Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI BALIK SENYUM
Kamis sore, Rajendra duduk di kafe kecil dekat Blok M menunggu Bu Ratna.
Kafe dengan interior kayu minimalis, tanaman gantung di sudut-sudut ruangan, aroma kopi yang kuat tercampur dengan suara obrolan pelan pengunjung lain.
Rajendra pesan americano, duduk di meja pojok dekat jendela, laptop terbuka di depannya meski tidak sedang dikerjakan. Hanya untuk terlihat sibuk sambil menunggu.
Sepuluh menit kemudian, seorang wanita masuk ke kafe, melihat sekeliling, lalu berjalan menuju meja Rajendra.
Wanita berusia sekitar empat puluhan, rambut sebahu diikat setengah, pakai blazer abu-abu dan celana bahan hitam, tas kulit coklat di bahu, kacamata tipis bertengger di hidung.
"Rajendra Baskara?" tanyanya dengan senyum ramah.
Rajendra berdiri, mengulurkan tangan.
"Iya, Bu. Bu Ratna?"
"Betul. Senang bertemu Anda."
Mereka berjabat tangan, lalu duduk.
Bu Ratna memesan cappuccino, lalu membuka tas kerjanya, mengeluarkan tablet dan stylus.
"Jadi," katanya langsung to the point. "Pak Hartono bilang Anda punya startup e-commerce dan butuh bantuan untuk legal structure. Bisa cerita lebih detail?"
Rajendra menjelaskan LokalMart dari awal. Konsep, model bisnis, funding yang baru didapat, rencana launch, kontrak dengan seller dan logistik partner.
Bu Ratna mendengarkan sambil mencatat di tablet-nya, sesekali bertanya untuk klarifikasi.
"Untuk investor agreement, Anda sudah tanda tangan term sheet?" tanya Bu Ratna.
"Belum. Baru terima draft minggu lalu. Rencananya signing minggu depan."
"Boleh saya lihat draft-nya?"
Rajendra membuka laptop, forward email dari Richard ke Bu Ratna.
Bu Ratna membaca di tablet-nya, scroll pelan, sesekali berhenti untuk highlight bagian tertentu.
Setelah sepuluh menit, dia bicara.
"Overall term sheet-nya standard. Anti-dilution clause-nya weighted average, itu fair. Board seat satu untuk investor juga wajar. Tapi ada satu clause yang perlu Anda perhatikan."
"Yang mana?"
Bu Ratna menunjuk ke salah satu paragraf.
"Ini. Vesting schedule untuk founder equity. Disini ditulis kalau Anda sebagai founder harus stay di perusahaan minimal dua tahun. Kalau Anda keluar sebelum dua tahun, sebagian equity Anda bisa di-buyback oleh investor dengan harga tertentu."
Rajendra membaca bagian itu lebih teliti.
"Itu masalah?"
"Tergantung. Kalau Anda yakin Anda akan stay minimal dua tahun, tidak masalah. Tapi kalau ada sesuatu yang bikin Anda harus keluar, misalnya masalah kesehatan, masalah keluarga, atau force majeure lainnya, Anda bisa kehilangan sebagian equity. Saya sarankan negotiate clause ini. Minta pengecualian untuk kondisi tertentu."
Rajendra mengangguk, mencatat mental.
"Oke. Saya akan discuss dengan Richard."
"Bagus. Untuk kontrak seller dan logistik partner, Anda sudah punya draft?"
"Belum. Sejauh ini cuma verbal agreement."
Bu Ratna menggeleng pelan.
"Itu berisiko. Kalau ada dispute nanti, Anda tidak punya legal ground. Saya akan buatkan template standard contract untuk kedua-duanya. Seller agreement dan logistik service agreement. Anda tinggal isi detail spesifik untuk masing-masing partner."
"Berapa biayanya?"
"Untuk contract template, flat fee lima juta untuk dua jenis kontrak. Untuk review investor agreement, tiga juta. Total delapan juta. Anda bisa bayar setelah dokumen selesai."
Rajendra berpikir sebentar. Delapan juta bukan kecil, tapi ini investasi yang perlu.
"Deal. Kapan bisa selesai?"
"Minggu depan. Saya kirim draft ke Anda untuk review, Anda kasih feedback, saya revisi, lalu finalize."
"Perfect."
