NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 20: Caspian

Reggiano berdiri mematung di depan air terjun cahaya yang mengalir terbalik menuju langit-langit gua. Sabit emas di tangannya masih bergetar, namun bukan karena sisa pertempuran, melainkan karena gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.

Pemandangan gerbang emas di depannya begitu agung, namun rasa dingin mendadak merayap naik dari perutnya, sebuah insting dasar seorang pria yang selama hidupnya hanya mengenal pengkhianatan dan kehancuran.

Ia melepaskan pegangannya pada gagang sabit, membiarkan senjata mistis itu melayang di sampingnya. Matanya yang hijau zamrud menatap nanar ke arah cahaya yang begitu murni itu.

"Nona Florence," suara Reggiano terdengar serak, hampir pecah di tengah kesunyian ruang bawah tanah tersebut.

"Langkah ini... langkah yang ada di depan saya sekarang... ini bukan lagi tentang memotong duri atau melindungi toko roti."

Seraphine mendekat, namun ia berhenti dua langkah di belakang Reggiano, memberikan ruang bagi pria itu untuk bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Apa yang membuatmu ragu, Tuan Herbert? Kau telah mengalahkan pasukan bayangan. Kau telah menyatu dengan energi saya."

Reggiano berbalik perlahan, menatap Seraphine dan Malachai secara bergantian.

"Justru itu masalahnya, Nona... Setiap kali saya menggunakan kekuatan ini, saya merasa diri saya yang lama perlahan-lahan menghilang. Reggiano sang pembunuh, Reggiano yang menjaga Elena, Reggiano yang hanya ingin hidup tenang... saya merasa dia sedang digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang dingin dan tidak memiliki perasaan manusia."

Ia mengepalkan tangannya yang bertanda mawar emas. Tanda itu kini berdenyut begitu kuat hingga urat-urat di lengannya tampak bersinar hijau.

"Jika saya melewati gerbang ini," lanjut Reggiano dengan nada getir.

"Apakah saya masih bisa disebut sebagai kakak dari Elena? Ataukah saya hanya akan menjadi 'alat' dari rencana ini? Malachai mengatakan bahwa pohon itu akan membuang dosa saya. Bagaimana jika pohon itu memutuskan bahwa seorang pembunuh seperti saya tidak pantas menjadi bagian dari Eden? Bagaimana jika setelah ini, saya tidak bisa lagi kembali ke atas untuk sekadar membuatkan roti bagi adik saya?"

Kebimbangan itu nyata.

Reggiano merasa seolah-olah ia sedang berdiri di tepi jurang yang akan menelan kepribadiannya. Ia takut bahwa menjadi 'Penjaga' berarti kehilangan haknya untuk menjadi 'Manusia'.

Malachai melangkah maju, tongkat kayunya mengetuk lantai akar dengan bunyi yang berat.

"Ketakutanmu adalah bukti bahwa kau masih memiliki jiwa, putraku. Mereka yang di Utara, mereka tidak akan ragu. Mereka akan menerjang masuk dan menelan kekuatan itu tanpa memikirkan harga yang harus dibayar. Keraguanmu adalah apa yang membedakanmu dari mereka."

"Tapi apakah itu cukup?" sela Reggiano tajam.

"Bagaimana jika pengorbanan ibu saya adalah agar saya tidak menjadi seperti ini? Bagaimana jika dia ingin saya melarikan diri, menjauh dari semua kegilaan konyol ini?"

Seraphine menatap Reggiano dengan kelembutan yang menyakitkan. Ia tidak memaksa, ia tidak memberikan perintah. Ia hanya berdiri di sana sebagai saksi dari pergulatan batin seorang pria yang baru saja menyadari bahwa takdirnya jauh lebih besar dari apa yang bisa ia tanggung.

Di kejauhan, di balik lorong yang baru saja mereka lalui, terdengar suara gemuruh kecil, tanda bahwa pasukan Organisasi atau faksi musuh lainnya mungkin sudah mulai menemukan jalan masuk melalui celah yang ditinggalkan oleh ledakan pintu tadi. Waktu Reggiano untuk bimbang sangatlah sempit.

"Reggiano," bisik Seraphine, kali ini tanpa embel-embel gelar formal.

"Dunia di atas sana sedang menahan napas. Elena sedang menunggumu. Keputusan ada di tanganmu, apakah kau akan membiarkan masa lalumu menghentikanmu di depan pintu, atau kau akan menjadikan masa lalumu sebagai pupuk agar masa depan yang lebih baik bisa tumbuh?"

Reggiano menatap air terjun cahaya itu sekali lagi. Cahayanya mencerminkan wajahnya yang lelah, wajah seorang pria yang berdiri di persimpangan antara keabadian yang dingin dan kemanusiaan yang rapuh.

Reggiano menggenggam kepercayaannya terhadap perempuan itu.

Di tengah keheningan yang menyesakkan dan keraguan yang hampir menenggelamkan jiwanya, sebuah getaran lembut muncul bukan dari gerbang emas di depannya, melainkan dari saku jasnya yang robek.

