Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Lydia sudah selesai diperiksa oleh dokter dan dinyatakan tidak mengalami cedera parah, meski sempat terjadi benturan di kepalanya.
Kini, di ruangan itu hanya ada Arion dan Namira. Dokter sudah pamit setelah memastikan kondisi Lydia baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
"Sekarang Lydia sudah sadar, berarti kamu sudah bisa makan kan, Kak? Kamu belum makan seharian, Mamah khawatir kamu sakit," ucap Namira lembut, menatap Arion penuh harap agar putranya mau makan kali ini.
Mendengar itu, Lydia langsung menoleh pada Arion dan bertanya.
"Kamu belum makan?"
"Iya, Arion belum makan. Dia terlalu mengkhawatirkan kamu sampai menolak makan," ujar Namira sebelum Arion sempat menjawab pertanyaan Lydia.
Namira tidak sedang menyalahkan Lydia. Ia hanya ingin memberitahu bahwa Arion menolak makan karena menunggu perempuan itu sadar.
"Makan dulu sana. Jangan membuat Mamah kamu khawatir," kata Lydia pada Arion. Laki-laki itu benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bicara oleh Namira maupun Lydia.
"Mamah akan minta Papah membeli makanan untuk kamu," Namira hendak beranjak dan meminta suaminya membeli makanan, namun perkataan Lydia menahannya.
"Tidak usah, Bu. Biar Arion saja yang pergi membeli makanan dan sekalian makan di sana," ucap Lydia pelan sambil menoleh pada Arion.
"Tidak bisa dong, Kak. Aku harus di sini menjaga Kakak," ujar Arion menolak pergi.
Ia tidak bisa meninggalkan Lydia sendirian di rumah sakit. Ia ingin terus berada di sisi Lydia dan memastikan perempuan itu baik-baik saja.
"Kalau Papah kamu yang beli, pasti membutuhkan waktu dan itu akan lama, sementara perut kamu perlu diisi secepatnya. Jadi kamu saja yang pergi dan makan di restoran," tegas Lydia.
Ia tidak ingin Arion mengabaikan kesehatannya sendiri hanya karena mengkhawatirkannya. Lagipula, ia bukan anak kecil yang harus dijaga.
"Iya, Lydia benar. Biar Mamah yang menjaga Lydia di sini," ucap Namira setuju.
"Tapi Mamah juga pasti belum makan," kata Arion, berharap Lydia tidak menyuruhnya pergi karena bukan hanya dirinya yang belum makan.
"Kalau begitu, kalian pergi saja berdua. Aku bisa di sini sendirian," sahut Lydia berbanding terbalik dengan yang Arion harapkan.
"Kakak bukan anak kecil yang harus dijaga, Arion," tambahnya saat melihat Arion hendak memprotesnya.
Arion menghela napas pelan. Ia ingin tetap berada di sisi Lydia, tapi melihat Lydia bersikeras membuatnya terpaksa menurutinya. Ia juga memikirkan ibunya yang belum makan.
"Baiklah, kami akan pergi makan. Aku janji hanya sebentar dan akan kembali ke sini secepatnya," putus Arion akhirnya.
Sebelum pergi, ia sempat mengecup kening Lydia. Ia tampak tidak peduli meski ibunya menyaksikan momen itu. Lagipula, Namira sudah mengetahui kedekatannya dengan Lydia.
"Kamu sudah berani mencium perempuan di depan Mamah ya?" goda Namira setelah keluar dari ruangan Lydia.
Arion hanya terkekeh pelan, lalu memeluk dan mencium puncak kepala ibunya. Momen itu disaksikan oleh Airin dan Xavier yang masih menunggu di depan ruangan Lydia.
"Sudah bisa tertawa kamu sekarang?" tanya Xavier, nadanya sinis karena masih kesal pada Arion.
Airin dan Namira langsung memberikan tatapan tajam mereka. Tidak ada yang boleh bicara seperti itu sekalipun itu Xavier.
"Papah tidak bermaksud apa-apa, hanya bertanya pada Kakak," ujar Xavier menyadari tatapan tajam anak dan istrinya.
"Tapi tidak perlu sinis ke anak kamu sendiri," seru Namira.
Perdebatan kecil pun terjadi, meski akhirnya mereka pergi bersama ke restoran karena semuanya belum makan. Mereka keluarga yang saling peduli dan saling menyayangi, jika ada satu orang yang belum makan, maka yang lainnya tidak akan bisa makan. Apalagi alasan Arion tidak makan karena mengkhawatirkan perempuan yang dicintainya.
