When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garo Jhoven
50 Tahun yang lalu...
Padang Rumput Gakuen terbentang luas tanpa ujung, hijau yang bergoyang pelan diterpa angin pagi. Tempat itu indah—terlalu indah untuk menjadi saksi dari perang yang kelak dikenal sebagai Perang Berdarah Tanpa Mahkota.
Di setiap penjuru horizon, barisan Savior berdiri rapat seperti tembok hidup. Aura spiritual mereka membuat udara terasa berat. Tanah bergetar pelan, bukan karena gempa, tetapi karena tekanan dari puluhan ribu jiwa yang siap membunuh.
Kerajaan Khanox: 600.000 prajurit Savior, 6 Komandan Besar, 1 Jenderal Tinggi.
Kerajaan Vladmir: 900.000 prajurit Savior, 9 Komandan Besar, 1 Jenderal Tinggi.
Kerajaan Solarius: 800.000 prajurit Savior, 4 Komandan Besar, 2 Jenderal Tinggi.
Langit pagi itu cerah. Ironis. Seakan para dewa sengaja membiarkan manusia saling membantai di bawah cahaya suci mereka.
Di barisan depan Khanox, seorang pria muda berusia 25 tahun duduk di atas kudanya. Wajahnya masih menyisakan kelembutan masa muda, namun bahunya telah dibebani lambang Komandan Besar. Ia adalah komandan termuda yang pernah dimiliki Khanox.
Garo Jhoven.
Ia berusaha terlihat tegar di hadapan pasukannya. Dagu terangkat. Tatapan lurus. Nafas stabil.
Namun jauh di dalam dadanya, ketakutan berdesir.
plak!
Sebuah tangan besar menepuk pundaknya.
Garo menoleh. Seorang pria berusia sekitar 40 tahun berdiri di samping kudanya. Kumis dan janggut tebal menutupi sebagian wajahnya, membuatnya tampak galak. Namun matanya hangat. Tegas, tapi bersahabat.
“Apa yang kamu khawatirkan, Komandan Muda?” tanyanya santai.
“Ah! Komandan Besar David Weller!” Garo sedikit terkejut. “Apa yang membuat Anda datang ke barisan pasukan saya, Pak?”
David Weller, salah satu dari enam Komandan Besar Khanox, tertawa kecil.
“Santai saja. Aku hanya kebetulan melihat juniorku tampak banyak pikiran.”
Garo terdiam sesaat. Ia menatap hamparan pasukan Vladmir dan Solarius di kejauhan.
“Pak... kita kalah jumlah dari dua kerajaan musuh. Dan ini perang pertama saya sejak dilantik menjadi Komandan Besar. Skala peperangan ini... bukan main-main. Saya tidak tahu apakah saya cukup layak berada di sini.”
David tersenyum tipis.
“Percayalah pada dirimu. Percayalah pada rekanmu. Dan yang terpenting... percayalah bahwa Dewa Khae’Thuun akan melindungi kita.”
Nama itu disebut dengan penuh hormat. Khae’Thuun, Sang Awal dan Akhir Keheningan. Dewa eksistensi pasif dan kejenuhan abadi. Dalam kepercayaan Khanox, Dialah fondasi dari segala ketetapan takdir.
“Jangan hilangkan kepercayaanmu pada Dewa, nak,” lanjut David.
Garo mengangguk pelan.
“Setelah ini selesai... mungkin saya akan pensiun, Pak.”
David menaikkan alisnya. “Pensiun? Kau baru 25 tahun.”
Garo tersenyum kecil.
“Mungkin saya akan tinggal di desa kecil... menjadi penjual mainan gelembung Dewi Elythra.” Ia tertawa pelan. “Dan... membangun keluarga kecil. Kedengarannya damai.”
David ikut tertawa.
“Bagus. Maka tetaplah hidup sampai saat itu tiba. Ngomong-ngomong... siapa namamu? Memoriku buruk untuk wajah muda.”
“Garo, Pak. Garo Jhoven.”
“Baiklah, Garo. Setelah perang ini selesai, ayo kita minum. Aku yang traktir.”
Ia menepuk bahu Garo sekali lagi.
“Semoga Dewa melindungimu. Terpujilah Dewa.”
Garo menatap langit.
“Terpujilah... Dewa.”
Tak ada yang tahu, hari itu akan menjadi awal dari perang lima tahun penuh darah. Tak ada pemenang. Tak ada mahkota. Hanya ribuan nama yang hilang dari dunia.
Dan seorang Komandan Muda yang selamat—bukan karena paling kuat, tapi karena paling keras kepala untuk tetap hidup.
Masa Kini — Desa Mooire.
Langit berwarna kelabu akibat debu dan asap. Rumah-rumah hancur. Tanah retak. Bau darah menyatu dengan udara.
Pertempuran antara Aizen Vitalii dan Garo Jhoven mengguncang sisa desa.
SLAAAAASSSSHHHH!!!
JDERRRR!!
Tebasan Vitalii membelah udara. Tekanan spiritualnya mengoyak atap rumah seperti kertas.
