Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Tes DNA
Hanin membaca hasil tes DNA itu dengan tangan gemetar. Perasaan campur aduk antara bahagia dan juga sedih. Seharusnya dia bahagia pada akhirnya berhasil menemukan ayah kandung yang selama ini dicarinya. Namun, ada satu hal yang membuatnya tak bahagia, ayahnya bukan hanya miliknya, tapi ada keluarga lain yang juga butuh perhatian dan kasih sayangnya.
“Kenapa kamu terlihat tidak bahagia, Hani, apa ada yang salah dengan hasilnya?” tanya Awan.
Hanin menggeleng, “Bukan, Kak. Hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.”
“Lalu?”
“Entah, mungkin karena aku bukan satu-satunya putrinya. Ayahku bukan hanya milikku,” ungkapnya dengan wajah murung.
“Karena ibu dan adik tirimu kau merasa tak nyaman?”
Hanin terdiam. Awan memahami apa yang dirasakan Hanin.
“Bukan tak senang dengan kehadiran mereka, tapi keadaan ini tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku kira setelah bertemu dengan ayah aku bisa membawanya ke Indonesia, atau aku tinggal bersamanya dan mendapatkan kasih sayang yang utuh. Sekarang jika aku datang ke rumah mereka, mungkin aku yang merasa tak nyaman, atau mereka tidak suka dengan kehadiranku.”
“Lalu apa yang kamu harapkan setelah tahu semua ini?”
“Aku ...,”
“Jangan bilang kau tidak mau tinggal dengan ayah,” ucap Aariz yang semenjak tadi sudah hadir di tempat itu dan mendengar semuanya. Pria itu menghampiri mereka dan menatap Hanin. “Apa semua ini tidak cukup membuatmu bisa tinggal dengan ayah?”
“Aku merasa senang sudah mengetahui kau adalah ayahku, awalnya aku pikir aku akan membawa ayah ke Indonesia dan memberitahukan semua orang bahwa aku juga punya ayah. Aku bukan anak yang tidak jelas dan bukan hasil hubungan gelap.” Hanin menundukkan wajah hingga air mata jatuh di lantai.
Pria di hadapannya membuang pandangannya berusaha tak menunjukkan luka di hatinya. Setiap keli mendengar Hanin mengatakan tuduhan orang-orang terhadapnya, hatinya terasa sangar sakit, tapi dia adalah pria yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan putrinya.
“Bolehkah ayah memelukmu?” ucapnya lirih sembari mengulurkan tangannya.
Hanin menoleh pada Awan seakan meminta persetujuannya, pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya.
Pandangan Hanin kembali pada pria itu. Pria yang masih terlihat begitu asing baginya, tapi tak bisa dipungkiri dia adalah ayahnya. Hanin mengangguk pelan, pria itu langsung memeluknya, merengkuh tubuhnya dalam pelukannya sangat erat.
‘Seperti inikah rasanya memiliki ayah kandung, pria yang selama ini aku bayangkan akan menjagaku dan melindungiku. Apakah dia akan sebaik Papa Elvan? Apakah dia akan mengasihiku dengan tulus seperti yang aku harapkan?’
Hanin memejamkan matanya sesaat, bulir air mata kembali jatuh di pipinya hingga jatuh menimpa bahu ayahnya. Kedua tangannya mencoba membalas memeluk pria itu.
“Maafkan ayah, Nak. Ayah tahu ayah sudah salah selama ini karena tak bisa menjagamu, tapi kau harus percaya selama ini ayah sudah berusaha mencarimu. Ayah tak pernah sengaja mengabaikanmu.”
Hanin menarik tubuhnya menjauh dari pria itu.
“Ayah bohong, sekarang Hani sudah delapan belas tahun, apakah waktu sepanjang itu tidak cukup untuk ayah mencariku. Kak Awan saja hanya butuh beberapa bulan sudah bisa menemukan ayah.”
“Situasinya berbeda, Nak.”
