Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI UJANG DAN AYAM GEPREK LEVEL MAUT
Matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi kamar kos Aruna, membawa serta aroma gorengan dari gerobak Mang Oleh di ujung gang. Namun, bagi Aruna, cahaya matahari itu terasa seperti laser yang membakar retina matanya yang hanya sempat terpejam selama dua jam.
"Aduh, kepalaku... rasanya seperti habis ditabrak truk tronton yang isinya buku skripsi,"
Rintih Aruna sambil meraba-raba lantai, mencari kacamatanya yang entah terlempar ke mana.
Saat jarinya menyentuh sesuatu yang lembut namun padat, Aruna membeku. Dia mengenakan kacamatanya dengan cepat. Di depannya, duduk seorang pria dengan kaos oblong kekuningan yang sedang menatap dinding dengan khusyuk.
"Selamat pagi, Majikan Aruna," sapa Javi dengan suara baritonnya yang tetap terdengar seperti pengisi suara film romantis, padahal ada bekas iler mengering di pipinya.
"Saya sudah merenung selama tiga jam. Saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup sebagai Ujang memiliki satu kekurangan besar."
Aruna mengucek matanya.
"Apa? Kamu ingat siapa kamu sebenarnya? Kamu mau pulang?"
Javi menggeleng pelan, ekspresinya sangat serius.
"Tidak, perut saya mengeluarkan suara musik yang lebih keras daripada lagu LUMINOUS. Saya lapar, Aruna. Dan piring-piring yang saya cuci tadi malam tidak menghasilkan makanan secara otomatis, sistem ini rusak."
Aruna menepuk jidatnya. "Itu namanya lapar, Ujang! Bukan sistem rusak! kamu kira robot apa. Dan piring itu gunanya buat wadah makanan, bukan mesin ATM!"
Aruna melirik jam. Pukul 08.00 pagi. Perutnya sendiri mulai berdemo. Masalahnya, stok mi instannya habis dan semuanya dikonsumsi Javi tadi malam karena pria itu menganggap mi instan adalah pita emas surga yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Oke, kita harus ke warung depan. Tapi masalahnya, wajahmu itu... terlalu berkilau untuk ukuran manusia yang tinggal di gang sempit ini,"
Aruna memperhatikan Javi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Javi berdiri, mencoba membenarkan kaos oblongnya yang melar.
"Apa ada yang salah? Saya merasa sangat... minimalis. Ini gaya streetwear yang sedang tren, bukan?"
"Itu gaya gembel elit, Ujang! Kamu kelihatan kayak model yang lagi pura-pura miskin buat konten YouTube!"
Aruna menarik Javi ke depan cermin kecilnya yang sudah retak di pinggir.
"Lihat hidungmu! Mancung banget, bisa buat motong wortel. Kulitmu juga... kenapa sih nggak ada pori-porinya? Kamu kalau keringetan keluarnya air zam-zam ya?"
Javi memegang hidungnya.
"Saya juga heran. Kenapa struktur tulang saya begitu sempurna? Apakah di kehidupan sebelumnya saya adalah sebuah pahatan dari Yunani?"
"Stop! Berhenti memuji diri sendiri! Kita butuh penyamaran tingkat tinggi,"
Aruna mulai membongkar lemari pakaiannya yang lebih mirip gudang bencana alam.
Aruna mengeluarkan sebuah kain sarung motif kotak-kotak milik mendiang kakeknya yang tertinggal, sebuah peci hitam yang ukurannya agak kekecilan, dan sebuah kacamata hitam frame besar yang dia beli di pasar malam seharga sepuluh ribu rupiah.
"Pakai ini," perintah Aruna.
"Sarung? Apakah ini jenis rok terbaru untuk pria?" Javi menatap kain itu dengan bingung.
"Ini namanya sarung, simbol ketampanan pria lokal! Pakai!"
Setelah sepuluh menit perdebatan tentang cara memakai sarung yang benar (Javi hampir membuat sarung itu menjadi jubah superhero), akhirnya Ujang versi baru pun lahir. Dengan peci yang nangkring miring di kepalanya karena rambut peraknya terlalu tebal, dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya, Javi kini terlihat seperti... penjahat kelas teri yang salah kostum.
"Sempurna... Kamu sekarang kelihatan kayak pengangguran sukses," puji Aruna bohong.
"Saya merasa... sangat berangin di bagian bawah. Apakah ini aman dari serangan angin duduk?" tanya Javi sambil menggoyang-goyangkan sarungnya.
"Aman! Udah, ayo jalan. Ingat, jangan bicara! Kalau ada yang tanya, kamu lagi sakit gigi parah jadi nggak bisa buka mulut. Dan jalannya jangan tegak-tegak banget! Bungkuk dikit! Kamu itu Ujang, bukan CEO perusahaan teknologi!"
