Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koreksi Total Dan Tinta Pemerintah
Raksasa Kertas itu meraung suaranya bukan seperti teriakan manusia, melainkan suara ribuan kertas yang bergesekan dengan sangat cepat, menciptakan desisan tajam yang memekakkan telinga. Setiap lembaran dokumen yang menyusun tubuhnya adalah catatan hidup orang-orang yang telah "dihapus" oleh Konsorsium. Genta bisa melihat wajah-wajah samar yang berkedip di permukaan kertas itu; ada wajah seorang guru, seorang sopir taksi, hingga seorang anak kecil. Semuanya adalah narasi yang dianggap sebagai 'Glitch' oleh sistem.
"Genta! Jangan sampai terkena sayatan kertasnya! Satu goresan saja bisa menghapus ingatanmu selama satu jam!" Aki berteriak sambil berlindung di balik meja kayu jati yang kokoh.
Genta berguling ke samping tepat saat tangan raksasa itu menghantam lantai, meninggalkan tumpukan laporan yang tertancap dalam seperti pisau. Dia sampai di meja mesin tik dan matanya liar mencari sesuatu yang bisa digunakan. Di sana, di dalam sebuah kotak kayu kecil yang antik, terdapat sebuah botol tinta berwarna merah darah dengan tulisan: "Tinta Koreksi Narasi Departemen Keseimbangan."
"Ketemu! Tapi gimana cara pakainya?! Saya cuma teknisi lift, bukan guru bahasa Indonesia!" teriak Genta sambil menghindari serbuan kertas yang terbang seperti suriken.
"Cipratkan ke wajahnya! Cari 'Lembar Induk' yang ada di dadanya! Itu adalah pusat kendalinya!" sahut Sarah yang mencoba mengalihkan perhatian si raksasa dengan melemparkan gulungan film seluloid tua.
Genta membuka tutup botol tinta itu. Baunya aneh, seperti campuran antara bau besi dan bunga kamboja. Dia berlari menerjang, memanfaatkan kelincahannya yang biasa memanjat sela-sela lift sempit. Raksasa Kertas itu mencoba menangkapnya, tapi gerakan Genta yang [NOL] tidak terdefinisi oleh sistem membuat serangan si raksasa selalu meleset beberapa milimeter.
"Woi, Kertas Bekas! Sini kalau berani!" Genta melompat ke atas rak arsip, lalu meluncur turun menuju dada si raksasa.
Dia melihatnya. Di tengah tumpukan dokumen yang karut-marut itu, ada selembar kertas berwarna emas yang bercahaya redup. Di sana tertulis satu kata dalam huruf besar: LOGIKA. Itulah yang membuat tumpukan kertas ini bisa bergerak dan berpikir.
"Maaf ya, Logika Bapak saya ganti!" teriak Genta.
Dengan satu ayunan tangan, Genta menyiramkan seluruh tinta merah ke arah kertas emas itu. Cairan merah itu menyebar seperti pembuluh darah yang pecah, menutupi kata 'LOGIKA' dan mengubahnya menjadi coretan abstrak yang berantakan.
Seketika, Raksasa Kertas itu membeku. Seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat. Suara desisan kertasnya berubah menjadi suara ratapan yang menyedihkan. Perlahan tapi pasti, tumpukan kertas itu mulai rontok, terurai kembali menjadi lembaran-lembaran dokumen yang berserakan di lantai seperti salju yang kotor.
Genta jatuh terduduk di tengah gunungan kertas. Napasnya memburu. Di tangannya, botol tinta itu kini kosong.
"Berhasil?" tanya Genta lirih.
Aki dan Sarah keluar dari persembunyian mereka. Mereka berjalan mendekati tumpukan kertas yang kini tak bernyawa lagi. Sarah mengambil salah satu kertas yang jatuh di dekat kakinya. "Ini adalah catatan tentang seorang teknisi lift bernama Genta Pratama... tapi tulisannya sudah terhapus tinta merahmu. Genta, kamu baru saja melakukan 'Coretan Massal' pada takdirmu sendiri."
"Artinya saya bebas?"
"Lebih dari itu," Aki menunjuk ke arah ujung perpustakaan. Di sana, sebuah pintu kayu kecil yang tadinya tidak terlihat, kini terbuka perlahan. "Kamu telah membuktikan bahwa kamu lebih dari sekadar variabel yang diatur. Kamu adalah korektornya. Pintu itu menuju ke 'Buku Besar Penghapusan'. Pergilah sendiri, Genta. Ini adalah bagian yang tidak bisa kami bantu."
Genta mengangguk. Dia melangkah perlahan menuju pintu itu. Di dalamnya, ada sebuah ruangan putih bersih yang hanya berisi sebuah meja dan sebuah buku raksasa bersampul kulit hitam. Di samping buku itu, ada sebuah pena bulu angsa yang terus bergerak sendiri, mencatat nama demi nama.
Genta mendekat dan membaca baris terakhir yang sedang ditulis:
'...Subjek Genta Pratama: Mengakhiri masa tugas sebagai pion. Memulai narasi baru sebagai...'