Garo melompat mundur, satu tangan menopang Kai di punggungnya, tangan lainnya menembakkan rentetan peluru gelembung biru.
Splash!
Salah satu peluru mengenai pipi Vitalii, menciptakan luka tipis yang tidak langsung menutup.
Vitalii menyentuh darah di wajahnya.
“Hm. Sepertinya ini bukan peluru biasa. Teknik regenerasiku melambat.”
Peluru itu bukan peluru biasa.
Itu adalah gelembung pertahanan Elythra—dikompresi hingga ukuran peluru, dipadatkan dengan tekanan spiritual luar biasa. Awalnya berkah Garo tidak pernah dirancang untuk peperangan. Elythra adalah Dewi perlindungan dan keberlanjutan, bukan dewi pembantai.
Namun manusia adalah makhluk kreatif.
Jika diberi perisai, sebagian orang akan menggunakannya sebagai dinding. Sebagian lainnya akan menggunakannya sebagai tombak.
“Jika bukan karena rabun oleh usia,” ujar Garo dengan nafas berat, “kepalamu sudah berlubang.”
Vitalii tersenyum tipis. “Orang tua banyak bicara.”
Di bawah mereka, prajurit Vladmir mengepung desa.
Di salah satu kamp sementara.
Raizel Valentine, Wakil Komandan Besar II, menghela nafas kesal.
“Kenapa kapten menerima duel tidak penting seperti ini?”
Michael Wegner, Wakil Komandan Besar I, tertawa santai.
“Karena dia bosan.”
Raizel memelototinya.
Michael melanjutkan, “Jika kapten sampai menerima 1 lawan 1, berarti lawannya bukan sembarang orang.”
Raizel menyeringai tipis. “Tetap saja. Kapten akan menang.”
Kembali ke medan tempur.
JBOOM!
SLAASH!
JDERRR!
Pertukaran serangan makin brutal.
Masalahnya jelas.
Garo tidak hanya bertarung. Ia juga melindungi Kai.
Energi spiritualnya tinggal seperempat. Setiap gelembung yang ia ciptakan mempercepat kelelahan.
Vitalii, sebaliknya, seperti monster yang tak habis tenaga.
(Bagaimana ini... tidak ada celah...)
“ADA APA PAK TUA?!” teriak Vitalii. “KEHABISAN ENERGI?”
Kai merasakan getaran tubuh Garo.
“Pak... turunkan saya! Saya akan bersembunyi! Fokuslah padanya!”
Garo melirik ke bawah.
“Lihat sendiri. Prajuritnya sudah mengepung. Kau tidak akan selamat.”
Ia mendarat di atap rumah yang setengah runtuh.
“Satu-satunya jalan adalah bertarung sambil mencari celah kabur.”
Kai menggigit bibirnya. Ia tahu kebenarannya. Perbedaan kekuatan terlalu besar.
Vitalii berhenti sejenak.
“Aku bosan kejar-kejaran.”
Udara berubah.
Aura kematian memadat.
Garo membeku sesaat.
“Pak Garo?” Kai bergetar.
Garo menurunkannya.
“Berdirilah di belakangku. Tutup matamu.”
“PAK GARO! APA YANG—”
“Dia datang.”
Vitalii mengangkat pedangnya tinggi.
“Morvael... Dead men tell no tales, Vol. 2... GEHENA SLASH.”
Langit seperti terbelah.
Tebasan itu bukan sekadar energi. Itu deklarasi akhir.
Kai menutup mata.
“PAK GAROOOO!!”
Sebelum serangan menghantam, Garo menoleh.
Ia tersenyum.
“Tetaplah hidup, Jhoven Kai. Aku akan melihat kisahmu dari atas sana.”
Kai terdiam.
Jhoven.
Ia mewariskan namanya.
JBOOOOOOMMMMM!!!
Ledakan membelah desa. Gelombang kejutnya terasa hingga kota terdekat.
Raizel dan Michael tersenyum dari kejauhan.
“Selesai.”
Asap membumbung tinggi.
Kai membuka mata.
“Pak...”
BRUUKK.
Tubuh Garo jatuh di hadapannya. Luka tebasan itu menghancurkan hampir seluruh tubuhnya.
“PAK GAROOOO!!!”
Vitalii berdiri tak jauh, memandang dingin.
Bahkan di detik terakhir, Garo mengerahkan seluruh sisa energi spiritualnya untuk memadatkan satu gelembung terakhir—mengurung Kai sepenuhnya dari dampak Gehenna Slash.
Ia memilih menerima tebasan itu sendiri.
Kai berlutut.
Kenapa... kenapa harus aku...?
Air matanya jatuh ke tanah yang retak.
Aku hanya bocah yang dibuang langit...
Namun di tengah keputusasaan itu, sesuatu berubah.
Bukan kekuatan.
Bukan berkah.
Tapi tekad.
Terima kasih, Pak Garo.
Aku tidak akan melupakanmu.
Tunggulah aku di atas sana.
Aku akan menjadi Savior terhebat... melampaui langit itu sendiri.
Di hari itu, seorang anak bersumpah.
Dan takdir baru mulai bergerak.