Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Aula Penghakiman dan Tekanan Sang Jenius
Aula Penghakiman (Hall of Judgment) Akademi Bintang terletak di sisi barat kompleks akademi, terpisah dari gedung-gedung utama. Bangunan itu terbuat dari batu granit hitam yang dingin, tanpa jendela, memberikan kesan seperti sebuah penjara raksasa yang menelan cahaya matahari.
Di dalam aula yang luas dan remang-remang itu, Ye Chen berdiri tegak di tengah ruangan. Di sekelilingnya, dua belas pilar batu menjulang tinggi, masing-masing diukir dengan wajah iblis yang menyeramkan.
Tangan Ye Chen tidak diborgol—Komite Disiplin tahu borgol biasa tidak akan menahan seorang kultivator fisik—namun dia dikepung oleh sepuluh anggota komite bersenjata lengkap.
Di kursi hakim yang ditinggikan, duduk pemuda berambut perak yang menangkapnya tadi. Namanya Gu Tian. Dia adalah Murid Inti peringkat 5 di Akademi Bintang dan Ketua Komite Disiplin. Tingkat kultivasinya: Pemadatan Qi Tingkat 9.
"Berlutut," perintah Gu Tian datar. Suaranya bergema di dinding batu, diperkuat oleh formasi akustik ruangan.
Ye Chen tidak bergerak. Dia menatap Gu Tian dengan mata tenang, seolah sedang melihat lukisan dinding yang membosankan.
"Aku tidak punya kebiasaan berlutut pada sesama murid," jawab Ye Chen.
"Lancang!" Seorang anggota komite di belakang Ye Chen menendang lipatan lutut Ye Chen, mencoba memaksanya jatuh.
DUK!
Kaki anggota komite itu justru terasa sakit, seolah menendang tiang besi padat. Ye Chen tidak bergeming satu milimeter pun.
"Fisik yang kuat," Gu Tian tersenyum tipis, tapi matanya dingin. "Tapi di sini, aturan adalah segalanya. Ye Chen, kau dituduh membunuh dua Tetua tamu dari Sekte Pedang Darah—Tetua Topeng dan Tetua Besi—di dalam Hutan Kabut Ilusi. Apa pembelaanmu?"
Ye Chen tertawa kecil. "Tetua tamu? Sejak kapan penyusup yang masuk diam-diam ke area ujian disebut tamu? Mereka mencoba membunuhku. Aku hanya membela diri."
"Membela diri?" Gu Tian mendengus. "Mereka adalah kultivator Tingkat 7 dan 8. Kau hanya Tingkat 4. Bagaimana mungkin kau membunuh mereka jika bukan menggunakan racun licik atau jebakan terlarang? Itu melanggar kehormatan bela diri!"
"Kehormatan?" Ye Chen mengangkat alisnya. "Mereka, dua orang tua bangka, mengeroyok seorang junior di tengah ujian. Di mana kehormatan mereka? Dan jika mereka mati di tanganku, itu hanya membuktikan satu hal: mereka sampah."
BAM!
Gu Tian memukul meja di depannya hingga retak. Aura Tingkat 9-nya meledak, menekan Ye Chen seperti gunung tak kasat mata.
"Jaga mulutmu! Sekte Pedang Darah adalah sekutu Akademi! Tindakanmu bisa memicu perang!" Gu Tian berdiri. "Sebagai Ketua Disiplin, aku menjatuhkan vonis: Lumpuhkan kultivasinya, patahkan kedua tangannya, dan serahkan dia ke Sekte Pedang Darah untuk diadili!"
Ye Chen menyipitkan mata. Benar dugaannya. Gu Tian adalah anjing peliharaan Sekte Pedang Darah di dalam akademi. Pengadilan ini hanyalah formalitas untuk menyingkirkannya.
Para anggota komite mencabut senjata mereka. Qi mereka bersinar terang di kegelapan aula.
"Lumpuhkan dia!"
Saat pedang-pedang itu terayun ke arahnya, Ye Chen tidak lagi menahan diri.
WUUUNG!
Pedang Pemecah Gunung di punggungnya bergetar. Ye Chen mencengkeram gagangnya.
"Jika Akademi Bintang adalah tempat di mana keadilan dibeli oleh sekte luar..."
Aura merah darah dan listrik biru meledak dari tubuh Ye Chen.
"...Maka aku akan meratakan tempat ini sekarang juga!"
Langkah Kilat Hantu!
Ye Chen menghilang.
BUAGH!
Anggota komite yang ada di sebelah kirinya terlempar menabrak pilar, pingsan seketika dengan dada amblas.
"Berani melawan?!" Gu Tian murka. Dia melompat turun dari podium hakim, sebuah pedang perak ramping muncul di tangannya. Pedang Cahaya Bulan!
Gu Tian bergerak secepat kilat, menusuk ke arah bahu Ye Chen.
