Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
Di meja makan yang luas, Archio, Sadewa, Paman Xavier, dan Bibi Gia duduk menikmati hidangan malam yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hari yang baru saja mereka lewati.
Bibi Gia merupakan adik kandung Papa Haidar, ayah Archio dan Sadewa. Sejak menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, Sadewa memang memilih tinggal bersama pasangan itu. Selain karena kedekatan keluarga, keputusan tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab yang kini ia emban, yaitu mengelola cabang Bimantara Group yang sebelumnya berada di tangan Paman Xavier.
Pria itu masih terlihat tampan di usianya yang tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa meski kini ia lebih sering mengenakan pakaian santai dibanding setelan kerja. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan urusan perusahaan, Xavier akhirnya mempercayakan kendali pada Sadewa. Bukan sepenuhnya melepas, melainkan mengambil satu langkah mundur.
Hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan di rumah, menemani istrinya sekaligus membantu mengurus toko yang mereka bangun bersama. Namun, bukan berarti ia benar-benar menutup bab tentang perusahaan. Sesekali Xavier tetap datang ke kantor, terutama ketika muncul persoalan yang membutuhkan pandangan seseorang dengan pengalaman panjang sepertinya, atau saat Sadewa memerlukan tempat bertanya yang dapat ia andalkan.
"Iya, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat, Archio. Mereka memang pantas dipecat. Paman hanya tidak menyangka orang seperti Adrian, yang selama ini terlihat cekatan dan polos, berani melakukan korupsi sebanyak itu," ujar Paman Xavier. Nada suaranya sarat kekecewaan. Bagaimanapun, Adrian dulu masuk ke perusahaan melalui rekomendasi temannya, sekaligus pernah bekerja di bawah pengawasannya.
Archio hanya mengangguk kecil. Tangannya tetap tenang menyuapkan makanan ke dalam mulut, seolah pembicaraan berat itu tidak cukup kuat untuk mengusik ketenangannya, meski sorot matanya menunjukkan hal berbeda.
.
.
"Archio," panggil Bibi Gia kemudian, memecah jeda singkat di antara mereka. "Kata Mbak Sofia kamu datang ke sini bersama Leonel. Lantas dia di mana? Kamu tidak membawanya pergi entah ke mana, kan?"
Pertanyaan itu membuat Archio menegakkan punggungnya. Ia meletakkan sendoknya sejenak sebelum menjawab, "Dia di sini, Bibi. Tapi sekarang sedang di rumah ibunya, bersama pengasuhnya juga."
Bibi Gia mengernyit. "Ibunya? Ibunya siapa?"
"Ah, itu. Mama belum memberi tahu rupanya. Leonel sudah punya ibu baru, Bibi," ujar Archio santai, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang mengejutkan.
Justru karena diucapkan begitu ringan, Paman Xavier dan Bibi Gia langsung saling menatap dengan mata membulat, kebingungan yang sama tergambar jelas di wajah mereka.
"Maksudnya... kamu sudah menikah lagi?" suara Bibi Gia naik tanpa bisa ia tahan. "Kamu sudah punya istri tapi tidak memberi tahu Paman dan Bibi? Tega sekali kamu tidak melibatkan keluarga dalam pernikahanmu. Mas Haidar dan Mbak Sofia juga tega tidak mengatakan apa-apa. Apa sekarang kalian sudah tidak menganggap kami keluarga?"
Kalimat terakhirnya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Astaga, bukan begitu maksudnya, Bibi. Bibi salah paham," potong Archio cepat.
Ia lalu menjelaskan semuanya dengan sabar, tanpa terburu-buru, seakan ingin memastikan tidak ada satu pun bagian cerita yang keliru ditangkap. Dari pertemuan pertama Aulia dengan Leonel di ruang perawatan, kedekatan yang tumbuh perlahan, hingga keputusan yang akhirnya mereka ambil demi kebaikan anak itu. Archio juga menjelaskan bahwa Aulia tidak pernah benar-benar menggantikan siapa pun, tetapi memilih tetap berada di sisi Leonel ketika banyak orang mungkin akan mundur.
Ia bahkan menyebut siapa Aulia dan siapa ayah wanita itu.
Mendengar nama tersebut, Paman Xavier sontak terdiam. Keterkejutan terpancar jelas di wajahnya, Aulia jelas dia tau, merupakan anak dari mantan bawahannya dulu sekaligus temannya.
"Astaga... kok bisa kebetulan sekali, Archio," bisik Bibi Gia akhirnya.
Air mata yang sejak tadi hanya menggantung di pelupuknya kini jatuh tanpa ia sadari. Tangannya terangkat menutup mulut, antara terharu dan tidak percaya pada cara hidup mempertemukan orang-orang dalam lingkaran yang tak pernah mereka duga.
...****************...
"Kamu harus mengajaknya datang ke rumah, Archio. Bibi ingin melihat Leonel… dan wanita itu," ujar Bibi Gia akhirnya. Suaranya masih sedikit serak sisa tangis, tetapi rasa penasarannya jauh lebih kuat daripada emosinya.
Archio mengangguk tanpa banyak komentar, sebuah persetujuan singkat yang lebih terdengar seperti cara tercepat untuk meredakan drama yang belum sepenuhnya surut. Ia kembali meraih sendoknya, berniat melanjutkan makan malam yang sempat terhenti.
"Secepatnya," tambah Bibi Gia, menatapnya penuh harap, seolah takut permintaannya hanya dianggap angin lalu.
"Iya, Bibi. Nanti saya atur waktunya," jawab Archio tenang.
Sadewa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya terkekeh pelan. "Kalau Bibi sudah penasaran begini, biasanya tidak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai."
Bibi Gia melirik tajam, namun sudut bibirnya terangkat. Tangannya buru-buru menghapus sisa air mata sebelum kembali merapikan posisi duduk, berusaha terlihat setenang mungkin meski matanya masih sembap.
Paman Xavier menghela napas panjang, lalu menatap Archio dengan sorot yang sulit diartikan. "Paman juga ingin bertemu dengannya," ucapnya lebih pelan. "Jika dia memang orang yang bisa membuat Leonel merasa memiliki rumah lagi… berarti dia bukan wanita biasa, dan saya percaya itu."
Tidak ada jawaban langsung dari Archio. Pria itu hanya menunduk sebentar, lalu melanjutkan makannya dengan gerakan terukur. Namun entah kenapa, untuk sesaat langkah sendoknya melambat, seolah ada sesuatu yang sempat menahan pikirannya sebelum akhirnya ia kembali terlihat setenang biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel