NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fondasi dari Tulang dan Penderitaan

"Kumpulkan mereka semua," perintah Layla kepada Delta yang berdiri tegap di belakangnya. "Setiap lelaki dan wanita yang masih memiliki tangan untuk menggali dan bahu untuk memikul. Jika mereka bisa merayakan kemenangan semalam, mereka bisa membangun kembali takhta ku hari ini."

Delta, sang panglima yang setia, segera melaksanakan perintah tersebut. Pasukan Minotaur dan Centaur menyisir pemukiman, menyeret rakyat dari rumah-rumah mereka yang juga rusak. Tidak ada negosiasi, tidak ada janji upah, dan tidak ada jatah makan yang layak. Ribuan rakyat dipaksa menuju area istana, menghadapi tumpukan batu granit raksasa yang harus dipindahkan secara manual.

Di bawah terik matahari yang menyengat, penderitaan dimulai. Suara denting palu dan sorak kasar para pengawas Minotaur memenuhi udara. Beberapa pekerja yang sudah kelelahan karena perang mulai berbisik-bisik. "Bagaimana kita bisa bekerja tanpa makanan? Anak-anak kami kelaparan, dan Ratu bahkan tidak memberikan setetes air pun," keluh seorang pria tua sambil menyeka keringat yang bercampur debu bangunan.

Sayangnya, pendengaran Layla setajam elang. Ia sedang berjalan di antara barisan pekerja dengan gaun sutra yang kontras dengan kekumuhan di sekitarnya. Langkah kakinya berhenti tepat di belakang pria itu. Dengan isyarat tangan yang dingin, ia memerintahkan dua ekor Minotaur untuk meringkus si pengeluh dan beberapa orang di sekitarnya yang ikut mengangguk setuju.

"Kalian merasa mulut kalian terlalu ringan untuk mengeluh?" tanya Layla dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan.

Ia menyuruh pelayannya membawa sebuah kuali kecil yang berisi timah cair yang mendidih, dipanaskan oleh sihir Penyihir Petir. Di tengah lapangan pembangunan, di depan ribuan mata yang ketakutan, Layla memerintahkan mulut pria tua itu dibuka paksa. Tanpa ragu, timah panas berwarna perak itu dituangkan ke dalam kerongkongannya. Suara jeritan yang hanya bertahan sedetik itu berubah menjadi kepulan asap mengerikan dan aroma daging terbakar. Pria itu tewas dalam posisi berdiri sebelum ambruk dengan rahang yang membatu.

Bagi mereka yang dianggap hanya "ikut-ikutan" mengeluh, Layla memiliki hukuman yang lebih lambat. Ia memerintahkan Delta untuk mengikat tangan dan kaki mereka dengan rantai berat. Mereka kemudian diseret menuju sebuah jurang dangkal di sisi belakang istana. Jurang itu adalah tempat pembuangan limbah istana, penuh dengan kotoran hewan, bangkai yang membusuk, belatung yang menggeliat, dan jutaan serangga pemakan bangkai.

"Lemparkan mereka," titah Layla singkat.

Satu per satu tubuh manusia yang masih hidup itu jatuh ke dalam kubangan busuk. Mereka tidak langsung mati. Jeritan minta tolong terdengar saat serangga mulai merayap masuk ke dalam lubang hidung dan telinga mereka, sementara belatung mulai menggerogoti luka-luka lecet di kulit mereka. Layla memperhatikan dari tepi jurang dengan tatapan puas sebelum kembali ke area konstruksi.

Ketakutan yang mencekam membuat pekerjaan melambat. Beberapa pekerja gemetar begitu hebat hingga tidak sanggup mengangkat beban. Seorang pemuda, yang mungkin belum genap berusia dua puluh tahun, tiba-tiba jatuh pingsan karena dehidrasi dan trauma setelah melihat eksekusi tadi. Melihat pekerjaan terhenti karena tubuh yang terkapar itu, Layla berjalan mendekat. Ia mengambil cambuk kulit milik salah satu pengawas Centaur.

Ctar!

