Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
|Showroom Ferrari Jakarta - TB Simatupang|
Setelah puas menggoda Bella dan meninggalkan kehebohan di kampus, Raka tidak membuang waktu. Dia memarkir McLaren-nya di garasi The Sultan Residence, lalu memesan taksi online biasa menuju area TB Simatupang.
Tujuannya satu: Mengklaim hadiah gacha terbarunya.
Satu jam kemudian.
Raka duduk di balik kemudi sebuah karya seni Italia. Ferrari 812 Superfast. Warnanya putih mutiara (Bianco Avus), sebuah pilihan warna yang jarang untuk Ferrari, membuatnya terlihat elegan namun tetap buas.
Raka menekan tombol Start merah di setir.
VROOOOM!!!
Suara yang keluar bukanlah dentuman bass rendah seperti McLaren 720S miliknya. Ini adalah teriakan. Ini adalah mesin V12 6.5 Liter Naturally Aspirated. Tanpa turbo. Murni pembakaran atmosferik.
Suaranya tinggi, melengking, dan raw. Seperti suara mobil Formula 1 jaman dulu.
"Gila..." Raka merinding. Bulu kuduknya berdiri. "Ini beda banget sama McLaren.
Sebelum datang ke sini, Raka sempat googling spesifikasinya. Tenaga: 800 Horsepower. 0-100 km/jam: 2.9 detik. Top Speed: 340 km/jam.
Angka-angka itu terlihat menakjubkan di layar HP. Tapi saat Raka menginjak pedal gas di jalan tol JORR yang lengang...
WHUUUAAAAAAAA!!!!
"Ini... ini gila!" tawa Raka lepas, adrenalin membanjiri otaknya.
Setelah puas menjajal performa si Kuda Jingkrak di jalan tol, Raka melambatkan laju kendaraannya. Dia teringat rencana awalnya: Mengisi rumah kosongnya.
Villa 1000 meter persegi itu masih terlalu sepi. Perabotannya memang mewah, tapi kurang sentuhan personal. Dia butuh beberapa barang tambahan, mungkin karpet bulu untuk home theater atau hiasan seni abstrak biar kelihatan cultured.
"Ke mana ya cari furnitur sultan?" gumam Raka. "Ah, tanya ahlinya aja."
Raka teringat satu nama yang pasti tahu seluk-beluk barang mewah. Clarissa Wijaya.
|Showroom McLaren Jakarta - Arteri Pondok Indah|
Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta Selatan. Jam operasional showroom sudah berakhir.
Clarissa Wijaya berjalan keluar dari pintu kaca showroom, tas kerjanya tersampir anggun di bahu. Dia baru saja selesai briefing sore dengan tim sales.
Begitu dia melangkah ke area parkir, beberapa sales pria yang dari dulu diam-diam menaruh hati padanya langsung mengerubung.
"Bu Clarissa! Kok nggak bawa mobil?" tanya Joni.
"Lagi servis ya, Bu? Bareng saya aja yuk! Searah kok ke Apartemen Ibu!" tawar sales lain bernama Budi, sambil memamerkan kunci Honda HRV-nya.
"Sama saya aja, Bu! Mobil saya baru dicuci, wangi!" timpal yang lain.
Clarissa tersenyum sopan, senyum SOP yang menjaga jarak. "Terima kasih tawarannya, Mas-mas. Tapi mobil saya lagi di detailing, jadi saya naik taksi online saja. Nggak mau ngerepotin, lagian arah kita beda semua, nanti kalian muter jauh."
"Yah... Bu Manajer..." Budi kecewa. "Nggak ngerepotin kok, beneran! Demi Bu Clarissa mah, macet Jakarta saya terjang!"
"Terima kasih, Mas Budi. Tapi saya mau mampir supermarket dulu. Duluan ya."
Clarissa berjalan menuju pinggir jalan, berniat menyetop Bluebird atau memesan Grab. Dia merasa sedikit lelah hari ini. Menghadapi target penjualan dan klien-klien rewel cukup menguras energi.
