Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh dua
Mengetahui Aling akan pergi berziarah, Lunar berusaha mencegah dan meminta bantuan Jackson. Namun keputusan Aling sudah bulat. Sama seperti pada Lunar, Aling pun memberi wejangan pada Jackson lebih tepatnya memohon pada Jackson untuk senantiasa melindungi Lunar. Jackson tak bisa memaksa jika Aling ingin pergi berziarah.
"Nak Jackson, pria tetaplah pria dan jadilah pria yang menjalani hidup sebagaimana peran pria di kehidupan ini. Aku ikhlaskan Silvanwood untukmu, sebarkanlah pada dunia bahwa dibalik kisah Silvanwood ada Aling yang senantiasa menunggu Kaelix." Suara Aling bergetar.
Aling tak bisa menahan tangis. Aling dan Lunar pun berpelukan. Aling membisik pada Lunar, cukuplah jangan mencari tahu siapa ibu kandungnya.
"Tuntutlah ayahku Kaelix pada Sang Pencipta nyonya Aling," ucap Lunar.
Dia tahu betul bagaimana kesabaran Aling menunggu Kaelix. Namun wanita bermata sipit itu malah menggeleng. Meski Kaelix menghinakannya, cinta Aling takkan pernah mengutuknya. Bahkan jika Sang Pencipta akan menghukum Kaelix, Aling akan memohon untuk membebaskan Kaelix.
Terenyuh hati Lunar dan Jackson. Mata sipit sang ceo AHP sampai berkaca-kaca. Sekarang dia paham kenapa Lunar memiliki hati seluas samudera.
Lunar menangis di pelukan Jackson. Untuk mencurahkan kerinduan pada Aling, Lunar sengaja pergi ke Silvanwood dan bermalam di rumah pohon bersama Jackson.
Jika dulu Lunar hanya menggunakan pelita, sekarang Jackson memasang lampu listrik. Di Silvanwood pun sudah bisa mengakses sinyal. Jackson mengutarakan pada Lunar, Silvanwood akan terasa hangat karena suatu saat nanti mereka bersama anak-anaknya akan memeriahkan Silvanwood.
"Aku tak mengerti berapa banyak biaya yang dikeluarkan ayahmu untuk membuat tempat ini?" Jackson duduk di atas batu.
Rasanya mustahil jika manusia mengerjakannya tanpa bantuan peralatan canggih. Jackson tak habis pikir, dengan cara apa pohon raksasa ditebang lalu dikeluarkan isi batangnya dan disulap menjadi rumah.
Memang benar, Kaelix manusia super yang tak dimengerti logika. Jackson sungguh ingin bertemu dengan mertuanya itu. Selama ini dia memerintahkan Tom untuk mencari Kaelix tapi yang didapat hanya petilasan.
Jackson dan Lunar bermain di air terjun saat malam hari. Suasana seperti ini sangat didambakan Jackson apalagi jika bercinta di air terjun. Lunar sampai memukul dada Jackson karena ide gila pria itu.
"Apa salahnya?! Kita ini suami istri! Ayolah sayang," Jackson sampai tak bisa mengalihkan matanya dari Lunar.
Wanita yang berhasil dia dapatkan terlihat istimewa berkali lipat. Mata hijau dan biru milik Lunar meluluhkan hati Jackson.
Jackson mendekati Lunar. Pria itu membawa Lunar ke dalam dekapannya dan bermain air bersama. Lunar terbawa perasaan, hatinya mengatakan rindu pada Jackson.
"Apa tuan masih mencintaiku?"
Jackson berdecak. Seperti itukah para istri di dunia? Kenapa Lunar bertanya hal yang sama berulang kali setiap hari. Jackson tetap mengangguk seraya menciumi punggung tangan Lunar.
Lunar hanya kepikiran, sebagaimana Aling yang terus-menerus keguguran takut membuat Jackson melakukan hal serupa seperti Kaelix. Meski Lunar terlahir dari istri ke dua tapi dia tidak ingin di duakan.
"Sudah kukatakan untuk proses bayi tabung dan memakai jasa ibu sorogasi. Kau tak perlu mengandung," Jackson memilih solusi termudah.
Lunar masih keberatan. Dia ingin merasakan detak jantung dan tendangan kecil di rahimnya sendiri.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Aku tak mengerti ketika kau memikirkan masalah, kau tak bisa memberiku kepuasan!" keluh Jackson.
Lunar memutar bola matanya.
Huf, lagi-lagi itu.
