Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA DEBU DAN SUMPAH DI ATAS PUING
Asap hitam masih mengepul dari tiang-tiang penyangga Padepokan Lingga yang roboh. Suasana yang biasanya dipenuhi suara lantunan doa dan denting senjata latihan, kini hanya menyisakan sunyi yang menyakitkan. Tirta berdiri mematung di tengah halaman yang kini rata dengan tanah. Di tangannya, ia menggenggam sisa patahan pedang pemberian Mayangsari—sebilah baja yang kini bisu, kehilangan cahayanya setelah beradu dengan kekuatan hitam Aki Sapu Jagad.
Di dalam dadanya, Tirta merasakan kekosongan yang luar biasa. Kekuatan Sinar Gadhing yang sempat meledak tadi kini meredup, menyisakan rasa perih di sekujur jalur energinya. Ia merasa gagal. Ia gagal melindungi gurunya, gagal menjaga padepokan, dan yang paling menghancurkan hatinya: ia gagal mencegah Mayangsari dibawa pergi.
"Tirta..." Sebuah suara parau memanggilnya.
Tirta menoleh. Ki Ageng Lingga duduk bersandar pada sebuah batu besar, dipapah oleh Dimas Rakyan. Wajah sang guru nampak sangat pucat, napasnya tersengal-sengal. Darah mengering di sudut bibirnya, menandakan luka dalam yang sangat parah.
"Guru! Jangan banyak bicara dulu," Tirta berlari mendekat, mencoba menyalurkan sisa hawa murninya, namun Ki Ageng menahan tangannya.
"Sudah cukup, Nak... Simpan energimu," bisik Ki Ageng Lingga. Matanya menatap langit yang mulai menampakkan semburat fajar kelabu. "Aki Sapu Jagad... dia bukan lagi manusia yang kukenal. Kekuatan yang ia gunakan tadi bukan berasal dari dunia ini. Itu adalah Sinar Pangruwat yang sudah dikontaminasi oleh energi hitam dari Lembah Tujuh Bayangan."
Tirta mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Siapa mereka sebenarnya, Guru? Mengapa mereka menginginkan Mayangsari?"
Ki Ageng Lingga terbatuk, mengeluarkan sisa darah hitam. "Dunia ini jauh lebih luas dan lebih gelap dari yang kau bayangkan, Tirta. Selama ini, perguruan-perguruan di tanah ini hanyalah kulit luar. Di bawah bayang-bayang kerajaan, ada organisasi rahasia yang mengendalikan takdir nusantara. Tujuh Bayangan adalah yang paling mengerikan. Mereka mengumpulkan garis darah suci untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur."
"Garis darah Dhara Puspita..." desis Tirta, mengingat ucapan Utusan Suci tadi.
"Benar. Mayangsari adalah keturunan terakhir dari garis itu. Darahnya adalah kunci, sama seperti Sinar Gadhing di tubuhmu yang merupakan gemboknya," Ki Ageng memegang pundak Tirta dengan sisa kekuatannya. "Mereka tidak akan membunuh Mayangsari segera. Mereka membutuhkannya untuk ritual bulan darah yang akan terjadi tiga bulan lagi. Kau masih punya waktu, tapi kau tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini."
Tirta menatap patahan pedangnya yang hancur. "Aku tidak punya kekuatan apa pun, Guru. Pedangku hancur, dan Sinar Gadhing-ku terasa seperti tertutup tembok tebal."
"Itu karena segel jiwamu baru terbuka secara paksa oleh amarah," sahut Ki Ageng. "Kau harus menempuh jalan pemurnian. Pergilah ke timur, melintasi Hutan Larangan menuju Puncak Bromo. Cari seorang ahli tempa kuno bernama Mpu Sengkala. Hanya dia yang tahu cara menyatukan kembali patahan pedang itu dengan jiwamu."
Dimas Rakyan, yang sejak tadi diam dengan mata memerah, melangkah maju. "Aku akan ikut dengannya, Guru. Aku tidak akan membiarkan pemuda ceroboh ini mati konyol di tengah jalan."
Ki Ageng tersenyum tipis, lalu dari balik jubahnya ia mengeluarkan sebuah gulungan kulit tua yang nampak sangat kuno. "Bawalah ini. Ini adalah peta menuju Hutan Larangan. Di sana, kalian akan diuji oleh alam itu sendiri. Jangan pernah percaya pada apa yang kalian lihat, hanya percaya pada apa yang kalian rasakan di ulu hati."
Malam itu, setelah memakamkan murid-murid yang gugur dengan cara yang sangat sederhana di bawah pohon beringin tua, Tirta berdiri menghadap ke arah timur. Ia tidak lagi memakai pakaian petani yang kumal. Ia mengenakan jubah latihan biru tua milik padepokan yang sudah sobek di beberapa bagian.
Di bawah saksi bisu bintang-bintang yang mulai memudar oleh cahaya fajar, Tirta menghunus patahan pedangnya ke langit.
"Aku, Tirta Gadhing, bersumpah di depan bumi dan langit..." suaranya bergetar namun penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Aku akan menjemputmu kembali, Mayang. Meski aku harus merangkak di atas duri, meski aku harus membelah samudera darah, aku tidak akan berhenti sampai kepalamu bersandar kembali di pundakku."
Dimas berdiri di sampingnya, memanggul tas perbekalan sederhana. "Sumpah yang bagus. Tapi sekarang, sebaiknya kita mulai berjalan sebelum pasukan cadangan Nyai Rukmina datang kembali untuk membersihkan sisa abu ini."
Tirta mengangguk. Dengan satu pandangan terakhir ke arah reruntuhan yang pernah ia sebut rumah, ia membalikkan badan. Langkah kakinya yang pertama menuju timur terasa sangat berat, namun setiap langkah berikutnya menjadi lebih mantap.
Mereka mulai menuruni bukit Menoreh saat matahari benar-benar terbit. Namun, baru saja mereka mencapai kaki bukit, langkah mereka terhenti. Di depan mereka, jalan setapak itu tertutup oleh kabut tebal yang aneh—kabut berwarna ungu tipis yang berbau wangi bunga bangkai.
"Baru mulai saja sudah ada yang menyambut," gerutu Dimas sambil mencabut belatinya.
Dari balik kabut, terdengar suara tawa melengking yang sangat akrab di telinga Tirta. Sesosok bayangan muncul, bukan Utusan Suci, melainkan Ratna Gatri. Namun, penampilannya kini berbeda. Matanya hitam sepenuhnya tanpa putih mata, dan kulitnya nampak pucat kebiruan.
"Kau pikir bisa pergi begitu saja, pewaris malang?" desis Ratna Gatri. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan perpaduan antara suara wanita dan dengusan binatang buas.
Tirta memasang kuda-kuda, meskipun tanpa pedang yang utuh.
"Kau sudah kalah semalam, Ratna. Mengapa kau masih ingin menyerahkan nyawamu?"
"Semalam aku hanyalah manusia lemah," Ratna Gatri menjilat jarum beracunnya yang kini memancarkan asap ungu. "Tapi Nyai Rukmina telah memberiku 'anugerah' dari Tujuh Bayangan. Sekarang, aku adalah mimpi burukmu!"
Pertempuran di kaki bukit pun pecah. Ini adalah ujian pertama Tirta dalam perjalanannya yang panjang. Tanpa bimbingan langsung dari guru, dan dengan senjata yang hancur, Tirta harus belajar menggunakan Sinar Gadhing dalam bentuknya yang paling murni: melalui tangan kosong.