Ye Chen baru saja akan mengayunkan pedang besarnya untuk benturan keras, ketika tiba-tiba...
BOOOOOM!
Pintu raksasa Aula Penghakiman meledak terbuka. Cahaya matahari sore menyembur masuk, menyilaukan mata semua orang.
Sebuah tekanan spiritual yang jauh lebih besar—tekanan Ranah Pembentukan Inti (Foundation Establishment)—menyelimuti seluruh ruangan, membekukan gerakan Gu Tian dan Ye Chen seketika.
"CUKUP!"
Suara itu berat dan berwibawa.
Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua dan jenggot panjang berjalan masuk. Tangannya tergenggam di belakang punggung. Itu adalah Tetua Mo, pengawas ujian masuk.
"Tetua Mo?" Gu Tian mengerutkan kening, menurunkan pedangnya tapi tidak menyarungkannya. "Komite Disiplin sedang menegakkan aturan. Jangan ikut campur urusan internal kami."
"Urusan internal?" Tetua Mo mendengus. Dia berjalan melewati para anggota komite yang gemetar, langsung berdiri di antara Gu Tian dan Ye Chen.
"Gu Tian, kau semakin berani. Sejak kapan kau punya wewenang menghukum mati murid baru tanpa persetujuan Dewan Tetua?"
"Dia membunuh Tetua Sekte Pedang Darah!" bantah Gu Tian. "Ini masalah diplomatik!"
"Persetan dengan diplomatik!" bentak Tetua Mo. Aura birunya mengganas. "Hutan Kabut Ilusi adalah wilayah tertutup selama ujian. Siapapun orang luar yang masuk ke sana tanpa izin adalah Penyusup. Dan menurut Hukum Akademi Bab 1 Pasal 3: 'Penyusup yang mati di dalam wilayah akademi adalah tanggung jawab mereka sendiri.'"
Tetua Mo menatap Ye Chen, lalu kembali ke Gu Tian.
"Jika dua Tetua Sekte Pedang Darah itu mati di tangan seorang murid baru Tingkat 4... itu adalah aib mereka sendiri karena ketidakbecusan mereka. Akademi Bintang tidak akan meminta maaf karena murid kita terlalu berbakat!"
Kata-kata Tetua Mo menampar wajah Gu Tian. Itu adalah logika yang tak terbantahkan di dunia kultivasi: Kekuatan adalah kebenaran.
Gu Tian menggertakkan gigi. Dia tahu dia kalah argumen. Tetua Mo adalah salah satu tetua senior yang netral dan sangat protektif terhadap bakat akademi. Melawannya secara terbuka akan merusak reputasi Gu Tian.
"Baiklah," Gu Tian menyarungkan pedangnya dengan kasar. Dia menatap Ye Chen dengan tatapan berbisa.
"Tetua Mo melindungimu hari ini, Ye Chen. Tapi ingat... di Akademi Bintang, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Terutama bagi murid luar yang tidak punya latar belakang."
Gu Tian berbalik dan memberi isyarat pada anak buahnya. "Kita pergi!"
Komite Disiplin meninggalkan aula itu seperti air surut, meninggalkan Ye Chen dan Tetua Mo berdua.
Suasana kembali hening.
Ye Chen menyarungkan kembali pedang besarnya. Dia membungkuk sedikit—tanda hormat yang wajar, bukan ketundukan.
"Terima kasih atas bantuannya, Tetua Mo."
Tetua Mo menatap Ye Chen dalam-dalam. Matanya seolah menembus kulit dan melihat tulang Ye Chen.
"Jangan salah paham, Bocah. Aku tidak menyelamatkanmu karena aku menyukaimu. Aku menyelamatkanmu karena akademi butuh monster sepertimu untuk kompetisi antar-akademi tahun depan."
Tetua Mo melemparkan sebuah kunci besi berkarat kepada Ye Chen.
Ye Chen menangkapnya. "Ini?"
"Kunci tempat tinggalmu. Karena asrama murid luar sudah penuh, dan kau sepertinya suka menyendiri... aku menempatkanmu di Paviliun Bambu Hitam di pinggir Danau Roh."
Mata Tetua Mo berkilat jenaka. "Tempat itu luas, tenang, dan Qi-nya lumayan. Tapi... tidak ada yang berani tinggal di sana selama sepuluh tahun terakhir."
"Kenapa?"
"Kau akan tahu sendiri nanti. Sekarang pergilah. Dan Ye Chen..." Tetua Mo berbalik membelakangi Ye Chen.
"...Pedang di punggungmu itu terlalu mencolok. Jika kau tidak ingin Gu Tian mencari alasan lain untuk menangkapmu, temukan cara untuk menyembunyikannya atau menjadi cukup kuat sehingga tidak ada yang berani bertanya."