“Jelas berbeda, karena Ayah tidak bersungguh-sungguh untuk menemukan Hani dan ibu. Bahkan hanya tiga tahun ayah sudah melupakan ibu dengan menikahi wanita lain.”
“Kamu tidak mengetahui kejadiannya, kamu hanya tahu ayah sudah menikah. Kalau kau tidak buru-buru pulang dan mau tinggal dengan ayah, ayah pasti menceritakan semuanya.”
“Kalau begitu sekarang saja, dan jelaskan kenapa ayah menikah lagi?”
Sebelum menjawab pertanyaan Hanin, Amaan datang menghampiri mereka dan berbicara pelan dengan raut wajah tegang.
“Barusan Manajer menghubungi saya, dia mengatakan Anda harus segera kembali ke kantor karena ada janji bertemu tamu penting.”
“Bertemu Pak Hendrik, bukankah aku sudah meminta Manajer untuk menunda pertemuannya?” Aariz terlihat kesal.
“Saya tidak tahu, Tuan, tapi itulah yang dikatakan Manajer. Kalau Anda tidak datang, kemungkinan Pak Hendrik akan marah dan membatalkan kerja sama.”
Hanin sedikitnya mendengar pembicaraan ayahnya dan Amaan dan masalah apa yang membuat ayahnya kebingungan.
“Sebaiknya Ayah pergi. Apa yang menjadi tujuan Hani dan Ayah di sini sudah terlaksana. Hani sudah tahu kau adalah ayahku.”
“Tapi ayah masih ingin bersamamu Hani, bagaimana kalau kau ikut ayah saja.”
“Tidak bisa, Ayah.”
“Kalau begitu Amaan akan mengantar kalian pulang ke rumah ayah, kalian bisa menunggu ayah di rumah. Ayah janji akan pulang lebih cepat.”
Usai mengatakan itu Aariz langsung pergi tanpa mendengar apakah Hanin menyetujuinya atau tidak. Meskipun Aariz telah menjanjikan seperti itu, Hanin merasa tidak tertarik untuk pergi ke rumah ayahnya di mana ada wanita lain dan putrinya. Namun, dia tak mau egois dan mengucapkannya langsung yang mengganggu langkah ayahnya bekerja.
“Kalian berdua kembali ke hotel, dan bersiap-siap. Setelah makan siang aku akan datang menjemput kalian,” pesan Amaan.
Hanin tak menanggapi, dirinya tidak yakin akan tinggal di Kairo bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Jadi, dia membiarkan Amaan pergi menyusul Aariz.
Setelah dua pria itu pergi, Hanin dan Awan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke hotel.
Langkah mereka begitu dingin, tak ada pembicaraan di sepanjang koridor rumah sakit, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Awan masih menggenggam kertas hasil tes DNA dirinya dengan Aariz. Langkahnya terasa berat. Tatapannya kosong. Hanin baru menyadari sikap Awan saat kakaknya nyaris bertabrakan dengan pasien di kursi roda. Awan tersadar dan meminta maaf sesaat lalu melanjutkan langkahnya.
Menyadari sikap Awan yang aneh Hanin bertanya, “Kakak baik-baik saja? Kakak sedang memikirkan apa sampai tidak melihat jalan?”
“Bukan apa-apa,” jawabnya lalu mempercepat langkahnya.
“Tunggu, Kak!” cegah Hanin. Dia baru menyadari kertas di tangan Awan. Kakaknya juga memegang hasil tes DNA dia dan Aariz, tapi Hanin lupa bertanya bagaimana hasilnya karena terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri.
Hanin menyusul kakaknya lalu merebut kertas itu dan membaca hasilnya. Saat Awan ingin merebutnya kembali sudah terlambat, Hanin sudah mengetahui hasilnya.
“Jadi benar kakak bukan anak kandung pria itu?”
Awan tertegun beberapa saat. Pertanyaan Hanin dibiarkan mengambang, lalu pergi begitu saja setelah berhasil mengambil kertas itu kembali.
