NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Ujian Gua Hantu (Bagian 1)

Ujian Gua Hantu adalah tradisi tahunan Sekte Azure Cloud yang ditakuti dan dinantikan. Gua seluas tiga puluh li di bawah pegunungan sekte ini adalah labirin alami yang dipenuhi formasi ilusi kuno, beast tingkat rendah, dan rintangan yang menguji ketahanan, kecerdasan, dan kerja sama para murid. Tahun ini, ujian ini memiliki arti khusus bagi Kaelen—bukan hanya sebagai ujian, tetapi sebagai medan pertempuran di mana musuh dalam bayangan berencana menyerangnya.

Pagi hari pelaksanaan ujian, Lapangan Batu sudah dipadati oleh ratusan murid yang akan berpartisipasi. Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok berempat, sesuai dengan formasi standar sekte. Kaelen, secara kebetulan yang diatur dengan baik oleh Lin Xia, dikelompokkan dengan Liana, Jek, dan seorang murid inti bernama Bo—seorang ahli formasi pertahanan yang dikenal netral dalam politik internal.

Elder Wen berdiri di atas platform, suaranya bergema. "Ujian Gua Hantu menguji bukan hanya kekuatan individu, tetapi juga kerja tim dan kemampuan beradaptasi. Tujuan kalian adalah mencapai titik tengah gua dan mengambil Lencana Kristal, lalu keluar melalui pintu keluar di sisi selatan. Waktu: tiga hari. Aturan: tidak ada pembunuhan sesama murid. Pelanggaran berarti pengusiran dan hukuman berat. Wasit akan mengawasi melalui cermin pengintai di titik-titik tertentu."

Dia berhenti sejenak, matanya menyapu kerumunan. "Ingat, gua ini berbahaya. Beast, ilusi, dan jebakan formasi tidak membedakan. Jika kalian dalam bahaya, hancurkan token darurat kalian, dan tim penyelamat akan datang—tetapi itu berarti diskualifikasi. Siapkan dirimu."

Kaelen memeriksa perlengkapannya sekali lagi: pedang kayu berujung tumpul (senjata standar ujian), kantong pil penyembuhan dan pemulihan energi, batu penerang, token darurat, dan beberapa alat kecil yang disiapkan Jek. Dia juga menyembunyikan "jebakan kantong ruang" buatannya di lengan bajunya, siap diaktifkan kapan saja.

Liana mendekat, berbisik, "Kelompok Feng ada di sebelah kanan. Empat orang. Mereka melihat ke arah kita."

Kaelen melirik. Memang, Feng dan tiga anggota kelompoknya—Mei (ahli racun), Kang (petarung berat), dan seorang murid yang tidak dikenalnya—sedang mengamati mereka dengan tatapan dingin. Feng bahkan tersenyum tipis, senyuman yang penuh arti.

"Berdampingan dengan kita," kata Bo, ahli formasi itu. Dia adalah pria bertubuh besar dengan wajah tenang. "Saya tidak terlibat politik, tapi saya bisa melihat niat jahat. Hati-hati."

Gerbang gua terbuka—sebuah mulut gelap selebar sepuluh meter di tebing batu. Kelompok-kelompok mulai masuk sesuai urutan yang ditentukan. Kelompok Kaelen adalah kelompok kedua puluh yang masuk.

Begitu melangkah ke dalam gua, dunia luar menghilang. Suhu turun drastis, dan satu-satunya cahaya berasal dari kristal biru pucat yang tumbuh di dinding, memberikan penerangan remang-remang. Suara tetesan air dan gemeresik sesuatu yang kecil bergerak di kejauhan memenuhi telinga.

"Formasi ilusi sudah aktif," kata Bo, matanya berbinar biru lemah saat dia mengaktifkan teknik penglihatannya. "Jalan bercabang di depan. Kiri terlihat aman tapi berbelok-banyak, kanan lebih langsung tapi ada jejak beast."

"Mana yang lebih cepat?" tanya Liana.

"Kanan, tapi butuh pertarungan."

"Kita pilih kanan," putus Kaelen. "Kita tidak punya waktu untuk berbelit. Tapi berhati-hati."

Mereka mengambil jalur kanan. Lorongnya sempit, dengan langit-langit rendah yang dipenuhi stalaktit runcing. Setelah berjalan sekitar seratus meter, serangan pertama datang—dari atas. Seekor laba-laba batu sebesar kucing, dengan kaki-kaki yang bergerak seperti jarum, jatuh dari langit-langit tepat di depan Jek.

Jek terkejut, tetapi Liana bereaksi cepat. Pedang kayunya menghantam laba-laba itu, mengirimnya terbanting ke dinding. Laba-laba itu mendesis dan kabur.

"Laba-laba Pengintai," kata Bo. "Biasanya berkelompok. Mereka mungkin sudah memperingatkan yang lain."

Benar saja, beberapa detik kemudian, suara gemeresik bertambah banyak. Puluhan laba-laba batu muncul dari celah-celah dinding, mata merah mereka bersinar di kegelapan.

"Formasi lingkaran!" teriak Liana. Mereka membentuk lingkaran, saling membelakangi. Kaelen menggunakan elemen es untuk membekukan beberapa laba-laba yang mendekat, sementara Jek melemparkan bubuk pengusir serangga yang dia siapkan. Bo menginjak tanah, mengaktifkan formasi getaran kecil yang mengacaukan sensor laba-laba.

