NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perasan keringat darah

Seminggu telah berlalu sejak Ratih diam-diam membuat kartu ATM. Namun, kartu itu terkunci rapat di dalam kotak kayu kecil di bawah tumpukan baju lamanya. Ia belum berani menggunakannya. Pikirannya masih tersandera oleh wajah Bimo yang datang sore tadi dengan sejuta pesona yang melumpuhkan akal sehatnya.

Sore itu, sebelum Ratih berangkat ke warung tenda, Bimo datang dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ia membawa sebungkus martabak telur kesukaan Ratih dan sebuah brosur cincin emas dari majalah bekas.

"Ratih, Sayang... lihat ini," Bimo berkata dengan nada suara yang begitu lembut, seolah-olah ia adalah pria paling romantis di dunia. Ia menunjukkan gambar cincin dengan mata berlian kecil. "Aku sudah tanya-tanya di toko mas. Kalau tabungan kita naik lima juta lagi bulan depan, aku bisa DP cincin ini buat pengikat kita."

Ratih menatap gambar itu dengan mata berbinar. "Beneran, Mas? Tapi apa uangnya cukup? Bukannya kita harus simpan buat DP rumah dulu?"

Bimo menggenggam tangan Ratih, mengusap ibu jarinya yang pecah-pecah dengan gerakan yang sangat meyakinkan. "Rumah itu pasti, tapi aku mau kamu punya tanda kalau kamu itu milikku. Aku nggak mau laki-laki lain di kompleks itu melirik kamu. Aku mau kita secepatnya sah, Ratih."

Ratih merasa hatinya meleleh. Segala keraguan yang sempat muncul saat ia membuat kartu ATM di bank tempo hari, menguap begitu saja.

"Tapi, Mas... aku sudah capek banget kalau harus tambah borongan cuci lagi," keluh Ratih pelan.

Di sinilah kelihaian Bimo bermain peran. Ia memasang wajah yang sangat prihatin, seolah ia juga ikut merasakan beban Ratih. "Aku tahu, Sayang. Aku tahu kamu capek. Aku pun begitu. Makanya, aku juga mau ambil lembur di kantor setiap malam Sabtu. Tapi, kalau cuma aku yang gerak, kayaknya bakal lama."

Bimo terdiam sejenak, menatap Ratih dengan tatapan memohon yang sangat sulit ditolak. "Gini, gimana kalau kamu balik kerja lagi di warung Cak Man? Kamu kan dulu sudah biasa di sana. Katanya Cak Man lagi butuh orang buat bagian goreng dan cuci piring malam. Gajinya lumayan, Ratih. Kalau kamu ambil itu selama tiga bulan saja, target kita buat nikah di akhir tahun pasti tercapai."

Ratih tersentak. Kerja di warung tenda berarti ia baru akan sampai di kontrakan pukul satu atau dua pagi. Padahal, pukul lima subuh ia sudah harus mulai mengucek cucian pelanggan.

"Berarti aku cuma tidur tiga jam, Mas?"

"Cuma sebentar, Ratih. Demi masa depan kita. Demi rumah yang ada tamannya itu. Kamu mau kan bantu aku?" Bimo mengecup kening Ratih lama sekali. "Aku janji, setelah kita nikah, kamu nggak akan boleh pegang sabun cuci lagi. Kamu akan jadi ratu di rumah kita."

Janji itu. Janji yang selalu sama, namun selalu berhasil menjadi bius bagi Ratih. Tanpa berpikir panjang tentang kesehatan tubuhnya yang makin kurus, Ratih mengangguk. "Ya sudah, Mas. Malam ini aku mulai kerja di Cak Man lagi."

Bimo tersenyum lebar, senyum kemenangan yang tidak disadari oleh Ratih. "Pintar calon istriku. Ingat ya, uangnya jangan sampai tercecer. Langsung kasih ke aku, biar aku yang amankan di rekening."

Malam-malam berikutnya berubah menjadi neraka fisik bagi Ratih. Kehidupannya kini hanya seputar air sabun di pagi hari dan minyak panas di malam hari.

Di warung Cak Man, Ratih harus berdiri berjam-jam di depan wajan raksasa. Hawa panas dari kompor tekanan tinggi membuat pori-porinya seolah selalu terbuka. Belum lagi urusan mencuci piring. Di belakang tenda, ia harus jongkok menghadapi tumpukan piring plastik yang berlemak tebal. Air cucian yang kotor dan berlemak seringkali mengenai dasternya, membuat bau amis lele menempel permanen di kulitnya.

"Ratih! Sambal terasinya habis! Cepat ulek lagi!" teriak Cak Man di tengah keramaian pelanggan.

"Iya, Cak!" Ratih menjawab dengan napas terengah-engah. Tangannya yang lecet terkena sabun cuci pagi hari, kini terasa perih luar biasa saat terkena ulekan cabai. Ia meringis, namun tetap melanjutkan pekerjaannya.

