Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.
Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.
Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.
Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: JEJAK YANG HILANG DAN MISTERI BARU
Dunia seakan runtuh di hadapan Putri saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Bang Rio. Rara hilang. Satu-satunya keluarga yang tersisa, satu-satunya alasan dia bertahan hidup dan berjuang selama ini, kini menghilang tanpa jejak. Kakinya lemas, dan jika Rizky tidak segera memeluk bahunya untuk menopang, Putri mungkin sudah jatuh terjerembap di lantai marmer yang dingin itu.
"Ti... tidak mungkin... Itu tidak benar, Bang Rio!" seru Putri, suaranya pecah di antara isak tangis yang mulai meledak. "Rara ada di rumah sakit! Dia dirawat di kamar khusus! Ada perawat dan pengawal! Bagaimana bisa dia hilang?!"
Rizky, meski wajahnya pucat dan tubuhnya masih sakit akibat perkelahian tadi, berusaha tetap tegar. Dia menggenggam bahu Bang Rio dengan erat. "Bang Rio, jelaskan detailnya! Siapa yang menelepon? Kapan terakhir kali Rara terlihat?"
Bang Rio mengusap wajahnya kasar, tampak sangat stres dan bingung. "Perawat kamar Rara yang menelepon. Dia bilang, sekitar sepuluh menit yang lalu, seorang pria mengaku sebagai staf administrasi rumah sakit yang datang untuk memindahkan Rara ke ruang observasi karena ada kerusakan di kamar sebelah. Perawat sempat ragu, tapi pria itu menunjukkan surat perintah yang terlihat resmi dan memiliki tanda tangan yang mirip dengan dokter yang menangani Rara. Karena situasi di rumah sakit juga agak kacau karena kedatangan polisi tadi, perawat itu percaya dan membiarkan Rara dibawa."
"Surat palsu..." desis Rizky, giginya bergemeretak. "Itu pasti ulah orang-orang Pak Darmawan yang masih bebas. Meskipun Pak Darmawan sudah tertangkap, anak buahnya pasti masih banyak yang bersembunyi dan menjalankan perintah terakhirnya."
"Atau mungkin ada orang dalam yang dibayar mahal," tambah Putri dengan suara gemetar, matanya basah namun penuh tekad. "Mereka tahu kalau Pak Darmawan tertangkap, jadi mereka menggunakan Rara sebagai sandera terakhir untuk menekan kita."
"Kita harus ke rumah sakit sekarang! Sekarang juga!" seru Putri, berusaha melepaskan diri dari pelukan Rizky untuk berlari, tapi Rizky menahannya dengan lembut namun tegas.
"Putri, tenang. Kalau kita panik, kita tidak akan bisa berpikir jernih," kata Rizky, suaranya rendah namun berusaha menenangkan. "Aku tahu ini sangat berat, tapi kita butuh strategi. Bang Rio, hubungi semua anak buah yang masih bisa dipercaya—yang tidak terlibat dengan kejahatan ayah dan bukan orang Pak Darmawan. Suruh mereka menyebar, periksa semua jalan keluar kota, pantau stasiun, bandara, dan rumah-rumah aman yang mungkin diketahui orang-orang Darmawan."
"Siap, Pak Rizky. Saya akan lakukan sekarang," jawab Bang Rio, segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon satu per satu orang kepercayaannya.
Rizky menoleh ke arah Nina yang sejak tadi diam dan tampak syok. "Nina, tolong hubungi Detektif Rian. Katakan padanya situasi darurat ini. Minta dia mengirimkan tim forensik ke rumah sakit untuk mencari jejak, dan minta dia mengeluarkan perintah penggeledahan ke markas atau properti milik Pak Darmawan. Kita tidak boleh membuang waktu."
"Baik, Rizky. Aku langsung hubungi dia sekarang," jawab Nina cepat, lalu berjalan menjauh untuk menelepon detektif tersebut.
Kini tinggal Putri dan Rizky di ruang tamu yang sepi itu. Putri jatuh terduduk di sofa, air matanya mengalir deras tanpa henti. "Rizky... bagaimana kalau mereka menyakiti Rara? Dia masih kecil... dia baru saja operasi... dia butuh obat..."
