NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

“Tegakkan dagumu, Alisha, atau berlian itu akan mencekikmu sebelum pesta ini dimulai.”

Suara Damian Sagara terdengar seperti gesekan logam di telinga Alisha. Damian merapikan letak kalung Blue Heart di leher Alisha dengan gerakan yang terlalu lambat. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit pundak Alisha, mengirimkan gelombang muak yang merambat hingga ke ujung jari kaki.

“Aku tidak butuh berlian ini untuk merasa tercekik, Damian,” sahut Alisha dingin.

“Kau tampak memukau dengan sutra hitam itu. Jangan hancurkan citranya dengan wajah pucatmu.”

“Citra siapa yang kau bicarakan? Citramu sebagai penyelamat, atau citraku sebagai tawanan?”

Damian tidak menjawab. Ia menarik pinggang Alisha agar merapat ke sisi tubuhnya yang tegap. Mereka berdiri di depan pintu ganda Ballroom Grand Sagara. Cahaya dari balik pintu itu menyelinap melalui celah lantai, keemasan dan mengancam.

“Tersenyumlah. Ratusan kamera sedang menunggu untuk membedah setiap helai benang di tubuhmu.”

Pintu terbuka lebar. Ratusan lampu kilat kamera wartawan meledak seketika, menyambar indra penglihatan Alisha seperti kilat di tengah badai. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah topeng keanggunan yang ia jahit sendiri dengan rasa sakit. Di tangannya, sebuah flashdisk perak terasa seberat bongkahan dosa.

“Jangan lepaskan tanganku, Arka,” bisik Alisha tanpa menggerakkan bibir.

Bocah di sampingnya hanya mengangguk kecil. Arka mengenakan setelan tuksedo mini yang membuatnya tampak seperti replika Damian yang lebih muda dan lebih tajam. Matanya bergerak liar, memindai setiap sudut langit-langit ballroom. Ponsel di saku Arka bergetar secara berkala, namun bocah itu tetap menatap lurus ke depan.

“Ayah, aku ingin ke toilet,” ujar Arka tiba-tiba saat mereka baru melangkah sepuluh meter.

“Tunggu sebentar, Arka,” perintah Damian tegas.

“Aku tidak bisa menunggu. Perutku sangat tidak nyaman.”

Damian menghela napas panjang dan memberi kode pada Jimmy melalui kontak mata. “Jaga dia. Jangan lepaskan pandanganmu satu detik pun.”

Jimmy membungkuk hormat. Ia menuntun Arka menjauh dari kerumunan tamu yang mulai berbisik-bisik. Alisha menatap punggung putranya dengan kecemasan yang meluap. Ia tahu Arka tidak benar-benar ingin ke toilet.

“Fokuslah pada peranmu, Alisha,” tegur Damian sambil menyalami seorang menteri.

“Kau mengunci anakmu dengan pengawal bahkan di acara seperti ini.”

“Ini bukan pesta ulang tahun biasa. Ini adalah medan perang dengan sampanye mahal.”

Langkah mereka terhenti di tengah aula yang dipenuhi aroma parfum mahal dan kemunafikan. Seorang wanita dengan gaun merah menyala berdiri menghalangi jalan. Clarissa Aditama memegang gelas kristal berisi cairan keemasan. Gaunnya sangat ketat, berkilau di bawah lampu gantung kristal yang megah.

“Selamat datang kembali ke habitat asli para pemangsa, Damian,” sapa Clarissa dengan nada merayu.

“Terima kasih atas undangannya, Clarissa,” jawab Damian datar.

“Dan untukmu, Gadis Pesisir. Aku terkesan kau tidak pingsan memakai berlian Sagara yang sangat berat itu.”

Clarissa melangkah maju. Ia menarik Alisha ke dalam sebuah pelukan persahabatan yang palsu. Aroma parfum melati yang menyengat memenuhi indra penciuman Alisha. Clarissa menempelkan pipinya ke pipi Alisha.

“Flashdisk di tasmu itu hanya menu pembuka, Alisha,” bisik Clarissa sangat lirih.

Alisha membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan.

“Kau akan melihat versi lengkapnya di layar utama malam ini. Kebohongan Damian akan hancur bersama sisa harga dirimu.”

Clarissa melepaskan pelukan dan tertawa kecil. Ia menatap Damian dengan tatapan penuh rahasia yang mengerikan.

“Nikmati dansa pertamanya, Damian. Ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah kau lupakan.”

Clarissa berlalu pergi dengan langkah yang sangat anggun. Alisha merasa kakinya goyah seperti berpijak di atas beling. Ia menatap punggung Clarissa dengan kebencian yang murni dan tajam.

