Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan
Hujan mulai mereda, tak ada lagi suaranya yang membuat bising, meskipun sisa gerimisnya masih sedikit terdengar.
Adara masih mematung. Dia tidak pernah membayangkan akan disuguhi kalimat seperti itu lebih cepat dari seharusnya. Pertanyaan itu menggema, kepalanya seperti dihantam gong berkali-kali.
Sementara orang lain sibuk bercakap, Adara hanya duduk, ibu jarinya mengusap-usap sisi jilbabnya tanpa sadar. Ayumi yang duduk di sampingnya bahkan harus menyikutnya beberapa kali untuk membuatnya fokus kembali.
“Dar… dara! Sadar dulu, plis,” bisik Ayumi pelan.
Adara hanya mengangguk, walau otaknya masih belum benar-benar terhubung pada dunia nyata.
Daniel menatap sahabatnya itu. “Hannan… ini hal besar. Kenapa mendadak sekali?”
Kyai Hannan tersenyum tipis. “Saya paham. Tapi kami datang bukan tanpa pertimbangan. Rafka sudah lama memperhatikan Adara. Ia sudah sampaikan keinginan ini sejak beberapa bulan lalu.”
Adara refleks menoleh ke Rafka.
Rafka langsung menunduk.
Ayumi memekik pelan tanpa suara, hanya mulutnya saja yang bergerak. “BE-BE-BE… BERAPA BULAN?!”
Adara memejamkan mata.
“Kami tidak memaksa. Semua kembali kepada Adara. Kalau Adara menolak, kami pun tidak apa-apa.” Hannan menambahkan.
Hening memenuhi ruangan.
Daniel menatap putrinya. “Adara… apa kamu siap? Papa tidak akan memaksa kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu.”
Adara meneguk salivanya. Ia menundukkan kepalanya, memikirkan keputusan apa yang harus dia pilih.
Apakah aku siap?
Pertunangan adalah hubungan serius menjelang pernikahan. Bukan sekadar hubungan main-main. Namun ia juga tidak mau menikah dini. Ia ingin menggapai mimpinya dengan leluasa sebelum memutuskan menikah.
Ini tentang hidupnya. Tentang masa depan. Tentang memutuskan akan memilih seseorang yang akan berjalan seumur hidup bersama dirinya. Dan… apakah Rafka benar-benar menginginkannya? Atau semua ini hanyalah perasaan sementara yang muncul di hatinya.
Sampai akhirnya, Adara mendongak saat menemukan jawaban yang bagus.
“Saya akan menerima Gus Rafka dengan beberapa syarat penting. Jika Gus Rafka menerima persyaratan dari saya… maka saya akan menerima pertunangan ini,” ucap Adara.
“Persyaratan apa yang harus saya penuhi, Dara?” tanya Rafka penasaran.
“Pertama—saya tidak ingin menikah dalam dalam waktu dekat. Jadi saya hanya akan menikah disaat mental saya benar-benar sudah siap. Saya tidak tau kapan mental saya akan siap dan entah itu di tahun berapa. Jika Gus Rafka bersedia menunggu saya dalam waktu yang entah lama atau sebentar ini, saya akan menerima lamaran ini,” jelas Adara.
“Kedua—saya tidak ingin kita sering bertemu atau berhubungan lewat handphone meskipun sudah dalam status bertunangan. Kita hanya akan berkomunikasi sesekali saja.” Adara menarik napas kasar.
“Lalu yang terakhir—saya tidak mau ada poligami dalam hubungan ini. Apapun alasannya, poligami tidak diterima!” tegas Adara.
“Saya menyanggupi ketiga persyaratan dari Adara. Pertama, saya akan menunggu Adara sampai benar-benar siap untuk saya nikahi. Kedua, saya akan menjaga jarak dengan Adara meskipun dia tunangan saya. Ketiga, saya tidak mampu berpoligami karena saya hanya bisa mencintai satu gadis saja!” jawab Rafka tanpa berpikir panjang. “Tujuan saya melamar kamu sekarang, agar tidak ada yang mendahului saya di masa depan nanti.”
Jantung Adara berdebar cepat mendengar jawaban Gus Rafka. Dia kira Gus Rafka akan menolak persyaratan pertama, namun pria itu menyanggupinya tanpa banyak berfikir.
“Alhamdulillah… kalau begitu pertunangan akan dilaksanakan hari ini.” Kyai Hannan tersenyum hangat. “Rafka… ambil hantaran yang sudah kita siapkan di mobil.”
Rafka mengangguk cepat lalu bergegas keluar dari rumah itu.
“Aku bakal tunangan dadakan?” batin Adara.
“Sayang, kamu beneran siap?” tanya Marisa sambil menata kerudung putrinya di kamar.
“Aku… aku nggak tau, Ma.” Adara menatap bayangannya di cermin. Terlihat jelas kegugupan di balik mata hezelnya. Sementara bibirnya tidak berhenti menggigit-gigit bagian dalamnya. “Tapi kalau aku bilang tidak… rasanya aku bakal nyesel.”