Bunga lili pemberian ibunya, yang kini dijaga oleh Elena di atas sana, mulai berdenyut dengan cahaya putih yang murni, menembus cahaya hijau dan emas yang mendominasi ruangan.

Seketika, kesadaran Reggiano seolah ditarik keluar dari gua yang lembap itu. Di dalam benaknya, ia tidak lagi melihat Malachai yang misterius atau Seraphine yang kuno. Ia melihat ruang tamu Flower’s Patisserie yang hangat. Ia melihat Elena yang sedang duduk di sofa, memeluk bunga lili itu dengan mata terpejam, membisikkan sesuatu ke arah kelopaknya.

"Kak... Kakak bisa dengar?"

Suara itu sangat kecil, namun bagi Reggiano, itu lebih menggelegar daripada ledakan pintu tulang tadi.

"Tadi aku mimpi buruk lagi, Kak. Aku mimpi Kakak pergi jauh sekali dan tidak bisa melihat jalan pulang karena terlalu banyak kabut hijau. Tapi aku ingat janji Kakak semalam. Kakak bilang Kakak punya rumah yang harus dijaga. Kakak bilang Kakak bakal pulang untuk bantu aku buat roti lagi. Jangan tersesat di sana ya, Kak... Aku dan bunga ini akan terus nyalain lampu buat Kakak."

Visi itu memudar, namun kehangatan dari suara Elena tertinggal di dalam dada Reggiano. Ia tersadar bahwa kebimbangannya selama ini adalah karena ia takut kehilangan kemanusiaannya. Namun, suara Elena mengingatkannya bahwa kekuatan ini, seberapa pun besarnya, seberapa pun dingin nya, hanyalah sebuah alat. Ia bukan "alat" asli, ia adalah kakak yang sedang memegang pedang untuk memastikan adiknya bisa tidur dengan tenang.

Reggiano menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara murni dari dimensi Eden memenuhi paru-parunya. Matanya yang tadinya penuh keraguan kini kembali menajam, namun kali ini dengan ketenangan yang berbeda. Cahaya emas di tangannya tidak lagi berkilat liar, melainkan bersinar stabil, tunduk pada kehendak manusianya.

"Nona Florence," ucap Reggiano, suaranya kini kembali mantap dan penuh otoritas.

"Saya minta maaf atas keraguan saya tadi. Saya sempat lupa bahwa saya tidak melangkah ke sini untuk menjadi dewa atau penjaga tanpa jiwa. Saya ke sini untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak kecil yang harus kehilangan ibunya karena kegilaan kekuatan ini."

Ia meraih kembali gagang sabit The Reaper’s Thorn. Senjata itu berdenting riang, seolah-olah besi mistis itu pun merasa lega karena tuannya telah menemukan kembali pijakannya.

"Elena benar," gumam Reggiano pada dirinya sendiri.

"Saya punya janji yang harus ditepati. Dan tidak ada gerbang, tidak ada dosa masa lalu, bahkan tidak ada pohon purba sekalipun yang boleh menghalangi saya untuk pulang ke toko itu."

Malachai mengangguk perlahan, senyum tulus pertama kali muncul di wajah tuanya yang keriput.

"Cinta adalah akar yang paling dalam, Reggiano. Sekarang, melangkah lah. Air terjun cahaya itu tidak akan membakar mu, ia akan membersihkan mu."

Reggiano tidak lagi menunggu.

Dengan langkah yang berat namun pasti, ia melangkah maju menembus air terjun cahaya yang mengalir terbalik. Saat tubuhnya bersentuhan dengan cahaya itu, ia tidak merasakan sakit. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah setiap noda darah dari masa lalunya, setiap penyesalan dari nyawa yang pernah ia cabut, sedang dibilas bersih, meninggalkan inti jiwanya yang murni dan tak tergoyahkan.

Ia melangkah melewati batas antara dunia manusia dan Eden, menghilang ke dalam pancaran cahaya putih yang menyilaukan.

Reggiano membuka matanya dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang melampaui imajinasi manusia. Ia berada di sebuah pulau terapung yang terbuat dari jalinan akar raksasa. Di tengah pulau itu, berdiri sebuah pohon yang sangat besar, namun kondisinya memprihatinkan.

Batangnya retak, daun-daunnya yang berwarna perak tampak layu, dan di jantung pohon itu, tertancap sebuah pedang hitam pekat yang terus-menerus mengalirkan cairan gelap.

Itulah Yggdrasil Minor, jantung dunia yang sedang sekarat.

Reggiano melangkah keluar dari tirai cahaya, kakinya berpijak pada permukaan akar yang terasa selembut beludru namun sekokoh karang. Udara di sini tidak memiliki berat, setiap tarikan napas terasa seperti meminum nektar murni yang mendinginkan jiwanya. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat matanya menangkap siluet seseorang di bawah naungan pohon Yggdrasil yang merintih.

Di sana, tepat di depan pedang hitam yang menghujam jantung pohon, duduk seorang laki-laki yang tampak seumur dengan Reggiano. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang sedikit berdebu, duduk dengan santai sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang sekarat.

