Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Cuci Piring Kotor
"Dia mau cari orang kaya itu wajar, Dik. Tapi apa yang bikin dia mendadak ganti haluan dan malah mengincar kita?" gumam Kang Jaka.
Langkah kakinya membelah jalan setapak pematang sawah yang kering.
Matahari pukul sepuluh pagi mulai terasa menyengat di kulit.
Mira, istrinya, terdiam. Tangannya meremas ujung kebaya lusuhnya.
Ada satu dugaan liar yang melintas di kepalanya, tapi rasanya terlalu menjijikkan untuk diucapkan.
"Nggak mungkin, Kang. Rasanya mustahil," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa yang nggak mungkin, Mir?" desak Jaka.
Ia berhenti sejenak di bawah pohon trembesi, menatap istrinya lekat-lekat.
Mira menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada petani lain yang mendengar.
Suaranya merendah, bergetar menahan malu.
"Kemarin waktu dia ke rumah, dia pamer terus kalau dia subur, sementara aku... aku belum bisa kasih Akang keturunan. Aku mikir... bagaimana seorang gadis perawan bisa seyakin itu kalau dia subur? Kecuali... kalau dia memang sudah 'isi'."
Jaka terhenyak.
Di desa yang adatnya masih kental, hamil di luar nikah adalah aib yang lebih tajam dari sembilu.
Satu keluarga bisa hancur martabatnya.
"Mir, kamu terlalu polos menilai saudaramu sendiri," suara Jaka memberat, wajahnya mengeras menahan amarah.
"Coba pikir pakai logika. Kalau dia memang sudah hamil dan butuh 'bapak' secepatnya untuk menutupi aib, siapa tumbal paling empuk? Kita. Kita sudah lama mendamba anak, dan kamu adalah sepupunya sendiri. Dia pikir kita bodoh, gampang disetir karena putus asa pengen momongan."
Jaka mengepalkan tangan. Urat-urat di lengannya menonjol.
"Pantas saja Si Lastri kecil bilang, kalau aku datang sendirian, bakal ada 'hitam-hitam' yang nempel. Mereka pasti mau pakai cara kotor. Bikin aku teler, atau dijebak seolah aku menidurinya. Bayangkan hancurnya kita kalau itu kejadian."
Dada Mira sesak. Air matanya menggenang tapi ia tahan sekuat tenaga.
Kecewa dan marah bercampur jadi satu.
Saudara sendiri tega mau makan daging saudaranya.
"Kalau memang begitu, aku nggak sudi lagi anggap mereka keluarga. Mulai hari ini, putus," ucap Mira tegas.
Matanya yang biasanya lembut kini menyorot tajam.
"Kita buktikan dulu. Tapi ingat, jangan lengah," bisik Jaka sambil menggenggam tangan istrinya.
Aku cuma mau makan atau minum apa yang kamu kasih.
Jangan sampai lepas dari pandanganku. Erat. Menyalurkan kekuatan.
Mereka pun melangkah menuju rumah Bulik Rini dengan hati yang sudah dilapisi baja.
Di teras rumah kayu yang catnya sudah mengelupas, Siska berkali-kali melongok ke jalan desa.
Lehernya memanjang persis angsa yang kelaparan.
"Sabar, Nduk. Dia pasti datang. Wong aku sudah sebar kabar ke seluruh desa kalau aku ini sekarat," ujar Bulik Rini santai sambil memamah sirih.
Bibirnya merah menyala, kontras dengan wajahnya yang segar bugar.
Siska mengerucutkan bibir, mematut dirinya di cermin kecil yang retak.
"Mak, 'barang'-nya sudah siap, kan?"
Rini mengangguk mantap, meludah ke tanah.
"Beres. Ramuan itu jangankan manusia, kerbau jantan pun bakal beringas kalau meminumnya. Begitu dia minum, matanya bakal lamur, nggak bisa bedain mana istrinya mana orang lain. Kamu tinggal pasang badan saja. Ingat, jaga perutmu."
Siska tersipu, mengelus perutnya yang masih rata dengan bangga.
"Tenang, Mak. Badanku ini kuat. Mimpi semalam saja aku didatangi naga hitam yang masuk ke perut. Anak ini pasti laki-laki, pembawa rezeki."
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan di pintu depan membuat jantung Siska berlonjak.
Ia memberi kode cepat.
Bulik Rini langsung melesat masuk kamar, menarik selimut jarik, dan mulai mengerang.
"Aduhhh... Gustiii... nyawaku rasanya mau dicabut..."
Siska merapikan rambut, memasang senyum paling manis, lalu membuka pintu.
Sosok Kang Jaka berdiri di sana. Gagah. Tegap.
Kulitnya yang terbakar matahari justru memancarkan aura laki-laki pekerja keras yang jauh lebih memikat dibanding laki-laki kota brengsek yang menghamilinya lalu kabur itu.
