Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Menarik!
Di dalam gedung menjulang tinggi milik Bimantara Group cabang Surabaya, aktivitas sudah menggeliat sejak pagi. Derap langkah terdengar bersahutan di sepanjang koridor, sesekali diiringi suara mesin printer dan dentingan papan ketik. Semua orang tampak sibuk, serius, dan disiplin, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan di tempat sebesar itu.
Di ruangan manajer, Adrian duduk tegap di balik meja kerjanya yang luas. Pria berkacamata itu menelusuri lembar demi lembar laporan dengan wajah tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tumpukan berkas memenuhi sisi mejanya, sementara layar komputer memantulkan cahaya tipis ke wajahnya.
Sesekali keningnya berkerut, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, lalu berhenti hanya untuk membalik halaman berikutnya.
Tok… tok…
“Permisi, Pak Adrian.”
Adrian mengangkat pandangan dari layar, matanya langsung tertuju pada sosok pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Tubuhnya refleks menegak.
Ia mengenali pria itu dengan sangat baik, sekretaris pribadi direktur.
Adrian segera berdiri.
“Selamat pagi, Pak,” sapanya sopan, senyum profesional terulas rapi di wajahnya.
“Bapak Adrian dipanggil ke ruangan direktur. Sekarang.”
Tidak ada penjelasan tambahan. Pria itu langsung berbalik pergi.
Adrian meraih jasnya tanpa tergesa, lalu melangkah keluar dengan wajah tetap tenang. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya mulai dipenuhi tanda tanya.
Sangat jarang dirinya dipanggil langsung oleh direktur.
Selama ini pekerjaannya nyaris tanpa cela—setidaknya begitu yang semua orang lihat.
Mengingat keberhasilan proyek besar yang berada di bawah tanggung jawabnya, sudut bibir Adrian terangkat tipis.
Sebuah kemungkinan menyelinap masuk ke dalam benaknya. Mungkin ini tentang promosi. Mungkin akhirnya mereka melihat seberapa besar kontribusiku.
Langkahnya terdengar mantap menyusuri koridor.
Semakin dekat dengan ruangan direktur, langkah Adrian tanpa sadar melambat. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, sementara telapak tangannya mulai terasa dingin. Bukan karena takut, setidaknya itu yang ia yakini—melainkan karena rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Ia berhenti sejenak di depan pintu besar itu sebelum akhirnya mengetuk.
“Masuk.”
Suara dari dalam terdengar datar, namun cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Begitu pintu terbuka, Adrian langsung merasakan perbedaannya.
Hawa ruangan itu dingin. Bukan sekadar karena pendingin udara, tetapi karena atmosfernya yang kaku dan menekan, seolah siapa pun yang masuk ke sana tidak diberi ruang untuk bernapas lega.
Tatapannya segera tertuju ke depan. Sadewa, direktur cabang Surabaya, duduk di balik meja dengan wajah serius, terlalu serius untuk sebuah pertemuan biasa.
Namun bukan itu yang membuat langkah Adrian nyaris terhenti. Di kursi utama, dengan postur tegap dan sorot mata tajam yang sulit ditebak, duduk Archio.
CEO muda itu hadir tanpa banyak ekspresi, namun auranya memenuhi ruangan. Wibawanya terasa kuat, dingin, dan tak tersentuh, jenis pemimpin yang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain gentar.
Untuk pertama kalinya sejak berjalan menuju ruangan ini, keyakinan Adrian sedikit goyah.
Naluri kecil dalam dirinya mulai berbisik, Kedatangannya ke sini, mungkin bukan untuk menerima kabar baik.
...----------------...
"Selamat pagi, Pak," sapa Adrian dengan senyum kaku, berusaha terlihat tenang di hadapan atasannya.
Namun Archio hanya menatapnya datar, tanpa balasan senyum sedikit pun. Tatapan itu singkat, tapi cukup membuat tengkuk Adrian menegang.
"Silakan duduk, Pak Adrian," ujarnya tegas.
Tidak tinggi, tidak keras. Justru ketenangan itu terasa lebih menekan.
Adrian menarik kursi di depan meja besar itu dan duduk perlahan. Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk, ruangan itu terasa terlalu luas… dan terlalu dingin.
