NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 RTJ

Ibu Kota Kekaisaran tidak pernah tidur. Di balik kemegahan tembok-tembok emasnya, tersimpan bau busuk intrik dan penindasan. Lin Xi berjalan menyusuri jalanan utama, jubah hitamnya berkibar pelan mengikuti langkah kaki yang kini tak bersuara—hasil dari teknik Langkah Bayangan Medis yang kian sempurna.

Di dalam kepalanya, suara Kakek Bai terdengar malas-malasan. "Gadis kecil, kau sudah berputar di sekitar Kediaman Jenderal Lin selama dua jam. Apa kau sedang merencanakan pembakaran besar-besaran?"

Lin Xi tersenyum tipis di balik cadarnya. "Membakar tempat itu terlalu mudah, Kakek Bai. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya selapis demi selapis. Tapi sebelum itu, aku butuh informasi. Informasi yang tidak bisa didapat dari penggosip di kedai teh."

Lin Xi membelok ke sebuah gang sempit yang berujung pada sebuah bangunan tua tanpa papan nama. Ini adalah Paviliun Bayangan, tempat di mana informasi dan nyawa memiliki harga yang pasti.

Seorang pria bermata satu menyambutnya di balik meja kayu yang apak. "Informasi apa yang kau cari, Nona?"

"Segalanya tentang Jenderal Lin Tian. Jadwal patrolinya, siapa saja selirnya yang paling berkuasa, dan yang paling penting... di mana ia menyimpan daftar logistik pasukan rahasianya," suara Lin Xi terdengar dingin dan berat, sengaja diubah dengan menekan titik meridian di tenggorokannya.

Pria itu terdiam, lalu terkekeh. "Informasi tentang Jenderal Besar? Itu harganya seribu emas."

Lin Xi meletakkan sebuah botol giok kecil di atas meja. "Aku tidak punya emas. Tapi di dalam ini ada tiga Pil Pemurni Sumsum tingkat menengah. Kau tahu berapa nilainya di rumah lelang?"

Mata pria itu membelalak. Ia segera mengambil botol itu dan mencium aromanya. "Kualitas murni! Baik, datanglah kembali tengah malam. Informasi itu akan siap."

Keluar dari Paviliun Bayangan, Lin Xi tidak langsung beristirahat. Ia melangkah menuju bagian selatan kota, area yang dikenal sebagai "Pasar Lumpur". Di sini, manusia diperjualbelikan seperti ternak. Bau keringat, darah, dan keputusasaan memenuhi udara.

"Kau ingin membeli budak?" tanya Kakek Bai, kali ini nadanya serius.

"Bukan sekadar budak, Kakek Bai. Aku butuh orang-orang yang sudah dibuang oleh dunia. Orang yang memiliki dendam sebesar jiwaku. Aku akan memberikan mereka kekuatan, dan sebagai gantinya, mereka akan menjadi pedangku."

Lin Xi berjalan melewati barisan jeruji besi. Banyak budak yang tampak lemah dan memelas, namun Lin Xi mengabaikan mereka. Ia mencari sesuatu yang berbeda. Sampai akhirnya, langkahnya terhenti di depan sebuah kandang besi besar di pojok pasar.

Di dalamnya, ada sepuluh pemuda dengan tubuh penuh luka cambukan. Mata mereka tidak menunjukkan rasa takut atau permohonan. Mata mereka kosong, hanya ada sisa-sisa amarah yang membara.

"Berapa harga untuk sepuluh orang ini?" tanya Lin Xi pada pedagang tambun yang sedang mencambuk salah satu budak yang pingsan.

Si pedagang menoleh, lalu meludah ke tanah. "Oh, sampah-sampah ini? Mereka adalah mantan prajurit perbatasan yang dituduh berkhianat. Tidak ada yang mau membeli mereka karena mereka terlalu keras kepala dan suka melawan. Ambil semuanya dengan lima puluh emas, dan bawa pergi sebelum mereka mati kelaparan di sini."

Lin Xi mendekati jeruji besi. Ia menatap seorang pemuda yang tampak seperti pemimpin mereka. Pemuda itu memiliki bekas luka panjang di wajahnya.

"Siapa namamu?" tanya Lin Xi.

Pemuda itu menatap Lin Xi dengan sinis. "Untuk apa kau tahu nama mayat?"

"Aku tidak butuh mayat. Aku butuh serigala," balas Lin Xi tenang. "Dunia mengkhianatimu, Jenderal Lin membuangmu ke sini untuk membusuk. Jika kau mengikutiku, aku tidak menjanjikanmu kekayaan. Tapi aku menjanjikanmu kesempatan untuk menggorok leher orang-orang yang menaruhmu di kandang ini."