***
Lydia tidak sendirian di ruangannya. Ia ditemani oleh Rina dan juga Aletta. Kedua sahabatnya itu langsung datang begitu mengetahui Lydia sadar.
"Serius, lo sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Rina menatap Lydia khawatir.
Rina tahu Lydia tidak pernah benar-benar jujur dengan perasaan sendiri. Lydia selalu mengatakan dirinya baik-baik saja, meski kenyataan berkata sebaliknya. Itu sebabnya Rina harus memastikan kembali keadaan Lydia.
"Iya, gue baik-baik saja kok. Kepala gue masih sedikit pusing, tapi gak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter juga bilang gak ada cedera serius di kepala gue," ucap Lydia menjelaskan.
"Syukur deh. Memang kebangetan tuh si Aurora," ujar Rina sambil menahan kesal.
"Aurora?" tanya Lydia, menatap Rina bingung. Ia sama sekali tidak mengerti alasan Rina menyebut nama Aurora dalam pembicaraan mereka.
"Iya, Aurora. Dia yang sengaja menabrak kamu sampai kamu seperti ini," ucap Aletta menimpali.
Ia bukan orang yang akan sembarangan menuduh orang lain. Semua bukti sudah ada di tangan suaminya dan akan sedang diproses ke pihak berwajib.
"Lo tenang saja, Ya. Habis ini gue datengin tuh si Marvin dan suruh dia jaga jalang-jalangnya biar gak gangguin lo," kata Rina dengan emosi yang meluap-luap.
Saat Lydia masih berstatus sebagai tunangan Marvin, Rina sudah sering mengingatkan laki-laki itu untuk menjaga para selingkuhannya supaya tidak mengganggu Lydia. Namun Marvin tidak pernah memedulikan peringatan itu, dan kini Lydia sampai harus mengalami kecelakaan.
"Gue sudah gak mau berurusan dengan Marvin, dan lo juga sebaiknya gak usah ketemu dia," ucap Lydia.
Bukan bermaksud membela, tapi ia sudah benar-benar tidak ingin berurusan dengan Marvin. Ia sudah memiliki Arion dan tidak seharusnya berurusan dengan laki-laki dari masa lalunya.
"Gue sudah punya Arion, meski gue sendiri gak tahu mau dibawa ke mana hubungan ini," lanjutnya.
Di depan ruangan, Arion tanpa sengaja mendengarnya. Ternyata benar yang ibunya katakan, Lydia tetap membutuhkan kejelasan atas hubungan mereka. Ia bersyukur ada ibunya yang mengingatkan, namun ia masih belum bisa memberi Lydia status karena lamarannya terpaksa tertunda.
Arion sudah menyiapkan tempat untuk melamar Lydia, tapi sekarang Lydia dirawat di rumah sakit dan mereka tidak bisa pergi ke sana.
"Kenapa lo gak tembak duluan saja? Arion mungkin masih terlalu kecil buat tahu kalau status di antara kalian itu penting," ucap Rina memberi saran.
"Tapi menurut Kakak, Lydia tidak perlu melakukan itu," sambar Aletta. Ia tahu Arion sudah menyiapkan lamaran untuk Lydia, jadi ia merasa Lydia tidak perlu menembak Arion duluan.
"Iya, gak perlu. Usia gue juga sudah gak pantes diajak pacaran," ujar Lydia sambil tertawa pelan.
Ia sudah memasuki usia untuk menikah. Jika ia menembak Arion, itu hanya akan membuang waktunya saja. Lebih baik mereka dekat tanpa status, daripada memiliki status yang kemungkinan berakhir dengan kata putus.
***
"Lebih baik Kakak lamar Kak Lydia sekarang," saran Airin sambil memberikan cincin yang sudah disiapkan untuk melamar Lydia pada Arion.
Ia sudah seperti penjaga cinta kakaknya. Selain menyimpan hadiah yang Lydia siapkan untuk Arion, ia juga menjaga cincin lamaran mereka.
"Adik kamu benar. Lamaran itu bukan soal tempat, kamu bisa melamar Lydia di sini," ucap Namira setuju saat Arion saja masih ragu mengambil cincin dari tangan Airin.
"Iya, kalau tidak cepat mungkin kamu akan kehilangan Lydia," timpal Xavier.
Arion baru mengambil cincin dari tangan Airin setelah ayahnya mengatakan itu. Ia tidak mau sampai kehilangan Lydia apa pun yang terjadi.
"Baiklah, aku akan melamar Kak Lydia sekarang. Tapi Papah harus ingat cincin ini dari Mamah, bukan dari Papah," ketus Arion.
Ia masih ingat tentang ayahnya yang membahas uang dengannya.