"Kang Jaka... Mbak Mira... akhirnya datang juga," sapa Siska, suaranya dibuat mendayu-dayu.
"Katanya Bulik sakit? Kami mau nengok," sahut Mira datar.
Matanya langsung memindai tubuh Siska dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tatapan Mira berhenti di perut.
Siska yang sibuk tebar pesona ke Jaka tidak sadar sedang diamati.
"Iya Kang, Mak sudah payah sekali. Ayo masuk. Kang Jaka pasti haus jalan jauh, biar Siska ambilkan es sirup ya?"
"Nggak usah. Nggak haus," potong Jaka. Dingin.
Sedingin air sumur di malam hari.
"Ih, Kang Jaka galak banget. Nanti kalau haus bilang Siska ya, jangan sungkan," ucapnya genit, bulu matanya dikedip-kedipkan.
Mira menahan mual melihat tingkah sepupunya.
Tanpa basa-basi, ia melempar 'bom' pertamanya.
"Siska, kamu kok agak gemukan ya? Perutmu itu lho, agak buncit. Isinya nasi apa angin?" tembak Mira.
Wajah Siska pias seketika. Senyum genitnya luntur, digantikan kepanikan yang gagal disembunyikan.
"Apaan sih, Mbak! Ini namanya 'subur', tanda makmur! Mbak Mira saja yang badannya kering makanya sirik!"
"Bukannya sirik, Siska. Kamu kan perawan, belum ada suami," sahut Mira.
Jaga-jaga saja jangan sampai perutmu melembung kayak orang hamil beneran.
Nanti orang desa salah paham, dikira kamu bawa aib. Nada bicaranya tenang, tapi setiap katanya seperti jarum yang menusuk tepat di ulu hati.
Siska kaku. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Ia buru-buru membusungkan dada, mencoba terlihat tersinggung.
"Ya sudah, kalau ngga percaya, pokoknya aku sehat! Mbak Mira tuh yang harusnya mikir, kenapa sampai sekarang perutnya kosong melompong!"
Mira tidak menjawab. Hatinya nyeri mendengar hinaan itu, tapi di saat yang sama, ia lega.
Reaksi Siska barusan adalah konfirmasi mutlak.
Firasatnya benar. Siska hamil, dan suaminya adalah target cuci piring kotor mereka.
"Aku mau lihat Bulik. Kalau Bulik nggak apa-apa, kami langsung pulang," kata Mira sambil melangkah melewati Siska, menuju kamar yang apek itu.
Di dalam kamar yang remang-remang, bau minyak angin menyeruak.
Bulik Rini terbatuk-batuk hebat begitu melihat Mira masuk.
"Uhuk! Uhuk! Mir... akhirnya datang... sepertinya umurku nggak sampai besok... uhuk... aku cuma mau lihat kalian sebelum mampus..."
Mira duduk di pinggir ranjang kayu, menatap bibinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bulik harus kuat. Bertahanlah sedikit lagi," kata Mira lembut.
"Bertahan buat apa, Nduk? Badanku rasanya remuk semua..."
"Buat nunggu Paklik dan si Bayu pulang. Mereka sebentar lagi paling sampai kok."
Bulik Rini tersedak ludahnya sendiri.
"Hah?! Apa?!"
Mata wanita tua itu melotot, akting sekaratnya buyar seketika.
"Kok mereka pulang?! Bukannya mereka lagi kerja proyek di kota?"
Mira tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk Rini meremang.
"Iya, tadi sebelum ke sini aku sudah titip pesan lewat Pak Mandor yang lewat desa. Kubilang Bulik sudah kritis, napas tinggal satu-satu. Mana mungkin suami dan anak nggak pulang kalau istrinya mau mati? Tega benar kalau nggak pulang."
Rini merasa dadanya sesak sungguhan sekarang. Darah naik ke kepala.
Sialan si Mira! Kalau suaminya yang galak itu pulang sekarang, rencana menjebak Jaka bisa bubar jalan!
Rumah bisa jadi neraka!
Ia harus menahan mereka. Harus.
"Duh, maksudku... aduh, aku cuma kangen kamu, Mir. Makanya aku pengen kamu nginep di sini malam ini," pinta Rini, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Mira.
Temani Bulik ya? Siapa tahu kalau ada kamu, sakitku sembuh.
Kuku-kukunya yang panjang menancap di kulit.
"Iya, Bulik," jawab Mira singkat.
Ia melepaskan tangan bibinya perlahan.
Rini menghela napas lega, lalu matanya melirik ke arah pintu, tempat Jaka berdiri mematung.
Ide licik lain muncul.
"Jaka, daripada kamu bengong kayak patung pancoran, bantulah Siska di belakang," ujar Rini.
Kasihan dia sendirian ngurus rumah, badannya lagi nggak enak.
