Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah yang Terpendam
"Wanita bergaun putih. Rambut panjang. Muncul di koridor lantai dua tengah malam," Arga menyelesaikan kalimatnya dengan suara pelan. Matanya menatap kosong ke lantai.
Bagas menelan ludah. Wajahnya yang tadi ceria langsung berubah pucat. "Lo... lo serius, Ga? Beneran liat?"
"Aku nggak gila, Gas. Aku lihat dengan mata kepala sendiri. Dia berdiri di ujung koridor, terus... terus noleh ke arah aku. Senyum. Senyum sedih gitu. Terus hilang."
"Hilang gimana?"
"Ya hilang. Lenyap. Kayak asap."
Bagas mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Anjir... anjir, gue takut nih. Serius. Gue dari tadi merinding tau nggak? Bulu kuduk gue berdiri semua."
"Kau yang mau ikutan nginep," Arga menjawab datar.
"Iya sih, tapi gue pikir lo cuma lebay doang. Ternyata beneran ada penampakan!" Bagas berdiri, mondar-mandir di ruang tamu sambil gigit kuku. "Gimana nih? Gimana nih? Kita harus gimana?"
"Terserah. Kalau kau takut ya pulang aja."
"Pulang gimana? Lo sendirian di sini? Mana tega gue." Bagas berhenti mondar-mandir, menatap Arga dengan serius. "Oke, gue punya ide. Lo tau nggak rumah sebelah yang masih dihuni?"
Arga menggeleng.
"Ada. Rumah kayu kecil di sebelah barat. Itu rumahnya Mbah Karyo. Tetangga paling tua di sini. Nenek lo dulu deket banget sama dia. Kalau ada yang tau sejarah rumah ini, pasti dia orangnya."
"Untuk apa?"
"Ya untuk tau dong! Siapa tau hantu yang lo liat itu punya cerita atau... atau ada cara buat ngusir dia." Bagas mengambil kunci motornya. "Ayo, kita kesana sekarang."
"Sekarang?"
"Iya sekarang! Siang-siang gini lebih aman daripada malem-malem."
Arga sebenarnya malas. Tubuhnya lelah. Kepalanya pusing. Tapi Bagas sudah menarik tangannya, memaksanya berdiri.
"Ayo, Ga! Jalan kaki aja. Nggak jauh kok."
Dengan terpaksa, Arga mengikuti Bagas keluar rumah. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah ditumbuhi rumput liar. Matahari siang cukup terik, tapi angin yang bertiup terasa dingin. Aneh.
Rumah Mbah Karyo memang tidak jauh. Hanya sekitar lima menit jalan kaki. Rumah kayu sederhana dengan teras kecil. Di teras itu ada kursi goyang tua, dan di kursi itu duduk seorang kakek dengan rambut putih memanjang, jenggot putih lebat, dan kulit keriput penuh lipatan.
"Mbah Karyo!" Bagas melambaikan tangan.
Kakek itu mengangkat wajahnya. Matanya yang sudah sayu menatap mereka berdua. Lalu ia tersenyum, menampilkan gigi yang sudah ompong. "Eh, Bagas toh. Lama nggak kesini. Itu siapa sebelahmu?"
"Ini Arga, Mbah. Cucu Mbah Sarinah. Yang punya rumah besar itu." Bagas menunjuk ke arah rumah Arga.
Mata Mbah Karyo langsung berbinar. "Ooo, cucu Mbah Sarinah! Wah, udah gede ya. Terakhir liat kamu masih bocah cilik. Sini, sini naik ke teras."
Mereka berdua naik ke teras kecil itu. Bagas langsung duduk bersila di lantai kayu, Arga mengikuti.
"Mau minum apa? Teh? Air putih?" tanya Mbah Karyo dengan ramah.
"Nggak usah repot-repot, Mbah. Kami mau nanya-nanya aja," Bagas menjawab cepat.
"Nanya apa?"
Bagas menoleh ke Arga, memberi kode agar Arga yang bicara. Tapi Arga hanya diam, menatap lantai dengan pandangan kosong. Akhirnya Bagas yang buka suara.
"Begini, Mbah. Arga kemarin baru pindah ke rumah neneknya. Terus... terus dia lihat sesuatu. Sosok wanita bergaun putih."