Mereka ngobrol lebih lanjut tentang detail legal lainnya, seperti employment agreement untuk tim, NDA untuk data sensitif, dan terms of service untuk platform.
Jam lima sore, meeting selesai. Bu Ratna bersiap pulang.
"Oh ya," kata Bu Ratna sebelum berdiri. "Pak Hartono juga cerita sedikit tentang kasus pengadilan Anda. Tentang warisan."
Rajendra menatapnya.
"Iya. Masih berjalan. Sidang berikutnya seminggu lagi."
"Semoga lancar. Kasus warisan itu always tricky, apalagi kalau involve keluarga besar dan uang banyak. Saran saya, apapun yang terjadi di pengadilan, jangan bawa emosi. Tetap fokus ke fakta dan bukti."
"Saya usahakan."
Bu Ratna tersenyum, lalu pergi.
Rajendra duduk sebentar lagi di kafe, menghabiskan americano-nya yang sudah dingin.
Pikirannya melayang ke sidang seminggu lagi.
Hartono bilang mereka punya bukti kuat. Ahli grafologi. Surat keputusan IDI. Dr. Sutanto sebagai saksi ahli.
Tapi Rajendra tahu Daniel Kusuma tidak akan menyerah begitu saja.
Pasti ada sesuatu yang Daniel siapkan.
Pasti ada jebakan lain.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Bos, gue udah finalize konten social media buat soft launch minggu depan. Lu mau review?"
Rajendra mengetik balasan.
"Kirim link-nya. Gue review malem ini."
"Siap. Oh ya, besok lu ke networking event kan? Gue ikut gak?"
Rajendra berpikir sebentar.
Networking event itu mostly investor dan founder lain. Dina sebagai marketing lead mungkin bisa benefit juga, tapi quota invitation biasanya terbatas.
"Lu ada invitation?"
"Gak. Tapi kalau lu bisa bawa plus one, gue mau ikut. Good opportunity buat expand network juga."
"Oke. Gue tanya Anton dulu."
Rajendra menelepon Anton.
Nada sambung berbunyi dua kali, Anton mengangkat.
"Rajendra, ada apa?"
"Pak Anton, untuk networking event besok, saya bisa bawa marketing lead saya gak? Nama dia Dina."
"Oh, bisa. Setiap founder bisa bawa satu orang dari tim. Tapi konfirmasi ke panitia dulu ya, biar nama dia masuk guest list."
"Oke. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Oh ya, besok datang agak pagi. Jam tiga itu opening speech, tapi sebelumnya ada mingling session mulai jam dua setengah. Itu waktu paling bagus untuk networking sebelum acara formal mulai."
"Siap."
Sambungan terputus.
Rajendra balas pesan Dina.
"Oke, lu bisa ikut. Besok kita berangkat bareng. Jemput lu jam dua."
"Asik! Thanks bos!"
Rajendra tersenyum kecil, lalu menutup ponselnya.
Besok adalah hari penting lagi.
Networking dengan investor dan founder lain bisa buka peluang baru. Partnership baru. Mungkin investor tambahan.
Tapi juga bisa jadi tempat dimana musuh mengintai.
Karena di dunia startup, tidak semua orang yang tersenyum itu teman.
Sebagian dari mereka adalah kompetitor yang sedang cari celah.
Malam itu, di rumah keluarga Baskara, Dera duduk di ruang kerja Julian dengan laptop terbuka.
Julian duduk di seberangnya, wajahnya terlihat lelah tapi matanya fokus ke layar laptop.
"Ini," kata Dera sambil memutar laptop supaya Julian bisa lihat. "Invoice palsu dari vendor fiktif. Seolah-olah Rajendra udah order server dan infrastructure senilai dua ratus juta, tapi barangnya gak pernah datang karena uangnya dia pakai untuk hal lain."
Julian menatap layar, membaca invoice itu.
Terlihat legitimate. Ada logo vendor, ada detail item, ada nomor invoice, ada tanggal.
"Ini kelihatan asli," komentar Julian.
"Memang harus kelihatan asli. Kalau investigasi jalan, mereka akan trace invoice ini. Kita udah siapkan vendor fiktif dengan alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Orang yang angkat telepon akan konfirmasi bahwa mereka pernah bikin invoice ini tapi pembayaran belum masuk."
"Terus?"