Jaka tersenyum miring. Senyum yang tidak mencapai mata.
"Boleh, Bulik. Saya bantu biar cepat beres."
Siska yang menguping di balik pintu langsung kegirangan.
Umpan dimakan!
Siska menggiring Jaka ke dapur belakang yang lantainya masih tanah.
"Kang Jaka, tolongin ya. Air di gentong habis. Bisa tolong timba di sumur terus penuhi gentongnya?" rengeknya manja sambil menyandarkan bahu ke tiang kayu.
"Siska lagi lemes nih."
Serunya sambil dengan sengaja menonjolkan lekuk pinggulnya.
"Bisa."
Jaka menyingsingkan lengan baju. Otot-otot tangannya yang terbiasa mencangkul terlihat jelas.
Siska menelan ludah, membayangkan laki-laki ini menjadi miliknya.
Jaka mulai menimba. Satu ember. Dua ember.
Gentong tanah liat besar itu mulai penuh.
Siska mendekat, berniat pura-pura terpeleset ke pelukan Jaka.
Namun, sebelum kakinya melangkah...
PRAKKK!!!
Suara pecahan gerabah menggelegar memenuhi dapur sempit itu.
Siska menjerit kaget, melompat mundur.
Air tumpah ruah, membanjiri lantai tanah hingga becek berlumpur.
Gentong pusaka ibunya hancur berkeping-keping. Di tengah genangan air, Jaka berdiri dengan wajah tanpa dosa. Kakinya baru saja "tidak sengaja" menendang gentong itu dengan kekuatan penuh.
"Waduh! Kok pecah?" seru Jaka datar.
"Kang... itu... gentong Mak..." Siska gagap, syok berat.
"Rapuh banget gentongnya. Kena senggol dikit langsung ambyar," kata Jaka santai.
"Ya sudah, kamu bersihkan dulu saja airnya biar nggak jadi sarang nyamuk. Aku mau belah kayu saja di depan, daripada ngerusak barang lagi di sini."
Tanpa menunggu jawaban, Jaka menyambar kapak karatan di pojok dapur dan melenggang keluar.
Tinggal Siska yang berdiri bengong di tengah lumpur dapur, kakinya basah kuyup, rencananya berantakan.
Di halaman depan, Jaka tidak sekadar membelah kayu.
Ia menghantam kayu-kayu itu seperti sedang melampiaskan dendam.
DUAK! DUAK!
Setiap ayunan kapak, ia sengaja menghantamkannya sampai menembus ke tanah berbatu.
Di dalam kamar, Bulik Rini menutup telinga dengan bantal. "Aduh, Jaka! Berisik banget! Kepalaku mau pecah!"
Mira keluar dari kamar, menahan tawa melihat suaminya.
Jaka mengangkat kapak itu. Mata besinya sudah sumbing parah, bengkok sana-sini.
"Yah, Mir. Kapaknya tumpul. Kena batu terus," kata Jaka, suaranya dikeraskan.
Saat itu Siska keluar dari dapur dengan baju basah dan wajah kusut.
"Siska, ini kapaknya rusak. Kamu asah dulu sana, biar tajam lagi," perintah Jaka, melempar kapak rusak itu ke tanah di depan kaki Siska.
Siska mau menangis rasanya.
"Mbak Mira saja yang asah! Aku capek!"
Tapi Jaka sudah merangkul bahu Mira, menariknya menjauh.
"Nggak bisa. Bulik kan lagi sakit parah, kayaknya kita perlu persiapan buat 'keperluan' mendadak nanti," ujar Jaka.
"Ayo Dik, kita ke hutan sebentar, cari kayu nangka atau bambu buat bikin kerangka tenda...
Atau jaga-jaga kalau butuh kayu buat patok nisan."
"Eh! Kang! Nggak usah! Ngawur ngomongnya!" jerit Siska panik.
Ibunya belum mati kenapa sudah cari kayu nisan?!
Tapi Jaka dan Mira tidak peduli.
Mereka melangkah cepat keluar dari pekarangan, meninggalkan rumah yang hawanya busuk oleh niat jahat itu.
"Kejar mereka, Siska! Jangan sampai lolos!" teriak Bulik Rini dari dalam kamar, lupa kalau dia sedang pura-pura sekarat.
Siska melempar kapak, berlari mengejar ke jalan desa dengan napas ngos-ngosan.
Tapi aneh.
Jalan desa itu lurus dan panjang, tapi sosok Jaka dan Mira sudah tidak terlihat sama sekali.
Seolah-olah rimbunnya pohon bambu dan semak belukar di pinggir jalan sengaja bergerak menutup pandangan, menyembunyikan pasangan suami istri itu dari kejaran orang-orang berniat jahat.
Angin berdesir halus, membawa aroma bunga melati yang samar, seperti aroma yang sering tercium dari tubuh Lastri kecil.