"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Lompatan Maut di Lereng Agung
Bip. Bip. Bip.
Suara itu kecil, namun di telinga Alana, bunyinya lebih nyaring daripada petir yang menyambar puncak Gunung Agung. Lima detik. Waktu yang cukup untuk satu embusan napas, tapi terlalu singkat untuk sebuah perpisahan.
"Mas Arkan! Lompat ke jurang! Sekarang!" teriak Alana sekuat tenaga.
Arkan tidak berpikir dua kali. Dalam situasi normal, pria itu adalah penganut logika yang kaku, tapi bersama Alana, ia telah belajar bahwa insting sering kali lebih jujur daripada otak. Arkan menyambar pinggang Alana dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram tas astronot Mochi.
Mereka melompat tepat saat angka di lengan kursi roda Kakek mencapai nol.
BOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang lereng gunung. Mobil jeep tua itu berubah menjadi bola api raksasa yang menerangi kegelapan hutan Bali. Gelombang panasnya mendorong tubuh Arkan dan Alana lebih jauh ke kegelapan jurang. Alana merasa dunia berputar, ranting-ranting pohon mencakar kulitnya, dan rasa dingin malam mendadak hilang digantikan oleh rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Untungnya, jurang itu tidak tegak lurus, melainkan lereng curam yang dipenuhi semak belukar tebal dan pohon pisang hutan. Tubuh mereka berguling-guling, menghantam tanah yang basah karena embun, sebelum akhirnya terhenti di sebuah ceruk landai yang dipenuhi tumpukan daun kering.
Hening.
Hanya suara gemeretak api dari atas lereng dan suara jangkrik yang ketakutan. Alana membuka matanya perlahan. Langit malam terlihat berputar-putar. Ia mencoba menggerakkan jarinya—masih terasa. Ia mencoba bernapas—dadanya sesak, tapi masih bisa.
"Mas... Mas Arkan..." suara Alana serak, tenggorokannya terasa seperti habis menelan pasir.
"Di sini..." suara lemah terdengar dari sampingnya.
Alana menoleh dengan susah payah. Arkan terbaring beberapa meter darinya. Wajah tampan sang CEO kini penuh dengan goresan tanah dan darah, kemejanya sobek di sana-sini, tapi ia masih memeluk tas Mochi dengan sangat protektif.
Alana merangkak mendekat, mengabaikan rasa perih di lututnya. "Mas gapapa? Ada yang patah? Mas jangan mati dulu ya, aku belum sempat ngerasain jadi janda kaya, nanti repot ngurusin pajaknya!"
Arkan tertawa kecil, meskipun suara tawanya berakhir dengan rintihan. "Kamu... dalam keadaan begini masih sempat-sempatnya bahas pajak? Kamu benar-benar... luar biasa, Lana."
Arkan membuka tas astronot Mochi. Kucing oren itu keluar dengan wajah linglung, bulunya agak berantakan, tapi secara ajaib tidak terluka sedikit pun. Mochi langsung mengeong keras, seolah memarahi majikannya karena mengajaknya berolahraga ekstrem tengah malam.
"Mochi selamat. Kita selamat," bisik Arkan. Ia meraih tangan Alana, menggenggamnya erat di atas tanah yang lembap.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sebentar. Dari atas lereng, mereka melihat bayangan cahaya senter yang menyapu hutan. Pasukan khusus Kakek atau mungkin anak buah Maya masih ada yang tersisa, dan mereka sedang mencari mayat—atau penyintas.
"Kita harus gerak, Mas. Mereka bakal turun ke sini," ajak Alana. Ia membantu Arkan berdiri. Pria itu meringis saat menumpu berat badannya pada kaki kiri yang sepertinya terkilir parah.
"Lana, dengar. Kunci itu... apa masih ada?" tanya Arkan serius.
Alana meraba sakunya. Kosong. Ia meraba tas marun ibunya yang masih melingkar di bahunya. Ia membukanya dengan terburu-buru. "Nggak ada, Mas! Kuncinya jatuh pas kita guling-guling tadi!"
Alana hampir menangis. Semua pengorbanan ini, semua drama ini, dan kuncinya hilang di tengah hutan belantara?
"Tunggu..." Alana melihat Mochi yang sedang menggaruk-garuk kerahnya. Di sana, di balik lonceng emasnya, kunci kuno itu tersangkut dengan kencang. Ternyata saat Alana mencopot gantungan kunci tadi, ia secara tidak sengaja mengaitkan kunci asli ke kalung Mochi demi keamanan.
"Mochi! Kamu beneran kucing keberuntungan!" Alana mencium kepala Mochi gemas.