Mendengar nama 'Jenderal Lin', percikan api muncul di mata pemuda itu. Ia berdiri dengan kaki gemetar, mencengkeram jeruji besi. "Siapa kau?"

"Seseorang yang akan menjadi mimpi buruk mereka," jawab Lin Xi. "Jika kau setuju, namamu mulai hari ini adalah Satu. Dan teman-temanmu akan menjadi angka selanjutnya. Kalian bukan lagi manusia, kalian adalah Pasukan Bayangan Medis."

Si pemuda terdiam sejenak, lalu berlutut di dalam lumpur kandang tersebut. Sembilan orang lainnya mengikuti. "Hamba... Satu, siap melayani Nyonya."

Setelah membayar pedagang, Lin Xi membawa kesepuluh orang itu ke sebuah rumah kecil yang ia sewa di pinggiran kota. Ia segera mengeluarkan beberapa botol obat dari ruang dimensinya.

"Minum ini," perintah Lin Xi.

"Apa ini racun, Nyonya?" tanya budak yang kini bernama Dua.

"Bukan. Itu adalah Air Mata Roh dari mata air suciku. Itu akan membersihkan racun dalam tubuh kalian dan menyambung kembali meridian kalian yang rusak," jelas Lin Xi.

Saat sepuluh orang itu meminumnya, mereka berteriak tertahan. Tubuh mereka mengeluarkan uap hitam berbau busuk. Kakek Bai muncul dalam bentuk asap di samping Lin Xi, hanya Lin Xi yang bisa melihatnya.

"Kau sangat boros, Lin Xi. Memberikan air suci itu pada manusia-manusia fana ini?"

"Ini investasi, Kakek. Kekuatanku sendiri tidak cukup untuk meruntuhkan kediaman Jenderal yang dijaga ribuan prajurit. Aku butuh mereka sebagai pion yang mematikan."

Satu jam kemudian, sepuluh orang itu berdiri dengan tubuh yang lebih segar. Luka-luka mereka menutup, dan mata mereka kini tajam dengan energi Qi yang mulai mengalir.

Satu melangkah maju dan bersujud. "Terima kasih, Nyonya. Hamba merasa seolah-olah dilahirkan kembali. Perintahkan apa pun, hamba akan melakukannya meskipun harus masuk ke neraka."

Lin Xi duduk di kursi kayu, matanya berkilat dingin. "Kalian adalah prajurit yang dibuang. Maka mulai malam ini, kalian akan berlatih di bawah bimbinganku. Aku akan memberikan kalian teknik kultivasi yang tidak pernah ada di kekaisaran ini. Tugas pertama kalian adalah mengawasi setiap gerak-gerik di kediaman Jenderal Lin. Jangan ada seekor tikus pun yang keluar tanpa sepengetahuan kita."

"Baik, Nyonya!" jawab mereka serempak.

Lin Xi kemudian membagikan belati perak yang telah ia rendam dalam racun pelumpuh saraf. "Gunakan ini hanya jika terdesak. Ingat, teknik Langkah Bayangan yang akan kuajarkan besok adalah kunci keselamatan kalian."

Setelah mereka pergi untuk menempati posisi masing-masing, Lin Xi kembali masuk ke ruang dimensinya.

"Kakek Bai, teknik Langkah Bayangan sudah kuberikan pada mereka. Tapi aku butuh sesuatu yang lebih kuat untuk diriku sendiri. Aku merasa Jenderal Lin memiliki pelindung tingkat Inti Bumi di sisinya."

Kakek Bai mengelus janggutnya yang panjang. "Hohoho... kau pintar. Memang benar, ada aroma energi Inti Bumi di sekitar kediaman itu. Jika kau ingin menghadapinya, kau harus membuka gerbang kedua di Lingkup Rahasia Sembilan Jarum. Kau butuh bunga Jiwa Darah yang hanya tumbuh di makam kuno keluarga kekaisaran."

Lin Xi mengepalkan tangannya. "Makam kekaisaran? Sepertinya perjalananku ke Ibu Kota akan menjadi sangat sibuk."

Ia menatap jarum peraknya yang bersinar di bawah cahaya rembulan ruang dimensi. Dendam ini bukan lagi soal rasa sakit fisik, tapi soal keadilan yang harus ditebus dengan darah.

"Besok," gumam Lin Xi. "Besok, permainan yang sesungguhnya dimulai. Jenderal Lin, nikmatilah sisa-sisa kejayaanmu, karena bayanganku sudah berada di lehermu."

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!