kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Setelah Ardiansyah pergi dengan wajah kecewa, Alendra masuk ke ruangannya dan mengunci pintu. Ia duduk di kursi kebesarannya, namun bukan dokumen yang ia buka. Ia menarik laci meja paling bawah yang terkunci rapat.
Di dalamnya, tersimpan cadar hitam milik Patricia.
Tangannya yang tadi begitu kejam memecat orang, kini menyentuh kain halus itu dengan sangat lembut, seolah takut kain itu akan hancur jika disentuh terlalu kasar. Alendra menempelkan cadar itu ke wajahnya, memejamkan mata erat-erat.
Alendra bergumam lirih, air matanya jatuh tanpa suara "Cia... lihat aku. Aku sudah menghancurkan diriku sendiri. Dunia ini begitu menjijikkan tanpamu... Kenapa kamu membiarkan aku menjadi iblis seperti ini?"
Mimik wajahnya berubah seketika, dari kemarahan yang meluap menjadi kesedihan yang sangat dalam. Bahunya yang lebar kini tampak merosot, menunjukkan betapa berat beban penyesalan yang ia pikul sendirian.
___
Di tempat lain, Rukayyah masih memantau perkembangan Alendra melalui laporan mata-matanya. Ia melihat bagaimana Alendra berubah menjadi sosok yang kejam.
Rukayyah menghela napas, bicara pada Hilman "Alen sudah benar-benar kehilangan arah, Mas. Dia berubah jadi diktator di kantornya. Apa kita tidak keterlaluan merahasiakan Patricia?"
Hilman menyesap kopinya, menatap ke arah luar jendela yang menampilkan pemandangan pesantren yang tenang. "Belum saatnya, Sayang. Jika dia bertemu Patricia sekarang dalam kondisi jiwanya yang penuh amarah dan dendam pada dunia, dia hanya akan menyakiti Patricia lagi. Biarkan dia hancur sampai ke titik paling bawah, sampai dia tidak punya kesombongan lagi untuk berdiri."
___
Malam itu, Alendra kembali ke paviliun. Ia tidak menyalakan lampu. Ia duduk di lantai, bersandar pada ranjang Patricia yang kosong. Ia merasa mual lagi, rasa sakit di perutnya yang bersifat psikosomatis itu kembali menyerang.
Ia memegang perutnya, merintih dalam kegelapan. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang sangat berharga yang seharusnya ia jaga. Ia tidak tahu bahwa jauh di sana, Patricia sedang mengusap perutnya yang sudah menonjol, mendoakan agar ayah dari bayinya itu diberikan hidayah dan ketenangan hati.
Alendra berbisik parau sebelum terlelap "Aku benci semua orang... aku benci diriku... tapi aku merindukanmu sampai rasanya aku ingin mati saja, Cia...."
***
Malam itu, hujan turun dengan lebat, membilas kaca-kaca besar di paviliun belakang. Alendra duduk di kursi goyang tua, kegelapan menjadi satu-satunya teman. Di tangannya ada segelas air putih yang tak tersentuh, sementara matanya menatap kosong ke arah pintu yang terkunci.
Tiba-tiba, suara ketukan tongkat kayu yang khas terdengar di lantai marmer.
Tok... tok... tok...
Pintu terbuka perlahan. Kakek Suhadi masuk dengan langkah yang berat namun tetap terlihat berwibawa. Beliau menatap cucunya dengan tatapan miris, pria di depannya ini bukan lagi Alendra yang penuh tawa, melainkan bayangan hitam yang penuh kebencian.
Kakek Suhadi duduk di kursi kayu di hadapan Alendra. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat tua yang sudah agak kusam di atas meja.
"Sampai kapan, Alen? Sampai semua bawahanmu lari karena ketakutan? Atau sampai kamu sendiri yang mati karena memakan amarahmu sendiri?"
Alendra tidak menoleh. Rahangnya mengeras. "Mereka tidak berguna, Kek. Sama seperti dunia ini yang tidak berguna tanpa dia."
Kakek Suhadi menghela napas panjang, suaranya bergetar "Kamu mencari Patricia dengan cara seorang raja yang angkuh, Alen. Kamu mencarinya dengan kekuasaan, dengan uang, dengan amarah. Itulah sebabnya Tuhan tidak mengizinkanmu menemukannya. Karena Patricia bukan sedang lari darimu, dia sedang berlindung dari dirimu yang dulu."
