NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Matahari baru saja naik, menambah semangat Vania dan Rika dalam setiap langkah joging mereka. Udara pagi yang sejuk mengisi paru-paru mereka dengan kesegaran, sementara pemandangan kota yang terhampar luas dengan gedung-gedung menjulang tinggi memberikan rasa kagum yang mendalam. Keduanya berlari melewati taman kota, dimana beberapa orang juga terlihat sedang berjoging dan bersepeda, menikmati keindahan pagi.

Pancaran sinar matahari pagi menyorot wajah mereka, langit biru nan cerah dengan awan-awan putih menghiasi langit kota membuatnya semakin indah. Raut wajah keduanya terlihat senang dan sumringah. Vania memanfaatkan momen ini dengan berfoto dan membuat video. Ia meminta tolong pada Rika untuk memotret dirinya, kemudian keduanya foto bersama dengan pemandangan kota yang indah.

Setelah berjoging selama hampir satu jam, rasa lapar mulai mengusik perut Vania dan Rika. Mereka memperlambat langkah, berbicara tentang berbagai topik sambil terus bergerak menuju sebuah kafe kecil yang mereka kenal di sudut jalan. Kafe itu dikenal dengan menu sarapannya yang lezat dan segar.

Sesampainya di kafe, mereka memesan dua porsi omelet dan jus jeruk segar. Sambil menunggu pesanan datang, mereka melanjutkan obrolan ringan, tertawa bersama sambil sesekali melirik ke arah jalan yang masih dipenuhi oleh orang-orang yang berolahraga. Kedua wanita itu merasa puas dan rileks, menikmati momen persahabatan di pagi hari yang cerah, sambil bersiap untuk menyantap sarapan yang akan segera tiba.

Namun belum sempat pesanan diantar, tiba-tiba seorang pria menarik tangannya. Vania terkejut dan terlihat emosi karena tarikan laki-laki itu membuatnya terjatuh dan hampir memeluknya. Untungnya sebelum hal itu terjadi, Vania bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak di rangkul oleh laki-laki yang merupakan mantan tunangannya, Deo.

"Apa?" tanya Vania ketus.

"Kemarin kamu ngomong apa aja ke Karina?" tanya Deo sembari menatap sinis Vania.

Vania menyeringai, ia menatap Deo tak kalah sinisnya. "Gak ngomong apa-apa, aku hanya menyampaikan sebuah fakta. Kenapa memangnya? Apakah gadis kesayangan kamu itu mengadu?"

"Kamu tau? Gara-gara omongan kamu itu, dia jadi kepikiran dan akhirnya jatuh sakit. Kalian kali kalau bicara tuh di filter dulu supaya gak buat orang over thinking dan sakit hati."

Vania berdecih, sudah muak dengan drama Deo maupun Karina. " Kenapa nyalahin aku? Dia yang samperin aku duluan, aku udah berusaha menghindar tapi dia selalu ngikutin aku, jadi salah dia sendiri lah."

"Tetap aja gak seharusnya kamu ladenin dia."

"Apa si? Kalau tujuan kamu ke sini cuma buat nyalahin aku, lebih baik kamu pergi. Muak banget aku ladenin drama kalian. Dia yang mulai manas-manasin aku, lagipula aku gak ngomong macam-macam hanya menyampaikan fakta aja. Kalau dia sakit yaudah salah dia sendiri, kenapa harus bawa-bawa aku? Berlebihan banget." Ujar Vania, berusaha untuk tidak berteriak, jika saja dia berada di tempat yang jauh dari jangkauan orang mungkin dia sudah berteriak sekencang mungkin di depan laki-laki brengsek ini.

"Tapi Karina itu sensitif dan suka kepikiran, itu ngaruh banget SMA kesehatan dia. Beda sama kamu yang kuat."

Rika yang sedari tadi duduk, tidak mau ikut campur urusan bos nya, menjadi geram begitu mendengar Deo yang terus menyalahkan Vania. " Jangan nyalahin Vania, Mas. Apalagi banding-bandingin Vania sama pacar gelap mas itu. Asal Mas tau, Vania sempat frustrasi waktu tau Mas Deo main belakang sama Karina, lalu setelahnya Vania di tinggal oleh kedua orangtuanya untuk selamanya, bahkan setelah kematian kedua orangtuanya dia sempat ada masalah dengan keluarga besarnya. Juga sebelumnya Vania dan keluarganya sempat mendapatkan hujatan karena podcast mas yang gak banget itu. Sekarang mas pikir lebih sakit siapa? Jadi gak udah berlebihan mas."

Percekcokan mereka mengundang perhatian orang di sekitar. Deo terdia, dan malu saat di tatap oleh orang ramai. Sorot mata Vania memerah, menandakan jika saat ini gadis itu tengah menahan emosi, ia benar-benar benci pada Deo. Ia tidak menyangka jika Deo sebrengsek ini.

Vania tertawa kecil." Aku jadi tahu siapa yang selama ini ada di hati kamu? Bahkan sekarang terlihat jelas kalau podcast kamu itu hanyalah pengalihan saja kan? Supaya kedekatan kamu dan Karina nggak ketahuan sama aku. Dengan begitu kamu bisa menyalahkan aku kalau sewaktu-waktu hubungan kita renggang, dengan begitu kamu dan Karina selamat dari hujatan orang-orang. Lagi pula untuk apa sih perempuan kesayangan kamu itu membuat pilihan ke kamu, suruh memilih antara aku dan dia? Padahal dari sini saja sudah jelas kalau kamu berpihak kepada siapa."

