NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9: catur di atas cakrawala

Matahari pagi di Seoul tampak tertutup oleh lapisan awan tipis yang membiaskan cahaya keabu-abuan yang suram, memberikan nuansa dingin yang meresap hingga ke tulang. Bagi warga biasa, ini hanyalah hari biasa untuk memulihkan diri pasca bencana 'The Great Collapse' yang hampir melenyapkan kota mereka. Namun bagi mereka yang berada di puncak piramida kekuatan dunia, udara hari ini terasa seperti medan magnet yang penuh dengan statis, siap meledak kapan saja. Di Bandara Internasional Incheon, tiga jet pribadi dengan logo emas World Hunter Association (WHA) mendarat secara berurutan di landasan pacu yang dijaga ketat oleh unit komando elit. Dari dalamnya keluar tiga sosok yang kehadirannya saja mampu mengubah tekanan atmosfer di seluruh terminal: 'The Iron Wall' dari Jerman, 'Storm Bringer' dari Amerika, dan 'Silent Blade' dari Jepang. Tiga Hunter Kelas S internasional yang dikirim bukan untuk membantu, melainkan untuk memburu bayangan merah yang baru saja mempermalukan seluruh sistem pertahanan manusia.

Arkan sedang duduk di pojok perpustakaan kota yang sunyi, dikelilingi oleh aroma buku lama yang menenangkan dan suara gesekan kertas yang membalik. Di hadapannya, tumpukan buku kalkulus, fisika dasar, dan sejarah dunia tersusun rapi. Di depan meja kayu itu, Liora tampak sedang serius mencatat sesuatu, rambutnya yang diikat kuncir kuda sesekali bergoyang saat ia menunduk dalam-dalam untuk memahami rumus yang rumit. Cahaya dari jendela perpustakaan jatuh di atas kacamata tebal Arkan, menyembunyikan tatapan predator yang sedang memantau seluruh benua dari balik lensa tersebut.

"Arkan, kau salah lagi di nomor empat belas. Hukum kekekalan energi itu mutlak, kau tidak bisa hanya menuliskan hasil akhirnya tanpa melalui proses turunan yang benar," Liora menggeser bukunya ke arah Arkan, jemarinya yang lentik menunjuk baris rumus yang ia anggap salah.

"Ah, maaf... pikiranku sedang melayang ke mana-mana hari ini," Arkan menjawab pelan, memberikan senyum malu yang dipaksakan sambil membetulkan letak kacamatanya dengan canggung.

Itu adalah kebenaran yang disamarkan dengan sangat sempurna. Pikirannya memang sedang melayang, tapi tidak pada variabel-variabel matematis di atas kertas. Melalui jaringan Blood-Link yang ia biarkan terbuka setipis benang sutra, Arkan sedang memantau tiga frekuensi mana yang sangat kuat dan agresif yang baru saja memasuki wilayah kedaulatannya di semenanjung Korea. Ia bisa merasakan riak energi dari para Hunter Kelas S itu seperti getaran di permukaan kolam yang tenang.

'Ayah, mereka sudah tiba tepat sesuai jadwal,' suara Julian menggema di ruang kesadaran Arkan, jernih dan dingin. 'Choi Ha-neul sedang menjemput mereka di bandara dengan pengawalan militer penuh. Strategi pengalihan "Mirror Image" sudah siap 100%. Koordinat di London, Tokyo, dan Washington telah diprogram ke dalam gerbang portal darah. Haruskah kita mulai simfoninya?'

Arkan menatap Liora sejenak, melihat bagaimana gadis itu dengan tulus mencoba membantunya belajar. Sebuah ironi yang pahit. Arkan kemudian membalas di dalam batinnya dengan perintah yang mutlak. 'Mulai sekarang. Pastikan mereka tidak pernah memiliki waktu untuk sekadar bernapas dengan tenang di tanah ini. Jika dunia ingin mencari Crimson Eclipse, berikan mereka tontonan yang akan membuat mereka mempertanyakan segala hal yang mereka ketahui tentang ruang dan waktu.'