Rizky segera duduk di samping istrinya dan memeluknya erat-erat. "Tidak, Putri. Mereka tidak akan menyakiti Rara. Rara adalah kartu as mereka. Selama mereka memegang Rara, mereka punya kendali atas kita. Mereka akan menjaga Rara tetap hidup untuk digunakan sebagai tawar-menawar."
"Tapi untuk apa?" isak Putri. "Pak Darmawan sudah tertangkap. Apa lagi yang mereka mau?"
"Mungkin mereka ingin pertukaran," tebak Rizky. "Mungkin mereka ingin Pak Darmawan dibebaskan, atau mereka ingin uang tebusan yang besar. Atau... mungkin ada dalang lain yang kita tidak tahu."
Pikiran Putri berputar kencang. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia mencoba menganalisis situasi ini secara logis, meski emosinya menguasai. Siapa yang paling diuntungkan dengan hilangnya Rara saat ini? Pak Hidayat sudah menyerah, Pak Darmawan sudah ditangkap. Apakah ada orang lain dalam jaringan mafia yang lebih besar yang ingin menghancurkan mereka?
Tiba-tiba, ponsel Putri yang ada di tangannya bergetar keras. Layarnya menyala, menampilkan nomor yang tidak dikenal. Jantung Putri seakan berhenti berdetak. Dia menatap Rizky dengan mata terbelalak. "Ini... ini mungkin mereka."
Rizky mengangguk cepat. "Angkat. Tapi tenang. Jangan biarkan mereka tahu kita panik. Aktifkan fitur perekam panggilan."
Putri menghela napas panjang, mencoba mengatur suaranya agar tidak terlalu bergetar, lalu menekan tombol jawab.
"Halo?"
[Putri Aulia... Akhirnya kau mengangkat juga,] suara pria yang tidak dikenal terdengar di seberang sana, suaranya terdengar kasar dan sepertinya menggunakan alat pengubah suara agar tidak dikenali. [Kau pikir permainan sudah selesai? Kalau bos kami di dalam, kau pikir kami akan diam saja?]
"Apa yang kalian lakukan pada adikku? Di mana Rara?!" seru Putri, tak mampu menahan emosinya lagi.
[Adikmu aman... untuk saat ini,] jawab pria itu dingin. [Dia tidur nyenyak di tempat yang nyaman. Tapi kondisinya akan tergantung pada sikapmu. Dengarkan baik-baik. Kami ingin bos kami, Pak Darmawan, dibebaskan dalam waktu 24 jam. Kalau tidak, kau akan mendapatkan potongan-potongan tubuh adikmu satu per satu. Paham?]
"Kalian gila!" teriak Rizky yang tidak tahan lagi, merebut ponsel dari tangan Putri. "Kalian tahu kalian tidak bisa menuntut hal seperti itu! Polisi sudah menguasai situasi! Kalau kalian menyakiti sehelai rambut pun dari Rara, kalian tidak akan bisa lari!"
[Oh, jadi Tuan Muda Rizky juga ada di sana,] ejek pria itu. [Kami tidak takut polisi. Kami punya banyak tempat persembunyian. Lakukan apa yang kami mau, atau adik kecilmu itu akan mati perlahan dan menyakitkan. Kalian punya waktu 24 jam. Mulai sekarang. Jangan berani-berani melacak panggilan ini, atau permainan berakhir sekarang.]
Panggilan terputus.
Putri menangis sejadi-jadinya di pelukan Rizky. "Apa yang harus kita lakukan, Rizky? Mereka mau membebaskan Pak Darmawan! Itu tidak mungkin! Tapi kalau tidak... Rara..."
Rizky memeluk istrinya dengan kuat, hatinya hancur melihat kesedihan Putri, tapi otaknya bekerja keras mencari jalan keluar. "Kita tidak akan membebaskan Pak Darmawan. Itu tidak mungkin dan melanggar hukum. Tapi kita juga tidak akan membiarkan Rara terluka. Kita punya 24 jam. Itu waktu yang cukup untuk kita menemukan di mana mereka menyembunyikan Rara sebelum mereka sadar kita tidak akan menuruti permintaan gila mereka."
