NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Amarah

Udara di dalam ruang arsip tua itu mendadak berubah menjadi sedingin es, menusuk hingga ke sumsum tulang tanpa permisi. Elara mengeratkan jaketnya, namun matanya masih terpaku pada tulisan tangan tegak bersambung yang menceritakan tragedi setengah abad silam di atas kertas yang sudah menguning rapuh.

"Perjanjian itu tidak pernah tentang pengorbanan manusia, melainkan penjagaan abadi terhadap gerbang air di bawah fondasi," gumam Elara, suaranya bergetar menahan dingin dan ketakutan yang merambat naik.

Buku harian milik Suster Gayatri, kepala perawat pertama di rumah sakit ini, mengungkapkan fakta yang selama ini terkubur oleh beton dan kebohongan manajemen RSU Cakra Buana. Tulisan itu menegaskan bahwa sosok yang menghantui lorong ini bukanlah arwah penasaran biasa, melainkan entitas yang sengaja mengikatkan diri untuk menahan sesuatu yang jauh lebih jahat dari perut bumi.

Pak Darto yang berdiri di dekat pintu besi menoleh dengan wajah tegang, telinganya menangkap suara langkah kaki berat yang menggema dari ujung lorong gelap. Pria tua itu memadamkan senternya, membiarkan cahaya remang-remang dari lampu darurat menjadi satu-satunya penerangan yang tersisa di ruangan sempit itu.

"Mereka datang, Neng Elara," bisik Pak Darto dengan nada mendesak, tangannya mencengkeram erat linggis berkarat yang ia ambil dari gudang.

Suara logam beradu dan teriakan instruksi yang tegas terdengar semakin jelas, menandakan bahwa anak buah Dr. Arisandi tidak lagi berusaha menyembunyikan keberadaan mereka. Mereka datang dengan peralatan lengkap, sepatu bot militer mereka menghentak lantai ubin retak dengan arogansi yang menggema di dinding lorong bawah tanah.

Elara menutup buku harian itu perlahan dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya, menyadari bahwa benda itu kini lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Ia menatap Pak Darto yang sudah bersiap dalam posisi kuda-kuda, meski sorot mata lelaki tua itu menyiratkan kepasrahan yang menyedihkan.

"Kita tidak bisa melawan mereka dengan fisik, Pak," ucap Elara pelan, mencoba mencari celah logika di tengah situasi yang semakin tidak masuk akal ini.

Belum sempat Pak Darto menjawab, pintu besi di hadapan mereka bergetar hebat akibat hantaman benda keras dari sisi luar. Suara bor listrik menderu, memakan engsel tua yang sudah dimakan karat selama puluhan tahun dengan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Cahaya senter taktis menyapu ruangan seketika saat pintu itu akhirnya terbuka paksa, menampilkan tiga sosok berbadan tegap dengan seragam hitam tanpa atribut resmi. Di belakang mereka, Dr. Arisandi berdiri dengan setelan jas mahalnya yang tampak kontras dengan kekumuhan Basement Level 4.

"Sudah cukup main petak umpetnya, Nona Senja," ujar Dr. Arisandi dengan senyum tipis yang meremehkan, melangkah masuk tanpa rasa takut sedikit pun.

Pria itu memandang sekeliling ruangan arsip yang berdebu dengan tatapan jijik, seolah keberadaan tempat bersejarah ini hanyalah noda yang harus segera dihapus. Ia memberi isyarat tangan, dan dua orang anak buahnya langsung bergerak maju untuk mengepung Elara dan Pak Darto.

"Serahkan buku itu, dan kalian boleh pergi dari kota ini dengan selamat," tawar Arisandi, meski nada bicaranya menyiratkan ancaman yang tidak bisa ditawar.

Elara mundur selangkah hingga punggungnya menabrak lemari besi, tangannya mendekap tasnya erat-erat seolah itu adalah perisai terakhirnya. Jantungnya berpacu seirama dengan kedipan lampu lorong yang mendadak menjadi tidak stabil, berkedip-kedip seperti kode morse kematian.

"Anda tidak tahu apa yang Anda bangunkan, Dokter," balas Elara dengan suara lantang, mencoba menutupi ketakutan yang mencekik lehernya.

Tiba-tiba, suhu di ruangan itu anjlok drastis hingga embusan napas mereka berubah menjadi uap putih yang mengepul di udara. Bau anyir darah bercampur aroma bunga melati yang sangat menyengat memenuhi ruangan dalam hitungan detik, membuat para penjaga bayaran itu tampak gelisah.