Di saat yang sama, di pusat komando KHA yang tersembunyi jauh di bawah tanah Seoul, Choi Ha-neul berdiri di samping tiga Hunter Kelas S internasional tersebut. Suasana di ruangan itu sangat tegang; bau kopi pahit dan aroma mana yang tajam saling bertabrakan. Layar monitor raksasa yang menampilkan peta dunia mendadak dipenuhi oleh titik-titik peringatan merah yang berkedip serentak.

"Direktur Choi! Kami mendeteksi kemunculan anggota Crimson Eclipse di tiga lokasi berbeda secara bersamaan!" teriak seorang operator senior dengan suara yang pecah karena panik. "Vanguard terlihat di London sedang menghancurkan sarang Hydra tingkat A! Phantom terlihat di Tokyo sedang menyabotase pangkalan militer yang terinfeksi Abyss! Dan Plague... dia baru saja terlihat menyebarkan kabut ungu di depan Monumen Washington!"

Ketiga Hunter Kelas S internasional itu tertegun, wajah mereka memucat dalam hitungan detik. "Mustahil! Rekaman satelit menunjukkan mereka berada di Seoul kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Tidak ada teknologi teleportasi manusia yang memiliki efisiensi dan kecepatan sebesar itu tanpa membunuh penggunanya!" teriak 'Storm Bringer' dari Amerika, tangannya memercikkan bunga api listrik karena emosinya yang tidak stabil.

"Mungkin karena mereka memang bukan manusia seperti yang kalian bayangkan," Ha-neul menjawab dengan nada sedingin es, meskipun di dalam hatinya ia merasakan sebuah pukulan telak. Ini adalah sebuah ejekan langsung dari sang pemimpin misterius kelompok tersebut—sebuah pesan yang mengatakan: 'Kau mencariku di Seoul? Maka aku akan berada di mana-mana kecuali di tempat kau berdiri.'

Kembali di perpustakaan kota yang damai, Liora menatap Arkan dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Arkan, kenapa tanganmu bergetar? Dan kenapa suhu di sekitar meja ini mendadak turun? Apa kau merasa sakit lagi karena efek radiasi mana kemarin?"

Arkan tersentak kecil, menyadari bahwa resonansi energinya saat memberikan perintah pada Julian sedikit bocor melalui kontrol fisiknya. Ia segera menggenggam pulpennya lebih erat hingga sendi jarinya memutih. "Tidak, Liora. Aku hanya... aku hanya sedikit pusing melihat deretan angka-angka kalkulus ini. Rasanya lebih sulit daripada melawan monster."

"Kamu ini, pahlawan kelas kita tapi kalau soal hitungan payah sekali," Liora tertawa kecil, suara tawanya yang jernih sedikit meredakan ketegangan di udara. Namun kemudian wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Arkan, apa kamu sudah dengar beritanya? Katanya Hunter-Hunter terkuat dari luar negeri datang ke sini hanya untuk menangkap Crimson Eclipse. Aku... aku merasa sedikit sedih. Padahal mereka baru saja menyelamatkan kita semua saat gerbang SSS itu muncul."

"Dunia selalu takut pada apa yang tidak bisa mereka kendalikan atau mereka rantai, Liora," Arkan berkata dengan nada yang sangat pelan, matanya menatap tajam ke halaman buku fisika namun jiwanya seolah-olah melampaui dinding perpustakaan itu. "Manusia, terutama mereka yang memegang kekuasaan, lebih suka menghadapi monster yang mereka pahami polanya daripada menerima penyelamat yang tidak bisa mereka jadikan budak atau aset."