"Tapi bagaimana? Kita tidak tahu di mana mereka," kata Putri lemah.
"Kita punya Bang Rio, kita punya Nina, dan kita punya polisi," kata Rizky tegas. "Ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Kita harus melihat sendiri tempat kejadiannya. Mungkin ada jejak yang tertinggal. Sesuatu yang terlewatkan."
Mereka segera bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sangat mencekam. Putri menatap keluar jendela, matanya kosong, doa terus meluncur dari bibirnya agar Rara baik-baik saja. Rizky menyetir dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram setir erat-erat, amarah dan kekhawatiran bercampur menjadi satu.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju kamar Rara. Di sana, Detektif Rian dan beberapa petugas polisi sudah berada di sana, sedang memeriksa kamar dan berbicara dengan perawat yang bersangkutan. Perawat itu tampak sangat ketakutan dan menangis, merasa bersalah karena telah tertipu.
"Detektif!" panggil Rizky saat masuk.
Detektif Rian menoleh, wajahnya tampak serius. "Pak Rizky, Bu Putri. Saya turut prihatin. Kami sedang melakukan penyelidikan. Surat perintah yang dibawa penculik itu memang dibuat sangat rapi, hampir tidak bisa dibedakan dari aslinya. Ini pekerjaan profesional."
"Bisa kami lihat CCTV di sekitar kamar dan lobi?" tanya Putri, tiba-tiba mengumpulkan sisa keberaniannya. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betapa pentingnya bukti visual.
"Kami sudah memintanya. Sedang diproses sekarang," jawab Detektif Rian. "Mari ke ruang keamanan."
Mereka berjalan menuju ruang keamanan rumah sakit. Petugas keamanan memutar rekaman CCTV dari waktu yang diperkirakan saat Rara dibawa keluar. Di layar monitor, mereka melihat seorang pria tinggi besar mengenakan jas dokter dan masker medis, mendorong ranjang pasien yang berisi Rara yang tampak tertidur (mungkin diberi obat penenang). Pria itu berjalan tenang, tidak terlihat terburu-buru, dan berhasil melewati lobi utama tanpa dicurigai karena mengenakan seragam resmi.
"Berhenti di situ!" seru Putri tiba-tiba, menunjuk ke arah layar. "Perbesar bagian tangan pria itu!"
Petugas keamanan segera memperbesar gambar. Di pergelangan tangan kiri pria itu, terlihat tato kecil berwarna hitam berbentuk ular melingkar di sekitar belati.
Putri menahan napas. Dia pernah melihat tato itu sebelumnya. Saat dia menyusup ke dalam dokumen-dokumen ayah Rizky, ada foto-foto anggota kelompok sayap keras milik Pak Darmawan yang memiliki tato serupa. Tapi ada sesuatu yang lain...
"Tunggu..." Putri mengerutkan kening. "Saya kenal tato ini. Tapi... saya juga pernah melihat jam tangan yang dipakainya. Itu jam tangan edisi terbatas yang sangat mahal. Saya pernah melihatnya di pergelangan tangan salah satu asisten pribadi Pak Hidayat yang sudah lama tidak bekerja di sini. Namanya... Pak Joko."
Rizky terkejut. "Pak Joko? Asisten lama Ayah yang pensiun dua tahun lalu karena sakit? Tapi kenapa dia terlibat dengan orang-orang Pak Darmawan?"
"Atau mungkin dia memang mata-mata Pak Darmawan yang sudah menyusup lama sekali," tebak Detektif Rian. "Kalau Bu Putri mengenali jam tangan dan tatonya, itu petunjuk besar. Siapa tahu dia masih tinggal di area ini atau punya properti di tempat tertentu."
"Bang Rio!" panggil Rizky. "Cari tahu alamat terakhir dan semua properti yang dimiliki Pak Joko! Sekarang juga!"
