesak.

Meeting berakhir dengan kesepakatan kerja sama. Pak Hermawan dan rekannya pamit dengan senyum puas. Arsen bangkit dari kursinya dengan gerakan anggun, dan Aluna mengikutinya.

Di luar restoran, Bentley hitam mereka sudah menunggu. Arsen membukakan pintu untuk Aluna gerakan gentlemen yang sangat kontras dengan sifat kontrolnya.

Aluna masuk, dan Arsen menyusul, duduk sangat dekat dengannya meski ada banyak ruang kosong di jok belakang yang luas.

Mobil melaju meninggalkan restoran. Suasana di dalam mobil sangat sunyi hanya terdengar deru halus mesin dan sesekali suara klakson dari luar.

Aluna menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran Arsen yang terlalu dekat. Tetapi ia bisa merasakan mata kelam itu menatapnya. Intens. Tidak berkedip.

"Kamu melakukan pekerjaan yang baik tadi," ucap Arsen tiba-tiba, memecah keheningan.

Aluna menoleh, sedikit terkejut dengan pujian itu.

"Terima kasih," balasnya pelan.

"Tetapi ada satu hal yang harus kita perbaiki."

Aluna mengernyit.

"Apa?"

"Cara kamu bereaksi saat aku menyentuhmu."

Jantung Aluna berdegup kencang.

"Maksud Anda?"

Arsen memutar tubuhnya menghadap Aluna sepenuhnya, satu lengannya terentang di sandaran kursi di belakang Aluna posisi yang membuat Aluna merasa terkurung.

"Kamu terlalu kaku. Terlalu tegang. Semua orang bisa melihat bahwa kamu tidak nyaman denganku," ucap Arsen dengan nada datar. "Itu... tidak baik untuk imageku."

Aluna menatapnya tidak percaya.

"Jadi... saya harus pura-pura nyaman meski sebenarnya tidak?"

"Bukan pura-pura," koreksi Arsen sambil mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh pipi Aluna dengan lembut sangat kontras dengan kata-kata kerasnya. "Aku ingin kamu benar-benar nyaman denganku, Aluna. Aku ingin... kamu terbiasa dengan sentuhanku."

Sentuhan di pipinya itu membuat napas Aluna tercekat. Jemari Arsen sangat hangat, sedikit kasar tangan seorang pria yang bekerja keras meski ia seorang CEO.

"Kenapa... kenapa sentuhan itu penting bagi Anda?" tanya Aluna dengan suara bergetar.

Mata kelam Arsen menatap dalam ke mata Aluna, dan untuk pertama kalinya, Aluna melihat sesuatu yang lebih dari sekadar dominasi di sana ada kekosongan, ada rasa sakit yang dalam, ada... ketakutan.

"Karena sentuhan adalah cara aku... memastikan kamu nyata," bisiknya pelan. "Memastikan kamu ada. Memastikan kamu tidak akan... menghilang."

Aluna terdiam, bingung dengan jawaban kritik itu.

Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, tangan Arsen turun dari pipinya ke dagunya, mengangkat wajah Aluna sehingga mata mereka bertemu sempurna.

"Mulai sekarang, aku akan sering menyentuhmu," ucap Arsen dengan nada final. "Tanganmu, pinggangmu, bahumu, rambutmu. Aku akan membiasakan tubuhmu dengan kehadiranku. Dengan kepemilikan ku."

"Saya bukan--"

"Kamu milikku," potong Arsen, suaranya menjadi lebih dalam, lebih gelap. "Mau kamu terima atau tidak, Aluna Pradipta... kamu sudah menjadi milikku sejak kamu menandatangani kontrak itu. Dan aku... tidak pernah melepaskan apa yang menjadi milikku."

Tangannya bergerak dari dagu Aluna ke tengkuknya, jemarinya terbenam di rambut Aluna yang terurai, memijat lembut kulit di sana dengan gerakan yang terlalu... intim untuk sekadar atasan dan bawahan.