Ekspresi Mbah Karyo langsung berubah. Senyumnya hilang. Matanya menyipit. "Wanita bergaun putih?"
"Iya, Mbah. Muncul tengah malam. Rambutnya panjang, senyumnya sedih. Terus hilang tiba-tiba."
Mbah Karyo menghela napas panjang. Ia menatap ke arah rumah besar itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia muncul lagi ya... setelah sekian lama..."
"Siapa dia, Mbah?" Arga akhirnya membuka suara. Suaranya serak. "Siapa wanita itu?"
Mbah Karyo diam cukup lama. Seperti sedang menimbang-nimbang apakah harus bercerita atau tidak. Lalu ia menarik napas dalam dan mulai bicara dengan suara pelan, tapi jelas.
"Lima puluh tahun yang lalu, rumah itu dihuni sepasang suami istri muda. Namanya Arjuna dan Safira."
Mendengar nama Safira, Arga merinding. Bulu kuduknya berdiri. Entah kenapa nama itu terasa... terasa familiar. Padahal ia baru mendengarnya sekarang.
"Mereka pasangan yang sangat bahagia," lanjut Mbah Karyo dengan nada nostalgia. "Arjuna itu pedagang batik yang sukses. Safira itu istrinya yang cantik jelita. Mereka menikah muda, baru dua tahun nikah waktu itu. Belum punya anak. Tapi sangat saling mencintai. Setiap sore aku sering lihat mereka jalan-jalan di kebun belakang, tangan bergandengan, tertawa-tawa. Harmonis sekali."
Bagas mendengarkan dengan serius. Arga juga, tapi dadanya terasa sesak. Entah kenapa cerita ini terasa... terasa menyakitkan meski ia baru mendengarnya.
"Sampai suatu malam..." Mbah Karyo berhenti sebentar, menelan ludah. Matanya berkaca-kaca. "Malam itu hujan deras. Petir menyambar berkali-kali. Dan tiba-tiba... tiba-tiba rumah itu terbakar."
"Terbakar?" Bagas terperanjat. "Kenapa bisa?"
"Nggak ada yang tau pasti. Ada yang bilang sambaran petir. Ada yang bilang korsleting. Yang jelas, api langsung membesar. Cepat sekali. Dan Safira... Safira terjebak di dalam."
Arga merasakan dadanya makin sesak. Napasnya mulai berat.
"Arjuna berteriak-teriak minta tolong," Mbah Karyo melanjutkan dengan suara gemetar. "Dia mau masuk lagi ke dalam rumah untuk menyelamatkan istrinya. Tapi api sudah terlalu besar. Kami semua berusaha padamkan api, tapi terlambat. Safira... Safira tewas terbakar di dalam kamarnya."
Hening.
Hening yang mencekam.
Arga merasakan air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. Kenapa? Kenapa ia ingin menangis mendengar cerita tentang orang yang bahkan tidak ia kenal?
"Arjuna... Arjuna hancur total," Mbah Karyo mengusap matanya yang basah. "Dia duduk di depan rumah yang sudah jadi puing itu, memeluk tubuh istrinya yang hangus, menangis sejadi-jadinya. Nggak mau lepas. Kami semua yang liat juga pada nangis. Kasihan sekali dia. Kasihan sekali..."
"Terus... terus gimana?" Bagas bertanya dengan suara pelan.
"Seminggu setelah Safira dimakamkan, Arjuna gantung diri."
"Apa?!" Bagas dan Arga serempak terkejut.
"Dia bilang dia nggak sanggup hidup tanpa Safira. Dia bilang lebih baik dia menyusul istrinya ke alam sana. Dan dia benar-benar melakukannya. Gantung diri di pohon besar di kebun belakang. Pohon yang sama tempat dia dan Safira sering duduk bersama."
Air mata Arga jatuh. Mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa remuk. Seperti ada yang mencengkeram jantungnya dengan kuat.
"Sejak itu," Mbah Karyo melanjutkan, "orang-orang sering lihat sosok wanita bergaun putih di rumah itu. Terutama di malam hari. Beberapa orang yang pernah nyoba nginep di situ bilang mereka denger suara tangisan. Suara perempuan yang nangis sangat sedih. Dan ada yang bilang... ada yang bilang roh Safira nggak bisa pergi karena dia masih nunggu sesuatu."