Namun, belum sempat dia membuka aplikasi di HP-nya...
Dari kejauhan, terdengar suara yang asing namun familiar bagi pecinta otomotif.
NGNGNGNGNGNG!!!!
Detik berikutnya, sebuah mobil berwarna putih mutiara muncul dari tikungan, meluncur perlahan mendekati area depan showroom.
Bentuknya panjang, kap mesinnya mendominasi.
Ferrari 812 Superfast.
"Gila..." Budi melongo. "812 Superfast Putih! Jarang banget warna ini di Indo!" "Itu harganya 14 Miliar lebih bos! Siapa yang bawa?"
Mobil itu berhenti tepat di depan Clarissa yang sedang berdiri di trotoar.
Clarissa mundur selangkah, kaget. Angin dari mesin mobil itu menerpa rok pensilnya. Siapa nih? Klien Ferrari nyasar ke McLaren?
Kaca jendela mobil turun perlahan.
Di balik kemudi, terlihat seorang pemuda dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung, memperlihatkan jam tangan Patek Philippe dan senyum yang sangat dia kenal.
"Sore, Bu Manajer," sapa Raka.
Mata Clarissa membelalak lebar. Tas kerjanya nyaris terlepas dari bahu.
"Pak... Pak Raka?!" pekik Clarissa, suaranya naik satu oktaf saking kagetnya.
Para sales pria di belakang juga ikutan kaget. "Itu Pak Raka? Yang kemarin beli 720S merah?" "Anjir! Dia beli Ferrari juga?! Beda hari beda mobil?!" "Sultan mah bebas..."
Clarissa berjalan mendekat, menatap mobil itu dengan takjub. "Bapak... Bapak ganti mobil lagi? Bukannya kemarin baru ambil unit 720S?"
"Iya, yang merah lagi istirahat di garasi. Kasian kalau dipake terus, nanti capek," jawab Raka enteng. "Ini baru ambil tadi. Kebetulan lewat sini, eh liat kamu."
"Kebetulan lewat..." Clarissa geleng-geleng kepala. Orang kaya kalau gabut emang beda.
Raka mencondongkan tubuhnya sedikit. "Btw, Ris. Kamu tau nggak tempat beli furnitur yang bagus di sekitar sini? Saya mau ngisi rumah, tapi bingung carinya di mana."
"Oh, kalau furnitur high-end, ada Malinda Furniture Gallery di slipi, atau kalau mau yang unik bisa ke daerah Kemang, Pak," jawab Clarissa profesional.
"Nah, cakep. Kamu bisa anterin saya nggak? Saya butuh taste kamu. Selera kamu kan bagus," puji Raka sambil melirik outfit Clarissa yang selalu on point.
"Bisa sih, Pak..." Clarissa melirik jam tangannya. "Kebetulan saya udah off duty. Saya ambil mobil saya du—"
Clarissa terdiam. Dia menepuk jidatnya. Astaga, mobil gue kan di bengkel.
"Kenapa?" tanya Raka.
"Aduh, maaf Pak. Mobil saya lagi di bengkel coating. Saya lupa," kata Clarissa, wajahnya memerah karena malu. "Tadi niatnya mau naik taksi."
Raka tertawa renyah. Dia menepuk jok kulit empuk di sebelahnya.
"Yaudah, naik sini. Jadi navigator saya."
"Eh? Boleh, Pak?" Clarissa ragu. Masuk ke mobil klien (lagi) di depan anak buahnya? Bisa jadi gosip panas besok pagi.
"Boleh lah. Masa saya biarin fashion consultant saya naik taksi? Masuk, Ris."
Clarissa melirik ke arah Budi dan sales lain yang menatapnya dengan pandangan envy (iri). Dengan dagu terangkat sedikit, Clarissa membuka pintu Ferrari itu dan masuk ke dalamnya.
Dia duduk di bucket seat yang posisinya sangat rendah. Interior Ferrari ini terasa lebih klasik dan race-oriented dibanding McLaren yang futuristik.
