Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 216
Inti Dunia Rahasia – Di Balik Gerbang Meteorit.
Kunci Emas tulang naga yang didapatkan dari sisa ledakan Xing Tian melayang di udara.
Di depan Shi Hao dan Tim Asura, berdiri sebuah gerbang raksasa setinggi lima puluh tombak. Gerbang itu tidak terbuat dari kayu atau batu, melainkan dari Besi Meteorit Bintang yang utuh, diukir dengan ribuan segel pertahanan tingkat Raja Dewa (God King).
"Ini dia," kata Shi Hao. "Alasan kenapa Xing Tian mendekam di sini selama 5.000 tahun."
Xing Tian menjaga tempat ini, tapi sebagai Iblis, Qi-nya yang kotor ditolak oleh segel pintu ini. Hanya seseorang dengan energi murni atau kekuatan yang melampaui aturan yang bisa membukanya.
Shi Hao menjentikkan jarinya. Kunci Emas itu melesat masuk ke lubang kunci di tengah gerbang.
KLIK. DUM... DUM... DUM...
Suara mekanisme purba yang berat bergema. Debu ribuan tahun rontok. Gerbang meteorit itu perlahan terbelah dua dan terbuka ke dalam.
Cahaya biru menyilaukan memancar keluar.
"Baunya... wangi sekali!" cicit Shu Ling (Si Tikus), hidungnya berkedut gila-gilaan. "Ini bau harta karun tingkat Surga!"
Mereka melangkah masuk.
Ruang Harta Kaisar Bintang.
Ruangan itu tidak berisi tumpukan emas atau permata biasa. Itu adalah perpustakaan dan gudang senjata pribadi.
Dindingnya adalah rak-rak yang melayang, berisi gulungan kitab teknik yang sudah punah. Langit-langitnya adalah miniatur galaksi yang bergerak sesuai waktu nyata.
Namun, perhatian Shi Hao langsung tertuju pada dua benda yang melayang di podium utama di tengah ruangan.
Benda Pertama: Sebuah lempengan logam perak yang sobek di bagian pinggirnya.
Shi Hao mendekatinya. Dia mengeluarkan Peta Bintang Kuno (cakram hitam) yang dia bawa dari Nana.
Ketika kedua benda itu berdekatan, mereka bergetar hebat.
TING!
Lempengan perak itu terbang dan menempel pada cakram hitam, mengisi bagian yang kosong dengan presisi sempurna.
Hologram peta bintang yang sebelumnya hanya menampilkan rute samar, kini menjadi Jelas dan Lengkap.
Garis-garis rute navigasi berwarna emas kini terhubung dari Sektor Pinggiran ini, melewati "Lautan Kabut Hampa", menembus "Tembok Dimensi", dan berakhir di sebuah titik merah di pusat semesta: Makam Kaisar Bintang Utara.
"Sempurna," gumam Shi Hao.
"Bagian yang dipegang Nana adalah 'Kompas'. Dan bagian ini adalah 'Kunci Koordinat'. Tanpa salah satunya, kita hanya akan berputar-putar di antah berantah."
Shi Hao menyimpan Peta yang sudah lengkap itu. Ini adalah tiket mereka untuk keluar dari wilayah pinggiran yang miskin ini menuju panggung utama alam semesta.
Benda Kedua: Sebuah kotak kayu hitam panjang yang tersegel jimat kuning.
Aura membunuh yang dingin merembes keluar dari kotak itu, membuat suhu ruangan turun drastis. Bahkan Tie Shan merasa tubuhnya merinding.
Shi Hao membuka kotak itu.
Di dalamnya, terbaring sebatang anak panah.
Tidak ada busurnya. Hanya anak panah.
Anak panah itu berwarna hitam pekat, terbuat dari tulang Naga Void. Ujungnya merah darah, seolah baru saja dicelupkan ke dalam jantung seseorang. Tidak ada bulu penyeimbang di ekornya, melainkan ukiran mantra Hukum Kematian.
Panah Pembunuh Dewa (God-Slayer Arrow). Tingkat: Artefak Raja Dewa (God King) - Sekali Pakai. Efek: Mengejar jiwa target sampai ke ujung dunia. Mengabaikan pertahanan fisik. Membakar jiwa target saat tersentuh.
"Benda jahat," komentar Shi Hao. "Ini bukan senjata untuk bertarung. Ini senjata untuk eksekusi."
Shi Hao mengambil anak panah itu. Beratnya luar biasa, seolah memegang sebuah gunung.
Dia menoleh ke belakang, menatap Luo Tian (Si Mata Tiga).
"Luo Tian. Tangkap."
Shi Hao melempar anak panah itu.
Luo Tian panik dan menangkapnya dengan kedua tangan.
BRUK!
Luo Tian langsung jatuh berlutut karena beratnya panah itu. Lantai batu di bawah lututnya retak.
"B-Berat sekali!" keluh Luo Tian, wajahnya memerah mengerahkan seluruh tenaga Qi-nya hanya untuk memegangnya. "Tuan Feng... benda apa ini?"
"Itu taringmu," jawab Shi Hao datar.
Shi Hao berjalan mendekat, berjongkok di depan Luo Tian.
"Di tim ini, Tie Shan adalah perisai. Shu Ling adalah mata-mata. Aku adalah pedang."
"Tapi kau... kau adalah penentu kematian jarak jauh."
"Mata ketigamu bisa melihat target sejauh ribuan mil. Tapi serangan mentalmu terlalu lemah untuk membunuh musuh setingkat Dewa Sejati."
Shi Hao menunjuk panah di tangan Luo Tian.
"Panah itu berisi kutukan Raja Dewa. Kau tidak butuh busur fisik. Gunakan Busur Jiwa-mu. Gunakan mata ketigamu untuk mengunci target, dan luncurkan panah ini dengan Qi mentalmu."
"Hanya ada satu panah. Artinya, kau hanya punya satu kesempatan."
"Simpan ini untuk musuh yang tidak bisa kutebas. Simpan ini untuk saat-saat paling putus asa."
Luo Tian menatap panah hitam itu. Dia bisa merasakan getaran mengerikan darinya. Ini adalah tanggung jawab besar. Jika dia meleset, dia membuang harta karun yang bisa membeli satu planet.
Luo Tian menarik napas dalam, lalu mengangguk tegas. Dia menyimpan panah itu ke dalam peti penyimpanan khususnya di punggung.
"Saya mengerti, Tuan. Saya bersumpah tidak akan meleset."
"Bagus," Shi Hao berdiri.
"Shu Ling, ambil semua kitab teknik di rak itu. Kita bisa menjualnya atau kalian pelajari nanti. Jangan tinggalkan sisa."
Shu Ling bersorak girang. "Siap, Bos! Sapu bersih!"
Dalam waktu singkat, ruangan harta itu kosong melompong. Tim Asura bertindak seperti belalang perampok yang efisien.
RUMBLE...
Tiba-tiba, Labirin Bintang Kuno mulai bergetar hebat. Batu-batu mulai jatuh dari langit-langit.
"Inti dimensi sudah diambil," kata Shi Hao tenang. "Dunia ini akan runtuh dalam lima menit."
Shi Hao berbalik menuju pintu keluar. Aura Dewa Sejati Tahap Menengah-nya memancar stabil.
"Ayo keluar."
"Aku punya firasat buruk tentang apa yang terjadi di luar sana. Wuming orang yang kuat, tapi Pangeran Jin adalah ular licik."
Shi Hao mengepalkan tangannya.
"Jika ada satu goresan saja di tubuh Nana... Aku akan menggunakan panah itu untuk memaku Pangeran Jin ke matahari."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