Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Bank
Aku akhirnya diterima kerja, setelah sekitar dua bulan menganggur. Sebagai account officer di suatu bank perkreditan swasta. Tugas aku sesimpel cari nasabah dan mengelolanya. Yup, simpel...
Untuk orang ekstrovert, ini mungkin gampang. Tapi buat aku yang introvert, ini jadi tantangan tersendiri. Awalnya aku benar-benar enggak yakin sama pekerjaan aku ini, tapi aku sudah terlanjur masuk, sudah terlanjur basah.
Sementara itu, aturannya cukup simpel: dapetin minimal tiga puluh nasabah baru selama kurang lebih enam bulan, dan akan diangkat jadi karyawan tetap. Sementara kalau enggak bisa, akan langsung dipecat. Karena syarat ini, aku jadi benar-benar lupain sepenuhnya perkara romansa dalam hidup aku. Aku benar-benar fokus urusan pekerjaan. Karena aku enggak mau dipecat dan nganggur lagi.
Jadi selama kerja di bank, aku tinggal di mess. Jadi memang aku jarang banget pulang ke rumah. Bahkan ketika libur, aku milih tetap di mess. Dan tanpa aku ketahui, Ning beberapa kali ke rumah, nyariin aku. Ini aku tahu juga dari ibu aku.
Aku sengaja ganti nomor handphone aku, biar baik Ning maupun Sari enggak bisa ngehubungin aku lagi. Tapi aku cukup kaget pas tahu Ning sampai nyariin aku ke rumah. Sekarang aku baru sadar, setulus itu dia sama aku.
Tapi waktu itu, aku yang brengsek ini sama sekali enggak nyadar effort dari Ning, dan bersikap seolah semua hal yang aku laluin sama Ning itu enggak pernah terjadi.
Kembali ke masalah pekerjaan aku...
Seorang introvert kayak aku terpaksa harus masuk ke mode ekstrovert biar aku bisa tetap bertahan di perusahaan ini. Jadi aku putar otak cari cara buat dapetin nasabah pertama aku. Hampir aku nyerah, tapi nginget sulitnya masuk ke perusahaan ini, aku pikir ulang.
Beberapa orang nganggep aku enggak cocok sama pekerjaan ini. Tapi itu malah memacu adrenalin aku buat ngebuktiin kalau aku memang cocok di pekerjaan ini. Yup, dan berkat usaha mati-matian yang aku lakuin, aku pecah telur... ah maksudnya, aku dapetin nasabah pertama aku.
Enggak hanya itu, aku berhasil mencapai target di waktu yang lebih cepat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, aku diangkat jadi karyawan tetap.
Karena aku makin tenggelam dalam pekerjaan aku, masalah romansa benar-benar aku lupain. SMS terakhir aku dengan Sari, aku putusin dia secara sepihak. Sejujurnya, aku benar-benar lupa kenangan indah apa yang pernah aku laluin sama Sari. Mungkin karena buat aku dulu, dia cuma pelengkap kebosanan saja.
Lalu dengan Ning, dia mati-matian ngejar cinta aku. Berkali-kali dia nyariin aku di rumah, dan aku sengaja ngindarin dia. Benar-benar pergi gitu saja. Mungkin sikap dia yang kayak gitu dulu ngebuat aku makin ilfeel sama dia.
Padahal kalau aku pikir lagi sekarang, enggak satu pun cewek yang benar-benar mencintai aku kayak Ning mencintai aku waktu itu. Tapi aku sia-siain...
Bekerja di bank enggak ngebuat finansial aku stabil, atau bahkan ngebuat hidup aku jadi tenang. Enggak. Aku benar-benar makin jatuh ke kegelapan hidup.
Jadi gini...
Tugas aku sebagai account officer itu bukan cuma nyari nasabah, tapi juga nagih angsuran. Account officer, sebuah kata keren, yang sebenarnya enggak lebih dari tukang kredit.
Pengalaman yang benar-benar baru...