"Nunggu apa?" Arga bertanya dengan suara serak. Air matanya masih mengalir.
Mbah Karyo menggeleng pelan. "Nggak ada yang tau pasti. Tapi katanya... katanya roh yang nggak bisa pergi itu biasanya karena ada janji yang belum terpenuhi. Atau ada sesuatu yang masih mengikat dia di dunia ini."
Arga terdiam. Pikirannya kacau. Dadanya sakit. Ia bahkan nggak mengerti kenapa ia merasakan kesedihan yang luar biasa ini. Ini cerita orang lain. Orang yang sudah mati lima puluh tahun lalu. Tapi kenapa rasanya seperti... seperti ini juga kisahnya sendiri?
Kehilangan. Cinta yang putus di tengah jalan. Kesedihan yang mendalam.
"Lo nangis, Ga?" Bagas menatap Arga dengan khawatir.
"Nggak," Arga langsung mengusap air matanya kasar. "Cuma... cuma kemasukan angin aja."
Mbah Karyo menatap Arga dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang seperti... seperti mengerti sesuatu yang bahkan Arga sendiri belum mengerti.
"Kamu... kamu datang ke rumah itu karena sedang patah hati, ya, Nak?" tanya Mbah Karyo pelan.
Arga tersentak. Bagaimana kakek ini bisa tahu?
"Aku bisa lihat dari matamu. Mata yang kehilangan harapan. Mata yang sudah terlalu banyak menangis." Mbah Karyo tersenyum tipis. "Hati-hati, Nak. Roh yang kesepian... suka tertarik dengan jiwa yang juga kesepian."
Kalimat itu membuat Arga merinding lagi. Bulu kuduknya berdiri semua.
"Maksud Mbah?" Bagas bertanya bingung.
"Artinya... Safira mungkin merasakan kesedihan Arga. Dan tertarik padanya."
"Tertarik? Maksudnya gimana?"
"Ya... tertarik. Merasa terhubung. Merasa menemukan seseorang yang sama-sama terluka."
Arga menelan ludah. Hatinya berdebar kencang. Ini... ini masuk akal atau tidak sih? Hantu tertarik sama manusia karena sama-sama patah hati?
Kedengarannya absurd. Tapi... tapi kenapa dadanya terasa hangat mendengarnya?
"Mbah, terus gimana caranya biar dia nggak ganggu Arga?" Bagas bertanya cemas.
"Ganggu?" Mbah Karyo menggelengkan kepala. "Safira nggak akan ganggu. Dia bukan hantu jahat. Dia cuma... kesepian. Sangat kesepian."
"Terus Arga harus gimana?"
"Terserah dia," Mbah Karyo menatap Arga dalam-dalam. "Kalau dia takut, ya pindah dari rumah itu. Tapi kalau dia nggak takut... ya biarkan saja. Siapa tau kalian berdua... saling menghibur."
Saling menghibur? Manusia dan hantu?
Arga tidak tahu harus berpikir apa. Otaknya sudah terlalu penuh dengan berbagai macam emosi. Kesedihan karena Ratih. Kesedihan karena cerita Arjuna dan Safira. Dan sekarang... perasaan aneh ini.
Perasaan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan.
Setelah mengobrol sebentar lagi, Arga dan Bagas pamit pulang. Mbah Karyo menatap punggung Arga yang berjalan pergi dengan tatapan penuh arti.
"Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari, Nak," bisiknya pelan.
***
Malam itu, Bagas memang memaksa untuk menginap. Ia membawa sleeping bag dan tidur di ruang tamu. Sementara Arga kembali ke kamarnya di lantai dua.
Sebelum tidur, Bagas mengeluarkan semua perlengkapan yang ia bawa: bawang putih, air zamzam dalam botol kecil, dan jimat murahan yang ia beli di warung dekat rumahnya.
"Ini gue taro di depan pintu lo ya, Ga. Biar aman," kata Bagas sambil menyusun bawang putih membentuk lingkaran di depan pintu kamar Arga.
"Kau yakin itu berguna?" Arga menatap bawang putih itu dengan skeptis.
"Ya nggak tau juga sih. Tapi kata orang-orang kan hantu takut bawang putih."
"Itu vampir, Gas. Bukan hantu."
"Oh iya ya? Lah terus hantu takut apa?"
