Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Hari berganti kini Nabila harus menjalani kehidupannya seperti biasa. Setelah mendapatkan 600$, dia membayar sebagian uang sekolah yang tertunggak. Menjelang akhir masa sekolah, Nabila perlu mengumpulkan uang lebih banyak agar bisa menyelesaikan studi hingga tingkat Sekolah Menengah Atas.
"Kau ingin kemana?" tanya Hariyanto sang ayah kepada Nabila.
"Sekolah," jawab Nabila singkat.
"Berhentilah sekolah! Itu tidak akan membuatmu kaya! Kau harus menghasilkan uang banyak untuk Ayah!" ucap Hariyanto dengan nada menyuruh.
Nabila hanya menganggapnya omong kosong – dia sudah muak dengan kehidupan yang selalu diperintah oleh ayahnya. Seperti biasa, dia berangkat sekolah menggunakan motornya, melintasi jalan yang tampak sepi. Pagi ini tampaknya dunia masih bersahabat dengannya.
Di tempat lain, Reynaldo sedang fokus bekerja di depan komputer kantornya. Dia sudah berada di sana sejak subuh, terus bekerja tanpa henti.
"Tuan! Mereka tidak mau melepaskan kawasan itu sama sekali!" ucap salah satu pengawal.
"Mereka masih melakukan transaksi di sana?" tanya Reynaldo.
"Iya tuan, bahkan mereka tetap ingin menggunakan daerah itu untuk bisnis mereka!" jawab pengawal itu.
"Habisi saja semua! Jangan biarkan mereka hidup!" umpat Reynaldo dengan wajah memerah kemarahan.
"Baik tuan!" pengawal itu pergi meninggalkan ruangan.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan – Raden Wijaya, ayah Reynaldo.
"Apa kau akan terus bekerja setiap hari saja?" tanyanya. "Hem..." jawab Reynaldo singkat.
"Jika orang tua bicara, tolong perhatikan!" teriak Raden Wijaya sambil melempar sebuah pisau ke arahnya. Reynaldo dengan cepat menghindar.
"Apa kau akan membunuh putramu di kantor sendiri!" ucap Reynaldo dengan nada dingin. Sejak ibunya meninggal, dia menjadi sangat pendiam dan dingin. Terlebih setelah hanya satu tahun ibunya pergi, ayahnya langsung menggandeng wanita lain untuk menggantikan posisi nyonya istana.
"Hentikan omong kosongmu! Ingat Reynaldo, wanita bukan hanya dia satu saja! Nikahlah dengan Sophia Wijaya – itu akan sangat menguntungkan bagimu dan keluarga!" ucap Raden Wijaya.
"Jangan campuri hidupku! Semua yang aku punya ini hasil jerih payahku sendiri, aku tidak butuh bantuanmu! Sekarang, pergilah keluar dari ruangan ini!" umpat Reynaldo kepada ayahnya.
"Ingat Naldo, kau adalah putraku! Kau harus mendengarkan perkataanku!"
"Jangan berpura-pura jadi ayah yang baik! Pergilah atau pengawalku akan mengusirmu keluar!" bentak Reynaldo.
Dengan penuh kemarahan, Raden Wijaya meninggalkan ruangan putranya.
"Ahhhkkk brengsekkk!!!" umpat Reynaldo melempar semua benda yang ada di mejanya ke lantai. Suasana hatinya sangat buruk – rasa sakit dari kata-kata ayahnya membuat dia sangat membenci pria itu.
Reynaldo berjalan menuju basement parkiran mobilnya, kemudian melenggang meninggalkan perusahaan miliknya. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, seperti orang yang kehilangan kendali diri.
Reynaldo masuk ke sebuah rumah kosong yang jauh berbeda dengan istananya. Di sana terdapat gudang bawah tanah – tempat dia biasanya menumpahkan kekesalannya dengan mengeksekusi orang-orang yang mengganggu kehidupannya. Reynaldo Wijaya Mahkota terkenal dengan julukan "Mafia Dingin Kota Perak".
Di dalam ruangan itu, beberapa tawanan terikat dengan keadaan tubuh yang penuh luka.
"Siapkan alat-alatku dan siapkan dua orang dari mereka!" perintah Reynaldo kepada pengawalnya.
Di depannya kini ada dua pria berbadan besar yang terikat di kursi.
"Ha-ha-ha... entah mengapa aku masih baik hati membiarkanmu menghirup udara dunia ini," gumam Reynaldo sambil mengambil pisau tajam yang sudah disiapkan.
"Sreekkk!!" pisau itu menggores lengan kekar salah satu pria.
"A.. aa--ammpunn... Aamm-ammpunn bunuhhh saja aku!!" pekik pria itu meronta-ronta.
"Bunuh? Wah, sepertinya kau ingin sekali meninggalkan dunia ini!" ucap Reynaldo sambil menancapkan pisau dan menyeretnya di dalam daging pria itu.
"Tolong..tolongg bunuhh aku saja..." pinta pria itu dengan suara serak.