Alendra menoleh perlahan, matanya yang merah menatap kakeknya dengan tajam. "Lalu aku harus apa? Aku sudah hancur, Kek! Apa itu belum cukup?"
Kakek Suhadi mendorong amplop itu ke depan dada Alendra. "Bukalah. Ini adalah foto keluarga sahabat kakek tiga puluh tahun yang lalu. Saat mendiang nenekmu masih ada."
Dengan tangan gemetar, Alendra membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah foto hitam putih yang sudah menguning. Di sana terlihat Kakek Suhadi muda berdiri bersama seorang pria bersahaja dengan jubah ulama yang gagah.
"Siapa ini?"tanya Alendra mengerutkan keningnya. Ada rasa penasaran yang membuncah.
"Itu adalah sahabat karib kakek, Kyai sepuh dari Jawa Timur. Dan anak kecil yang berdiri di sampingnya itu adalah Azmi. Sekarang dia sudah menjadi Gus yang disegani. Jika ada satu tempat di dunia ini di mana seorang wanita yang terluka ingin mencari ketenangan tanpa bisa ditemukan oleh dunia luar, tempat itu adalah pesantrennya."
Alendra membalik foto itu. Di belakangnya, tertulis sebuah alamat dengan tulisan tangan yang rapi, Pondok Pesantren Al-Hidayah, lereng gunung wilayah Jawa Timur.
Jantung Alendra berdegup kencang. Ia mencengkeram foto itu hingga sedikit terlipat. Ada kilatan cahaya yang kembali muncul di matanya, bukan cahaya tawa, melainkan cahaya harapan yang menyakitkan.
"Kek... kenapa kakek baru memberitahuku sekarang?" tanya Alendra penuh kekecewaan.
Kakek Suhadi menatap Alendra dalam-dalam. "Karena dulu kamu adalah api yang akan membakar apa pun yang kamu sentuh. Sekarang, kulihat apimu sudah padam, tinggal abunya saja. Pergilah ke sana bukan sebagai Alendra sang CEO, tapi sebagai Alendra yang ingin bersujud meminta maaf."
Alendra berdiri dengan mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang. Ia tidak membawa jasnya, tidak membawa dompet tebalnya, ia hanya mengambil kunci mobil dan cadar hitam yang selalu ia simpan.
***
Tanpa pamit pada Ardiansyah atau ibunya, Alendra memacu mobilnya membelah malam. Ia berkendara selama berjam-jam menuju timur, melewati jalanan tol yang sepi hingga masuk ke area pedesaan yang berkabut.
Fajar mulai menyingsing saat ia memasuki kawasan pegunungan. Udara dingin merasuk hingga ke tulang, namun perutnya yang biasanya mual karena stres, kini terasa aneh, ada rasa hangat yang menjalar, seolah-olah batinnya mulai terhubung dengan sesuatu yang sangat dekat.
Mobil Alendra berhenti di sebuah pasar tradisional kecil yang ramai oleh penduduk desa. Ia turun dari mobil, penampilannya kontras dengan orang-orang pasar, kemeja hitam yang kusut dan wajah yang penuh dengan sisa-sisa duka.
Ia melangkah perlahan di antara kerumunan pedagang sayur. Tiba-tiba, langkahnya terhenti total. Paru-parunya seakan lupa cara bernapas.
Sekitar sepuluh meter di depannya, seorang wanita berpakaian gamis lebar berwarna biru dongker dengan cadar hitam sedang berdiri di depan penjual jeruk. Wanita itu tampak sedikit kesulitan saat hendak mengangkat tas belanjaannya yang berat.
Namun, bukan cadarnya yang membuat jantung Alendra seolah berhenti berdetak. Melainkan gerakan tangan wanita itu yang secara otomatis mengusap perutnya yang sudah sedikit bulat dan besar di balik gamis longgarnya.
Alendra berbisik dengan bibir yang bergetar hebat "Pa... Patricia?"
Wanita itu sejenak menoleh ke arah suara, matanya yang teduh bertemu dengan mata Alendra yang liar. Wanita itu tersentak, tangannya yang memegang jeruk jatuh ke tanah, berhamburan.