Tangannya sibuk memainkan sebuah koin perak yang terus berputar di sela-sela jarinya, menciptakan denting logam yang ritmis di tengah kesunyian Eden.

Reggiano segera menyentakkan sabit emasnya, ujung bilahnya yang berpendar hijau tajam kini mengarah tepat ke leher pria asing itu.

Aura membunuh yang sempat diredam oleh suara Elena kini kembali memercik, memberikan tekanan yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.

"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa berada di sini sebelum Penjaga?" suara Reggiano terdengar rendah, penuh ancaman yang tidak main-main.

Laki-laki itu berhenti memutar koinnya. Ia mengangkat wajahnya, menampakkan senyum yang penuh rasa penasaran, bukan senyum licik seorang musuh, melainkan senyum seorang petualang yang akhirnya menemukan teka-teki yang ia cari selama bertahun-tahun. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap Reggiano, lalu beralih ke sabit emas dan tanda mawar di lengannya.

"Pelan-pelan, Tuan Eksekutor," ucap laki-laki itu dengan nada yang sangat santai, hampir menyerupai nada bicara seorang teman lama.

"Aku sudah menunggu di sini selama dua jam, dan jujur saja, pemandangan pohon layu ini mulai membosankan. Namaku Caspian Roosevelt. Dan jika kau bertanya bagaimana aku bisa masuk... katakanlah aku punya cara tersendiri untuk 'menyelinap' melalui celah-celah kebodohan yang tidak dijaga oleh Tuan tanah maupun Malachai."

Reggiano tidak menurunkan senjatanya.

"Kau dari Taman Belati?"

Caspian tertawa, sebuah tawa lepas yang terdengar jujur. "Taman Belati? Mereka terlalu buruk dan berbau belerang untuk seleraku. Tidak, mungkin. Aku adalah seseorang yang punya kepentingan yang sama dengamu, memastikan dunia ini tidak berubah menjadi tumpukan kompos raksasa. Aku tahu siapa kau, apa yang kau lakukan di Organisasi, dan betapa kau sangat mencintai adik kecilmu itu."

Caspian berdiri perlahan, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata. Meskipun penampilannya tampak mewah, Reggiano bisa merasakan energi yang sangat unik dari pria ini, sebuah energi yang tidak berasal dari cahaya Eden maupun kegelapan Belati, melainkan sesuatu yang netral, seperti angin yang bebas.

"Dengar," lanjut Caspian, melangkah maju hingga ujung sabit Reggiano hampir menyentuh dadanya.

"Pedang hitam yang kau lihat di pohon itu? Itu disebut The Void Thorn. Kau tidak bisa mencabutnya hanya dengan otot atau energi emasmu. Kau butuh seseorang yang tahu cara memanipulasi struktur 'ketiadaan' di dalamnya. Dan kebetulan, aku adalah satu-satunya orang di dimensi ini yang bisa membantumu melakukan itu tanpa membuat pohon ini meledak berkeping-keping."

Reggiano menyipitkan matanya, mencoba mencari kebohongan di wajah Caspian. Namun, yang ia temukan hanyalah binar ketertarikan yang murni.

Caspian menatap Reggiano bukan sebagai target, melainkan sebagai partner yang potensial.

"Mengapa kau ingin membantuku?" tanya Reggiano ragu.

Caspian mengedikkan bahu sambil memasukkan kembali koinnya ke saku. "Karena aku benci melihat akhir yang buruk dari sebuah cerita yang bagus. Dan ceritamu, manusia pembunuh yang berakhir menjadi penyelamat taman bunga, terlalu menarik untuk dibiarkan berakhir di sini. "

"Apa itu terlalu berlebihan..." Reggiano sedikit bimbang melihat tingkah lakunya.

"Jadi, bagaimana, Tuan Herbert? Kau bisa terus menodongkan mainan besarmu itu padaku, atau kita bisa bekerja sama mencabut duri raksasa ini dan pulang sebelum adikmu bangun dan mencari kakaknya?"

Reggiano menurunkan sabitnya perlahan, meskipun ia tetap waspada tetapi ada sesuatu dalam cara bicara Caspian yang mengingatkannya pada dirinya sendiri, seorang penyendiri yang dipaksa oleh keadaan untuk memahami dunia dengan cara yang keras.

"Jika kau mengkhianati ku, Caspian," bisik Reggiano dingin, "Aku akan memastikan namamu terkubur lebih dalam dari akar pohon ini."

Caspian tersenyum lebar, kali ini dengan kilat persahabatan di matanya.

"Itu kesepakatan yang adil bagi seorang teman baru. Sekarang, mari kita kerjakan ini. Pegang sisi kanan pedang itu dengan tangan mawar mu, aku akan menangani inti energinya. Bersiaplah, ini akan terasa sedikit... bergejolak."

Sekarang ditengah-tengah genting nya keadaan yang memanas, Reggiano akan membawa seorang partner bersama nya untuk melihat bagaimana keajaiban Seraphine menyatu perlahan-lahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!