Bang Rio yang sudah berada di sana segera mengetik cepat di ponselnya. "Siap, Pak. Saya akan hubungi bagian administrasi lama dan teman-teman yang kenal dia."
Sambil menunggu informasi dari Bang Rio, Putri berkeliling di kamar Rara, mencari sesuatu yang mungkin tertinggal atau dibawa oleh Rara. Tiba-tiba, matanya tertuju pada bantal tempat Rara tidur. Ada selembar kertas kecil yang terlipat terselip di antara bantal dan sprei.
Putri segera mengambilnya. Itu adalah kertas gambar bekas milik Rara. Di sana, dengan krayon merah, Rara menggambar sebuah rumah besar dengan pohon beringin besar di halamannya, dan di dekatnya ada sebuah sumur tua. Di bawah gambar itu, Rara menulis dengan huruf-huruf yang belum rapi: Rumah Om Joko. Pohon besar.
Putri merasa secercah harapan menyelinap di hatinya. "Rizky! Lihat ini! Rara menggambar ini! Dia tahu dia dibawa ke rumah Pak Joko!"
Rizky dan Detektif Rian segera mendekat dan melihat gambar itu. "Anak yang pintar," gumam Detektif Rian kagum. "Dia meninggalkan petunjuk."
Tepat saat itu, ponsel Bang Rio berdering. Dia mengangkatnya sebentar, lalu wajahnya berubah cerah. "Pak Rizky! Dapat! Pak Joko punya sebuah vila tua di daerah pegunungan di Puncak. Di sana ada pohon beringin raksasa di halamannya dan sumur tua, sesuai cerita warga sekitar. Itu satu-satunya properti yang tercatat atas namanya."
"Itu pasti tempatnya!" seru Rizky, matanya berbinar. "Detektif, kita harus segera ke sana! Mereka mungkin sudah siap memindahkan Rara kalau mereka tahu kita sudah melacak jejak mereka!"
"Tim penyergapan sudah siap," kata Detektif Rian tegas. "Kita berangkat sekarang!"
Putri meremas gambar buatan Rara di tangannya. Gambar sederhana itu kini menjadi harapan terbesar mereka. Rara, adik kecilnya yang tangguh, ternyata tidak hanya pasrah, tapi juga berani meninggalkan petunjuk bagi kakaknya.
"Kita akan datang, Rara. Tunggu Kakak," bisik Putri, air matanya kini bercampur dengan tekad yang membara.
Mereka segera bergerak. Rombongan mobil polisi dan mobil Rizky melaju kencang menuju ke arah Puncak malam itu juga. Jalanan berkelok dan berkabut tidak menyurutkan niat mereka. Waktu terus berjalan, hitungan mundur 24 jam sudah dimulai, dan mereka harus sampai di sana sebelum terlambat.
Di dalam mobil, Putri menatap gambar itu lagi, lalu menatap Rizky yang menyetir dengan fokus penuh. "Kita akan menemukannya, Rizky. Aku tahu kita akan menemukannya."
Rizky menggenggam tangan Putri sebentar, lalu kembali memegang setir. "Kita akan menyelamatkannya, Putri. Bersama-sama. Kali ini, tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Perjalanan menuju vila tua itu terasa sangat panjang, namun di dalam hati mereka, ada api keberanian yang menyala terang. Mereka tidak hanya datang untuk menyelamatkan Rara, tapi juga untuk mengakhiri semua ancaman yang selama ini menghantui hidup mereka.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Berkat petunjuk jenius yang ditinggalkan Rara lewat gambarnya dan ingatan tajam Putri, mereka berhasil melacak lokasi penculik ke sebuah vila tua di Puncak milik Pak Joko, mantan asisten Pak Hidayat yang ternyata mata-mata Pak Darmawan. Tim polisi dan Rizky kini sedang bergegas ke sana. Jika kamu menjadi Putri, apa strategi yang akan kamu sarankan kepada Detektif Rian untuk menyergap vila tersebut agar Rara bisa diselamatkan dengan selamat tanpa memicu baku tembak yang berbahaya?