"Aku ingin istirahat tuan. Sekujur badanku terasa pegal," Lunar beranjak hendak ke rumah pohon.
Setelah membersihkan badan, Lunar merebahkan diri di ranjang. Dia tidak berbohong dengan kondisinya. Jackson menawarkan diri untuk memijat Lunar.
"No! Aku tak mempercayaimu!" Lunar jengah pada Jackson malah mengusirnya. Lunar yakin seratus persen, badan Lunar akan semakin sakit dibuat Jackson.
................
Seperti apa kata Aling, Lunar akan ikut ke mana pun Jackson pergi asal bukan ke neraka. Perjalanan bisnis mengharuskan mereka menyebrangi samudera tak membuat Lunar lelah. Dia tidak perduli meski dikatakan sebagai perangko.
Apa salahnya menempel pada suami sendiri? Lunar mengatakan hal itu di depan Irene yang memucat. Bahkan Lunar tak canggung duduk di pangkuan Jackson dan memamerkan kemesraan di depan publik. Menurut Lunar hal itu tanda kepemilikannya pada Jackson, agar para wanita ulat bulu di luaran sana sadar diri.
"Sudah berapa lama pernikahan Anda, tuan Jackson?" tanya Richard pada Jackson.
"Belum ada satu tahun," jawab Jackson menatap Lunar.
Kolega bisnis Jackson manggut-manggut.
"Masih hangat. Tapi, kita lihat di tahun ketiga pernikahan atau tahun kelima dan seterusnya. Hahaha! Aku tak mau melanjutkannya!" Richard tertawa sembari bergidig.
Jackson tersenyum tipis. Mustahil Richard akan mengatakannya di depan Lunar.
"Memangnya ada apa?" Lunar bertanya polos.
"Tidak sayang. Tuan Richard hanya menggoda kita saja," Jackson mengusap kepala Lunar.
Lunar memasang wajah bingung membuat Richard semakin meledakkan tawanya. Pantas saja seorang Jackson Adiwangsa begitu tergila-gila pada Lunar Kaelix. Selain kecantikan, Lunar begitu lugu dan rentan dimanipulasi.
"Kau tidak bisa minum Baijiu, sayang. Aku tak melegalkan untukmu!"Jackson menarik tangan Lunar.
Richard malah tertawa. Menurutnya lucu sekali seorang Jackson Adiwangsa.
"Anda tidak melegalkan baijiu untuk nona Lunar, tapi Anda menikahinya! Ck, kenapa Anda sangat tidak konsisten?!" ledek Richard.
Jackson sudah muak pada kolega bisnisnya itu. Menurutnya, Richard terlalu ikut campur dalam masalah pribadinya. Tapi untuk membatalkan kontrak rasanya mustahil karena Jackson terlanjur bekerja sama dengan seniman asal Eropa itu.
"Sepertinya pertemuan kita harus diakhiri, tuan Richard. Terimakasih, sampai bertemu kembali di pameran Paris. Yeah man, lain kali berkunjunglah ke rumah kami bersama istrimu,"Jackson berdiri di ikuti Lunar.
Ceo AHP itu menjabat tangan Richard. Saat sang seniman mengulurkan tangan pada Lunar, si gadis heterochromia itu ragu untuk bersalaman. Akhirnya Lunar mengatupkan kedua tangannya pada Richard seraya tersenyum.
Sepeninggal Jackson dan Lunar, seniman bernama Richard itu tak lepas memandang kedua sejoli itu. Ada rasa iri pada Jackson mengingat pernikahan Richard berantakan seperti bentuk rambutnya yang tak terawat.
Pria itu mengetuk-ngetuk jari di meja cafe. Sedetik pun dia tak beranjak dan masih menatap Jackson bersama Lunar di parkiran. Kedua sejoli itu terlihat saling mencintai. Lunar tertawa manis dengan godaan nakal Jackson.
Richard memperhatikan mereka yang populer di semua kalangan. Pengunjung cafe yang mengenal Jackson dan Lunar meminta untuk berfoto dan mereka tidak keberatan.
Di mata Richard, apalagi yang kurang dari mereka?
Mereka rupawan, terkenal dan kaya. Semua kebahagiaan di dunia nyaris di dapatkan.
Ya, Paris.
Richard mengerjabkan matanya beberapa kali. Satu Minggu lagi dia akan bertemu kembali dengan kedua sejoli itu. Richard ingin memberikan kejutan pada mereka berdua.