"Terus kita juga bikin bukti transfer palsu dari rekening pribadi Rajendra ke rekening pribadi lain yang seolah-olah untuk beli barang mewah. Mobil, misalnya. Atau properti. Sesuatu yang clearly bukan untuk operational perusahaan."
Julian diam, wajahnya berubah tidak nyaman.
"Dera, ini... ini terlalu jauh. Ini bisa hancurkan masa depan Rajendra selamanya."
Dera menatap Julian dengan tatapan tajam.
"Ayah mau kehilangan perusahaan? Mau kehilangan semua yang Ayah bangun selama puluhan tahun? Atau mau fight dengan cara apapun?"
Julian diam lama.
Lalu dia menghela napas panjang.
"Lakukan. Tapi pastikan ini gak bisa di-trace balik ke kita."
"Saya jamin."
Dera menutup laptop, lalu berdiri.
"Besok Rajendra akan ke networking event di Hotel Mulia. Saya akan ada di sana juga. Saya akan observe dia, lihat siapa aja yang dia kenal, siapa aja yang bisa jadi ally atau enemy."
"Kamu diundang?"
"Saya punya koneksi. Easy."
Dera berjalan keluar ruangan, meninggalkan Julian sendirian.
Julian duduk diam, menatang foto di meja kerjanya.
Foto keluarga. Diambil sepuluh tahun lalu. Dimas Baskara di tengah, tersenyum lebar. Julian di sebelahnya. Ririn dengan senyum lembut. Dan Rajendra, masih anak SMP waktu itu, senyum polos tanpa beban.
Julian menatap wajah Rajendra di foto itu.
Anak yang dulu sangat dia sayangi. Anak yang dulu selalu dengarkan dia. Anak yang dulu percaya semua yang dia bilang.
Sekarang jadi musuh.
Dan Julian tidak tahu kapan semuanya jadi serusak ini.
Dia menutup mata, menarik napas dalam.
Terlambat untuk mundur sekarang.
Terlambat untuk minta maaf.
Yang bisa dia lakukan hanya jalan terus.
Sampai salah satu dari mereka kalah.
Di apartemen kecilnya, Dina duduk di sofa dengan laptop, sedang finalize posting social media untuk soft launch LokalMart minggu depan.
Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di pekerjaan.
Dia buka tab browser lain, Google search tentang "Rajendra Baskara pengadilan warisan".
Beberapa artikel berita muncul. Kebanyakan dari media bisnis lokal.
"Konflik Internal Keluarga Baskara: Cucu Gugat Ayah Kandung"
"Warisan Miliaran Dimas Baskara Jadi Rebutan Keluarga"
"Rajendra Baskara Keluar dari Grup Baskara, Mulai Startup Sendiri"
Dina membaca artikel-artikel itu satu per satu.
Semakin dia baca, semakin dia paham betapa rumitnya situasi Rajendra.
Bukan cuma soal uang. Bukan cuma soal warisan.
Tapi soal keluarga yang hancur. Soal kepercayaan yang dikhianati. Soal anak yang harus melawan ayahnya sendiri demi keadilan.
Dan Rajendra tidak pernah cerita semua ini ke tim.
Dia tetap kerja seperti biasa. Tetap fokus. Tetap tenang.
Seolah-olah tidak ada beban berat di pundaknya.
Tapi Dina tahu, tidak ada orang yang bisa carry beban seberat itu tanpa impact.
Pasti ada saat-saat Rajendra hampir patah. Pasti ada malam-malam dia tidak bisa tidur. Pasti ada waktu dia ragu apakah semua ini worth it.
Tapi dia tidak pernah tunjukkan itu.
Karena dia leader. Dan leader tidak boleh terlihat lemah di depan timnya.
Dina menutup laptop, berdiri, berjalan ke dapur kecil, membuat teh hangat.
Sambil menunggu air mendidih, dia menatap jendela apartemennya yang menghadap ke gedung-gedung tinggi Jakarta.
Besok dia akan ikut Rajendra ke networking event.
Dan dia akan pastikan dia support Rajendra dengan cara apapun yang dia bisa.
Bukan cuma sebagai employee.
Tapi sebagai teman.
Karena kadang, yang orang butuh bukan advice atau solusi.
Tapi seseorang yang ada di samping mereka.
Seseorang yang bilang, "Gue percaya sama lu. Dan gue akan ada di sini."
Dan Dina akan jadi orang itu untuk Rajendra.
[ END OF BAB 19 ]