Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Awal
...****************...
Dengan Bismillah, aku bertekad memulai langkah baru sebagai host live streaming. Meski tanpa pengalaman, aku tahu aku harus mencoba hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Pekerjaan ini menantang. Meski gajinya tidak sebesar saat aku masih menjadi supervisor di perusahaan lamaku. Tapi tak apa semoga ini awal yang sukses untukku, untuk kedepannya.
Hari Minggu pagi, aku bersiap pamit kepada orang tuaku. Bapak dan ibu berdiri di depanku.
Aku menyalami tangan mereka, menunduk, dan meminta doa restu.
Tak banyak nasihat yang diucapkan. Hanya doa sederhana dan tatapan penuh harap yang membuat dadaku menghangat. Aku memilih berangkat dengan mobil sendiri. Perjalanan ini akan terasa cukup melelahkan aku dari Bandung, sementara tempat kerjaku berada di Pekalongan, Jawa Tengah.
Kota yang terkenal dengan batiknya. Dan kini, tanpa pernah kurencanakan, akan menjadi tempatku memulai hidup yang baru.
Sebenarnya, bagian tersulit dari kepergianku adalah meninggalkan orang tua. Mereka hanya berdua. Aku anak tunggal, dan usia mereka kini sudah menginjak enam puluhan. Ada rasa khawatir yang tak bisa kuucapkan sepenuhnya.
Aku hanya berharap mereka selalu sehat, dan mampu saling menjaga saat aku tak ada di rumah.
Aku menunduk, mencium tangan mereka.
“Maafin Raka ya, Pak… Bu.
Tempat kerja Raka sekarang jauh.
Bapak, Ibu baik-baik di sini.
Insya Allah, sebulan sekali Raka pulang.”
Tak ada air mata yang jatuh saat itu.
Namun dadaku terasa penuh.
“Ibu dan bapak akan selalu mendukungmu.
Semoga kamu bisa sukses, dimulai dari sini.
Perbanyak pengalaman dan ilmu baru, ya.”
Ibu menepuk pundakku pelan.
“Jaga diri baik-baik, Mas.
Jangan telat makan, jangan kecapekan, jangan sering begadang.
Sering-sering telepon bapak sama ibu.”
Aku mengangguk, menahan sesuatu yang mendesak di dada.
Lalu aku benar-benar meninggalkan mereka. Mesin mobil menyala, dan perlahan aku menjauh dari rumah itu. Aku sempat melirik spion.
Bayangan mereka mengecil, sementara dadaku terasa semakin berat. Ada perasaan yang tertinggal di sana dan aku tahu, tidak semua kepergian bisa dilakukan dengan ringan.
...----------------...
Sesampainya di Kota Pekalongan, hal pertama yang kulakukan adalah mencari tempat tinggalku.
Kost itu sudah kubayar sebelumnya melalui transfer. Aku mengecek kembali lokasinya lewat aplikasi. Letaknya cukup strategis hanya sekitar lima belas menit dari tempat kerjaku, sebuah toko batik. Aku menghela napas pelan. Setidaknya, untuk urusan tempat tinggal, aku tak perlu bingung lagi.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai di tempat tinggalku.
Alhamdulillah, kost ini terlihat bersih dan cukup ramai. Semoga aku bisa betah di sini.
Aku lalu mengetuk pintu rumah di bagian depan.
Tok, tok, tok.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Maaf, Bu. Saya Raka.”
“Oh iya, atas nama Raka ya.
Kamarmu di lantai atas. Ayo, mari saya antar.”
Aku mengikuti langkah ibu kost itu. Kost ini terasa aman, bersih, dan hangat. Di lantai bawah, tepat di bagian depan, adalah rumah ibu kost sendiri.
Ada nuansa kekeluargaan yang langsung terasa
sesuatu yang diam-diam membuatku sedikit lebih tenang.
Malam mulai turun saat aku membuka jendela kamar. Udara Pekalongan terasa hangat, berbeda dengan Bandung.
Dan aku berniat mencari makan malam. Perutku sudah benar-benar lapar, tapi aku belum tahu apa pun tentang sekitar kost ini. Sebelum melangkah terlalu jauh, aku memilih bertanya terlebih dahulu.
Aku menoleh ke arah kamar sebelah yang pintunya baru saja terbuka.
“Maaf, Mas… kalau mau cari nasi goreng di sekitar
sini biasanya ke arah mana ya?”
Aku tersenyum kecil, sedikit sungkan.
“Baru pindah soalnya. Lapar juga, hehe.
Kalau nggak keberatan… ayo sekalian makan bareng, Mas.”
Mengucapkan kalimat sesederhana itu saja rasanya seperti usaha kecil untuk bertahan.
Di kota yang asing ini, aku sadar aku tak bisa terus menyendiri. Setidaknya malam ini, aku tak ingin makan sendirian.
Ia lalu menjelaskan arah tempat nasi goreng itu dengan cukup detail. Katanya tidak jauh, hanya perlu berjalan kaki sebentar melewati gang kecil di depan kost, lalu belok kiri.
“Di ujung jalan nanti kelihatan gerobaknya,” katanya santai.
Aku mengangguk pelan, mencoba mengingat arah yang ia jelaskan.
“Oh ya,” ia menambahkan sambil tersenyum tipis,
“aku barusan sudah makan sama pacarku.
Kamu sendiri dulu nggak apa-apa ya.
Lain kali kita bisa makan bareng.”
“Iya, santai aja,” jawabku ringan.
Namun setelah pintu kamarnya tertutup kembali, aku berdiri sebentar di sana. Kalimat sama pacarku entah kenapa terasa singgah lebih lama di kepalaku. Aku menghembuskan napas pelan. Sendirian lagi. Seperti biasa.
Aku lalu melangkah keluar kost, berjalan mengikuti arah yang tadi dijelaskan.
Lampu jalan temaram menemani langkahku.
Di kota yang asing ini, bahkan makan malam pun harus kujalani sendiri dan aku mulai terbiasa dengan perasaan itu, meski tidak pernah benar-benar nyaman.
...****************...