NovelToon NovelToon
WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.

Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Terperangkap di Sarang Serigala

Di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi pendar biru dari layar laptop, Aruna duduk dengan punggung tegak dan jemari yang menari lincah di atas papan ketik. Suasana di rumah Alisha begitu tenang, kontras dengan gemuruh yang ada di dalam kepala Aruna. Ia menatap barisan kode yang terus bergulir, mencoba menembus pertahanan terdalam dari server utama Ardiansyah Group.

Bagi dunia luar, Aruna adalah pewaris yang cerdas. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia adalah seorang pemburu yang sedang melacak kebenaran di balik kematian ibunya.

Meninggalnya sang ibu bertahun-tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal selalu menyisakan lubang besar yang penuh tanda tanya. Kecurigaan itu semakin mengental ketika hanya dalam hitungan bulan, Elena masuk ke kehidupan ayahnya dengan kelembutan yang terencana, membawa serta dua anaknya yang haus akan kekuasaan.

Aruna tahu, Elena bukan sekadar ibu tiri. Ia mencurigai ada konspirasi besar di balik kehadiran wanita itu. Begitu pula dengan Julian. Aruna telah lama mencium aroma busuk dari proyek-proyek besar yang dikelola kakak tirinya itu. Sebagian besar dana perusahaan diduga mengalir ke rekening pribadi, namun Julian sangat rapi dalam menyembunyikan jejaknya.

Sebulan lalu, Aruna hampir berhasil menyentuh dokumen inti yang bisa menghancurkan Julian. Namun, sejak saat itu, nyawanya berada di ujung tanduk. Ancaman fisik mulai nyata, ia beberapa kali hampir celaka saat bepergian sendiri. Itulah sebabnya ia membutuhkan Alisha. Ia harus menghilang dari radar, menjadi sosok yang 'lemah' dan 'amnesia' di mata musuh, sementara ia sendiri bergerak dari kegelapan.

"Sedikit lagi..." gumam Aruna.

Matanya menyipit saat menemukan sebuah berkas terenkripsi.

"Sial!!

Dokumen itu ternyata tidak tersimpan di cloud utama, melainkan terikat langsung secara fisik pada laptop pribadi Julian melalui jaringan lokal. Aruna tidak bisa meretasnya tanpa akses fisik.

Ia harus bertindak sekarang.

Di kediaman Ardiansyah, Alisha baru saja hendak merebahkan tubuhnya ketika jam tangan di pergelangan tangannya bergetar. Sebuah pesan muncul: "Masuk ke ruang ganti kamarku! SEKARANG."

Alisha tersentak. Dengan langkah mengendap, ia masuk ke dalam walk-in closet dan mengaktifkan layar rahasia. Wajah Aruna muncul di sana, terlihat tegang namun dingin.

"Dengarkan aku, Alisha. Buka laci meja kecil di sudut kanan. Ambil flashdisk hitam di bawah tumpukan kain. Kamu harus ke ruang kerja Julian sekarang," perintah Aruna tanpa basa-basi.

Alisha hampir menjatuhkan benda itu. "Apa? Ke ruang kerja Julian? Aruna, ini bunuh diri!"

"Gathan sedang di gym, Julian sedang di ruang makan dengan Elena. Kamu punya waktu singkat. Ruang kerjanya di sayap kanan, berjejer dengan ruanganku dan Gathan. Masukkan flashdisk itu ke laptopnya yang menyala di meja. Aku akan melakukan sisanya melalui sistem."

Alisha tidak punya pilihan. Dengan jantung yang berdegup seperti genderang perang, ia menyelinap keluar. Lorong rumah yang megah itu kini terasa mencekam. Ia sampai di depan pintu kayu jati milik Julian. Perlahan, ia membukanya. Kosong. Aroma cerutu dan parfum berat menyambutnya.

Ia segera mendekati laptop Julian, memasukkan flashdisk tersebut. Di sisi lain, Aruna bergerak cepat. Jarinya menari di atas keyboard.

"Sedang menarik data... 30 detik... 60 detik..." Aruna bergumam.

Alisha berdiri di samping meja dengan peluh dingin membasahi keningnya. Setiap detik terasa seperti satu jam. Akhirnya, suara pelan muncul dari jam tangan Alisha: "Sudah, cabut flashdisk-nya!"

Alisha segera mencabut benda itu. Ia bernapas lega sejenak, namun baru saja ia berbalik hendak menuju pintu, Aruna berteriak melalui earpiece kecil yang terhubung ke jam tangan: "ALISHA! KELUAR! JULIAN MENUJU RUANGAN!"

Mata Aruna di layar laptopnya membelalak. Ia melihat dari CCTV tersembunyi bahwa Julian tiba-tiba menghentikan makannya dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Aruna mencoba memberikan peringatan, tapi terlambat.

Cklek.

Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Julian berdiri di sana, masih memegang ponsel di satu tangan, sementara tangan lainnya memegang gagang pintu. Matanya yang tajam langsung terpaku pada sosok gadis di depan mejanya.

Alisha membeku. Seluruh aliran darahnya seolah berhenti. Di tangannya, ia masih menggenggam flashdisk hitam itu erat-kanan di balik lipatan baju tidurnya.

"Aruna?" Julian bertanya dengan nada suara yang rendah namun penuh kecurigaan. "Apa yang sedang kamu lakukan di ruanganku?"