Aluna seharusnya menolak. Seharusnya menepis tangan itu. Seharusnya protes.

Tetapi tubuhnya... berkhianat.

Tubuhnya meleleh pada sentuhan itu, otot-ototnya yang tegang perlahan melemas, dan yang paling menakutkan ada bagian kecil di dalam hatinya yang... menikmati perhatian ini.

Tidak. Ini salah.

Aluna memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kekuatan.

"Arsen, tolong... ini terlalu cepat. Saya... saya butuh waktu--"

"Waktu?" Arsen tertawa pelan, tetapi tidak ada kehangatan di tawa itu. "Kita punya enam bulan, Aluna. Dan percayalah, enam bulan itu akan terasa sangat... singkat."

Tangannya masih di tengkuk Aluna, jempolnya mengelus tulang belakang Aluna dengan gerakan naik-turun yang membuat Aluna menggigil.

"Kamu merasakannya, bukan?" bisik Arsen, bibirnya sangat dekat dengan telinga Aluna. "Sentuhan ini. Kamu... merasakannya."

Aluna tidak bisa menjawab. Kerongkongannya terasa tercekik.

Karena Arsen benar.

Ia merasakannya.

Setiap sentuhan, setiap usapan lembut, setiap hembusan napas Arsen di kulitnya semuanya membuat tubuh Aluna bereaksi dengan cara yang tidak ia mengerti. Jantungnya berdetak terlalu cepat, kulitnya terasa terbakar di mana pun Arsen menyentuh, dan ada sensasi aneh di perut bawahnya sensasi yang membuatnya takut sekaligus... penasaran.

"Lihat," gumam Arsen sambil tangan bebasnya meraih pergelangan tangan Aluna pergelangan yang terpasang jam tangan pemberian Arsen. Jemarinya menyentuh nadi di sana, merasakan detak jantung Aluna yang berpacu. "Tubuhmu tidak berbohong, Aluna. Ia bereaksi padaku. Ia... mengenalku."

"Itu... itu bukan--"

"Itu takut?" tebak Arsen. "Atau... sesuatu yang lain?"

Aluna membuka matanya, menatap Arsen dengan tatapan berkaca-kaca campuran frustrasi, kebingungan, dan sesuatu yang lebih rumit.

"Saya tidak mengerti apa yang Anda inginkan dari saya," bisiknya putus asa.

Arsen terdiam lama, menatap Aluna dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu perlahan, tangannya meninggalkan tengkuk Aluna dan turun ke bahunya, meremas lembut.

"Aku ingin... segalanya," jawabnya jujur. "Waktumu, pikiranmu, perhatianmu, tubuhmu. Aku ingin kamu memikirkan aku setiap saat. Aku ingin namaku menjadi hal pertama yang kamu ucapkan saat bangun dan hal terakhir sebelum kamu tidur. Aku ingin... kamu tidak bisa hidup tanpa aku, seperti aku tidak bisa hidup tanpa... ini."

Tangannya menggenggam tangan Aluna, mengarahkannya ke dada Arsen tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat.

Aluna bisa merasakan detak itu kuat, cepat, hidup.

"Apa kamu merasakannya?" tanya Arsen dengan suara serak. "Jantung ini... hanya berdetak untukmu sekarang."

Aluna menarik tangannya dengan cepat, seolah terbakar.

"Anda gila," bisiknya.

"Mungkin," Arsen mengakui dengan senyum tipis yang menyeramkan. "Tapi itu tidak mengubah kenyataan, Aluna. Kamu sudah menjadi... obsesiku."

Kata itu obsesi membuat Aluna merinding dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mobil berhenti. Mereka sudah tiba di Mahendra Tower.

Arsen keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya pada Aluna tawaran bantuan yang lebih terasa seperti perintah.

Aluna menatap tangan itu tangan besar, kuat, dengan jari-jari panjang yang beberapa menit lalu menyentuh kulitnya dengan cara yang terlalu intim.

