Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Kenapa Kamu diam, Mas? Cepat tandatangani surat ini!"
Zidan tak kunjung mengiyakan saat Venya memintanya untuk menandatangani surat perceraiannya dengan Azelva. Hal itu semakin memantik kemarahan di hati wanita itu.
Sementara Zidan, sampai saat ini masih belum memahami perasaannya sendiri pada Azelva. Kadang ada rasa marah dan kecewa pada Azelva mengingat wanita itu adalah penyebab bayinya dan Venya keguguran.
Namun di sisi lain, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan. Rasa takut kehilangan dan tidak ingin melepaskan. Selain itu, bersanding dengan Azelva membuatnya begitu dihormati dan dianggap beruntung. Itulah yang membuat Zidan tidak ingin gegabah menceraikan Azelva.
"Aku---"
Drrttt drrttt
Zidan tidak meneruskan ucapannya karena tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Tertera nama asistennya di layar ponsel, membuat Zidan dengan cepat menjawabnya.
Sial!
Kekesalan Venya semakin bertambah, padahal tinggal sedikit lagi rencananya untuk memisahkan Azelva dan Zidan akan berhasil.
Venya mulai tidak menyukai Zidan yang selalu bertindak seenaknya. Dari sikapnya, Zidan terlihat tidak ingin melepaskan Azelva. Padahal sebelumnya Zidan berjanji akan menceraikan Azelva setelah Zidan berhasil mengambil semua kekayaan Azelva.
Aku harus secepatnya membuat Mas Zidan menandatangani surat itu, gumam Venya dalam hati.
Sementara itu, Zidan baru saja selesai menerima panggilan dari asistennya. Wajahnya terlihat sumringah seperti baru saja mendapatkan jackpot. Padahal sebelumnya pria itu terlihat uring-uringan.
"Kamu kenapa, Mas? Kelihatannya bahagia banget," ucap Venya sedikit ketus.
Entah kenapa Venya tidak suka melihat wajah bahagia kekasihnya. Venya pikir Zidan baru saja mendapat telpon dari Azelva. Apa jangan-jangan Azelva berubah pikiran, tidak jadi bercerai dengan Zidan, gumam Venya dalam hati.
Venya semakin mengepalkan tangannya, amarahnya semakin membuncah bersama rasa khawatir yang perlahan mulai menggerogotinya.
"Besok pagi, pihak Gavintara Corp ingin melakukan pertemuan. Mereka berjanji akan berinvestasi di perusahaan kita dengan syarat, perusahaan harus di audit lebih dulu."
Deg
Wajah Venya tiba-tiba berubah pias. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Gawat! Kalau sampai ada audit, Mas Zidan akan tahu, diam-diam aku selalu mengambil uang perusahaan, gumam Venya dalam hati.
Venya menggigit bibir bawahnya, rasa takut bercampur panik semakin menyergapnya. Ia tidak bisa membayangkan andai Zidan mengetahui semuanya.
Zidan pasti akan sangat kecewa, dan yang paling Venya takutkan adalah, kemarahan Zidan nantinya akan berimbas pada hubungannya.
"Kenapa wajahmu pucat, Sayang?"
"E-enggak kok, Mas. Aku hanya terkejut. A-aku ikut seneng."
Dengan perasaan gugupnya, Venya mencoba memaksakan senyumnya supaya Zidan tidak mencurigainya.
"Aku tidak sabar nunggu besok," ucap Zidan dengan bibir yang tersungging.
...----------------...
Keesokan harinya
Kellano sudah siap dengan setelan kantornya. Kemeja putih dilapisi jas berwarna navy membalut tubuh gagahnya, dan juga celana panjang senada dengan warna jasnya, membuat Kellano tampak semakin rupawan.
Pria itu menghampiri kamar putra tercintanya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Sebelum berangkat ke kantor, pria itu akan menggendong Arlend lebih dulu lalu membawanya turun untuk sarapan bersama orang tuanya.
"Selamat pagi, kesayangan Papa! Loh... kenapa minum susunya udahan? Kan Papa belum lihat!"
Kellano tersenyum menghampiri putranya yang sudah terlihat tampan. Sepertinya Azelva baru saja selesai menyusui bayi gembul itu. Sial, kenapa harus telat? gumam Kellano dalam hati. Pria itu menatap Azelva dengan tatapan memelas.
Padahal Kellano sudah berusaha bangun lebih pagi supaya bisa mengintip putranya menyusu pada wanita kesayangannya itu. Namun tetap saja Kellano selalu datang setelah putranya selesai menyusu.
Azelva memutar bola matanya malas, ia sangat hafal arti tatapan memelas pria mesum itu. Wanita cantik itu merasa geram, semakin hari Kellano semakin gencar menggodanya. Azelva sendiri heran, kenapa Kellano berubah mesum seperti itu. Padahal seingatnya, saat pacaran dulu Kellano bukanlah tipe pria mesum dan kurang ajar seperti sekarang.
"Jangan kurang ajar, Tuan Kellano!"
Kellano hanya terbahak melihat wajah jutek ibu susu putranya itu. Akhir-akhir ini menggoda Azelva adalah kebiasaan baru Kellano yang tidak boleh terlewat. Wajah cemberut Azelva sudah seperti mood booster untuknya.
Kellano berjalan perlahan menuruni anak tangga sambil membawa Arlend dalam gendongannya. Di belakangnya Azelva mengekor sambil membawa mainan favorit Arlend. Ketiganya nampak seperti keluarga kecil yang harmonis.
Mommy Yumna tersenyum hangat menyaksikan pemandangan di depannya. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
"Tante, kenapa nangis?"
Azelva menatap Mommy Yumna dengan khawatir saat tak sengaja melihat wanita paruh baya itu mengusap air matanya. Azelva bahkan mempercepat langkahnya untuk menghampiri Mommy Yumna.
"Ah nggak apa-apa, Sayang. Tante cuma berpikir, andai saja Kamu menantu Tante, bukan wanita itu," ucap Mommy Yumna.
Mengingat menantunya membuat Mommy Yumna tiba-tiba sangat kesal.
Azelva tersenyum kikuk, ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Namun, tiba-tiba saja Azelva sangat penasaran dengan sosok istri sang mantan kekasih.
Selama ini Azelva tidak pernah bertanya tentang istri Kellano. Seperti apa wanita yang sudah membuat Kellano mengingkari janjinya itu. Azelva tidak pernah peduli.
Namun, setelah mendengar ucapan Mommy Yumna, Azelva jadi berpikir ada apa dengan pernikahan Kellano dan wanita itu? Mungkinkah keluarga Kellano tidak merestui pernikahan putranya?
Sudahlah, bukan urusanku, batin Azelva. Tidak ingin dianggap terlalu ikut campur, Azelva memilih untuk tidak menyudahi percakapan itu.
Saat mereka hendak memulai sarapan, tiba-tiba saja...
"Selamat pagi, semuanya."
Seorang wanita tiba-tiba datang sambil menggeret koper di tangannya. Bibirnya tersenyum lebar saat netranya bertatapan dengan Kellano. Namun senyumnya tiba-tiba meredup saat melihat sosok yang sangat ia kenali duduk di tengah-tengah keluarga itu.
Deg
"Kenapa Dia ada di sini?"
To be continued