Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mia 28
Miranda termenung di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Ia hanya ingin hidup tenang. Sesederhana itu. Tidak perlu bahagia berlebihan, tidak perlu mewah, yang penting damai.
Tapi hidup seperti punya cara sendiri untuk mengganggunya.
Beberapa hari terakhir Miranda sengaja mematikan ponsel. Ia ingin sunyi. Ia ingin menghilang sejenak dari semua orang yang merasa berhak mengatur hidupnya. Namun semakin lama ia diam, semakin kuat tekanan itu terasa. Pada akhirnya, Miranda sadar, menghindar tidak membuat masalah lenyap.
Ia menarik napas panjang, lalu menyalakan ponselnya.
Layar menyala.
Dan dalam hitungan detik, notifikasi membanjiri seperti gelombang yang menunggu pintu dibuka. Panggilan tak terjawab berderet. Pesan masuk menumpuk tak terhitung jumlahnya.
Nama Anton muncul paling banyak.
Berkali-kali.
Tanpa jeda.
Seolah lelaki itu takut Miranda benar-benar tidak bisa ia kendalikan lagi.
Di bawahnya ada Joni, ayah kandungnya.
Lalu ada satu nama yang membuat dada Miranda sedikit menghangat: Pak Karman Wijaya.
Miranda menggulir layar pelan sampai menemukan pesan dari Pak Karman.
Karman : ini nomer telpon Lutfi, dia lowyer hebat.. hubungi dia
Miranda menatap tulisan itu lama. Ia sebenarnya ingin menolak. Ia lelah berurusan dengan masalah yang seperti tidak ada ujung. Ia ingin semuanya selesai tanpa harus membuka perang baru.
Namun Pak Karman bukan orang sembarangan. Lelaki itu selalu memberi yang terbaik untuk Miranda, tanpa pernah menghitung untung-rugi. Kalau Pak Karman sampai turun tangan memberi nomor seseorang, pasti itu bukan sekadar saran kosong.
Tidak ada salahnya mencoba.
Miranda mengetik balasan.
Miranda : baik pak terimakasih
Tak lama kemudian, pesan balasan masuk.
Karman : bagus...tenang saja aku selalu percaya pada kamu
Miranda terdiam sesaat. Kata percaya terdengar seperti sesuatu yang mahal dalam hidupnya. Sesuatu yang jarang ia dapat.
Miranda : terimakasih pak
Setelah itu Miranda memegang ponselnya lebih erat, lalu membuka pesan dari ayah kandungnya.
Joni : ayah akan bantu kamu asal kamu tidak menuntut apapun pada keluarga Sanjaya
Miranda mengernyit. Bahkan saat menawarkan bantuan, ayahnya tetap menaruh syarat. Tetap ingin Miranda diam, mengalah, seolah harga diri Miranda tidak penting dibanding nama besar keluarga Sanjaya.
Miranda membalas tanpa ragu.
Miranda : aku hanya mengambil haku
Ia menatap pesan itu setelah terkirim. Dadanya sesak, bukan karena takut, melainkan karena muak.
Dua tahun lalu, berita heboh sempat mengguncang kota. Anak kandung keluarga Sukmana ditemukan. Semua orang membicarakannya. Keluarga konglomerat yang kehilangan anak bertahun-tahun, akhirnya bertemu lagi dengan darah daging mereka.
Saat Miranda tahu itu tentang dirinya, ia sempat terharu. Bahkan bahagia.
Ia membenci orang tua yang membesarkannya, tapi kenyataan menamparnya keras: ternyata orang yang selama ini ia anggap orang tua hanyalah orang tua angkat. Sedangkan orang tua kandungnya berasal dari keluarga kaya raya.
Miranda sempat berpikir, mungkin inilah takdir yang adil.
Mungkin semua penderitaan masa kecilnya akan dibayar dengan pelukan keluarga kandung.
Ternyata tidak.
Begitu sampai di rumah keluarga Sukmana, ia disambut dingin. Tidak ada air mata haru, tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata “akhirnya kamu pulang.” Mereka menerimanya seperti menerima barang yang hilang lalu ditemukan kembali.
Miranda baru mengerti alasannya setelah beberapa waktu.
Ia dianggap anak, bukan karena mereka benar-benar merindukannya, tapi karena mereka butuh pengganti. Pengganti Melisa, yang sebenarnya hanya anak angkat. Melisa harus dinikahkan dengan Rizki Sanjaya.
Saat itu, keluarga Sanjaya berada di ambang kebangkrutan.
Miranda hanyalah kartu yang ditarik agar semuanya kembali aman.
Sejak hari itu, Miranda tidak pernah berharap keluarganya akan menolongnya. Ia sudah cukup kenyang dikhianati oleh kata keluarga.
Miranda menunggu balasan dari Joni, tapi tidak ada apa-apa. Sepertinya ayahnya sibuk, atau memang tidak punya keberanian untuk membalas.
