NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jamuan Sang Predator

Hana Sato terbangun dengan rasa mual yang bukan lagi berasal dari janin di rahimnya, melainkan dari aroma yang memenuhi kamar penjaranya. Bau lilac dan sandalwood—parfum ikonik yang selalu digunakan ibunya, Rena Sato. Ketika ia membuka mata, Hana terkesiap. Kamarnya telah berubah total dalam satu malam.

Kenzo telah mengganti furnitur modern dengan barang-barang antik bergaya 80-an yang berat dan beraroma kayu tua. Di sudut ruangan, sebuah gramofon piringan hitam tua berputar, mengeluarkan suara statis yang berderak sebelum meluncurkan melodi klasik yang mendayu-dayu. Jarum gramofon itu tampak seperti kuku tajam yang mencakar kenangan Hana. Lukisan-lukisan baru di dinding menampilkan sosok wanita dari belakang—wanita dengan rambut hitam panjang yang sangat mirip dengan Rena, namun wajahnya sengaja dibiarkan buram.

Kenzo berdiri di dekat jendela besar, menatap matahari yang tenggelam di cakrawala Pasifik dengan segelas wiski di tangan. Cahaya oranye kemerahan menyinari wajahnya, memberikan kesan ia adalah dewa yang sedang mengawasi ciptaannya.

"Selamat bangun, Sayang," suara Kenzo lembut, namun mengandung otoritas yang mencekik. "Aku mengatur ulang ruangan ini agar kau merasa... lebih seperti dirimu yang seharusnya. Identitas lamamu hanyalah debu yang mengganggu."

Hana bangkit dari tempat tidur, kakinya menyentuh karpet bulu yang tebal dan panas. "Ini bukan kamarku. Ini adalah museum untuk wanita yang kau cintai, Kenzo! Berhenti mencoba mengubahku menjadi dia!"

Kenzo berbalik, matanya berkilat dingin seperti es utara. Ia melangkah mendekat, setiap ketukan sepatunya di lantai kayu terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis. "Kau harus bersyukur, Hana. Di luar sana, kau sudah dilupakan. Di sini, kau abadi."

❤️❤️❤️

Kenzo telah menyiapkan meja makan kecil di tengah ruangan, ditutupi taplak meja renda putih yang kaku. Hidangan mewah tersaji: foie gras, daging wagyu yang dimasak sempurna, dan anggur merah non-alkohol untuk Hana. Ia memaksa Hana duduk di hadapannya, tepat di bawah sorot lampu kristal yang menyilaukan.

"Makanlah," perintah Kenzo sambil memotong daging Hana dengan gerakan yang sangat presisi. "Pewarisku membutuhkan nutrisi terbaik. Dan kau... kau membutuhkan kekuatan untuk pengabdianmu padaku."

Hana menatap alat makan perak di depannya. Ia bisa melihat pantulan wajahnya yang hancur di sendok tersebut. Kenzo menyuapkannya sepotong daging. Rasanya hambar di lidah Hana, seolah lidahnya sudah mati rasa karena kebencian.

"Kau tahu, Hana," ucap Kenzo sambil menyesap wiskinya, "di Tokyo, dunia sedang hancur. Kerusuhan, kemiskinan, dan pria-pria yang hanya akan memanfaatkanmu. Kau pikir teman-temanmu di Akademi peduli? Tidak. Mereka bahkan tidak menyebut namamu lagi. Kau dianggap sebagai jalang yang kabur demi uang."

"Kau pembohong!" Hana berteriak, suaranya parau.

Kenzo tersenyum narsis. "Aku adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa untukmu. Di pulau ini, kau bukan tawanan. Kau adalah ratu yang disembunyikan dari dunia yang tidak pantas memilikimu."

❤️❤️❤️

Setelah makan malam, Kenzo mengajak Hana duduk di sofa beludru merah marun. Ia membelai rambut Hana dengan jari-jarinya yang panjang, sebuah gerakan yang tampak penuh kasih namun terasa seperti lilitan ular di leher.

"Hana, kau harus belajar mencintai takdirmu," bisik Kenzo. Ia menunjukkan sebuah dokumen digital berisi data pencarian orang hilang yang telah dihapus. "Lihat. Namamu sudah tidak ada dalam sistem kepolisian. Aku telah menghapusnya. Secara hukum, Hana Sato tidak pernah ada. Yang ada hanyalah wanita di depanku ini."