Liora terdiam seribu bahasa. Kata-kata Arkan barusan terdengar sangat dewasa, pahit, dan penuh pengalaman—sesuatu yang sangat asing dari citra murid beasiswa teladan yang selama ini Arkan tunjukkan. "Kamu bicara seolah-olah kamu tahu betul bagaimana rasanya dirantai dan dikhianati."

Arkan hanya tersenyum tipis, menyembunyikan kilatan mata merahnya di balik lensa kacamata. "Aku hanya banyak membaca buku sejarah di perpustakaan ini, Liora. Sejarah selalu berulang, bukan?"

Tiba-tiba, ponsel Liora yang diletakkan di atas meja bergetar hebat dengan nada peringatan berita darurat. Ia melihat notifikasi terbaru dan membelalak lebar, hampir menjatuhkan buku catatannya. "Arkan! Lihat ini! Crimson Eclipse muncul di London, Tokyo, dan Washington dalam waktu bersamaan! Dunia sedang dalam kekacauan total! Para ahli strategi Hunter bilang ini tidak masuk akal! Mereka benar-benar ada di mana-mana!"

Arkan berpura-pura terkejut dengan akting yang sangat meyakinkan, ikut melihat layar ponsel Liora. "Wah... mereka benar-benar sangat cepat dan terorganisir ya. Mungkin mereka memiliki portal sendiri."

Di dalam hatinya, Arkan terus memberikan perintah lanjutan dengan presisi seorang komandan perang. 'Hana, cukup dengan sabotase di Tokyo, biarkan para Hunter Jepang mengejar bayanganmu. Rehan, hentikan gas ungu di Washington setelah memberikan rasa takut yang cukup pada mereka, pastikan tidak ada warga sipil yang cedera permanen. Bastian, selesaikan urusanmu dengan Hydra di London dengan satu pukulan besar yang akan terekam oleh semua jurnalis. Lalu, semua segera kembali ke markas melalui portal darah. Biarkan para Hunter dunia itu kebingungan mencari hantu di tiga benua.'

'Dimengerti, Ayah!' jawab mereka serempak melalui Blood-Link.

Satu jam kemudian, perpustakaan kota yang tadinya tenang menjadi sangat riuh. Orang-orang mulai berbisik-bisik, membolak-balik laman internet, dan membicarakan berita global tersebut dengan antusiasme yang bercampur ketakutan. Liora sudah tidak bisa fokus lagi pada pelajaran fisika. Ia terus membolak-balik laman forum Hunter Internasional dengan jari yang gemetar.

"Arkan, menurutmu... siapa sebenarnya pemimpin mereka?" tanya Liora tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik. "Banyak rumor di forum gelap yang bilang pemimpin mereka adalah sosok bernama 'Sovereign'. Jika dia bisa memerintah orang-orang sekuat Vanguard dan Phantom dengan kepatuhan mutlak, bukankah dia harusnya menjadi entitas terkuat yang pernah ada di alam semesta?"

"Mungkin dia hanyalah seseorang yang sudah lelah dengan peperangan dan hanya ingin hidup tenang di sudut dunia yang sepi, Liora," jawab Arkan sambil menutup bukunya dengan tenang. "Mungkin dia hanya ingin lulus sekolah tanpa gangguan dan tidak peduli pada takhta atau kekuasaan global."

Liora tertawa keras kali ini, menganggap ucapan Arkan sebagai sebuah lelucon yang paling konyol yang pernah ia dengar selama setahun terakhir. "Mana mungkin! Seseorang dengan kekuatan sebesar itu pasti haus akan darah, pengakuan, dan takhta! Tidak ada dewa atau raja yang mau duduk di kelas membosankan dan mengerjakan tugas sekolah sepertimu, Arkan. Kamu terlalu naif."