“Tunggu, Kak! Jawab dulu pertanyaan Hani!” teriak Hanin sambil mengejar Awan yang langkahnya begitu cepat. Sayangnya Awan terus mengabaikannya hingga mereka tiba di halaman rumah sakit.
Hanin menghampiri Awan yang raut wajahnya terlihat tak bersahabat. Ia bahkan meremas kertas di tangannya hingga kusut. Dengan hati-hati Hanin menghampirinya, meraih lengan Awan.
“Hani minta maaf karena sibuk dengan urusan Hani sendiri, Hani tahu bagaimana perasaan Kakak, tapi kita masih kakak adik jadi kalau ada masalah kakak bisa cerita padaku.”
Mendengar ucapan Hanin yang manja, tekanan darah di kepalanya yang sebelumnya tinggi seakan perlahan menurun. Awan berusaha mengulas senyum di wajahnya.
“Tidak apa-apa, bukankah sebelumnya kita sudah tahu kalau kemungkinan Aariz itu bukan ayahku. Yang jadi pertanyaannya saat ini siapa ayah kandungku yang sebenarnya dan mengapa dia berpisah dengan ibu saat itu?”
“Apa kak Awan berniat mencarinya? Nanti biar kita cari sama-sama.”
“Itu mana mungkin, kau akan tinggal di sini bersama ayahmu, bukan?”
“Siapa bilang?” Hanin memanyunkan bibirnya.
“Maksudmu kau tidak mau tinggal dengan ayah Aariz?”
Hani mengangguk.
“Kenapa? Jangan bilang kau tidak senang dengan ayah Aariz dan lebih memilih tinggal dengan keluarga Elvan Wijaya.”
“Aku suka Ayah, tapi aku tidak mau tinggal bersama ibu tiri dan anaknya jadi aku memutuskan untuk pulang saja, toh aku sudah punya bukti kalau aku bukan anak dengan identitas tidak jelas. Ayah dan ibuku menikah dengan sah.”
“Tapi kau sudah jauh-jauh mencarinya bagaimana kamu bisa mengambil keputusan seperti itu, ayahmu pasti sedih kalau kau menolak tinggal bersamanya.”
“Dia ada keluarga yang menjaganya, Hani juga punya keluarga Elvan Wijaya, dia pasti mengerti.”
Awan menggeleng. “Aku tidak yakin,” ucapnya ragu. “Tapi aku juga senang kalau kau mau ikut kakak pulang jadi, nanti kita bisa kuliah sama-sama lagi.”
Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit As Salam kembali ke hotel sembari menikmati perjalanan. Singgah di beberapa toko, lalu menghabiskan waktu dengan makan siang di restoran di luar hotel.
Mereka tiba di hotel pukul satu siang lalu beristirahat sebelum keluar dari hotel sore harinya sekitar pukul tiga sore.
“Kamu yakin dengan keputusanmu untuk pulang ke Yogya?” Sekali lagi Awan meyakinkan Hanin untuk mengambil keputusan dalam keadaan tidak emosi.
“Aku yakin, yang terpenting saat ini aku sudah tahu siapa ayahku, jadi saat aku ingin bertemu dengannya aku tinggal mencarinya.”
Awan menghela nafasnya, meski Hanin yakin, tapi perasaannya mengatakan Aariz tidak akan membuat Hanin pergi begitu saja.
Se perginya Hanin dan Awan dari hotel, Amaan, laki-laki itu datang dengan langkah yang terburu-buru menuju kamar hotel. Tiba di sana dia sudah mendapati kamar itu kosong, seorang petugas hotel tengah sibuk merapikan ruangan itu.
“Where are the two people who occupied this room, Miss?” tanya Amaan.
“They just left the hotel ten minutes ago.”
“Thank You.”
Amaan kebingungan, dia tidak tahu ke mana dua anak muda itu pergi. Padahal dia sudah meminta mereka untuk menunggu.