Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-16
Demian tercengang, ia menganga tak percaya saat mendengar jika permintaan Manopo group kepada Jack bukan keuntungan atau apapun melainkan hanya menjaga seorang Hadriana.
"Jawab, sebenarnya siapa kamu?" tanya Jack lagi dengan nada dingin berjalan ke arahnya lalu mengunci pandangan Hadriana dengan wajah mungil yang di pegang erat tangan berurat milik Jack.
"Sialan! Beraninya pria murahan seperti mu menyentuhku!" teriak Hajeera mendorong tubuh Jack dengan keras hingga sedikit terhuyung ke belakang.
"Kenapa? Apa kamu kesulitan menemukan informasi pribadi milikku?" tanya Hajeera setelah Jack kembali duduk ke sofa tempatnya.
"So, who are you?" tanya Jack, menekan setiap kata dalam kalimat nya.
Hajeera mendelik, memutar bola matanya sebelum menjawab pertanyaan Jack.
"Aku putri dari salah satu dewan direksi Manopo group..." jawab Hajeera tegas, namun terdengar jujur tanpa ada kebohongan sedikitpun.
"Then, mengapa aku tidak bisa mengetahui nama orang tuamu?" tanya Jack yang masih penasaran.
"Jika kukatakan aku putri gundik dari salah satu dewan direksi bagaimana?" jawab nya yang malah terdengar seperti pertanyaan.
Demian hanya tersenyum simpul melihat gaya bicara Hajeera yang tak mengenal takut seolah dirinya memiliki sokongan power yang tak mudah di kalahkan.
"Apakah kamu mau investasi Zeera Corp. Di tarik karena terlalu banyak bertanya?" tanya Hajeera yang mengandung ancaman.
Jack hanya diam menelan ludah saat mendengar ancaman yang keluar dari bibir manis wanita mungil yang tepat berada di hadapannya.
"Apakah kamu bisa menghentikan Manopo group agar tidak berinvestasi di proyek infrastruktur Caroline Corp.?" tanya Demian dengan suara kecil namun masih terdengar bulat dan menggelegar.
Hajeera mengernyit bingung dengan permintaan Demian yang seolah ingin membatasi ruang gerak Simon, karena proyek Kawasan kota Elite adalah proyek yang pertama kalinya akan dipimpin langsung oleh Simon yang digadang gadang sebagai calon penerus tahta Caroline.
"Ckk... Kau pikir aku putri Manopo Group?" decak Hajeera, lalu bangkit dari tempatnya duduk.
"Sudah jam 10 lewat, aku harus pulang, besok ada ujian..." pamit Hajeera tiba tiba.
"Emm okey..." jawab Jack mengangguk.
"Biar ku antar..." tawar Demian yang masih tak rela berpisah dengan Hadriana.
"Gak usah aku bisa pulang sendiri Dem.." tolak Hadriana halus dengan senyuman mereka di bibirnya.
Respon itu, respon ramah namun tidak murahan yang membuat hati Demian semakin bergejolak dan tak bisa melepaskan Hadriana sedetikpun.
"Aku pamit duluan, bye Jack, Dem..." pamit Hadriana lalu melegang pergi meninggalkan ruangan tempatnya bermain, entahlah ia menyukai club malam dengan ruangan privat sebagai tempat pelarian kesepian nya.
"Hahah.. Aku berani bertaruh, mendapatkan Hadriana ibarat mengukir gunung sendirian, tidak mustahil namun sulit diselesaikan..." ujar Jack sedikit menertawakan sikap temannya yang berlebihan dengan menahan kepergian Hadriana.
Demian hanya diam, telinga nya mendengarkaj ocehan Jack, namun matanya menatap nyalang ke arah lantai bawah tempat di mana Hadriana menyapa seorang pria yang bekerja sebagai Barista, berbeda dengannya Hadriana menyapa sang barista dengan penuh canda dan tawa bahkan tanpa ada batasan dan celah sedikitpun.
Tangan Demian mengepal, bibirnya berkedut kedut dengan kening yang mengkerut, entahlah sikap posesif nya kembali saat ia telah memantapkan seseorang sebagai incaran nya maka tidak ada satupun orang yang boleh memiliki nya.
"Siapa dia?" tanya Demian dingin tanpa mengalihkan tatapannya dari arah Hadriana yang masih memegang kedua tangan seorang pria.