“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Damian dengan nada curiga.

“Dia hanya memuji teknik jahit gaun ini,” bohong Alisha.

“Jangan membohongiku. Kau terlihat seperti baru saja melihat eksekusimu sendiri.”

“Kau yang membawaku ke panggung eksekusi ini, Damian. Jadi berhentilah bertanya.”

Damian menarik Alisha menuju area lantai dansa yang luas. Ia merasa ada yang salah dengan ketenangan Clarissa. Ia melihat para staf media di pojok ruangan bergerak terlalu sigap.

“Jimmy, lapor status,” ujar Damian pada mikrofon kecil di kerahnya.

“Tuan Muda Arka masih di dalam toilet, Tuan,” sahut Jimmy dari seberang sambungan radio.

“Tinggalkan dia dengan pengawal lain. Pergi ke ruang operator sekarang juga. Periksa semua transmisi video ke layar utama.”

“Siap, Tuan.”

Damian tidak tahu bahwa di dalam bilik toilet, Arka sedang tidak buang air. Bocah itu duduk di atas penutup kloset dengan laptop mini di pangkuannya. Kabel data terhubung ke panel servis di dinding belakang kloset yang sudah ia buka secara paksa. Jari-jarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik, menembus firewall Sagara dan Aditama sekaligus.

“Hanya butuh dua menit lagi untuk sinkronisasi,” gumam Arka pada dirinya sendiri.

Di luar, musik waltz mulai mengalun lembut dan melankolis. Pembawa acara meminta Damian Sagara dan calon istrinya untuk membuka lantai dansa. Lampu spotlight putih mengunci mereka di tengah ruangan. Damian meletakkan tangannya di pinggang Alisha yang ramping.

Alisha meletakkan tangannya di bahu Damian yang keras dan kaku.

“Kau gemetar lagi,” bisik Damian saat mereka mulai berputar dalam gerakan ritmis.

“Ada video yang akan diputar di layar itu, Damian,” sahut Alisha pelan.

“Aku sudah mengirim Jimmy untuk memblokirnya dari pusat kontrol.”

“Kau tidak mengerti. Clarissa memiliki rekaman malam itu. Malam di Jakarta.”

Gerakan dansa Damian sempat terhenti sejenak. Matanya membelalak mencari manik mata Alisha. “Malam yang mana? Kau bicara apa?”

“Malam enam tahun lalu. Malam saat kau merampas segalanya dariku di kamar hotel itu.”

Wajah Damian berubah menjadi sangat gelap dan dingin. “Itu tidak mungkin. Tidak ada kamera di ruangan privat itu.”

“Aditama selalu memiliki cara untuk menghancurkan saingannya, Damian.”

Tiba-tiba, lampu ballroom meredup secara drastis hingga nyaris gelap total. Musik waltz terhenti dengan suara statis yang kasar dan memekakkan telinga. Kerumunan tamu undangan mulai berbisik panik di dalam kegelapan.

Alisha merasakan cengkeraman Damian di pinggangnya menguat hingga terasa menyakitkan.

“Layar utamanya menyala secara otomatis, Tuan!” suara Jimmy terdengar panik di telinga Damian.

Layar raksasa di belakang panggung berkedip-kedip dengan cahaya biru yang tajam. Sebuah video hitam putih mulai muncul dengan resolusi yang cukup jelas. Gambar itu diambil dari sudut tinggi di dalam sebuah kamar hotel yang sangat mewah.

Terlihat seorang wanita bergaun krem sedang duduk di tepi tempat tidur dengan gaun yang berantakan. Di depannya, seorang pria sedang melepaskan dasinya dengan gerakan yang kasar. Atmosfer di dalam video itu terasa sangat menyesakkan dan penuh tekanan.

Alisha melepaskan tangan Damian dari pinggangnya di dunia nyata. Ia melangkah mundur dengan tubuh yang gemetar hebat karena malu dan amarah.

“Seharusnya aku tidak datang kesini, mereka akan mempermalukan ku,” gumam Alisha dengan suara yang sangat dingin, ketakutannya beralasan dari ancaman Clarissa.

“Alisha, dengarkan aku. Video itu sudah diedit. Tidak ada yang mempermalukanmu,” bela Damian panik.

“Tapi kejadiannya nyata, ‘kan? Tanpa nama, tanpa gelar, dan tanpa janji. Malam itu akan ditayangkan.”

Lampu sorot masih mengarah pada mereka berdua di tengah lantai dansa. Semua mata memandang mereka dengan pandangan menghina dan penuh skandal.

Clarissa berdiri di pinggir lantai dansa dengan gelas sampanye yang terangkat tinggi sebagai tanda kemenangan.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!