Cambuk itu merobek baju pemuda yang pingsan tersebut, namun ia tetap tidak sadar. Layla mendesis kesal. Ia mencabut pedang zirahnya yang legam dan menodongkan ujungnya ke leher pekerja lain yang mencoba membantu pemuda itu.

"Gali lubang di sini," perintah Layla kepada seekor Minotaur. "Sekarang."

Lubang sedalam dua meter digali dengan cepat oleh kekuatan otot Minotaur yang luar biasa. Setelah lubang itu siap, Layla sendiri yang mencengkeram kerah baju pemuda yang pingsan tersebut, menyeretnya di atas tanah berbatu seolah-olah ia hanyalah sekarung sampah. Tanpa belas kasihan, ia mendorong tubuh yang tak berdaya itu ke dalam lubang.

"Timbun," ucapnya.

Para pekerja lain dipaksa untuk menyekop tanah ke atas rekan mereka sendiri. Pemuda itu sempat terbangun saat tanah mulai menutupi wajahnya, matanya membelalak ketakutan dan tangannya menggapai-gapai keluar, namun cambuk Layla memastikan tidak ada yang berani berhenti menimbun. Dalam hitungan menit, pemuda itu terkubur hidup-hidup, meninggalkan gundukan tanah yang rata di tengah jalan setapak istana.

"Jika ada yang berhenti sebelum matahari terbenam, lubang berikutnya akan lebih luas," ancam Layla sambil mengawasi dengan mata yang menyipit.

Beberapa hari berlalu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Istana Atlas yang hancur perlahan mulai kembali ke bentuk kemegahannya. Menara-menara baru berdiri tegak, dilapisi kembali dengan emas yang dipoles hingga berkilau. Namun, harga dari kemegahan itu adalah nyawa. Dari ribuan rakyat yang dikumpulkan, hanya sebagian kecil yang masih mampu berdiri. Sisanya telah menjadi mayat yang bertumpuk di sudut-sudut lapangan atau terkubur di bawah fondasi bangunan.

Setelah bagian istana yang ia inginkan selesai diperbaiki, Layla berdiri di aula utama yang kini kembali megah. Ia menatap sisa pekerjanya yang kurus kering dan gemetar dengan pandangan jijik. "Pekerjaan kalian selesai. Pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan menjadikan kalian hiasan dinding," usirnya dengan tawa yang meremehkan.

Rakyat yang tersisa lari tunggang-langgang, meninggalkan sanak saudara mereka yang telah menjadi mayat. Layla kemudian berpaling kepada Penyihir Petir yang sejak tadi berdiri diam dalam bayang-bayang.

"Penasehat, aku tidak ingin aroma kematian ini merusak suasana baruku. Gunakan petir mu, hanguskan semua mayat-mayat busuk di luar sana hingga menjadi abu yang tidak berbekas," perintahnya.

Penyihir Petir mengangkat tongkatnya, memanggil petir dari langit yang jernih. Ledakan listrik beruntun menyambar tumpukan mayat di sekitar istana, membakar mereka dalam api biru yang sangat panas hingga hanya menyisakan debu yang diterbangkan angin.

Setelah merasa kebersihan istananya terjaga, suasana hati Layla mendadak berubah menjadi ringan. Ia menatap Delta dan Penyihir Petir. "Udara di sini terlalu panas karena sihirmu. Delta, Penasehat, ikut aku. Aku ingin merasakan kesegaran yang nyata."

Sang Ratu membawa panglima dan penasehatnya menuju sungai yang mengalir di perbatasan area istana, Dengan gaun tipis yang tersingkap, ia turun ke pinggir sungai yang airnya jernih. Ia mulai bermain air dengan riang, memercikkan air ke udara , Delta dan Penyihir Petir hanya berdiri diam mengawasi di tepi sungai, ratu layla bermain air bersama dengan para dayangnya dengan riang gembira,namun bayang-bayang siluman air perlahan mendekat dan tidak ada satupun yang menyadarinya,

Para dayangnya dengan senang hati memberikan ratu layla berbagai macam buah , daging panggang dan jus segar untuk menghilangkan dahaganya, dengan kompak para dayangnya juga mengambilkan beberapa buah segar untuk sang ratu yang berada di dekat sungai itu.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!