Marisa tersenyum sambil menangkup pipi Adara. “Keputusan bagus karena kamu menerima Rafka, Nak. Pertunangan bukan berarti kamu harus menikah besok.”
Adara menghela napas panjang. “Adara nggak pakai cadar, Ma?” tanyanya.
“Pakai aja, Sayang. Nanti kalau Rafka mau ngeliat wajah kamu baru dibuka. Bentar aja habis itu dipasang lagi,” jelas Marisa.
“Iya, Ma…” lirih Adara.
“Nah! Putri Mama udah cantik banget.” Marisa tersenyum puas melihat penampilan putrinya. “Ayumi… temani Adara turun ke bawah, ya. Lima menit lagi… sekarang Mama turun duluan!”
“Siapp Ma!” jawab Ayumi.
Di ruang tamu—meja kecil di depan sudah dipenuhi bermacam kue, minuman, dan hantaran dari keluarga Hannan.
Rafka berdiri di samping ayahnya, ia menatap Adara sekilas lalu menunduk saat melihat Adara turun menuruni tangga. Tatapan itu… membuat jantung Adara kembali berdebar.
“Dia natap kamu, Dar!!” seru Ayumi heboh.
“Diam Yum!!”
Ayumi menutup mulutnya mendengar ucapan Adara meskipun dia masih ingin berteriak.
Daniel duduk lalu berdehem singkat. “Baik, Hannan. Kita mulai saja.”
Hannan mengangguk. “Rafka?”
Rafka maju selangkah.
“Saya…” suara Rafka sempat goyah. Ia menelan ludah, lalu menatap Adara. “Saya minta izin kepada Papa dan Mama Adara untuk meminang Adara. Saya ingin mengikat hubungan kami dengan cara yang baik.”
Adara menunduk. Wajahnya terasa panas sekali.
Ayah Adara menjawab. “InsyaAllah, kami terima niat baik ini. Selama Adara juga bersedia.”
Semua orang menatap Adara.
Dengan malu-malu, Adara mengangguk.
“Dengan ini… bukan cuma Rafka dan Adara yang menjalin hubungan tapi juga seluruh keluarga kita sudah resmi menjalin hubungan yang serius. Mereka masih harus menjalani hidup masing-masing dengan tenang. Kita cukup niatkan bahwa hubungan ini berada di jalan yang baik.”
Semua mengangguk setuju.
“Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga hubungan ini.” Kyai Hannan tersenyum lega.
Ayumi terisak pelan. “Aku…”
“Eh jangan nangis. Malu!” gerutu Adara.
“Jujur aja aku nangis karena iri!” Ayumi nyengir.
“YUM!!!”
Sore mulai memudar, meninggalkan cahaya oranye yang lembut. Keluarga Rafka mulai berpamitan. Sementara Rafka menghampiri Adara dengan langkah canggung.
“Adara…”
Adara mengusap jilbabnya gugup. “Iya, Gus?”
“Kamu… beneran nggak apa-apa? Ini semua… mendadak.”
Adara mengangguk. “Aku cuma kaget aja, kok,” jawabnya.
Rafka menunduk. “Aku harap hubungan kita terus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Tapi kalau suatu saat kamu meragukan aku—kamu boleh membatalkan pertunangan kita. Tapi aku mau kamu bilang dulu ke aku semua kekurangannya biar aku perbaiki dan kalau masih kurang, aku akan pergi.”
“Kenapa kamu mau tunangan sama aku?” tanya Adara.
Rafka terdiam lalu tersenyum kecil.
“Dari semua hal yang aku takutkan di dunia ini… satu-satunya hal yang tidak pernah aku takuti adalah memilih kamu.”
Adara tertegun.
Ayumi yang mengintip dari balik pintu kamar menutup mulutnya sambil berguling pelan ke lantai karena terlalu heboh.
Sampai Adara harus menahan tawa dan memalingkan wajah.
“Aku harap kita bisa saling menjaga, ya? Sampai cinta kita halal nantinya,” ucap Rafka. “Aku pamit dulu, ya… Assalamu`alaikum Daraa…”
Rafka pergi meninggalkan Adara tanpa menunggunya menjawab apapun. Adara berdiri mematung—menatap kepergian Rafka.
Ayumi memeluknya dari belakang. “DARAAA… kamu resmi jadi tunangannya Gus Rafkaaa…”
“Diam Yum. Aku masih pusing.”
“Pusing gimana?”
“Kayak… aku belum siap tapi aku nggak mau nolak.”
Ayumi tersenyum pelan. “Berarti kamu suka.”
Adara memerah. “Aku nggak bilang gitu!”
“Tapi muka kamu bilang ‘iya’.”
Adara menutup wajahnya. “Ya Allah… hidupku kenapa plot twistnya kayak gini!”
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.