Ia menghela napas.
Beberapa hari ini Miranda tinggal bersama Nabil. Mereka sudah berteman sejak sebelas tahun lalu. Teman yang tidak lahir dari kesamaan hobi atau sekolah yang sama, tapi lahir dari luka yang sama.
Sama-sama korban penjualan anak.
Mereka kabur bersama dari sindikat itu. Pernah menggelandang bersama. Pernah kelaparan bersama. Pernah berlatih bersama agar bisa bertahan hidup.
Pahit manis mereka lalui, tapi hasilnya berbeda.
Nabil tumbuh menjadi pria dingin, tanpa ekspresi, seolah tidak punya perasaan. Tidak pernah terlihat tertarik pada apa pun, bahkan pada wanita.
Sedangkan Miranda tumbuh menjadi gadis yang ingin disayangi. Ingin punya rumah. Ingin punya keluarga yang benar-benar keluarga.
Saat itu Nabil sedang duduk di sofa, tubuhnya rebah setengah, tatapannya kosong seperti biasa. Miranda berdiri di dekatnya sambil memegang ponsel.
"Kamu kenal Lutfi?" Tanya Miranda
"Pengacara..." Jawab Nabil
Miranda menelan ludah. "Bagaimana mana menurut kamu apakah aku gugat mereka ke pengadilan" tanya Miranda
Nabil menatapnya datar, tapi ada ketegasan di matanya. "Karman baik padamu...dia memberi nomer Luthfi tentu saja sebagai wujud perhatian pada kamu..Lutfi juga di kenal bersih dan piawai dalam membela.. ikuti saja saran Karman.. masalah menang dan tidaknya jangan berharap banyak" ucap Nabil
Miranda terpaku. Kata jangan berharap banyak itu seperti pukulan kecil yang membuatnya sadar, dunia tidak selalu adil.
"Kenapa?..kalau kamu ragu lebih baik jangan" ucap miranda
Nabil menyadarkan diri di sofa, duduk lebih tegak. "Anggap saja sedang membangun relasi dengan pak Karman..banyak cara untuk mendapatkan hak kamu" ucap Nabil
Miranda tertegun. Ia tahu maksud Nabil. Kadang yang dibutuhkan bukan hanya kebenaran, tapi juga strategi.
"Tapi ponselku hilang .bukti perselingkuhan Anton ada di ponsel itu..walau nomer sudah di pulihkan tapi rekaman foto dan video tidak bisa dipisah ke ponsel ini"
Nabil mendecih kecil. "Kebiasaan kamu" ucap miranda
Miranda melotot, tapi Nabil lanjut bicara seolah tidak peduli. "lain kali kalau ada data penting berikan padaku" ucap Nabil
Miranda menunduk. Ia memang sering menyimpan semuanya sendiri.
"Mereka terus menekanku dan satu satunya bukti untuk melawan Anton sudah hilang" ucap miranda mengeluh
Nabil menatapnya beberapa detik, lalu menjawab singkat. "Biar itu jadi urusanku" jawab Nabil
Miranda tidak berkata apa-apa. Tapi kalimat itu seperti perisai yang berdiri di depan dadanya.
...
Sore hari, ponsel Miranda bergetar lagi.
Nama Joni muncul di layar.
Miranda mengangkatnya dengan hati-hati.
"Miranda pulang" itu kata pertama yang keluar dari Joni
"Ada apa?" Tanya Miranda
"Pulang ada hal penting yang harus ayah bicarakan " nada Joni begitu pelan
Belum sempat Miranda bertanya lagi, sambungan terputus.
Miranda berdiri mematung, lalu berjalan ke balkon. Angin sore menerpa wajahnya. Di halaman, Nabil sedang berlatih. Otot-ototnya menegang, tubuhnya kekar, gerakannya tegas dan terukur. Miranda sampai tidak sadar menelan ludah.
Ia cepat-cepat turun dari lantai dua menghampiri Nabil.
"Ayahku menyuruhku pulang " ucap miranda
Nabil menurunkan bebannya. "Pulanglah bawa mobil minicoper warna putih" ucap Nabil
Miranda mengernyit. "Bukankah itu mobil yang baru kamu beli" tanya miranda
Nabil menyeka keringatnya, lalu menatap Miranda sebentar. "Mobil itu buat kamu" jawab Nabil sambil menyeka keringatnya dan melihat Miranda.
Miranda terdiam. Hangat menyusup di dadanya. "Kamu baik sekali Nabil" ucap miranda
Nabil mendecih. "aku ga mau punya temen miskin sampai ga ke beli mobil..jadi jangan buat aku malu"
Hangat itu langsung hilang. Miranda kesal setengah mati.
"Menghina kamu?" Tanya miranda
"Tidak aku bicara kenyataan "
Miranda mendekat, menantang seperti biasa. "Berantem yuk " ajak Miranda
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