Lampu darurat di lorong meledak satu per satu, menciptakan kegelapan total yang hanya dipecahkan oleh senter taktis yang kini bergetar di tangan para penyusup. Dari sudut ruangan yang paling gelap, bayangan hitam mulai memadat, membentuk siluet wanita dengan pakaian perawat zaman kolonial yang lusuh.

"Apa-apaan ini?" teriak salah satu penjaga, senapan bius di tangannya diarahkan secara acak ke segala arah karena panik.

Sosok itu tidak berjalan, melainkan melayang perlahan mendekati Dr. Arisandi dan anak buahnya, disertai suara tangisan pilu yang seolah berasal dari dalam kepala mereka masing-masing. Lantai di bawah kaki para penyusup mulai merembeskan air hitam pekat yang berbau busuk, seolah fondasi bangunan ini sedang menangis darah.

Pak Darto menarik lengan Elara, memanfaatkan kebingungan musuh untuk menyeretnya menuju celah sempit di belakang rak arsip yang jarang diketahui orang. Penjaga tua itu tahu bahwa saat 'Ibu Penjaga' marah, tidak ada satu pun manusia yang aman berada di dekatnya, termasuk mereka yang berniat baik.

"Jangan lihat ke belakang!" seru Pak Darto tertahan, mendorong Elara masuk ke dalam lorong servis yang sempit dan lembap.

Di belakang mereka, jeritan histeris mulai terdengar, bukan jeritan kesakitan fisik, melainkan teriakan ketakutan murni dari seseorang yang melihat mimpi buruknya menjadi nyata. Dr. Arisandi terdengar meneriakkan perintah untuk menembak, namun suara tembakan itu tenggelam oleh suara gemuruh rendah yang menggetarkan dinding basement.

Elara merangkak menyusuri lorong sempit itu, lututnya terasa perih tergores beton kasar, namun adrenalin memaksanya untuk terus bergerak menjauh. Ia bisa merasakan getaran amarah yang memancar dari ruang arsip, sebuah kekuatan purba yang menolak untuk diusik oleh keserakahan manusia modern.

"Lewat sini, ada tangga menuju kamar jenazah lama yang sudah ditutup tembok palsu," jelas Pak Darto sambil menyalakan korek api gas untuk menerangi jalan.

Mereka tiba di sebuah ujung buntu yang ternyata merupakan pintu kayu lapuk yang tertutup jaring laba-laba tebal. Pak Darto menendang kayu itu hingga hancur, membuka akses ke sebuah ruangan yang lebih luas dengan meja-meja beton dingin berjejer rapi.

Suara keributan di ruang arsip perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan dan mencekam. Elara berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara di sekitarnya masih terasa membeku.

"Dia melindungi kita, Pak?" tanya Elara ragu, matanya menatap kegelapan di belakang mereka dengan campur aduk antara rasa takut dan takjub.

"Dia melindungi tempat ini, Neng, kita hanya kebetulan tidak menjadi target utamanya malam ini," jawab Pak Darto sambil mengusap wajahnya yang pucat pasi.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika suara *walkie-talkie* milik Dr. Arisandi terdengar statis dari kejauhan, diikuti suara tawa dingin yang tidak manusiawi. Rupanya sang dokter membawa peralatan yang lebih dari sekadar senjata api, sesuatu yang bisa menyakiti entitas tak kasat mata.

Cahaya biru elektrik menyambar dari arah ruang arsip, diikuti oleh lolongan panjang yang menyayat hati dan membuat bulu kuduk Elara berdiri tegak. Arisandi menggunakan teknologi eksperimental untuk menjebak atau setidaknya melukai manifestasi Suster Gayatri.

"Kita harus pergi, sekarang!" perintah Pak Darto, kali ini dengan nada yang jauh lebih panik daripada sebelumnya.

Elara mengangguk, namun pikirannya berkecamuk memikirkan nasib entitas yang selama ini menjaga keseimbangan di rumah sakit tua ini. Ia menyadari bahwa jika Arisandi berhasil menyingkirkan Suster Gayatri, maka sesuatu yang ada di bawah tanah—yang ditahan oleh sang perawat selama ini—akan lepas ke permukaan Kota Arcapura.

Mereka berlari menaiki tangga spiral berkarat menuju permukaan, meninggalkan pertempuran antara sains gila dan mistis kuno di kedalaman bumi. Di luar, hujan deras mengguyur kota, seolah alam turut menangis melihat keseimbangan yang mulai retak di RSU Cakra Buana.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!