Arkan ikut tertawa kecil, meskipun di balik tawa itu, ia merasakan sebuah kepuasan yang dingin dan tajam. Sandiwaranya berjalan dengan sangat sempurna. Musuh-musuhnya kini sedang berlarian mengejar bayangan palsu di tiga benua yang berbeda, Direktur KHA sedang pusing dengan ribuan data energi yang saling bertabrakan, dan gadis yang paling dekat dengannya pun tidak mampu membayangkan bahwa "sang Sovereign" itu sedang duduk tepat di hadapannya, sedang merapikan alat tulis dan mencatat rumus percepatan gravitasi.

Saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan menuju halte bus, langit Seoul kembali terlihat tenang dan damai. Namun, Arkan menyadari bahwa pengalihan ini hanyalah solusi sementara. Choi Ha-neul bukan orang bodoh; wanita itu memiliki insting yang tajam. Cepat atau lambat, dia akan menyadari bahwa kemunculan serentak di berbagai belahan dunia itu hanyalah sebuah trik pesulap untuk menyembunyikan tangan yang sebenarnya.

'Julian,' panggil Arkan saat ia berpisah jalan dengan Liora di persimpangan halte.

'Ya, Ayah? Saya mendengarkan.'

'Siapkan protokol perlindungan lapis kedua. Aku ingin kau menyiapkan tempat tinggal baru yang sangat rahasia untuk keluarga asli Bastian dan Hana di luar negeri. Berikan mereka identitas baru yang didukung oleh sistem pemerintahan bayangan kita. Aku tidak ingin mereka memiliki satu pun titik lemah yang bisa dimanfaatkan oleh militer atau intelijen jika suatu saat mereka terdesak atau jika identitas para bawahan terbongkar.'

'Melaksanakan segera, Ayah. Semua aset keuangan sudah dialihkan ke akun-akun anonim di Swiss. Oh, ada satu hal lagi... Seer baru saja melihat sebuah fragmen masa depan yang dekat melalui penglihatan darahnya. Sebuah Gerbang Abyss akan terbuka tepat di tengah acara Festival Budaya SMA Gwangyang minggu depan. Ini bukan gerbang tipe penghancur seperti SSS kemarin, tapi gerbang tipe 'Parasite' yang sangat licik, yang mengincar individu-individu dengan bakat mana yang murni untuk dijadikan wadah.'

Arkan menghentikan langkah kakinya tepat di bawah lampu jalan yang remang. Matanya berkilat merah delima di balik kacamata tebalnya, memancarkan hawa dingin yang membuat kucing-kucing liar di sekitarnya lari ketakutan. "Gerbang Parasite... tepat di sekolahku? Sepertinya dimensi Abyss benar-benar bersikeras agar aku berhenti sekolah dan tidak mendapatkan ijazah."

'Apakah Ayah ingin kami mengirimkan Vanguard untuk menghancurkan bibit gerbang itu sebelum ia terbuka secara resmi?' tanya Julian dengan nada menawarkan solusi.

'Tidak,' Arkan tersenyum dingin, menatap ke arah gedung SMA Gwangyang yang terlihat dari kejauhan di bawah rembulan. 'Biarkan itu terbuka. Aku ingin melihat sejauh mana Liora dan para Hunter 'pahlawan' sekolah ini bisa bertahan tanpa bantuan Crimson Eclipse. Jika mereka tidak bisa menjaga tempat belajarku dengan benar... maka aku sendiri yang akan memberikan mereka pelajaran tambahan tentang kematian yang tidak akan pernah mereka temukan di dalam buku teks mana pun.'

Malam itu, Arkan pulang ke apartemennya dan tidur dengan sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara itu, di tiga belahan dunia yang berbeda, para Hunter terkuat di bumi sedang berdiri di atas puing-puing medan tempur, menatap langit yang kosong dengan frustrasi, mencari jejak dari kelompok misterius yang telah mengubah arah sejarah dunia dalam satu malam. Dan sang penguasa darah, hanya sedang memimpikan hari esok di mana ia tidak perlu pusing memikirkan tugas kalkulus yang membosankan.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!