Mereka keluar dari kamar dengan sangat hati-hati. Aruna memimpin di depan, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seperti agen rahasia yang sedang diburu intelijen negara. Saat mereka sampai di lantai bawah, suara petir tanpa hujan terdengar.
"ARUNAAA! MAU KE MANA?!"
Mbak Widya muncul dari balik jemuran, tangannya memegang daster basah. Matanya langsung tertuju pada makhluk tinggi besar di belakang Aruna yang memakai sarung sampai ke dada.
Aruna meloncat kaget.
"Eh, Mbak Widya! Ini... mau ke warung depan, Mbak. Cari sarapan."
Mbak Widya berjalan mendekati Javi. Dan Javi langsung membeku, kepalanya menunduk begitu dalam sampai pecinya hampir jatuh.
"Ini siapa? Kok tinggi banget? Kayak tiang listrik kelurahan," selidik Mbak Widya. Dia mencoba mengintip di balik kacamata hitam Javi.
"Ini... anu, Mbak. Ini Ujang! Sepupu saya yang dari kampung itu loh!" Aruna mencubit pinggang Javi dengan keras agar pria itu tetap diam.
Javi mengerang pelan,
"Nghhh..."
"Tuh, Mbak! Suaranya aja udah serak-serak becek gitu. Dia lagi sakit gigi parah, makanya kepalanya ditutup peci biar nggak masuk angin giginya," jelas Aruna dengan alasan paling tidak masuk akal dalam sejarah kedokteran.
Mbak Widya mengerutkan kening.
"Sakit gigi kok pakai kacamata hitam? Emang giginya silau?"
Aruna berkeringat dingin.
"Bukan, Mbak! Dia... dia malu kalau matanya ketahuan nangis terus gara-gara nahan sakit. Ujang ini hatinya lembut banget, Mbak. Disenggol dikit langsung meleyot."
Mbak Widya tampak ragu, tapi kemudian dia tertawa keras.
"Oalah, Ujang, Ujang. Ya udah, bawa ke warung Bu RT aja, di sana ada jamu kuat... eh, jamu sakit gigi maksud saya. Tapi Ar, si Ujang ini kalau dilihat-lihat kok posturnya kayak Javi LUMINOUS ya? Tinggi, pundaknya lebar..."
Javi tiba-tiba melakukan gerakan refleks. Karena terbiasa disapa fans, dia hampir saja melakukan bow (membungkuk hormat) ala idol. Untungnya, Aruna langsung menekan kepala Javi hingga pria itu terlihat seperti sedang ruku.
"Iya, Mbak! Banyak yang bilang gitu! Makanya di kampung dia dipanggil Javi-nya Kandang Ayam! Udah ya Mbak, Ujang udah gemeteran pengen makan!"
Aruna menarik lengan Javi sekuat tenaga, menyeret sang idol keluar dari gerbang kosan sebelum Mbak Widya menyadari bahwa
"Ujang" memakai sepatu sneakers edisi terbatas seharga harga kosan itu sendiri.
Di jalan, kekacauan berlanjut. Javi berjalan dengan sangat kaku. Setiap kali ada motor lewat, dia mencoba menutupi wajahnya dengan sarung.
"Majikan, kenapa orang-orang melihat saya? Apakah penyamaran saya terlalu sempurna sehingga mereka terintimidasi oleh misteri yang saya pancarkan?" bisik Javi di balik kacamata hitamnya.
"Mereka ngeliatin kamu karena kamu jalan kayak orang abis disunat, Ujang! Santai aja!"
Mereka sampai di warung ayam geprek. Aroma cabai yang digerus membuat hidung sensitif Javi bereaksi.
"Selamat datang, Mbak Aruna! Wah, bawa siapa nih? Tinggi bener kayak pemain basket," sapa Bu RT, pemilik warung.
"Ini sepupu, Bu. Ujang. Pesan ayam geprek dua ya, satu level nol buat dia, satu level lima belas buat saya," ujar Aruna.
Javi tiba-tiba bersuara,
"Level nol? Aruna, apakah Anda meremehkan keberanian saya? Saya merasa saya adalah seorang pejuang. Berikan saya level yang sama dengan gadis kecil ini, Bu."
Aruna melotot.
"Jangan sok jago, Ujang! Kamu itu punya perut ningrat! Level lima belas bisa bikin kamu ketemu leluhur kamu dalam sekejap!"
Javi tetap teguh.
"Saya ingin level lima belas. Saya merasa tantangan adalah bagian dari identitas saya yang hilang."
Bu RT tertawa.
"Waduh, Mas Ujang keren ya. Oke, ayam geprek level maut dua porsi!"
Sepuluh menit kemudian, dua piring ayam geprek merah membara mendarat di depan mereka. Javi menatap tumpukan cabai itu dengan penuh percaya diri. Dia mengambil satu suapan besar.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Wajah Javi berubah dari putih porselen menjadi merah padam. Matanya melotot hingga kacamatanya melorot. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di dahinya.
