Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang memantul di permukaan air laut tak jauh dari rumah mereka. Udara pagi yang dingin dan lembap masuk melalui celah ventilasi, namun di balik selimut tebal itu, suasana terasa begitu hangat.
Gus Azkar terbangun tepat saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadaran, ia menoleh ke samping dan mendapati istrinya masih terlelap dengan posisi memeluk lengannya erat, seperti anak kucing yang tak mau kehilangan induknya.
Gus Azkar tersenyum kecil. Ia mengusap rambut Rina yang terurai di atas bantal dengan sangat lembut. "Sayang... bangun, ayo salat Subuh," bisiknya tepat di telinga Rina.
Rina melenguh pelan, matanya mengerjap-erjap menyesuaikan cahaya lampu kamar yang kembali ia nyalakan. Saat fokusnya mulai terkumpul, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang tersenyum teduh. Kesadaran akan peristiwa semalam mendadak membanjiri kepalanya. Rina teringat bagaimana ia menangis, bagaimana Gus Azkar menenangkannya, dan tentu saja... bagaimana mereka melewati malam pertama.
Wajah Rina seketika merah padam. Ia langsung menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. "Jam berapa, Mas?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam empat. Ayo, kita mandi besar lagi lalu salat. Bukankah hari ini kita harus kembali ke pesantren? Keluarga dari Arab Saudi akan datang pagi ini," ujar Gus Azkar sambil mendudukkan diri, memperlihatkan tubuh tegapnya yang masih belum mengenakan atasan.
Rina menelan ludah, buru-buru memalingkan wajah. "Mas... Mas mandi duluan aja. Aku... aku masih lemas," cicitnya malu-malu.
Gus Azkar terkekeh, ia tahu "lemas" yang dimaksud istrinya bukan hanya karena mengantuk, tapi juga sisa dari perjuangan mereka semalam. "Mau Mas gendong lagi ke kamar mandi seperti semalam?" godanya.
"Ih, Mas Azkar! Jangan mulai deh!" Rina melempar bantal ke arah suaminya, yang disambut dengan tawa renyah oleh sang Gus.
Setelah melalui drama pagi yang penuh kemanisan, mereka akhirnya bersiap. Gus Azkar telah menyiapkan pakaian untuk mereka berdua. Ia memilihkan gamis berwarna marun pekat dengan aksen brokat yang elegan untuk Rina, dipadukan dengan kerudung hitam dan cadar marun yang senada. Sementara itu, Gus Azkar mengenakan koko modern berwarna marun dengan bawahan celana kain hitam dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat gagah.
"Kenapa warnanya sama, Mas?" tanya Rina saat sedang merapikan cadarnya di depan cermin.
"Biar semua orang tahu kalau kamu adalah bagian dari hidupku. Kita pakai baju couple hari ini," jawab Gus Azkar sambil merapikan kerah bajunya. Ia berdiri di belakang Rina, menatap pantulan istrinya di cermin.
"Cantik. Sangat cantik."
***
Pukul delapan pagi, mobil yang membawa Gus Azkar dan Rina memasuki gerbang Pesantren Al-Hikmah. Suasana pesantren tampak sangat ramai dan sibuk karena kunjungan tamu agung dari Arab Saudi. Semua ustadz dan santri senior berbaris di halaman utama untuk menyambut kepulangan keluarga besar Kyai Muhammad.
Saat pintu mobil terbuka, perhatian semua orang tersedot. Gus Azkar turun lebih dulu, lalu ia berjalan memutar ke pintu sebelah kiri untuk membukakan pintu bagi istrinya. Tindakan yang sangat manis itu membuat para santriwati berbisik-bisik penasaran.
Rina turun dengan langkah yang sedikit anggun namun tetap berhati-hati. Gus Azkar tidak membiarkannya berjalan sendiri; ia langsung menggandeng tangan Rina dengan erat, memperlihatkan kemesraan yang sah di depan publik.
Di sudut halaman, Ustadz Zidan berdiri dengan wajah yang seketika menegang. Matanya terpaku pada sosok wanita bercadar marun yang berjalan di samping Gus Azkar. Ia sangat mengenali postur tubuh itu, cara berjalannya, dan mata sayu yang terlihat di balik cadar. Itu Rina!
Ustadz Zidan merasa dunianya seolah runtuh. Yang membuatnya lebih sesak adalah fakta bahwa mereka memakai baju dengan warna yang sama persis—sebuah pernyataan visual bahwa mereka adalah pasangan.
"Gus Azkar... Rina?" gumam Ustadz Zidan tak percaya. Langkahnya terasa berat saat ia harus mendekat untuk menyapa.
Gus Azkar menyadari kehadiran rekannya itu. Ia sengaja mempererat genggamannya pada tangan Rina, seolah ingin menegaskan status kepemilikannya.
"Assalamu’alaikum, Ustadz Zidan," sapa Gus Azkar dengan nada tenang namun penuh wibawa.
"Wa’alaikumussalam... Gus," jawab Zidan terbata. Matanya tak lepas dari Rina yang kini menundukkan pandangan di samping suaminya. "Maaf Gus, ada apa ini? Kenapa... Rina bersama Gus? Dan bajunya..."