Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Apa ada berita menyenangkan?" pria bernama Rangga itu berbisik lirih di telinga Rani. Kedua tanganya mengerat pada pinggang sang wanita, seolah tak ingin membiarkan Rani pergi selangkah pun.
Rani sedikit mendongak. Jemari lentiknya membingkai rahang keras Rangga. "Danish sudah menggugatku, sayang! Dan, sebentar lagi kita dapat meresmikan pernikahan kita ini," katanya dengan mata berbinar.
Ranga. Pria berusia 35 tahun itu sudah mengincar Rani sejak dulu. Namun sialnya, malah saudaranya sendiri yang mendapatkan wanita pujaannya. Cinta sudah berubah menjadi obsesi. Dalam dendam yang telah menyatu, Rangga bersumpah akan membalaskan semua sakitnya, dan melakukan segala cara untuk dapat memikat Istri saudaranya itu.
Dan finally, Rani sudah bertekuk lutut dihadapan Rangga dengan ajian yang pria itu punya.
"Akhirnya, kamu akan menjadi miliku seutuhnya, sayang! Kau tahu, sudah bertahun lamanya aku menantikan hal itu." Rangga menurunkan tangan Rani untuk ia genggam erat. "Aku ingin kita memulainya bersama-sama. Kita menciptakan keluarga kecil kita disini!"
Rani mengangguk. Rangga seketika menarik tubuhnya dalam dekapan. Namun ketika Rani mendongak, lagi-lagi ia tersihir oleh bibir ramun didepanya. Sambil memiringkan wajah, sedikit menunduk, Rangga mendaratkan kecupan hangat pada bibir chery itu.
Cup!
Rangga melepaskan ciuman itu. Wajahnya yang sudah tersulut kabut gairah, langsung saja mengangkat tubuh Rani untuk diajaknya kembali masuk ke kamar. "Apa kamu menginginkannya lagi?" Rani tersenyum sambil mengalungkan kedua tanganya pada leher sang kekasih.
"Tubuhmu selalu membuatku candu, sayang! Aku tidak dapat menahan semua ini," kata Rangga serak. Lalu ia rebahkan tubuh Rani diatas ranjang empuk dengan hati-hati.
Dengan wajah bantal dan masih bertelanjang dada, hanya menggunakan boxer tidur, Rangga mulai menindih tubuh kecil itu, dan membelai wajah cantik Rani dengan tatapan sayunya.
"Apa kamu mencintaiku, Rani?" lirihnya. Satu tangan Rangga sibuk membelai kaki Rani yang sudah terangkat rendah.
Rani tak dapat menahan rasa yang berdentum dalam dadanya. Wajahnya mendongak, desahan bercampur kalimat menggema dalam ruangan luas itu.
Ahhh!!
"A-aku... Ahhh, aku juga mencintaimu, Rangga!"
Mendengar pengakuan dari sang kekasih, membuat Rangga tersenyum puas. Sesuatu dibalik celananya sudah bergerak cepat, merasa tak tahan melihat Rani dalam keadaan resah seperti saat ini.
Rani menarik wajah Rangga, dan ciuman panas itu akhirnya terjadi. Namun, baru ditengah itu, tiba-tiba saja gawai Rangga bergetar diatas nakas.
Drttt!!!
Rangga tersadar begitu Rani. Spontan saja keduanya saling melepas cium dan menoleh. "Siapa sih?" kesalnya sembari bangkit. Rani juga ikut duduk, dan kembali mengikat handuknya yang tadi sudah terbuka.
"Siapa sayang?"
Tante Ana?!
Rangga menatap Rani sekilas. "Tante Ana telfon sayang, diam bentar ya!" barulah Rangga mengangkat panggilan itu.
"Hallo, ada apa, Tante?"
Disebrang, sambil mengemasi barang-barangnya di dalam tas, Bu Ana membuka suara. "Duh, bujang yang satu ini... Udah berapa kali Tantemu ini telfon nggak kamu angkat-angkat, Rangga!"
Rangga hanya mampu mengulas senyum tanpa suara. "Maaf, Tan... Rangga aja baru bangun! Lagian, Tante kaya nggak tahu Rangga aja, kalau jam segini Rangga masih tidur."
"Ini udah pukul tengah sembilan, Rangga! Emangnya kamu nggak ke kantor?" Bu Ana menatap arloji di tanganya.
Rangga menoleh Rani sekilas yang masih setia menemaninya duduk di samping. "Rangga di Bangkok, Tan! Rangga sedang ada projek disini. Dan kata temen Rangga, di Thailand pusat kulinernya laku keras!"