Hana merasakan sesak di dadanya. Tekanan psikologis ini jauh lebih menyakitkan daripada rantai besi. Kenzo mencoba meyakinkannya bahwa ia gila jika menganggap dunia luar masih menantinya. Kenzo bertindak seolah-olah ia adalah penyelamat, satu-satunya pelindung Hana dari kekejaman dunia yang ia ciptakan sendiri.

"Kau lelah, Hana. Biarkan aku membimbingmu kembali ke tempat di mana kau seharusnya berada," Kenzo membisikkan kata-kata itu dengan nada yang begitu meyakinkan, membuat Hana mulai meragukan kewarasannya sendiri sejenak.

❤️❤️❤️

Kenzo menarik Hana ke arah tempat tidur yang kini dilapisi seprai sutra hitam yang terasa sedingin es di kulit Hana yang panas karena emosi. Cahaya bulan Januari 2026 ini masuk melalui celah jendela, menerangi sisi wajah Kenzo yang tampak keras dan posesif.

"Aku merindukannya, Hana. Dan malam ini, aku melihatnya di matamu," gumam Kenzo, suaranya berat oleh gairah yang menyimpang.

Kenzo mulai mencium leher Hana dengan paksa, gigitannya kecil namun cukup untuk meninggalkan tanda kepemilikan yang perih. Tangannya menjelajahi lekuk tubuh Hana di bawah gaun tidurnya, merobek sisa martabat yang coba Hana pertahankan. Setiap sentuhan Kenzo terasa seperti invasi, sebuah pelanggaran mutlak atas kedaulatan tubuhnya.

Hana memejamkan mata rapat-rapat. Ia melakukan apa yang ia sebut sebagai "disosiasi"—membiarkan jiwanya keluar dari tubuhnya. Ia membayangkan dirinya adalah debu yang beterbangan di ruangan itu, bukan wanita yang sedang dihancurkan oleh sang predator. Ia menghitung detak jam di dinding, setiap detik terasa seperti selamanya.

Dalam adegan yang sarat akan dominasi ini, Kenzo tidak memperlakukan Hana sebagai manusia, melainkan sebagai wadah untuk memuaskan rasa haus akan masa lalunya bersama Rena. Suara napas Kenzo yang memburu di telinganya terdengar seperti raungan monster yang puas telah mendapatkan mangsanya. Hana merasa kotor, merasa hancur, namun di tengah penderitaan fisik dan mental itu, tangannya yang tersembunyi di bawah bantal meraba sesuatu yang keras.

❤️❤️❤️

Setelah Kenzo merasa puas dan jatuh tertidur dengan napas yang teratur di sampingnya, Hana perlahan bangkit. Tubuhnya terasa sakit, namun pikirannya kini jernih karena kebencian yang murni.

Ia menarik sebuah benda dari bawah kasur—pembuka surat perak tajam yang ia curi saat Kenzo lengah tadi sore. Ia menatap punggung Kenzo yang telanjang, otot-ototnya bergerak halus saat ia bernapas dalam tidur. Hana menggenggam erat gagang pembuka surat itu. Satu tusukan ke leher pria ini, dan neraka ini akan berakhir.

Namun, ia teringat janin di rahimnya. Jika ia membunuh Kenzo sekarang, sistem keamanan villa akan terkunci dan para penjaga akan menghabisinya. Ia butuh rencana yang lebih matang. Ia butuh bukti Proyek Hydra untuk menghancurkan Kenzo bukan hanya secara fisik, tapi juga seluruh warisannya.

Hana menyembunyikan kembali benda tajam itu di jahitan seprai. Ia kembali berbaring, membiarkan Kenzo merangkulnya dalam tidurnya yang posesif.

"Selamat malam, Kenzo," bisik Hana tanpa suara, matanya menatap tajam ke arah kegelapan. "Nikmatilah tidurmu, karena saat fajar tiba, kau akan menyadari bahwa aku bukan lagi mangsamu, melainkan belati yang siap mengoyak jantungmu dari dalam."

Tiba-tiba, suara ketukan halus terdengar di jendela balkon. Bukan dari penjaga, melainkan sebuah kode ketukan yang Hana kenali. Di luar sana, di tengah kegelapan laut, sebuah cahaya kecil berkedip tiga kali. Sinyal dari luar pulau.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!