"U-Ujang? Kamu oke?" tanya Aruna khawatir.
Javi tidak bisa bicara. Dia mencoba bernapas, tapi yang keluar hanya bunyi
Haaaah... Haaaah...
Dia mulai mengibas-ngibaskan tangannya ke arah mulutnya. Tanpa sadar, insting panggungnya keluar. Dia mulai melakukan gerakan tangan seperti sedang melakukan rap cepat untuk mengalihkan rasa sakit.
"Aruna... saya... saya melihat cahaya putih..." bisik Javi dengan suara yang sudah pecah.
"Apakah ini akhir dari karier asisten saya? Tolong... tulis di batu nisan saya... bahwa Ujang mati sebagai pahlawan cabai."
"Minum, bego! Minum!" Aruna menyodorkan segelas es teh manis.
Javi meminumnya dalam sekali teguk, tapi rasa panas itu tidak hilang. Dalam keputusasaannya, Javi melihat sebuah ember berisi air di pojok warung (yang sebenarnya adalah air buat cuci tangan). Dia hampir saja mencelupkan wajahnya ke sana kalau Aruna tidak segera menahannya.
"Ujang! Sadar! Kamu lagi di warung, bukan lagi syuting iklan minuman segar!"
Tiba-tiba, dari TV di pojok warung, muncul berita sela.
"Berita terkini: Javier, leader dari grup LUMINOUS, masih dinyatakan hilang. Pihak agensi meminta masyarakat yang melihat pria dengan ciri-ciri tinggi 185 cm, rambut perak, dan memiliki tahi lalat di bawah mata kiri untuk segera melapor..."
Seluruh pengunjung warung menatap ke arah TV, lalu perlahan-lahan mereka menatap ke arah Javi yang sedang megap-megap kepedasan.
Aruna membeku. Javi, yang masih kepedasan, menoleh ke arah TV dengan wajah bodoh.
"Eh... itu kan sepupu saya yang sukses itu. Dia dicari polisi ya? Kasihan sekali."
Bu RT memicingkan mata. Dia melihat Javi, lalu melihat TV. Dia melihat Javi lagi, lalu melihat TV lagi.
"Loh... kok mirip ya?" gumam Bu RT.
Aruna langsung berdiri.
"Mirip apanya, Bu! Tuh di TV rambutnya rapi, pake jas. Lihat si Ujang, rambutnya kena debu kosan, pake sarung kakek saya, kerjanya cuma nyuci piring! Mana mungkin Javi LUMINOUS kepedasan sampe nangis ingusan kayak gini!"
Javi menyedot ingusnya dengan keras.
"Benar... saya... saya hanya Ujang..."
Bu RT tertawa lagi.
"Iya juga sih... Mana mungkin artis internasional mau makan di warung saya yang banyak lalatnya ini. Lagian, Javi itu kan katanya keren banget, si Ice Prince. Mas Ujang ini mah lebih kayak Ice Mambo."
Aruna menarik napas lega.
"Ayo Ujang, kita pulang! Kamu butuh kompres lidah!"
Mereka berlari kembali ke kosan. Sesampainya di kamar, Javi langsung menjatuhkan diri ke lantai, memeluk kipas angin Aruna yang berkarat seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Saya tidak mau lagi... tantangan level maut," rintih Javi.
"Saya ingin kembali menjadi amnesia yang tenang. Perut saya terasa seperti ada konser rock di dalamnya."
Aruna duduk di sampingnya, menyerahkan sebotol susu dingin.
"Makanya, dengerin kata bos. Kamu itu sekarang cuma rakyat biasa, Javi. Dunia luar itu keras. Lebih keras daripada latihan dance kamu."
Javi meminum susunya, lalu menatap Aruna dengan tatapan yang sedikit lebih lembut.
"Terima kasih, Aruna. Meskipun kamu galak dan memaksa saya mencuci piring, kamu menyelamatkan saya dari kematian akibat cabai."
"Sama-sama, Ujang. Sekarang, karena kamu sudah kenyang (dan tersiksa), ayo bantu aku scan tugas ini. Kamu yang bagian megangin kabelnya, karena kabel scanner-nya sering lepas."
Javi mendesah, tapi dia tersenyum kecil.
"Baik, Majikan. Tapi besok... bolehkah saya minta makanan yang tidak ada warna merahnya sama sekali?"
"Kita lihat nanti. Kalau kamu rajin nyapu, mungkin aku kasih bubur ayam."
Malam itu, rahasia Javi masih aman. Namun, di bawah sana, di depan gerbang kosan, seorang pria misterius dengan kamera DSLR sedang memperhatikan balkon Aruna dengan tatapan tajam.