"Yang mana?" tanya Jack celingukan, ikut menatap ke arah lantai bawah mengikuti arah pandang sang sahabat.
"Emm, itu.. Dia Steve putra Presdir Manopo group saat ini..." ujar Jack memberitahu siapa pria yang tengah berbincang dengan Hadriana.
Demian menggeliat, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri perlahan dengan kekuatan dalam hingga menimbulkan suara kretekan. Ia meregangkan tubuhnya sebelum akhirnya bangkit dari tempatnya duduk.
Jack yang sudah hafal dengan sifat temannya yang pastinya akan menghajar mangsa yang di pantaunya sejak tadi, segera mencoba menghentikannya dengan menarik lengan Demian.
"Jangan lakukan hal kekanak Kanakan Dem, Hadriana bukan tipikal orang yang bisa langsung terbuai oleh pria asing seperti kita.." ucap Jack mencoba menahan Demian.
Demian berdesis seraya berpikir sejenak mencoba berpikir dengan pikiran dingin, jika memang ia masih menginginkan Hadriana sebagai incarannya maka ia sebisa mungkin harus menjaga sikap agar tidak membuat Hadriana malah menjauh darinya.
"Baiklah, aku akan menahan amarahku, tapi bantu aku agar bisa mendapatkan Ana...." pinta Demian yang langsung membuat Jack tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan dari sahabatnya, karena ini adalah kali pertama Demian meminta bantuan agar bisa mendapatkan seorang wanita.
"Hahaha.... Mana Demian yang dulu yang penuh percaya diri, kenapa harus yang lari padahal banyak yang ngantri?" tanya Jack meledek seraya tertawa ringan.
"Diam, jika kamu masih membutuhkan ku untuk target pasar globalmu..." ujar Demian yang terdengar seperti sebuah ancaman.
Jack hanya diam dengan wajah dan bibir mendengus dan mengumpat saat mendengar jawaban yang seperti ancaman dari sahabat nya.
"Sial, baiklah aku akan membantumu..." jawab Jack menggerutu.
Namun seperkian detik kemudian Demian berlari melegang pergi meninggalkan tempatnya, Jack mendesis seraya ikut berlari mengejar sahabat nya karena ia sungguh khawatir sahabat nya akan bertindak yang tidak tidak.
"Demian!! Hei, tunggu,!" Jack berteriak seraya tetap mengejar Demian yang berlari melewati kerumunan orang orang yang tengah menari di lantai bawah.
"Sial!! Sebenarnya kau mau kemana Demian!!!" Jack bertanya seraya berteriak, namun Demian tidak peduli padahal telinga dan matanya tahu jika Jack sedang bertanya padanya dan mengejar pelarian nya.
"Siall!!" umpat Jack geram mengusap kasar rambutnya saat Demian sudah pergi dengan membawa kendaraan roda empat miliknya.
Namun tak tinggal diam, Jack berlari ke kendaraan pribadi miliknya lalu ikut menyusul mengikuti laju mobil Demian.
Dalam perjalanan nya yang cukup santai namun masih setengah di atas rata rata, ia mencoba menekan tombol di layar depan mobilnya untuk menelepon Demian yang berada di mobil mewah tepat di depan mobilnya.
"Ah siall, mengapa tidak diangkat angkat..." Jack terus mengumpat saat lagi lagi Demian menolak panggilan nya.
Sedangkan di mobil, Demian tetap fokus memantau sebuah taksi yang berada tepat di depannya, ia seolah tidak ingin kehilangan mobil itu agar bisa memastikan jika penumpang nya pulang dan sampai dengan aman.
Namun ponsel di sakunya terus berdering dan mau tidak mau Demian mengangkat teleponnya.
"Iyah mah,..." tanya Demian pada seseorang di seberang sana.
"Cepatlah pulang, Indri kejang kejang..." ujar seseorang dari seberang sana, dengan suara yang cemas.
"Sial! Masukkan sendok ke bibirnya agar lidahnya Tidka tergigit..." titah Demian dengan nada perintah.
"Mamah tidak bisa ke dapur, Indri sendirian jika mamah tinggal, papah tidak di rumah semua maid di rumah belakang tidak ada yang mendengar suara mamah..." rengek sang mamah seraya menangis sesenggukan.