NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Aliansi yang Tak Terduga

​Naga Hitam Bencana mengepakkan sayapnya yang selebar bukit, menciptakan badai api yang menyapu kawah.

Lava menyembur ke segala arah, memaksa Jian Yi untuk melakukan serangkaian manuver di udara.

Dengan Ling'er dalam genggamannya, ia menebas setiap bola api yang mengarah padanya, namun jumlahnya terlalu banyak.

​"Sial, sisik obsidiannya terlalu tebal!" gerutu Jian Yi saat tebasannya hanya meninggalkan goresan putih di leher sang naga.

​Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah suara lantang membelah gemuruh lava.

​"Formasi Penunduk Matahari! Serang!"

​Ratusan panah cahaya keemasan meluncur dari tepi kawah, menghujam sayap naga itu dan membuatnya kehilangan keseimbangan sejenak.

Pangeran Ketiga melesat maju, mengendarai seekor burung Phoenix kristal buatan dari energi Qi.

Di tangannya, ia memegang tombak emas yang memancarkan aura suci.

​"Jangan salah sangka, Pengembara!" Pangeran Ketiga berteriak sambil mendarat di atas batu besar di samping Jian Yi. "Aku tidak ingin kau mati sebelum aku melihat kemampuan aslimu. Lagipula, jika naga ini meledak, kekaisaranku juga yang akan hancur!"

​Jian Yi menyeringai tipis, matanya melirik tombak sang pangeran. "Bagus. Kau ternyata lebih berguna daripada sekadar pajangan istana."

​"Hmph! Tetua, bantu pemuda pemabuk itu menjaga perimeter! Biar aku dan pemuda sombong ini yang menangani jantung naga!" perintah sang Pangeran kepada Tetua Grand Master-nya.

​Kini, medan tempur terbagi dua. Lu Feng dan Tetua Istana bekerja sama menahan ribuan larva api yang keluar dari pori-pori gunung, sementara Jian Yi dan Pangeran Ketiga menyerbu sang naga secara frontal.

​"Bocah! Gunakan teknik pedangmu untuk membelah pertahanan Qi di dadanya! Aku akan memberikan pembukaan dengan tombak suci ini!" seru Pangeran Ketiga.

​Pangeran itu melompat tinggi, tubuhnya diselimuti cahaya emas yang menyilaukan.

Teknik Kekaisaran: Tusukan Cahaya Penembus Langit! Ia berubah menjadi garis cahaya emas yang menghantam dada naga tepat di titik lemah di bawah sisiknya.

​BOOM!

​Naga itu meraung kesakitan saat tombak itu menciptakan retakan kecil pada pelindung Kristal Api Langit.

Namun, naga itu membalas dengan semburan api hitam yang mematikan.

​"Awas!" Jian Yi melesat, memeluk bahu Pangeran Ketiga dan membawanya menghindar tepat sebelum api itu menghanguskan tempat mereka berdiri.

​"Kau berhutang nyawa padaku, Pangeran." goda Jian Yi.

​"Diam dan selesaikan ini!" balas Pangeran Ketiga dengan wajah merah, entah karena panas atau malu.

​"Jian Yi! Sekarang! Retakannya sudah terbuka!" suara Ling'er bergema di batin Jian Yi, penuh urgensi. "Gunakan teknik pemutus aliran! Aku akan menyerap energinya saat kau menebas!"

​Jian Yi memejamkan mata sejenak, menarik napas yang terasa panas membara. Ia mengangkat Ling'er tinggi-tinggi.

Cahaya perak dari bilah pedang mulai menyerap panas di sekitarnya, menciptakan kontras yang luar biasa antara suhu dingin pedang dan panasnya lava.

​Teknik Grand Master: Tebasan Hening Membelah Inti!

​Jian Yi bergerak secepat kilat yang tidak bisa diikuti mata manusia.

Ia melewati leher naga, mendarat tepat di dadanya, dan menghujamkan Ling'er ke dalam retakan yang dibuat oleh Pangeran Ketiga.

​CRACK!

​Kristal Api Langit di dalam dada naga itu mulai bergetar.

Energi merah yang sangat besar mulai tersedot masuk ke dalam bilah Ling'er. Naga itu berontak hebat, mengguncang seluruh gunung.

​"Pangeran! Tahan dia!" teriak Jian Yi.

​"Berisik! Aku tahu!" Pangeran Ketiga melemparkan tombaknya, yang kemudian berubah menjadi rantai cahaya emas yang melilit moncong dan sayap naga, menahannya agar tidak terbang kabur.

​Energi merah menyembur keluar dari dada naga, menyelimuti Jian Yi dan Ling'er.

Di dalam badai energi itu, Ling'er secara otomatis berubah kembali ke wujud manusianya untuk menyerap nutrisi dari kristal tersebut.

​"Waaaah! Panas! Panas tapi enak!" teriak Ling'er dalam wujud imutnya. Ia berdiri di atas dada naga yang sekarat, menyerap aliran energi merah ke dalam tubuhnya.

​Pangeran Ketiga yang melihat sosok gadis kecil tiba-tiba muncul di tengah badai api itu hampir saja menjatuhkan rantai cahayanya. "I-itu... pedangmu berubah jadi anak kecil lagi?!"

​"Dia bukan anak kecil, dia bantal pelukku yang berisik!" sahut Jian Yi sambil terus menyalurkan Qi untuk menstabilkan aliran energi.

​Perlahan, naga hitam itu membatu. Sisiknya berubah menjadi abu, dan Kristal Api Langit yang tadinya sebesar kepalan tangan kini mengecil dan melesat masuk ke dalam dahi Ling'er.

​SHUUUUU...

​Gunung Merapi Tua tiba-tiba menjadi sunyi. Api yang tadi berkobar hebat perlahan meredup.

Ling'er berdiri di sana, dikelilingi oleh aura merah keemasan yang hangat.

Tubuhnya sedikit bercahaya, dan Jian Yi bisa melihat bahwa tinggi badannya bertambah sekitar dua sentimeter, serta penampilannya terlihat sedikit lebih matang—meskipun pipi bakpaonya masih tetap ada.

​Lu Feng berlari mendekat, diikuti oleh Tetua Istana. "Yi! Kalian berhasil! Kadal itu sudah jadi batu!"

​Pangeran Ketiga menarik kembali tombaknya, terengah-engah. Ia menatap Jian Yi, lalu menatap Ling'er. "Kau... kalian berdua benar-benar gila. Tapi, aku harus mengakui, tanpa bantuanmu, aku mungkin sudah jadi abu."

​Jian Yi menyarungkan Ling'er (yang sudah kembali jadi pedang karena kelelahan menyerap energi) dan menepuk bahu Pangeran Ketiga. "Kau tidak seburuk yang kukira, Pangeran. Mungkin lain kali kita bisa minum arak bersama Lu Feng."

​"Jangan harap! Aku tidak mau minum dengan orang yang tidur memeluk pedangnya!" balas Pangeran Ketiga, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!