Dengan ragu, ia meletakkan tangannya di tangan Arsen.

Dan saat jemari mereka bertautan, Arsen menggenggam erat terlalu erat, seolah takut Aluna akan lepas.

Mereka berjalan memasuki gedung dengan tangan masih bertautan. Beberapa karyawan yang melihat menatap dengan ekspresi terkejut Arsen Mahendra yang terkenal dingin dan tidak pernah dekat dengan siapa pun, sekarang memegang tangan seorang wanita muda dengan sangat... posesive.

Di lift eksekutif, saat hanya tinggal berdua, Arsen tidak melepaskan tangan Aluna. Ia malah menarik Aluna lebih dekat, hingga punggung Aluna menyentuh dada bidangnya.

"Arsen..." Aluna mencoba protes, tetapi suaranya lemah.

"Ssshh," bisik Arsen sambil tangannya yang bebas melingkari pinggang Aluna dari belakang posisi yang sangat intim, sangat posesive. "Biasakan, Aluna. Biasakan dengan sentuhanku. Karena mulai sekarang... aku akan sering menyentuhmu."

Napas hangatnya menerpa leher Aluna, membuat bulu kuduk Aluna berdiri. Tubuh Aluna menegang, tetapi Arsen malah semakin mengeratkan pelukannya bukan pelukan kasar, tetapi pelukan yang... protektif.

"Kamu tidak perlu takut," gumam Arsen di telinga Aluna. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya... ingin kamu terbiasa denganku. Dengan tubuhku. Dengan kehadiranku."

"Ini... ini tidak normal," bisik Aluna, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku tahu," jawab Arsen jujur. "Tapi aku tidak peduli tentang normal, Aluna. Aku hanya peduli tentang... memilikimu."

Lift berhenti di lantai 38. Pintu terbuka, tetapi Arsen tidak langsung melepaskan Aluna. Ia menahan pelukan itu beberapa detik lebih lama seolah enggan melepaskan sebelum akhirnya melonggarkan lengannya.

Aluna langsung melangkah keluar, dadanya naik-turun karena napas yang tidak teratur. Ia merasakan seluruh tubuhnya gemetar bukan hanya karena takut, tetapi karena sensasi-sensasi aneh yang ditinggalkan sentuhan Arsen di kulitnya.

Ia bisa merasakan hangatnya pelukan itu masih menempel di tubuhnya. Bisa merasakan bekas jemari Arsen di pinggangnya. Bisa merasakan napas hangat Arsen di lehernya.

Dan yang paling menakutkan:

Sebagian kecil dari dirinya... merindukan sentuhan itu.

Malam itu, di rumahnya yang kecil di Tangerang, Aluna duduk di tepi tempat tidur sambil menatap jam tangan Cartier di pergelangan tangannya.

Jam itu berkilauan di bawah cahaya lampu kamar indah, mahal, tetapi terasa berat. Seperti belenggu.

Aluna mencoba melepaskannya, tetapi tangannya berhenti.

Kata-kata Arsen terngiang di telinganya: "Jangan pernah lepas jam tangan itu. Itu penanda bahwa kamu di bawah perlindunganku."

Atau lebih tepatnya, penanda kepemilikan.

Aluna menarik napas panjang dan membiarkan jam itu tetap di pergelangan tangannya.

Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, dan tanpa ia sadari, tangannya terangkat menyentuh pipinya sendiri, tepat di tempat Arsen menyentuhnya tadi di dalam mobil.

Kulitnya masih terasa hangat di sana.

Masih terasa... hidup.

"Apa yang terjadi padaku?" bisiknya pada kegelapan.

Tetapi kegelapan tidak menjawab.

Hanya ada gema dari kata-kata Arsen yang terus berputar di kepalanya:

"Kamu milikku."

"Kamu milikku."

"Kamu milikku."

Dan yang paling menakutkan dari semuanya sebagian kecil dari hati Aluna mulai... mempercayainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!