Dari pekerjaan ini, aku dapet satu ilmu yang enggak aku dapetin waktu aku sekolah: ilmu ngebaca manusia. Benar, ini bukan asal tebak kayak lagi judi main tebak-tebakan benar atau salah. Ini ilmu yang aku dapetin dari lapangan. Sebuah cara buat nilai apakah orang itu berbohong, apakah orang itu tulus, atau apakah orang itu punya niatan buruk.
Sering aku temuin manusia-manusia dengan senyum ramah, sikap baik, bahkan terlihat bijak. Tapi semua itu cuma topeng. Topeng yang dia pakai buat ngendaliin opini orang dan memanipulasinya.
Ada juga orang yang memakai kemiskinannya buat ngebenerin tindakan merugikan orang lain yang ia lakuin. Tipikal orang kayak gini aku sangat benci, karena aku berasal dari latar belakang yang sama: kemiskinan.
Di pekerjaan ini, aku juga belajar sesuatu:
"Jangan pernah percaya, apalagi bergantung pada manusia lain, kalau kamu mau selamat."
Aku serius. Di pekerjaan aku ini, aku enggak tahu kapan temen-temen sekantor aku bakal nusuk aku dari belakang, atau bahkan nusuk dari depan secara terang-terangan.
Hal ini, sekali lagi, ngebuat individualitas aku makin tinggi...
Dan pada saat aku lagi di titik terpuruk, aku cuma bisa balik ke Tuhan... ah enggak, bukan Tuhan. Lebih tepatnya, aku selalu nyari pembenaran di balik topeng agama. Karena pada titik inilah, aku mulai jatuh ke dosa fanatisme agama.
Semua ini muncul karena moralitas aku nolak sisi realistis diri aku.
Sebagai seorang account officer, sering aku berada di titik di mana aku secara terpaksa harus melakukan segala daya upaya biar nasabah bayar angsuran pinjamannya, padahal aku tahu dia enggak lagi ada di kapasitas yang mampu buat bayar.
Cara-cara kekerasan dan penipuan, demi aku memenuhi target pelunasan, aku lakuin. Ini pelan-pelan ngikis moralitas aku sebagai manusia. Lalu aku merasa butuh validasi. Pembenaran atas apa yang aku lakuin. Dengan berlindung di balik topeng agama.
Aku manusia munafik. Aku orang itu...
Kefanatikan aku terhadap agama makin menjadi-jadi pas aku kenalan sama seorang cewek pondok. Seorang santriwati dari salah satu pondok pesantren yang cukup terkenal. Sebutlah namanya Nita.
Momen perkenalan kami lewat suatu grup diskusi random di Facebook. Cewek yang sama sekali enggak ngunggah foto di akun Facebook-nya, dengan foto profil bergambar bunga anggrek.
Awalnya, aku enggak terlalu peduli sama satu cewek ini. Tapi tiap kali aku bikin postingan, cewek itu selalu nanggepin dengan antusias.
Singkatnya, kebetulan waktu itu dia lagi pulang ke rumahnya. Yup, karena dia masih berstatus santriwati dan juga seorang mahasiswi di salah satu kampus di kota aku. Rumahnya kebetulan dekat sama mess aku. Kita janjian ketemuan.
Dia datang sama adeknya. Mereka berdua sama-sama pakai pakaian Islami. Dengan hijab yang nutupin bagian atas tubuhnya, dan sebuah cadar yang nutupin mukanya.
Awalnya aku agak kaget, karena dia sosok cewek Islami, sementara aku cowok Katolik yang sudah mulai masuk ke jurang fanatisme. Tapi di pertemuan pertama kami, dia sama sekali enggak nyinggung masalah agama.
Ini ngubah mindset aku tentang orang-orang bercadar. Karena sebelum aku kenal sama Nita, aku pikir yang ada di otak mereka melulu soal agama saja.
Tapi... ini awalnya saja.
Faktanya, jauh lebih dalam dari itu.
Persis kayak yang aku bilang tadi, pemicu fanatisme agama aku itu adalah perkenalan aku dengan sosok cewek yang bernama Nita.
Yup...
Selanjutnya, aku bakal ceritain siapa itu Nita, dan gimana dia mempengaruhi kehidupan spiritualitas aku.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