"Entahlah. Gue juga nggak tau."
Bagas menggaruk kepalanya yang nggak gatal. "Udah lah pokoknya dipasang aja. Daripada nggak sama sekali."
Setelah selesai memasang "pengaman" yang meragukan itu, Bagas turun ke ruang tamu. Arga masuk ke kamarnya, mengunci pintu, lalu berbaring di kasur.
Malam ini ia merasa lebih lelah dari biasanya. Mungkin karena sudah jalan keluar, sudah makan, sudah mandi. Tubuhnya bersih tapi hatinya masih remuk.
Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang ke cerita Mbah Karyo tadi.
Arjuna dan Safira.
Cinta yang berakhir tragis.
Pria yang tidak sanggup hidup tanpa istrinya sampai memilih bunuh diri.
Itu cinta sejati atau kebodohan?
Tapi kenapa dadanya terasa sakit saat mendengar cerita itu? Kenapa ia merasa... merasa iri?
Iri karena Arjuna punya cinta yang begitu dalam. Sementara ia? Ia punya Ratih yang ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya.
"Safira..." bisik Arga tanpa sadar. "Kau beruntung... punya suami yang sangat mencintaimu..."
Mata Arga perlahan terpejam. Lelah. Sangat lelah.
Dan ia tertidur.
***
Dalam mimpi, Arga berjalan di koridor rumah neneknya. Tapi koridor itu berbeda. Lebih bersih. Lebih terang. Tidak ada debu. Tidak ada jamur. Seperti rumah ini masih baru.
Ia berjalan pelan, menyusuri koridor itu tanpa tahu tujuan. Dan di ujung koridor, ia melihat sosok itu lagi.
Wanita bergaun putih. Rambut hitam panjang terurai. Berdiri membelakanginya.
"Safira?" Arga memanggil tanpa ragu. Entah kenapa ia yakin itu Safira.
Wanita itu perlahan menoleh. Dan wajahnya... Ya Tuhan, wajahnya...
Cantik. Sangat cantik. Kulit putih bersih tanpa noda. Mata hitam besar yang jernih. Bibir merah tipis yang tersenyum lembut.
Tapi ada kesedihan di matanya. Kesedihan yang sangat dalam.
"Kamu... akhirnya datang..." suara Safira lembut. Merdu. Seperti angin sepoi-sepoi yang menenangkan. "Aku sudah menunggu... sangat lama..."
"Menunggu... aku?" Arga bingung.
Safira tersenyum lebih lebar. Tapi senyum itu menyedihkan. "Ya. Menunggu seseorang yang bisa merasakan sakitku. Yang bisa mengerti kesepianku."
"Aku... aku tidak mengerti..."
Safira melangkah maju. Perlahan. Arga ingin mundur tapi kakinya tidak bergerak. Dan saat Safira sudah sangat dekat, ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Arga dengan lembut.
Sentuhannya dingin. Tapi menenangkan.
"Kamu juga terluka, kan?" bisik Safira. "Kamu juga kehilangan seseorang yang kamu cintai. Kamu juga kesepian..."
Air mata Arga mengalir tanpa bisa ia tahan. "Ya... aku kehilangan dia... istriku... dia... dia meninggalkanku..."
"Aku tahu bagaimana rasanya," Safira mengusap air mata di pipi Arga dengan lembut. "Kehilangan cinta itu sakit. Sangat sakit. Seperti jantung diremas sampai hancur."
"Kenapa... kenapa kau masih di sini?" Arga bertanya dengan suara bergetar. "Kenapa kau tidak pergi? Ke... ke surga atau... atau ke alam sana?"
Safira tersenyum sedih. "Karena aku belum selesai menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu... cinta yang dijanjikan padaku."
Sebelum Arga bisa bertanya lebih lanjut, semuanya memudar. Gelap. Dan ia terbangun.
Terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang.
Tapi bukan karena takut.
Bukan karena ngeri.
Tapi karena... karena ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang... menenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak Ratih meninggalkannya, ia tidak merasakan kesedihan yang mencekik. Tidak merasakan luka yang menganga.
Yang ia rasakan adalah... kedamaian.
Kedamaian yang aneh. Tapi nyata.
Dan di sudut hatinya, ia berbisik, "Safira..."