Pena itu berhenti. Seolah-olah buku itu sedang menunggu Genta untuk melengkapinya.
Genta mengambil pena itu. Rasanya sangat ringan, namun dia bisa merasakan beban dari jutaan nyawa di dalamnya. Dia melihat ke arah daftar nama orang-orang yang sudah dicoret dengan tinta hitam nama-nama orang yang dianggap sebagai sampah oleh Konsorsium.
Genta tidak mencoret namanya. Dia justru melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia membalikkan pena itu dan menggunakan ujung yang tajam untuk menusuk jempolnya sendiri. Setetes darahnya jatuh ke atas kertas itu, bercampur dengan tinta hitam yang masih basah.
"Saya nggak butuh kalian tulis siapa saya," bisik Genta.
Dia mulai menulis dengan tangannya sendiri, menggunakan darah dan sisa tinta merah di jarinya. Dia menulis satu kalimat sederhana yang memenuhi seluruh halaman tersebut:
"KAMI ADALAH APA YANG KAMI PILIH, BUKAN APA YANG KALIAN ATUR."
Seketika, seluruh ruangan putih itu bergetar. Cahaya yang sangat terang memancar dari Buku Besar tersebut. Genta merasa tubuhnya ditarik oleh pusaran energi yang sangat kuat. Dia mendengar suara Baskoro yang berteriak jauh di dalam kepalanya, suara Sarah yang memanggil namanya, dan suara mesin lift yang berdenting pelan.
TING !
Genta membuka matanya. Dia merasa punggungnya pegal. Bau oli dan debu kembali tercium. Dia menyadari dia sedang duduk di lantai lift nomor empat di Mal Citra Yudha. Namun, mal itu tidak lagi terlihat hantu dan gelap. Cahaya matahari siang masuk lewat celah-celah jendela yang pecah.
Sarah dan Aki duduk di sampingnya, tampak sama bingungnya.
"Kita kembali?" tanya Sarah sambil memeriksa ponselnya. "Sinyalnya... sinyalnya penuh! Dan tidak ada lagi filter ungu di langit!"
Aki tersenyum tipis sambil memandangi tangannya yang kini tidak lagi bergetar. "Sistem pusatnya tidak hancur, Genta. Tapi kamu baru saja memberikan 'Virus Kehendak Bebas' ke dalam jantung mereka. Mulai detik ini, Konsorsium tidak bisa lagi melihat masa depan secara pasti. Dunia kembali menjadi tempat yang berantakan, tidak pasti, dan... indah."
Genta meraba sakunya. Dia menemukan sesuatu yang keras. Dia mengeluarkannya dan terkejut. Itu bukan remote The Shifter, melainkan sebuah kunci inggris kecil berwarna emas murni dengan ukiran nama ibunya di sana.
"Kenang-kenangan dari Lantai Nol," ujar Aki. "Pakailah untuk memperbaiki apa yang rusak di dunia ini, bukan lewat teknologi mereka, tapi lewat tanganmu sendiri."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lobi mal. Genta langsung waspada dan memegang kunci inggris emasnya. Namun, yang muncul bukan Auditor atau Swe per. Itu adalah seorang anak kecil yang membawa bola plastik, menatap mereka dengan heran.
"Om lagi main apa di sini?" tanya anak itu polos.
Genta tersenyum lebar. Dia berdiri dan menepuk debu dari bajunya. "Om lagi benerin lift, Dek. Biar orang-orang nggak takut lagi kalau mau naik ke lantai atas."
Genta, Sarah, dan Aki berjalan keluar dari mal itu. Di jalan raya, Jakarta kembali seperti semula macet, bising, dan penuh dengan orang-orang yang mengeluh. Tapi kali ini, Genta melihatnya dengan cara berbeda. Setiap keluhan, setiap kemacetan, setiap tawa adalah bukti bahwa manusia sedang menjalani hidupnya sendiri, tanpa ada remote yang mengatur di belakangnya.
Genta melihat ke arah langit. Di kejauhan, Menara Sembako masih berdiri tegak. Dia tahu, Konsorsium tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencoba membangun kembali sistemnya. Tapi Genta tidak takut lagi. Karena sekarang, dia punya kunci inggris yang bisa memperbaiki takdir.
"Jadi, sekarang kita ke mana?" tanya Sarah sambil merapikan rambutnya.
"Saya lapar," jawab Genta santai. "Ayo kita cari warung kopi Pak Haji. Saya mau bayar utang gorengan Aki, terus kita rencanakan cara buat 'Servis' gedung Menara Sembako itu dari lantai bawah sampai lantai empat puluh."
Sarah dan Aki tertawa. Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar, menghilang di antara kerumunan manusia yang kini benar-benar bebas.
Namun, di saku Genta, kunci inggris emas itu tiba-tiba bergetar pelan, dan sebuah angka kecil muncul di permukaannya: Luck: 100% .
Genta tersenyum sinis. "Oke, Arsitek. Ronde kedua... saya yang pegang kontrolnya."