"Siap?" tanya Raka.
"Siap, Pak."
Raka menginjak gas. Mobil itu melesat pergi meninggalkan showroom McLaren, menyisakan debu dan rasa iri bagi para lelaki yang tertinggal.
|Di Dalam Ferrari 812 - Menuju Kemang|
Suasana di dalam mobil terasa intim. Mesin V12 yang meraung halus memberikan getaran yang merambat dari lantai mobil hingga ke kursi penumpang, memberikan sensasi fisik yang unik bagi Clarissa.
Clarissa duduk dengan posisi yang sangat sopan. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan, menahan rok pensilnya agar tidak tersingkap terlalu tinggi. Kakinya yang jenjang berbalut stocking hitam rapat-rapat.
Dia melirik Raka. Cara Raka menyetir Ferrari ini terlihat sangat... sexy. Satu tangan memegang setir di posisi jam 12, tangan kiri santai di konsol tengah. Tatapannya fokus ke jalan, rahangnya tegas.
Single hand driving. Mitos yang mengatakan cowok terlihat 1000% lebih ganteng saat nyetir mobil mundur atau nyetir satu tangan itu benar adanya.
"Ris," panggil Raka tiba-tiba, memecah lamunan Clarissa.
"Y-ya, Pak?" Clarissa tersentak.
"Kamu sadar nggak?" Raka menoleh sekilas sambil tersenyum miring. "Di dua mobil saya... McLaren kemarin dan Ferrari ini... kamu adalah wanita pertama yang duduk di kursi penumpang."
DEG.
Jantung Clarissa seolah berhenti berdetak sedetik, lalu berpacu dua kali lebih cepat. Wajahnya langsung memanas. Merah padam menjalar dari leher hingga ke pipi.
Kalimat itu... sederhana, tapi dampaknya lethal. Wanita pertama. Itu memberikan implikasi eksklusivitas yang luar biasa. Bahwa dia spesial. Bahwa kursi di samping Raka itu... miliknya.
"S-saya... saya merasa terhormat, Pak," jawab Clarissa terbata-bata, suaranya sedikit bergetar. Dia berusaha menutupi kegugupannya dengan membetulkan rambut.
"Dan satu lagi," lanjut Raka. "Mulai sekarang, kalau kita lagi berdua di luar jam kerja... panggil Raka aja. Jangan Pak. Berasa tua saya dipanggil Pak sama cewek secantik kamu."
"Ehm... baik... Raka," Clarissa mencoba nama itu di lidahnya. Terasa manis.
"Nah, gitu dong. Lebih enak didenger," Raka tersenyum puas.
Clarissa menunduk, menyembunyikan senyum malunya. Tangannya tanpa sadar meremas ujung blazernya. Getaran mesin V12 di punggungnya, aroma parfum Raka, dan kata-kata manis barusan... membuat pertahanan diri "Ratu Es" Clarissa perlahan mencair menjadi genangan air.
"Jadi... kita mau cari apa dulu di Kemang?" tanya Clarissa, mencoba mengalihkan topik sebelum dia meledak karena baper.
"Cari kasur," jawab Raka asal.
"Kasur? Bapak... eh, kamu bukannya udah punya kasur?"
"Punya. Tapi saya butuh yang bisa nahan guncangan lebih kuat," canda Raka dengan nada ambigu.
Wajah Clarissa makin merah. Guncangan apa?!
Raka tertawa melihat reaksi Clarissa. "Maksudnya guncangan kalau saya lompat-lompat, Ris. Pikiran kamu kemana?"
"Nggak kemana-mana kok!" elak Clarissa cepat, sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. "AC-nya Ferrari emang agak panas ya..."
"Iya, panas. Atau penumpangnya yang hot?"
Sore itu, di jalanan Jakarta Selatan yang macet, sebuah Ferrari putih menjadi saksi bisu bagaimana seorang Sultan muda sedang mematahkan hati seorang Manajer cantik, perlahan tapi pasti.