Ye Chen menggenggam kunci itu erat-erat. "Saya mengerti."
Paviliun Bambu Hitam.
Tempat itu terletak di sudut terpencil akademi, jauh dari keramaian asrama murid luar lainnya. Sesuai namanya, tempat itu dikelilingi oleh hutan bambu berbatang hitam yang lebat.
Suasananya suram. Kabut tipis menyelimuti permukaan danau di depannya. Bangunan paviliun itu sendiri terbuat dari kayu tua yang kokoh namun tampak tidak terawat, dengan atap yang dipenuhi lumut.
"Tempat hantu, ya?" Ye Chen tersenyum tipis.
Justru tempat seperti ini yang dia cari. Jauh dari mata-mata.
Ye Chen membuka pintu gerbang yang berderit. Halamannya luas, cukup untuk latihan pedang.
Dia masuk ke dalam rumah. Debu tebal menutupi perabotan sederhana di dalamnya.
Namun, saat Ye Chen melangkah ke ruang tengah, dia merasakan sesuatu yang aneh.
WUUUNG!
Mutiara Penelan Surga di dalam perutnya bergetar pelan.
"Ada fluktuasi energi di bawah tanah ini," sadar Ye Chen.
Dia mengeluarkan peta gabungan (2/3 bagian) dari sakunya. Titik merah yang menandakan lokasi harta karun Pagoda Bintang memang berada di pusat akademi. Tapi, ada garis tipis di peta itu yang menghubungkan Pagoda dengan... lokasi ini.
"Paviliun Bambu Hitam... ini bukan sekadar asrama hantu," mata Ye Chen berbinar. "Ini mungkin salah satu Node (Titik Simpul) dari formasi pelindung Pagoda."
Ye Chen tidak langsung menyelidikinya. Dia terlalu lelah.
Dia membersihkan satu ruangan tidur dengan angin dari telapak tangannya, lalu duduk bersila di atas tempat tidur kayu.
Dia mengeluarkan hasil jarahannya: Sepatu Naga Awan (yang sudah dia pakai), cincin penyimpanan Tetua Topeng, dan kapak patah Tetua Besi (untuk bahan tempa).
Ye Chen memeriksa isi cincin Tetua Topeng.
"Kaya raya..."
Ada sekitar 5.000 Batu Roh, berbagai pil racun, dan sebuah gulungan teknik bernama "Langkah Bayangan Hantu" (Ghost Shadow Step) — teknik tingkat Bumi Rendah.
"Teknik langkah ini... sepertinya versi lengkap dari Langkah Kilat Hantu yang kupelajari dari ingatan Asura. Mungkin Sekte Pedang Darah mencurinya dari warisan kuno yang sama."
Ye Chen memutuskan untuk mempelajari teknik ini nanti.
Sekarang, prioritasnya adalah satu hal: Menyembunyikan Pedang Pemecah Gunung.
Seperti kata Tetua Mo, membawa "peti mati" ke mana-mana itu merepotkan.
Ye Chen melihat ke cincin penyimpanan Tetua Topeng. Ruangannya cukup besar, sekitar 10 meter kubik. Tapi pedang Pemecah Gunung memiliki aura yang menolak untuk dimasukkan ke dalam ruang dimensi biasa. Senjata Besi Meteor Hitam memiliki "ego" yang berat.
"Kecuali..."
Ye Chen ingat teknik Penyusutan Senjata yang ada di dalam Sutra Hati Asura.
Dia menggigit jarinya hingga berdarah, lalu menggambar rune darah di bilah pedang hitam itu.
"Darah Asura, Ikat Jiwa. Kecil!"
Wuuung!
Pedang raksasa seberat 500 kg itu bergetar hebat. Cahaya merah menyelimutinya. Perlahan tapi pasti, pedang itu menyusut.
Dari dua meter, menjadi satu meter. Lalu menjadi seukuran belati. Dan akhirnya, menjadi seukuran liontin kalung kecil berbentuk pedang hitam.
Ye Chen mengambil liontin itu dan mengalungkannya di lehernya.
"Beratnya tetap sama," keluh Ye Chen, merasakan lehernya tertarik ke bawah seolah digantungi batu besar. "Tapi setidaknya lebih mudah dibawa."
Sekarang, dia terlihat seperti murid biasa tanpa senjata. Penyamaran yang sempurna.
Ye Chen berbaring, menatap langit-langit kayu yang lapuk.
"Gu Tian... Wang Long... Sekte Pedang Darah..."
Ye Chen memejamkan mata.
"Istirahatlah malam ini. Besok, aku akan mulai memanjat hierarki Akademi Bintang. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku berdiri di puncaknya."
Malam pertama Ye Chen di Akademi Bintang berlalu dalam kesunyian hutan bambu yang misterius, diiringi suara angin yang terdengar seperti bisikan pedang.
(Akhir Bab 31)