Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di atas gelombang
Kapal Rembulan berhenti di tengah laut, tepat di samping sebuah kapal pesiar pribadi yang tampak kontras dengan kapal nelayan Pak Jaka. Kapal itu tidak berpendar terang; hanya ada beberapa lampu redup di deknya, seolah ingin menyatu dengan kegelapan samudra.
"Naiklah, Aruna. Jangan lepaskan tas itu," bisik Pak Jaka sambil membantuku memanjat tangga tali.
Di atas dek yang terbuat dari kayu jati mewah, aku disambut oleh dua pria berjas rapi yang tidak banyak bicara. Mereka mengantarku menuju ruang utama di bagian tengah kapal. Begitu pintu geser terbuka, aroma cerutu mahal dan wangi melati langsung menyambar indra penciumanku.
Di sana, di balik meja kerja yang menghadap ke jendela besar ke arah laut, duduk seorang wanita paruh baya. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan gaun sutra berwarna merah marun. Meski usianya mungkin sudah kepala lima, auranya begitu kuat hingga membuat udara di ruangan itu terasa berat.
"Aruna Rembulan Maharani," suaranya serak-serak basah namun penuh wibawa. "Aku tidak menyangka fajar milik keluarga Laksmana akan berakhir di kapalku dalam keadaan basah kuyup seperti ini."
"Saya bukan milik keluarga Laksmana," jawabku tegas, meski tubuhku menggigil kedinginan.
Wanita itu terkekeh pelan. Ia bangkit dan berjalan ke arahku. "Aku tahu. Kalau kamu milik mereka, aku tidak akan membiarkanmu naik ke sini. Panggil aku Madam Syaza. Orang-orang di pelabuhan mengenalku dengan nama yang lebih dramatis, tapi aku lebih suka namaku sendiri."
Madam Syaza menunjuk ke arah tas yang kupeluk. "Itu naskah yang membuat Abhinara gila? Dan anak muda bernama Biru itu... dia benar-benar melepaskan warisannya demi ini?"
"Biru melakukannya demi kebenaran, Madam. Dia sekarang dalam bahaya karena melindungi naskah ini," kataku, mencoba menahan emosi. "Pak Jaka bilang Anda bisa membantu kami."
Madam Syaza menyesap minumannya, matanya menatapku tajam. "Aku punya alasan pribadi untuk menghancurkan keluarga Laksmana. Ayah Biru dan Abhinara membangun kekaisaran mereka di atas keringat dan darah keluargaku. Mereka merebut percetakan kakekku dengan cara yang sangat kotor tiga puluh tahun yang lalu."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum dingin. "Aku punya mesin cetak yang tidak bisa mereka sentuh. Aku punya jalur distribusi di seluruh pelosok negeri yang tidak terdaftar di bursa saham. Tapi, apa untungnya bagiku? Aku bukan pekerja sosial, Aruna."
"Buku ini bukan sekadar kumpulan foto," aku membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar draf yang sudah agak lembap. "Di bab terakhir, ada data dan foto-foto ilegal tentang penggusuran lahan yang dilakukan Laksmana Group untuk proyek pelabuhan baru mereka. Biru menemukannya saat sedang memotret para nelayan. Ini adalah bukti kejahatan korporasi mereka."
Mata Madam Syaza berkilat. Ia mengambil lembaran itu, membacanya dengan saksama, dan perlahan senyum kemenangannya muncul. "Anak nakal itu... Biru ternyata lebih pintar dari dugaanku. Dia tidak hanya memberimu cinta, dia memberimu senjata."
"Bantu saya menerbitkan ini, Madam. Bukan untuk saya, tapi untuk semua orang yang fotonya ada di buku ini. Untuk para nelayan yang mereka usir," desakku.
Madam Syaza meletakkan lembaran itu kembali ke meja. "Aku akan melakukannya. Aku akan mencetak sepuluh ribu eksemplar dalam semalam. Kita akan menyebarkannya secara gratis di hari peresmian proyek pelabuhan mereka minggu depan. Kita akan buat peresmian itu menjadi pemakaman bagi reputasi mereka."
"Tapi ada satu syarat," Madam Syaza menatapku dalam. "Kamu harus tetap di kapalku sampai hari itu tiba. Dan jika Biru tidak selamat... kamu harus tetap berdiri di barisan depan saat buku ini meledak di publik."
Jantungku berdenyut nyeri mendengar kalimat "jika Biru tidak selamat". Namun, aku tahu ini adalah satu-satunya cara.
"Saya setuju," jawabku tanpa ragu.
"Bagus. Sekarang, keringkan dirimu. Kita punya banyak pekerjaan. Dan Aruna... selamat datang di sisi gelap yang akan membawa cahaya."
Malam itu, di atas kapal yang bergoyang pelan, aku mulai merevisi naskah terakhir di bawah perlindungan Sang Naga Laut. Namun, pikiranku terus terbang kembali ke pelabuhan, bertanya-tanya apakah Biru masih bisa melihat bintang yang sama dari balik jeruji atau ruang gelap tempat Abhinara menyembunyikannya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...