Mereka mulai berjalan terseok-seok menembus hutan, menjauh dari lokasi ledakan. Alana memapah Arkan, sementara Mochi berjalan di depan seperti pemandu yang tahu arah. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit dalam kegelapan, mereka menemukan sebuah gubuk kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu.
Di depan gubuk itu, duduk seorang wanita yang sedang membalut bahunya sendiri. Larasati.
"Ibu!" Alana berlari mendekat, tak peduli lagi dengan rasa sakit di tubuhnya.
Larasati menoleh, wajahnya yang pucat tampak lega. "Alana... Arkan... Syukurlah kalian selamat. Aku melihat ledakannya dan mengira..."
"Kami lebih ulet dari kecoa, Tante," sahut Alana sambil membantu ibunya duduk dengan lebih nyaman. "Gimana keadaan di bawah? Kakek gimana?"
Larasati menghela napas panjang. "Helikopter Interpol sudah mendarat. Waluyo... dia tidak ikut meledak. Dia berhasil diamankan sebelum bomnya meledak sepenuhnya. Kursi rodanya hancur, tapi dia masih hidup. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel yang paling ketat."
"Lalu Maya?" tanya Arkan.
"Dia kabur saat asap menipis. Tapi dia tidak punya akses ke mana pun sekarang. Seluruh rekeningnya sudah dibekukan," Larasati menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Alana, maafkan aku. Aku membuatmu terseret ke dalam neraka ini."
Alana menggeleng, ia memeluk ibunya dengan erat. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Alana merasakan pelukan seorang ibu yang nyata. "Nggak apa-apa, Bu. Kalau nggak ada kejadian ini, aku nggak akan pernah tahu kalau aku punya ibu sekeren ini. Dan aku nggak akan tahu kalau suami aku ini ternyata bisa juga diajak main film action."
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membiaskan warna oranye yang cantik di atas puncak Gunung Agung. Suasana yang tadinya mencekam kini perlahan menjadi tenang dan damai. Arkan duduk di samping Alana, menatap pemandangan matahari terbit yang paling berkesan dalam hidupnya.
"Lana," panggil Arkan pelan.
"Ya, Mas CEO?"
"Setelah ini... aku mau kita benar-benar menghilang sebentar. Tanpa pengawal, tanpa wartawan, tanpa 'The Board'. Cuma kita berdua. Dan Mochi."
Alana tersenyum jahil. "Boleh. Tapi aku yang tentuin tempatnya ya? Dan Mas nggak boleh protes kalau tempatnya nggak ada sinyal dan nggak ada kasur empuk."
"Apapun buat kamu, Lana."
Namun, di tengah momen romantis itu, Alana teringat sesuatu. Ia membuka buku harian ibunya yang tadi ia selamatkan. Di halaman paling belakang, ada sebuah foto yang terlipat rapi. Foto itu menunjukkan Larasati muda sedang menggendong dua bayi kembar.
Alana mengerutkan kening. Ia menatap ibunya. "Bu... ini foto bayi kembar? Aku punya kembaran?"
Larasati terdiam. Ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat tegang. "Alana... itu rahasia terakhir yang belum sempat aku katakan."
"Apa lagi, Bu? Jangan bilang kembaranku itu sekarang jadi idol K-Pop atau ternyata musuh kita yang lain?" selidik Alana curiga.
Larasati menarik napas dalam-dalam. "Kembaranmu... dia dibawa oleh anggota 'The Board' yang paling senior saat kerusuhan itu terjadi. Dia dididik untuk menjadi pewaris asli yang sebenarnya. Namanya adalah... Ariel."
Arkan tersentak. "Ariel? Ariel Pramudya? CEO Pramudya Corps yang baru saja mengakuisisi sebagian saham kita secara diam-diam kemarin?!"
Alana melongo. "Hah?! Jadi saingan bisnis Mas yang paling ganteng dan paling sombong itu... kembaran aku?! Mas! Ini silsilah keluarga kita beneran perlu dibikin infografis, soalnya otak aku udah nggak nyampe!"
Di sebuah gedung pencakar langit di Jakarta, seorang pria muda yang sangat tampan dengan wajah yang benar-benar mirip dengan Alana versi pria—sedang menatap layar monitor besar yang memperlihatkan rekaman ledakan di lereng Agung.
Ia menyesap anggur merahnya, lalu tersenyum tipis ke arah sekretarisnya yang berdiri di sampingnya—Maya.
"Biarkan mereka menikmati kemenangan kecil ini, Maya," ucap pria itu, Ariel. "Karena setelah ini, aku akan mengambil bukan hanya kunci Swiss itu, tapi juga kakak ipar baruku, Arkan. Aku ingin tahu, siapa yang lebih kuat... darah atau cinta?"
Maya membungkuk hormat. "Sesuai perintah Anda, Tuan Ariel."