"Hahah-hahah! Jika begitu, aku tidak akan melakukan yang baik!" ucap Reynaldo dengan wajah dingin.
"Tapi dia adalah ayahku sendiri... bagaimana caraku menghabisinya!" gumamnya dalam hati, kemudian dengan keras menendang tubuh pria itu hingga kursinya patah dan bagian punggungnya terluka parah.
"Ternyata aku masih punya satu lagi hahah!" pekik Reynaldo sambil mengambil alat pemotong kayu besar yang disebut Chain Saw.
"Hidupkan!!" teriaknya.
Alat itu menyala dengan suara keras. Pertama-tama dia memotong bagian tangan tawanan itu. Semua pengawal merasa geli melihatnya – mereka tahu saat Reynaldo dalam kondisi seperti ini, kemarahannya tidak bisa dikontrol.
Setelah merasa cukup, Reynaldo keluar dari ruangan itu. Dia masuk kamar mandi di rumah kosong itu, membersihkan diri dan membakar semua pakaian yang terkena darah. Kini dia keluar dalam keadaan bersih, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, lalu melenggang pergi.
Setelah pelajaran sekolah selesai, seperti biasa Nabila akan pergi ke kafe tempat dia bekerja paruh waktu.
"Hari ini aku tidak boleh membuat kesalahan lagi..." gumamnya dalam hati sambil melaju dengan motornya.
Tapi di tengah jalan, perjalanannya dihalangi oleh beberapa orang gengster.
"Aaahhhhkkk sialaannn! Apa lagi ini!" pekik Nabila kesal, turun dari motor dan membuka helmnya.
"Wah bos, ternyata wanita cantik banget nih..!" ucap salah satu gengster sambil tertawa sinis.
"Hahahah bawa dia kemari!" perintah pemimpin gengster itu.
"Bawa-bawa? Kalian kira aku apa saja! Awas, aku harus kerja!" teriak Nabila.
"Ayolah sayang, kita akan bersenang-senang dulu.." ucap kepala gengster itu menggenggam bahu Nabila.
Dengan cepat Nabila menepis tangannya.
"Jauhkan tanganmu bangsatt! Aku ingin pergi, awas!!" ucapnya sambil mencoba naik motor lagi. Tapi kepala gengster langsung menarik tangannya sehingga motornya terjatuh.
"Apaan sih, awasss!!" Nabila menendang tulang kering kaki gengster itu.
"Ahh bangsatt!! Kalian bawa dia sekarang juga!" perintah kepala gengster itu kepada anak buahnya.
Seorang pria langsung mengangkat tubuh Nabila seperti mengangkat karung beras.
"Lepaskan !! Lepaskan akuu!!" teriak Nabila sambil memukul punggung pria itu.
"Lepassskan dia!" terdengar suara pria yang mengerikan dari kejauhan.
"Hahaha ternyata pahlawan kesiangan!!" ejek kepala gengster itu.
"Tolongg aku!!" teriak Nabila keras.
"Sekali lagi aku katakan – lepaskan dia!" ucap Reynaldo dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Ahhh banyak bicara!" gengster itu langsung menyerang dengan tinjunya, tapi Reynaldo dengan cepat menghindar dan menendangnya hingga terjatuh.
Kemudian dia mengeluarkan cincin besi dari kantong jasnya, memakainya dan menghajar seluruh gengster itu dengan tangannya sendiri. Tak lama kemudian, semua anggota gengster terkapar tidak sadarkan diri.
Hanya tinggal kepala gengster dan orang yang masih menggendong Nabila.
Dengan cepat Nabila menggigit punggung pria itu dengan kuat.
"Aahhkk aahhkk sakitt!" ucap pria itu, langsung melepaskan gendongannya.
Saat lengah, Nabila berlari ke belakang tubuh Reynaldo dan bersembunyi. Reynaldo yang masih dalam mode marah mengahajar kepala gengster itu hingga wajahnya membengkak dan tidak sadarkan diri.
"Prok prookk..!!" suara tepuk tangan Nabila terdengar – dia merasa takjub melihat Reynaldo mengalahkan semua gengster sendirian.
"Ehh kau terluka!" ucap Nabila melihat darah mengalir di dahi Reynaldo.
"Ini tak seberapa," jawab Reynaldo dengan nada datar.
"Bukan soal seberapa besarnya, tapi bagaimana jika ini menginfeksi.." ucap Nabila sedikit kuatir.
"Kau punya P3K?" tanyanya.
"Ada di mobilku..!"
"Kemarilah, aku bersihkan lukamu.."
Reynaldo hanya menuruti – entah mengapa kali ini dia tidak ingin menolak.
"Kau ikutlah denganku, motormu akan diambil pengawalku," ucap Reynaldo datar.
"Tidak perlu, aku harus bekerja," jawab Nabila.
"Aku yang akan berbicara dengan majikanmu," ucap Reynaldo lalu langsung melaju dengan mobilnya dengan cepat.
Nabila hanya bisa mengikuti – bagaimanapun juga, Reynaldo baru saja menyelamatkannya.