"Cukup Vania, aku udah minta maaf ke kamu. Kenapa sih harus terus dibahas yang udah berlalu? Kamu nggak malu sekarang jadi perhatian orang-orang?" Dalih Deo.

"Loh aku sama Mbak Rika dari tadi enjoy aja diperhatikan banyak orang. Lagi pula kan kamu duluan yang ada di tangan aku dan mulai mempermasalahkan hal yang gak penting. Jadi salah siapa? Sekarang tinggal pilih aja mau pergi atau tetap berdebat di sini? Kalau sudah seperti ini harusnya kamu sih yang malu, bukan aku."

Deo menggeram kesal."Oke aku akan pergi, tapi aku ingetin kamu sekali lagi. Jangan pernah bicara macam-macam sama Karina."

"Kamu tahu perempuan kalau sedang lapar bisa aja pukul cowok sampai babak belur. Sebelum aku benar-benar emosi, Aku cuma mau menegaskan kalau aku gak sudi kembali sama kamu. Dan bilang ke perempuan kesayangan kamu itu, jangan ganggu hidup aku lagi. Sekarang kamu pergi dari sini, aku udah muak liat tingkah kamu dan perempuan kamu itu!"

"Sekarang kamu benar-benar berubah ya, kamu kasar bukan seperti Vania yang aku kenal dulu."

"Harusnya kamu sadar,kalau aku begini juga karena kamu!"

Rika lantas mengusap punggung Vania agar lebih tentang. Deo berdecak kesal kemudian pergi seraya menghentakkan kakinya. Namun beberapa langkah menjauh Deo ke berhenti dns menoleh ke arah Vania, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Rika menuntun tubuh Vania kembali ke meja mereka. Hidangan yang mereka pesan tenyata susah datang dan cukup menggugah selera. Sejenak kenikmatan hidangan itu membuat mereka lupa akan kejadian tadi. Setelah makan, Vania melihat kedai es krim tak jauh dari sana. Ia beranjak dan menyuruh Rika untuk menunggu di taman dekat kafe saja.

Vania berjalan ke kedai eskrim itu sendirian, karena antrian tidak cukup banyak ia langsung memesan dua eskrim rasa strawberry dan vanila. Beberapa menit menunggu akhirnya pesannya sudah jadi, baru saja akan mengambil pesanannya tiba-tiba seorang pria terlebih dahulu menyerobot pesanannya. Vania yang sudah sedikit tenang kembali emosi begitu pesanannya di rebut begitu saja.

"Bisa gak sih antri dulu?! Aku dari tadi d sini, berarti ini pesanan aku. Gak Deo gak bapak selalu saja buat saya emosi! Kenapa si suka banget serobot pesanan orang?!" Ujar Vania emosi.

"Ya ampun! Kenapa saya harus ketemu kamu si? Mana saya tau kalau kamu di sini. Lagipula saya juga udah lama di sini."

Karena sudah sangat kesal Vania mencubit lengan Farel, sontak laki-laki itu meringis kesakitan. " Saya tuh beli es krim buat ngeredain badmood , tapi bapak malah rebut es krim saya. Ngalah dong pak sama cewek. Saya gak mau tau es krim itu punya saya."

"Iya iya, aduh udah lepasin cubitannya dong!"

Farel berhasil meraih tangan Vania, ia berusaha melepaskan cubitan gadis itu dari lengannya, tak sengaja keduanya saling menatap. Hal itu tak lepas dari perhatian orang-orang di sekitar.

"Kenapa si saya harus ketemu bapak lagi? Bapak ngikutin saya ya?" ucap Vania ketus.

"Hei, kamu jangan terlalu percaya diri ya. Saya sudah lama bekerja di sini, tiap akhir pekan saya selalu ke sini dan pesan es krim ini. Udah nuduh saya, nyubit pula!" ujar Farel kesal.

Vania mendelik." Es krimnya buat bapak aja, saya mau cari tempat lain."

"Hei, mau kemana? Kedai es krim yang lain jauh dari sini. Saya udah ngalah tuh, kamu ambil aja es krim nya."

Vania mendelik seraya mengambil es krim yang susah penjual sediakan." Kebiasaan bapak serobot antrian tuh hilangin! Bikin kesel orang aja."

Vania mengalihkan perhatiannya pada es krim di tangannya, binar mata itu kembali muncul setelah melihat es krim di tangannya. Ketika hendak kembali ke tempat tadi, ternyata Rika susah terlebih dahulu menyusulnya.

"Vania beli es krim lama banget, aku kira kamu kenapa-napa loh."

Vania tersenyum kecil." Maaf mbak tadi ngantri, terus ada yang nyerobot juga makanya lama, ini es krim mbak," ujar Vania memberikan es krim pada asistennya itu.

Farel yang melihat bagaimana interaksi Vania pada asistennya itu membuatnya terkesima, meskipun Vania galak tapi dia tetap bersikap lembut pada orang terdekatnya. Farel jadi memperhatikan Vania, ia terpana melihat Vania tanpa polesan make up, terlihat natural dan cantik. Merasa ditatap oleh Farel, Vania pun menoleh dan menatap sinis ke arahnya.

"Apa?!" Tanya Vania ketus.

"Gak ada! Jangan kebanyakan makan es krim nanti gemuk," ucapnya asal. Farel langsung mengalihkan pandanganya, ia menggerutu karena slash tingkah dia malah berbicara yang aneh.

"Saya gak peduli, lagian saya single jadi bebas. Justru bagus kalau badan saya gemuk, supaya gak ada cowok brengsek yang mau deketin saya lagi," ujar Vania.

" Saya kasihan sama kamu, pasti Karena tunanganmu itu kamu jadi seperti ini."

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!