Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²⁷ — Penggelapan.
Siangnya, Lastri baru saja masuk ke ruang NICU untuk melihat bayi Sinta dari balik kaca.
Bayi itu kecil sekali, kulitnya merah dan tangan mungilnya seperti daun. Ada selang kecil menempel di hidung. Lastri menutup mulut, air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Dan saat ia masih menatap bayi itu, ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Lastri mengangkatnya. “Halo?”
“Lastri?” Suara di seberang terdengar dingin, formal, dan terlalu percaya diri.
“Iya.”
“Saya dari kantor DPRD Kabupaten. Saya ingin mengonfirmasi, apakah benar Anda terlibat dalam penggelapan dana proyek desa?”
Lastri membeku.
“Apa?” suaranya serak.
Suara itu melanjutkan, tanpa empati.
“Kami menerima laporan resmi dari warga bahwa Anda menggunakan dana proyek untuk kepentingan pribadi, ada dugaan korupsi dan manipulasi data.”
Lastri seperti tersambar petir, tangannya gemetar.
“Siapa yang bilang begitu?!” bentaknya, tak bisa menahan diri.
Suara itu tetap tenang. “Laporan masuk atas nama beberapa warga.”
Lastri menutup matanya, ia tahu dibalik tuduhan ini. Hadi… dia mulai bergerak.
Lastri menggertakkan gigi. “Itu fitnah.”
“Kami akan memanggil Anda untuk klarifikasi. Jika Anda tidak kooperatif, kami akan mengirimkan surat resmi.”
Lastri menahan napas.
“Silakan,” jawab Lastri, suaranya dingin.
Lalu ia memutus panggilan.
Lastri keluar dari NICU dengan langkah berat. Begitu ia sampai di lorong, Malvin langsung menatap wajahnya.
“Ada apa?" tanya Malvin pelan.
“Baru saja ada telepon.“
“Telepon dari siapa?”
Lastri menelan ludah. “DPRD, mereka nuduh aku korupsi dana proyek.”
Malvin tidak bicara, tapi wajahnya berubah. Lastri bisa melihat, itu bukan lagi amarah. Itu… keputusan.
Malvin mengambil ponselnya, ia menekan nomor.
Dan ketika panggilan tersambung, Malvin bicara singkat. “Denis, siapkan semua dokumen proyek. Mulai dari kontrak, aliran dana, sampai rekening. Saya mau bawa ini ke Polres, bukan Polsek.”
Malvin menatap Lastri, lalu suaranya turun lembut. “Kalau mereka mau main hukum, kita main hukum juga.”
Kalvin menatap Malvin, mata tajam. “Tapi yang menuduh ini bukan orang kecil, itu DPRD.”
Malvin menoleh, tatapannya dingin. “Justru karena itu, kalau DPRD sudah turun tangan... berarti mereka yakin Lastri bisa dilindas.”
“Tapi mereka lupa…” Malvin mendekat setengah langkah ke arah kekasihnya, suaranya berubah seperti baja. “Lastri sekarang tidak sendirian, ada aku bersamanya.”
Lastri menatap Malvin, matanya berkaca-kaca. Kini ia merasa punya pegangan, sandaran yang cukup kuat untuk membuatnya terus bertahan, dan melawan ketidakadilan.
Sementara itu, di tempat lain…
Di sebuah kantor dengan pendingin ruangan yang terlalu dingin, Hadi duduk santai di kursi kulit. Di depannya ada seorang pria berseragam, wajahnya tampak sungkan.
Hadi tersenyum—senyum seorang politisi yang sudah terbiasa memutar arah angin.
“Saya cuma minta satu, hal” ujar Hadi pelan. “Kasus ini jangan dibesar-besarkan.”
Pria berseragam itu menghela napas. “Tapi korban hampir mati, Pak. Dia masih di ruangan ICU...”
Hadi menatapnya tajam. “Kamu mau saya angkat kasus pengadaan kantor Polsek tahun lalu?”
Pria itu langsung diam.
Hadi tersenyum lagi. “Kita ini sama-sama cari makan, aku cuma mau keluargaku aman.”
Pria itu mengangguk pelan, terpaksa.
Hadi bersandar, santai. “Dan satu lagi… Lastri itu terlalu berani, dia harus diberi pelajaran.”
Malam kembali turun.
Lastri kembali duduk di depan ICU, tatapan matanya kosong. Bukan karena ia menyerah, ia hanya sedang menahan diri—mengumpulkan tenaga untuk melawan orang-orang berkuasa yang sudah kehilangan hati nurani.
Malvin duduk di samping wanita itu, setia menemaninya.
Kalvin dan Alya di seberang.
Dan di balik pintu ICU… Sinta masih berjuang. Bayi kecil itu masih bertarung dalam inkubator.
Lastri menggenggam tangannya sendiri. “Bang… kalau mereka mau perang, aku siap.”
Malvin menatap Lastri, ia tersenyum tipis.
“Kita tidak cuma siap, yakinlah... kita akan menang.”
Dan jauh di luar sana, Ibu Surya sedang bersembunyi. Sementara Hadi menyusun strategi, karena mereka yakin… Lastri bisa dijatuhkan. Padahal kini, Lastri sudah tidak sendirian lagi.
Di salah satu sudut desa, Fahira baru saja tiba. Ia melepas kacamata hitamnya, lalu menatap sekitar dengan senyum meremehkan. Desa itu terlihat jauh dari kata maju, jauh dari modern.
“Cih,” dengusnya pelan. “Nggak mungkin Malvin punya perempuan di sini.”
Ia menatap rumah-rumah sederhana di sekelilingnya, seolah jijik. “Perempuan desa kayak begini… bahkan nggak sebanding sama seujung kuku-ku.”
mereka emang pantes di bui