Kali ini yang di ucapkan Rangga benar adanya. Selain mengajak Rani berlibur, pria itu tengah melakukan kerja sama dengan salah satu temanya di Thailand.
"Wah-wah... Tante ngga habis bangganya sama bujang Tante satu ini. Tapi, makanya cepetan nikah! Biar Tante bisa gendong cucu lagi," kekeh Bu Ana.
Sambil merengkuh pundak Rani, Rangga berkata, "Pokoknya doain aja yang terbaik deh, Tan! Biar bisa nyusul ke Mas Danish juga, hehe...." tawa kecilnya.
Bu Ana terdengar menghela napas berat. "Udahlah, Ngga... Tante aja sampe pusing mikirin nasib pernikahan Masmu itu. Sepertinya Danish sudah mantab mengajukan gugatan untuk Istrinya."
Rangga seolah terkejut. "Apa? Mas Danish mau cerai? Kenapa bisa? Emangnya, Mbak Rani kenapa, Tan?"
"Rani pergi, Ngga! Dan sekarang... Tante sewain Ibu susu baru buat Keira. Kasian semenjak ditinggal ibunya, dia sering sakit-sakitan! Tapi alhamdulillahnya, sekarang udah sehat kembali," jika teringat itu semua, Bu Ana seolah menjadi manusia yang paling rapuh.
Rangga diam sejenak. Lalu tak lama itu berkata, "Kasian banget sih, Tan... Emangnya Mbak Rani pergi kemana sih? Kok tega banget ninggalin Mas Danish sama anaknya?"
"Udahlah, Ngga... Nanti kalau kamu pulang, Tante akan ceritain semuanya. Yang jelas, Tante ini mau kasih tahu kamu... Kamu pulang 'kan acara peresmian resort baru Tante di gunung kidul?" Bu Ana membuang jauh-jauh rasa sesaknya.
Rangga manggut-manggut. "Rangga usahain pasti pulang buat Tante."
"Ya udah, gitu aja! Have disana ya, sayang, byeeee...." putus Bu Ana.
Begitu panggilan terpurus, Rangga melempar gawainya kebelakang. Dirinya yang masih di selimuti kabut gairah, langsung saja merebahkan kembali tubuh Rani, dan menjalankan aksinya didalam ruangan mewah itu.
****
"Sayang... Kamu udah capek ya? Keira ngantuk ya, uluh nguapnya kenceng banget," gumam Hana sambil menutup mulut Keira ketika menguap. Bayi mungil itu menggeliat diatas kereta bayinya, sedang mencari posisi nyaman untuk tidur.
Hana segera bangkit. Menatap Danish yang setia duduk sambil menatap kearah putrinya. "Keira tidur?"
"Iya, Pak! Sepertinya dia sudah lelah. Kita pulang aja, yuk?" Hana sudah mengarahkan kereta bayi itu.
Danish bangkit, menarik ujung lengan jasnya, menatap arloji yang sudah menunjukan pukul setengah sembilan. "Ya udah, saya juga mau ke kantor."
Hana sudah bersiap jalan. Namun, tak sengaja kakinya menyandung roda kereta bayi, hingga membuat tubuhnya tetiba limbung ke samping.
Awww!!!!
Namun belum sampai jatuh, sepasang tangan kekar menarik tubuhnya dengan cepat. Sementara jantung Hana berdebar kencang, tak menyangka Majikannya itu lebih dulu menanggap. Beberapa detik itu, tatapan keduanya bertemu.
"Dia cantik... Tapi bagaimana mungkin suaminya itu berselingkuh," satu tangan Danish sudah reflek terangkat. Entah kenapa ia merasa terbuai, berniat ingin membelai wajah Hana yang masih memerah akibat tamparan tadi.
Hana juga tak kalah terkesima. Matanya bahkan tak kedip sedetik pun melihat paras rupawan didepanya. "Pak Danish aslinya ganteng banget, sumpah! Tapi... Kenapa Rani nggak bisa jatuh cinta," batinya juga.
Namun detik itu juga Danish tersadar. Wajahnya berubah dingin kembali. "Makanya kalau jalan itu pakai mata!" cerocosnya setelah menegakan tubuh Hana. Wajah Danish memerah, namun cepat-cepat ia berjalan lebih dulu, agar Hana tidak dapat melihatnya.
Hana berdesis, "Jalan dimana-mana pake kaki, Pak! Ya... Terimakasih sudah di bantuin," kata Hana kembali mendorong kereta bayi Keira menyusul pria kutub di depanya.