Pertempuran singkat tapi intens. Mereka berhasil mengusir atau membunuh sebagian besar laba-laba, tetapi Kang terluka di kaki karena gigitan beracun. Liana segera memberinya penawar racun dasar.

"Racunnya lemah, tapi kita harus berhati-hati," kata Liana sambil membalut luka.

Mereka melanjutkan, sekarang lebih waspada. Gua itu ternyata adalah labirin yang hidup. Lorong-lorong berubah perlahan, dinding bergeser, dan ilusi membuat mereka beberapa kali berjalan melingkar. Bo, dengan keahlian formasi-nya, bisa mendeteksi perubahan pola energi dan memimpin mereka melalui jalur yang benar.

Setelah sekitar empat jam berjalan, mereka tiba di ruangan luas dengan danau bawah tanah. Airnya berwarna biru neon, memancarkan cahaya sendiri. Di tengah danau, ada pulau kecil dengan sebuah podium di mana Lencana Kristal bersinar.

"Titik tengah," kata Jek. "Tapi lihat airnya."

Permukaan air bergelombang, dan bentuk-bentuk besar bergerak di dalamnya. Beast air.

"Kita harus menyeberang," kata Liana. "Ada batu pijakan."

Batu-batu datar mencuat dari air, membentuk jalur tidak beraturan menuju pulau. Tapi jelas itu adalah jebakan.

"Biarkan aku memeriksa," kata Bo. Dia mengulurkan tangannya, mengirimkan gelombang energi ke air. "Ada tiga beast besar di dalam, setara dengan Lapis Empat Qi Gathering. Dan formasi... formasi pembatas. Kita tidak bisa terbang atau melompat tinggi di sini."

"Jadi kita harus berjalan di batu pijakan dan bertarung dengan beast air," simpul Kaelen. "Mereka pasti menunggu kita di tengah."

Saat mereka merencanakan, kelompok lain tiba di ruangan itu dari lorong berbeda—kelompok Feng.

"Wah, kita bertemu lagi," kata Feng dengan senyuman palsu. "Berencana menyeberang?"

"Kau duluan," tantang Liana.

"Tidak, tidak, kami sopan. Silakan."

Situasi menjadi tegang. Dua kelompok saling mengawasi sambil juga memperhatikan ancaman di air. Beast-beast itu tampaknya semakin gelisah, merasakan lebih banyak mangsa.

Kaelen memutuskan. "Kita tidak bisa berdiri di sini selamanya. Aku punya ide. Bo, bisakah kau membuat formasi gangguan di air untuk mengalihkan perhatian beast? Liana dan Jek, kalian siap menyeberang cepat. Aku akan menjaga belakang."

"Dan mereka?" Jek menunjuk kelompok Feng.

"Biarkan mereka bermain sendiri."

Bo mulai membuat formasi, menempatkan kristal energi di tepi danau. Sementara itu, Kaelen diam-diam mengaktifkan salah satu jebakan kantong ruangnya, menyiapkannya untuk kemungkinan serangan dari belakang.

Saat Bo selesai, dia memberi isyarat. Formasi aktif, menciptakan gelombang energi dan gelembung besar di sisi kiri danau. Beast-beast air—yang ternyata adalah ikan lele raksasa dengan gigi tajam—berenang ke arah gangguan itu.

"Sekarang!" Liana melompat ke batu pijakan pertama, diikuti Jek. Kaelen dan Bo mengikuti.

Mereka bergerak cepat, tetapi saat mencapai batu ketiga, kelompok Feng tiba-tiba juga mulai menyeberang—tetapi mengambil rute yang berbeda, mendekati mereka.

"Bersiap," peringatan Kaelen.

Tepat saat dia mengatakan itu, Kang dari kelompok Feng melompat ke batu yang sama dengan Jek, sengaja mendorongnya. Jek terhuyung, hampir jatuh ke air. Liana menangkapnya tepat waktu, tetapi itu membuka celah.

Feng tersenyum. "Maaf, kecelakaan."

Tapi jelas itu bukan kecelakaan. Beast air, menyadari tipuan, berbalik dan mulai menuju ke arah mereka dengan cepat.

"Lanjutkan!" teriak Kaelen ke Liana dan Jek. "Aku dan Bo akan menahan mereka."

Liana mengangguk, menarik Jek dan melanjutkan lari ke pulau.

Kaelen dan Bo berbalik menghadapi kelompok Feng dan beast yang mendekat. Empat lawan empat, ditambah tiga beast air. Pertempuran tak terhindarkan.

"Kau pikir kau pintar?" kata Feng. "Hari ini, ujian berakhir untukmu."

Mei, ahli racun, melemparkan kantong debu ke arah mereka. Bo dengan cepat membuat perisai energi, tetapi sebagian debu lolos, membuat udara menjadi keruh dan beracun.

Kaelen menggunakan elemen angin untuk meniup racun itu kembali, sambil mengaktifkan Jantung Es yang Tenang untuk melindungi pikirannya dari efek halusinasi racun.

Pertempuran di batu-batu pijakan yang sempit pun dimulai—sebuah pertarungan berbahaya di mana satu salah langkah berarti jatuh ke air dan menjadi mangsa beast.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!