Di tengah kelelahan itu, yang menguatkannya hanyalah bayangan Bimo. Ia membayangkan Bimo juga sedang berjuang di kantornya, lembur hingga larut malam demi cinta mereka. Aku nggak boleh kalah sama Mas Bimo. Dia saja kerja keras, masa aku nggak? pikirnya lugu.

Namun, kenyataannya berbanding terbalik.

Setiap malam saat Ratih sedang berkeringat di balik asap warung pecel lele, Bimo sedang duduk di sebuah kafe ber-AC yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari sana. Bimo tidak sedang lembur. Ia sedang memesan bir dingin dan tertawa bersama teman-temannya.

"Gila, Bim. Hebat banget kamu bisa bikin si Ratih itu kerja rodi begitu," ujar salah satu temannya, seorang pria dengan tato di lengannya.

Bimo tertawa sombong sambil menghisap rokok mahalnya—yang tentu saja dibeli dari uang setoran Ratih. "Perempuan kayak dia itu gampang, Bro. Kasih janji nikah sedikit, kasih brosur rumah mewah, langsung mau jadi sapi perah. Lumayan, kan? Gaji dia di warung lele ditambah uang cuciannya bisa buat aku foya-foya begini tiap malam."

"Nggak kasihan kamu? Dia kurus banget lho kelihatannya."

Bimo meludah ke samping. "Kasihan? Buat apa? Memangnya aku beneran mau nikah sama dia? Tangan kasar begitu mana enak diajak jalan-jalan. Nanti kalau uangnya sudah nggak ada lagi, atau dia sudah sakit-sakitan, ya tinggal aku buang. Cari yang baru yang lebih bening."

Gelak tawa pecah di meja itu, di atas penderitaan seorang wanita yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi sebuah ilusi.

Bulan demi bulan berlalu. Ratih kini tampak seperti mayat hidup. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat pekat. Berat badannya turun drastis. Seringkali saat sedang mencuci baju di siang hari, dunianya terasa berputar dan ia nyaris pingsan.

Pernah suatu kali, saat Bimo datang mengambil uang setoran mingguan, Ratih memberanikan diri mengeluh.

"Mas... kepalaku sering pusing. Rasanya badan ini mau rontok. Boleh nggak bulan depan aku berhenti di warung Cak Man dulu? Kita simpan uang seadanya saja ya?"

Wajah Bimo yang tadi manis langsung berubah dingin. "Ratih, kamu ini gimana? Kita sudah dekat banget sama target. Kamu mau semua perjuangan kita sia-sia? Kamu mau kita batal nikah cuma karena kamu manja?"

"Bukan manja, Mas... tapi aku beneran sakit..."

"Halah! Minum jamu juga sembuh! Jangan lembek, Ratih. Aku juga capek kerja kantoran, tapi aku nggak pernah ngeluh depan kamu. Mana uang minggu ini? Sini!" Bimo menyambar amplop dari tangan Ratih dengan kasar.

Setelah mendapatkan uang itu, Bimo kembali melembutkan suaranya, sebuah teknik manipulasi yang sudah sangat ia kuasai. "Maaf ya, Sayang. Aku cuma nggak mau kita gagal. Ini demi kita. Nanti kalau sudah nikah, aku janji kamu bakal istirahat total. Sabar ya, bidadariku."

Ratih hanya bisa mengangguk lemah. Ia tidak sadar bahwa kata "bidadari" dari mulut Bimo adalah ejekan tersembunyi karena penampilan Ratih saat ini sangat jauh dari kata indah. Ratih sangat bau amis, kulitnya menghitam, dan wajahnya selalu tampak kusam.

Bahkan janji Ratih pada ibunya di desa pun terkubur dalam-dalam. Setiap kali ibunya menelepon menanyakan kabar, Ratih selalu berbohong.

"Iya, Bu... uangnya masih Ratih simpan buat keperluan mendadak. Sabar ya, Bu. Nanti kalau Ratih nikah, Ibu Ratih jemput ke sini."

Ratih menutup telepon dengan air mata mengalir. Ia merasa menjadi anak yang durhaka, namun ia merasa harus mendahulukan Bimo. Di pikirannya, jika ia sudah menikah dengan Bimo, segala masalah keuangan keluarganya akan selesai. Ia tidak tahu bahwa ia sedang menginvestasikan hidupnya pada sebuah lubang hitam yang tidak akan pernah memberi imbalan apa pun kecuali kehancuran.

Malam itu, di warung Cak Man, Ratih nyaris terjatuh saat membawa nampan berisi lele goreng. Tangannya gemetar hebat.

"Ratih! Hati-hati dong! Kalau piringnya pecah, potong gaji!" teriak Cak Man.

Ratih hanya bisa meminta maaf sambil menahan perih di dadanya.

Ia belum tahu, bahwa tak lama lagi, rasa ingin tahunya akan membawa ia pada sebuah kenyataan yang jauh lebih panas dari minyak penggorengan Cak Man, dan jauh lebih busuk dari bau amis lele yang menempel di badannya. Sebuah kenyataan yang akan mengubah seluruh cintanya menjadi belatung-belatung dendam yang kelaparan.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!