Di hadapannya duduk dua pria berwibawa dengan aura yang berbeda namun sama-sama menyesakkan. Sadewa dengan ketegasan khas seorang direktur, sementara Archio tampak jauh lebih tenang, lebih sulit ditebak, dan entah mengapa justru itu yang terasa paling mengancam.
Di sisi ruangan, sekretaris Sadewa dan Bimo berdiri tegak tanpa suara, membuat suasana semakin kaku.
Adrian menelan ludah. Untuk sesaat, ia merasa seperti sebutir debu yang tersesat di tengah badai.
Archio membuka sebuah map di hadapannya, membalik beberapa lembar dengan tenang seolah tidak tergesa sedikit pun.
"Pak Adrian," akhirnya ia bersuara.
Adrian spontan menegakkan punggungnya. menatap pria di depannya dengan wajah yang berusaha terlihat percaya diri dan tenang.
Archio menutup kembali map di tangannya perlahan. Suara kecil itu terdengar jelas di tengah ruangan yang hening.
"Pak Adrian, saya ingin langsung ke inti saja."
Tatapannya terangkat. Datar. Sulit dibaca.
"Kami menerima beberapa komplain dari pembeli kawasan Grand Laverton. Mereka mempertanyakan harga jual yang tinggi… tapi kualitas bangunan tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak."
Hening. Adrian meneguk ludah nya kasar. Tangannya terasa jauh lebih dingin, darahnya berdesir lebih cepat.
"Saya ingin mendengar penjelasan Anda. Karena setahu saya, proyek itu berada sepenuhnya di bawah tanggung jawab Anda."
.
.
.
Aulia mengemudi mobilnya dengan hati-hati, kedua tangannya mantap di atas kemudi. Pagi itu jalanan tidak terlalu padat, namun pikirannya terasa jauh lebih ramai dari biasanya.
Setelah berbicara dengan Daisy dan Mama Kania, wanita itu akhirnya memutuskan datang sendirian ke rumah yang kini ditempati Adrian dan Arumi.
Bukan tanpa larangan. Daisy sempat bersikeras ingin ikut, begitu juga Mama Kania yang jelas tidak tenang melepasnya sendiri. Namun Aulia berhasil meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.
Setidaknya… terlihat baik-baik saja.
Pandangan Aulia lurus ke depan. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seolah apa pun yang menunggunya di sana tidak lagi mampu mengguncangnya.
Padahal jauh di dalam hati, ada sesuatu yang perlahan mengeras.
Mobil itu akhirnya melaju sangat pelan saat memasuki halaman rumah. Ban berhenti mulus, namun Aulia tidak langsung turun. Ia tetap duduk di balik kemudi beberapa saat, menatap lurus ke depan.
Keningnya berkerut tipis.
Sebuah pick up terparkir di sana. Beberapa pria tampak keluar masuk rumah, mengangkat kardus dan perabotan, lalu memasukkannya ke bak mobil. Suasana itu terasa sibuk, asing… namun sekaligus seperti jawaban atas sesuatu yang bahkan belum sempat ia tanyakan.
Aulia menarik napas pelan.
Tanpa tergesa, ia membuka pintu mobil dan turun. Tangannya bergerak merapikan blouse putih yang dikenakannya, gerakan kecil yang justru membuatnya tampak semakin tenang.
Lalu ia melangkah ke depan, Tidak ada keraguan, tidak terburu-buru.
Dengan kepercayaan diri seorang wanita yang tahu persis ke mana kakinya berpijak.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Aulia saat ia sudah berdiri cukup dekat.
Salah satu pria itu menoleh cepat. "Oh, ini… mau memindahkan barang-barang, Bu. Pemilik rumahnya pindahan."
Aulia mengangguk pelan.
Pindahan.
Kata itu jatuh begitu saja, namun entah kenapa terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya. Bukan kaget, bukan pula lega. Hanya sebuah jeda kecil yang membuat pandangannya kembali terarah pada rumah itu.
Jadi… mereka pergi.
Tanpa perlu ia minta.
Tanpa perlu ia usir.
Menarik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian