NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - My Dangerous Kenzo

...****************...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...****************...

Begitu pintu rumah terbuka, Mommy sudah duduk menunggu di ruang tengah. Punggungnya tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Tatapannya langsung mengarah ke Naya.

“Kenapa jam segini baru pulang?” tanya Mommy dingin.

Naya refleks melirik jam dinding.

15.45.

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

“Em…” Naya membuka mulut, tapi suaranya tertahan.

Belum sempat ia menyusun alasan, Kenzo sudah melangkah sedikit ke depan.

“Maaf, Tante,” ujar Kenzo sopan. “Tadi Kenzo ada COD paket, jadi Naya kebawa muter-muter sebentar.”

Mommy menatap Kenzo, ekspresinya tak berubah.

“Jangan salahin Naya ya, Tante,” lanjut Kenzo. “Itu salah Kenzo.”

“Hem.”

Hanya itu respon Mommy.

Suasana hening beberapa detik.

“Ya sudah,” kata Mommy akhirnya. “Masuk kamar. Ganti baju.”

“Iya,” jawab Naya pelan, bibirnya mengerucut tanpa sadar.

“Kenzo permisi ke kamar Reno ya, Tante,” kata Kenzo lagi.

Mommy mengangguk singkat. “Heem.”

Naya langsung melengos menaiki tangga. Kenzo mengikutinya dari belakang, satu tangan membawa kardus PS.

Tangga terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah Naya terasa berat, seolah masih bisa merasakan tatapan Mommy menusuk punggungnya.

Begitu sampai di depan pintu kamar, Naya meraih knop pintu.

Kenzo berhenti tepat di belakangnya, lalu menunduk sedikit dan berbisik pelan,

“Tenang. Ada gue.”

Seketika bulu kuduk Naya meremang.

Jantungnya berdebar nggak karuan—bukan karena Mommy, tapi karena suara Kenzo yang terlalu dekat.

Tanpa menoleh, Naya buru-buru membuka pintu, masuk, lalu menutupnya cepat.

Brak.

Ia bersandar di balik pintu, menarik napas dalam-dalam.

Sementara itu, Kenzo melangkah ke kamar Reno, masih membawa kardus PS di tangannya—dengan senyum kecil yang sulit ditebak.

Malam turun pelan di rumah itu.

Lampu ruang makan menyala terang, tapi suasananya tetap terasa dingin. Di meja makan hanya ada tiga orang—Pappi, Mommy, dan Naya. Kursi Reno kosong. Kenzo juga tidak terlihat. Keduanya sedang keluar.

Sendok Naya mengaduk nasi di piringnya tanpa selera.

“Kak Reno doang boleh keluar sesuka hati,”

gumam Naya akhirnya, suaranya pelan tapi jelas.

Mommy mengangkat wajah. “Kamu perempuan. Kamu nggak boleh ke mana-mana. Pulang sekolah, langsung di rumah.”

Naya menahan napas. Dadanya terasa sesak.

“Aku juga mau kayak yang lain, Mom. Main, nonton, jalan sama temen.”

Pappi melirik Naya dengan senyum lembut. “Iya, nanti boleh, sayang.”

“Nggak,” potong Mommy cepat. “Gak boleh.”

Nada itu—tegas, final—membuat hati Naya runtuh lagi.

“Iih, Mommy nyebelin!” Naya berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras.

Mommy menatap tajam. “Naya.”

“Aku sebel sama Mommy!” suara Naya bergetar.

Tanpa menunggu jawaban, ia berlari meninggalkan meja makan, menaiki tangga dengan langkah cepat.

“Naya!!” panggil Mommy.

Langkah kaki itu menghilang di lantai atas.

Pappi menghela napas panjang, lalu meletakkan sendoknya. “Sayang, udah. Namanya juga anak remaja.”

Mommy menyilangkan tangan. “Dia belum tahu sebahaya apa dunia luar.”

Pappi menatap Mommy, suaranya tetap tenang. “Iya. Pappi ngerti. Tapi Naya juga perlu dipercaya.”

Mommy terdiam. Tatapannya kosong beberapa detik.

“Nanti Pappi yang bicara sama Naya,” lanjut Pappi lembut. “Pelan-pelan.”

Di lantai atas, Naya mengunci pintu kamarnya. Ia bersandar di balik pintu, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Rumah ini selalu terang.

Tapi malam-malam seperti ini…

selalu terasa gelap.

Pintu kamar terbuka pelan.

Pappi masuk dan langsung melihat Naya meringkuk di atas kasur, bahunya naik turun menahan tangis. Bantalnya sudah basah. Rambutnya berantakan—nggak seperti biasanya.

Pappi mendekat tanpa suara, lalu duduk di sisi kasur.

“Sayang…”

Naya tak menoleh, tapi tangisnya makin pecah.

Pappi mengelus punggung Naya dengan gerakan pelan.

“My princess… jangan nangis dong.”

Mendengar itu, Naya langsung bangkit dan memeluk Pappi erat, wajahnya terkubur di dada pria itu.

“Mommy jahat banget sama Naya, Pi,” isaknya.

“Pokoknya Naya sebel sama Mommy…”

Pappi memeluknya lebih erat, tangannya mengusap rambut Naya dengan sabar.

“Mommy itu sayang sama Naya,” ucapnya lembut. “Makanya Mommy nggak mau Naya kenapa-kenapa.”

Naya menggeleng kecil di pelukan Pappi.

“Tapi kan Naya juga mau kayak yang lain, Pi. Naya mau main, mau nonton, mau ketawa sama temen.”

Pappi terdiam sejenak, lalu mengusap pipi Naya yang basah.

“Iya… Pappi ngerti.”

Ia menatap mata Naya dengan senyum menenangkan.

“Nanti Pappi bujuk Mommy, ya. Biar Naya diijinin nonton. Sekali-kali.”

Naya mengendus. “Beneran?”

“Beneran,” jawab Pappi sambil mengangguk. “Pappi janji.”

Pappi kembali memeluk Naya, menepuk punggungnya perlahan sampai napas Naya mulai teratur.

Di pelukan itu, Naya merasa aman.

Setidaknya… masih ada satu orang di rumah ini

yang benar-benar mendengarkan.

Pintu kamar masih tertutup rapat.

Di baliknya, Mommy berdiri diam. Tangannya terangkat, sempat hendak mengetuk—lalu terhenti saat suara di dalam kamar terdengar jelas.

“Nanti Pappi bujuk Mommy, ya,” suara Pappi terdengar lembut. “Biar Naya diijinin nonton. Sekali-kali.”

Mommy membeku.

Dadanya terasa mengeras, bukan karena marah—tapi karena sesuatu yang lebih sulit diakui.

“Aku cuma mau kayak yang lain, Pi,” suara Naya terdengar lirih, masih serak habis menangis.

“Naya capek harus selalu nurut.”

Hening beberapa detik.

Mommy menurunkan tangannya perlahan.

Ia menempelkan punggungnya ke dinding, tepat di samping pintu kamar. Matanya terpejam. Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya turun—seolah beban yang selama ini ia pikul tiba-tiba terasa berat.

“Mommy itu takut kehilangan kamu,” suara Pappi kembali terdengar dari dalam. “Bukan karena Mommy jahat.”

Mommy menarik napas dalam. Panjang. Berat.

Takut…

Kata itu menusuk.

Ia memang takut. Takut dunia menyentuh Naya terlalu kasar. Takut Naya terluka. Takut kehilangan kendali—dan kehilangan anaknya.

Tapi dari balik pintu itu, Mommy baru sadar satu hal:

ketakutannya telah berubah menjadi tembok.

Dan tembok itu… melukai.

Di dalam kamar, tangis Naya mulai mereda.

Di luar kamar, mata Mommy berkaca-kaca—meski wajahnya tetap dingin.

Ia melangkah mundur perlahan, menjauh dari pintu tanpa mengetuk.

Malam itu, Mommy tidak masuk kamar Naya.

Tapi untuk pertama kalinya…

ia bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah caraku mencintai sudah benar?

Dan pertanyaan itu,

lebih menakutkan dari dunia luar mana pun.

Pintu rumah kembali terbuka menjelang malam.

Kenzo dan Reno masuk pelan, tanpa suara berlebihan. Keduanya langsung naik ke atas menuju kamar masing-masing. Rumah sudah lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa saat kemudian, Kenzo keluar lagi dari kamarnya. Tenggorokannya terasa kering. Ia turun ke dapur untuk mengambil minum.

Lampu dapur menyala redup.

Kenzo membuka kulkas, mengambil botol air, lalu berhenti.

Di seberang meja dapur, Naya berdiri dengan gelas di tangannya. Rambutnya tergerai, bahunya sedikit turun. Saat Naya menoleh, Kenzo langsung melihatnya.

Mata Naya membengkak.

Merah.

Jelas habis nangis.

Kenzo menutup kulkas pelan.

“Nay?” panggilnya pelan, nada suaranya berubah. “Kenapa?”

Naya refleks mengalihkan pandang. “Nggak apa-apa.”

“Jelas kenapa-kenapa,” Kenzo mendekat satu langkah. “Abis nangis?”

Naya meneguk airnya buru-buru, lalu mengangguk kecil tanpa menoleh.

Kenzo terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum jailnya menghilang.

“Karena Mommy?” tanyanya hati-hati.

Naya tak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup.

Kenzo meletakkan botol air di meja.

Kenzo melangkah mendekat. Tangannya terangkat, mengusap pipi Naya dengan hati-hati.

“Sampe bengkak gini matanya,” ucapnya lirih.

Tanpa menunggu jawaban, Kenzo menarik Naya ke dalam pelukannya. Pelukan hangat, tenang, dan terlalu aman untuk seseorang yang sedang rapuh.

“Berantem sama mommy?” tanya Kenzo pelan.

Naya mengangguk di dadanya.

“Jangan sedih,” lanjut Kenzo. “Kalau ada apa-apa, bilang gue.”

Beberapa detik berlalu.

Menjadi menit.

Tak ada yang bicara.

Kenzo lalu mengecup lembut rambut Naya.

Naya mendongak, menatap Kenzo sebentar. Ada sesuatu di mata Kenzo yang berbeda—nggak bercanda, nggak menggoda.

Tersenyum kecil. “Minum dulu. Besok masih sekolah.”

Naya mengangguk pelan.

Di dapur yang sunyi itu, tanpa kata berlebihan, Naya merasa… sedikit lebih kuat.

Dan Kenzo, tanpa sadar, sudah berdiri di posisi yang bukan sekadar teman kakaknya.

“Tidur. Udah malem,” katanya.

Naya mengangguk. Kenzo melepaskan pelukannya, memberi jarak seolah tak pernah ada apa-apa. Naya berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.

Begitu pintu tertutup, Naya bersandar di sana. Jantungnya berdetak tak karuan, terlalu cepat, terlalu keras.

Gila…

'Kok bisa-bisanya gue diem aja di pelukan playboy mesum?' batinnya, dengan wajah memanas dan pikiran yang sama sekali tak tenang.

Malam itu, Naya tahu—

ada sesuatu yang mulai berubah, dan ia tak yakin siap menghadapinya.

...****************...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!