Alisha menelan ludah. Ia teringat perannya: Amnesia. Bingung. Takut.

Ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya, menatap sekeliling dengan mata yang berkaca-kaca, seolah-olah ia sedang tersesat. "Aku... aku tidak tahu," suara Alisha bergetar, dan kali ini getaran itu nyata. "Aku berjalan-jalan dan... pintunya terbuka. Aku merasa seperti pernah ke sini, tapi aku tidak ingat ini ruangan siapa."

Julian menyipitkan mata. Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Alisha. Ia berhenti tepat di depan Alisha, aroma tubuhnya mengintimidasi.

"Kamu masuk ke ruang kerjaku karena... tersesat?" Julian mengangkat sebelah alisnya. Matanya melirik ke arah laptopnya yang masih menyala. "Ruanganmu di sebelah, Aruna. Dan biasanya, kamu tidak pernah masuk ke sini tanpa niat tertentu."

Julian mengulurkan tangan, hendak menyentuh bahu Alisha, namun Alisha mundur selangkah, memperlihatkan ketakutan yang alami. "Maafkan aku... aku hanya ingin mencari Kak Gathan. Aku pikir ini ruangannya."

"Gathan ada di bawah," sahut Julian dingin. Ia menatap telapak tangan Alisha yang tertutup. "Apa yang kamu pegang di tanganmu?"

Jantung Alisha hampir melompat keluar. Di balik layar monitornya, Aruna mengepalkan tinju. Ia tidak bisa membantu Alisha dari sini. Jika Julian menemukan flashdisk itu, semuanya berakhir.

"Tanganmu, Aruna. Tunjukkan padaku," perintah Julian lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.

Alisha gemetar hebat. Saat Julian meraih pergelangan tangannya secara paksa, tiba-tiba sebuah suara berat menginterupsi dari arah pintu.

"Julian! Apa yang kamu lakukan pada adikku?"

Gathan berdiri di sana, masih mengenakan kaos olahraga yang basah oleh keringat, dengan handuk tersampir di bahunya. Matanya berkilat marah melihat tangan Julian mencengkeram pergelangan tangan Alisha.

Julian melepaskan pegangannya dengan santai, namun matanya tetap menatap Alisha penuh selidik.

"Adik kesayanganmu ini masuk ke ruanganku tanpa izin, Gathan. Aku hanya bertanya apa yang dia cari."

Gathan melangkah masuk, menarik Alisha ke belakang punggungnya dengan protektif.

"Dia sedang tidak stabil, Julian! Dia amnesia! Dia mungkin hanya bingung mencari kamarnya. Tidak perlu memperlakukannya seperti tersangka."

Gathan menunduk menatap Alisha yang tampak pucat pasi. "Kamu tidak apa-apa, Na?"

Alisha menggeleng, ia menyembunyikan tangannya di balik punggung, buru-buru memasukkan flashdisk itu ke dalam saku baju tidurnya yang dalam. "Aku takut, Kak... aku mau kembali ke kamar."

"Ayo, Kakak antar," ucap Gathan dingin pada Julian sebelum membimbing Alisha keluar.

Julian berdiri diam di tengah ruangannya. Ia menatap laptopnya, lalu beralih menatap pintu yang tertutup. Ia merasa ada yang salah. Sangat salah. Ia berjalan ke mejanya, memeriksa posisi laptopnya. Meskipun tidak ada tanda-tanda kerusakan, instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Alisha ambruk di depan pintu begitu Gathan pergi. Tubuhnya bergetar hebat. Ia mengeluarkan flashdisk itu dengan tangan yang masih gemetar.

"Aruna..." bisiknya ke arah jam tangan. "Hampir saja. Aku hampir tertangkap."

Suara Aruna terdengar dari jam tangan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut namun tetap waspada.

"Kamu melakukan pekerjaan yang baik, Alisha. Tapi sekarang, Julian akan mengawasimu sepuluh kali lebih ketat. Jangan keluar kamar tanpa Sari. Sembunyikan flashdisk itu di tempat yang paling aman. Besok, Sari akan mengambilnya darimu."

Alisha memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya. Ia baru saja menyadari bahwa di rumah ini, ia tidak hanya sedang berperan sebagai Aruna. Ia sedang berada di tengah medan perang yang sebenarnya, di mana satu kesalahan kecil bisa berarti akhir dari segalanya. Dan yang paling menakutkan adalah, ia mulai menyadari bahwa Julian jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.

1
Anisa Muliana
🔥🔥
Anisa Muliana
seru banget thor🔥🔥
Ai_Li: Terima kasih kak
Semoga betah bacanya yaa hehehe
total 1 replies
Rania Venus Aurora
Hallo..👋🏻
Ai_Li: Mohon saran dan kritikannya ya kak
Supaya bisa jadi lebih baik
total 3 replies
Anisa Muliana
domisili Jember kak..😊
Ai_Li: Masya Allah jauh ya
Salam dari Medan ya😇
total 1 replies
Ai_Li
Yukk komen para daerah asal kalian dimana 🤭🥰
Anisa Muliana
seruuuuu banget ceritanya thor😍
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊
Ai_Li: Oiya kak, terima kasih sarannya 🥰
total 3 replies
Ai_Li
Jangan lupa like yaa dan tinggalkan komentar
Ai_Li
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!