Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.
Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.
Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sudah malam.
Ia membelokkan mobil ke arah rumahnya. Dan di sanalah Farhan melihatnya.
Kinara.
Perempuan itu sudah berdiri di teras rumah, mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda. Hijabnya terpasang rapi. Lampu teras menerangi wajahnya dengan cahaya hangat. Begitu melihat mobil Farhan mendekat, Kinara tersenyum. Senyum yang selalu sama. Senyum yang entah sejak kapan mulai terasa berbeda di mata Farhan.
Beberapa saat kemudian mobil akhirnya berhenti tepat di depan teras. Farhan mematikan mesin mobilnya lalu diam sejenak untuk menatap ke depan, seolah olah sedang mempersiapkan dirinya sebelum menemui Kinara. Ia kemudian membuka pintu mobil dan turun.
“Assalamu’alaikum,” ucap Farhan saat langkahnya mencapai teras.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Kinara dengan lembut.
Tanpa ragu, Kinara mendekat. Tangannya terulur, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat. Gerakannya begitu alami, begitu tulus, hingga Farhan sempat terdiam sepersekian detik.
"Mas udah pulang,” kata Kinara pelan, seperti biasa dan membuat Farhan mengangguk kecil.
“Iya.”
Kinara lalu meraih tas kerja Farhan.
“Biar aku bawakan, mas.” katanya ringan, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Farhan tidak menolak. Ia juga menyerahkan kotak bekal yang sejak pagi dibawanya yang langsung Kinara terima semuanya dengan sigap, lalu melangkah masuk ke dalam rumah di samping Farhan. Begitu pintu tertutup, suasana hangat langsung menyelimuti mereka. Aroma rumah yang bersih dan nyaman membuat Farhan tanpa sadar mengendurkan bahunya.
“Capek ya?” tanya Kinara sambil meletakkan tas kerja dan bekal Farhan di meja kecil dekat ruang tamu.
“Sedikit,” jawab Farhan jujur.
“Hari ini, sepertinya mas kelihatan sibuk banget?”
Farhan melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk lebih jauh.
“Iya. Ada proposal dari mitra Jepang yang harus aku teliti hari ini juga, belum lagi beberapa pertemuan bisnis yang harus aku datangi.”
“Oh.” Kinara tersenyum kecil. “Berarti lumayan padat, ya?”
“Lumayan.”
Kinara mengikuti langkah Farhan ke ruang tengah.
“Mas makan siang tadi gimana? Bekalnya dimakan, nggak?” tanya Kinara yang membuat
Farhan meliriknya.
“Dimakan.”
“Syukurlah.” Nada suara Kinara terdengar lega. “Aku sempat khawatir mas lupa makan siang karena pekerjaan mas yang banyak.”
Farhan terdiam. Kinara selalu berhasil membuatnya terkejut dengan caranya yang selalu peduli dan begitu mengkhawatirkan dirinya.
“Kamu sendiri gimana hari ini?” tanya Farhan spontan yang membuat Kinara terlihat sedikit terkejut, tapi segera tersenyum.
“Biasa aja, mas. Aku beresin rumah, nyuci, sama sempat baca Al Quran sebentar.”
Farhan mengangguk. Hening singkat tercipta di antara mereka, tapi tidak terasa canggung. Justru terasa tenang. Kinara lalu menoleh dan memperhatikan wajah Farhan lebih saksama.
“Mas kelihatan capek. Mandi dulu, ya. Aku siapin makan malam sekarang.”
Farhan hendak menjawab, tapi Kinara sudah lebih dulu berjalan ke arah dapur.
“Nanti aku panggil kalau sudah siap.”
Langkah Kinara terlihat ringan sementara suaranya terdengar pelan. Seolah semua ini adalah rutinitas yang sudah ia jalani dengan sejak lama dengannya. Farhan berdiri di tempatnya selama beberapa detik. Dadanya terasa hangat, tapi juga berat. Ia menatap sosok Kinara yang menjauh, lalu menghela napas pelan.
“Iya,” katanya akhirnya, meski Kinara mungkin sudah tidak mendengarnya.
Farhan melangkah menuju ke kamarnya. Di sepanjang lorong, pikirannya kembali sibuk. Semua rencana yang ia susun di kepalanya sejak di mobil terasa buyar begitu saja saat melihat Kinara menyambutnya dengan cara seperti itu.
Di kamar mandi, Farhan menyalakan keran. Air mengalir dan membasahi tangannya. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya terlihat lebih lelah dari yang ia kira.
“Kamu benar-benar harus melakukan ini, Farhan.” katanya pada dirinya sendiri.
Bukan karena kewajiban. Bukan karena perannya sebagai suami. Tapi karena ia ingin.
Saat air mengalir membasahi kepalanya, Farhan memejamkan matanya. Dalam benaknya, kembali terlintas adegan sore tadi. Pegawai perempuan yang tersenyum bahagia saat menerima bunga dari suaminya. Dan entah sejak kapan, ia ingin melihat tatapan seperti itu di mata Kinara. Karena dirinya.
Selesai mandi, Farhan berganti pakaian dengan kaus rumah yang sederhana. Rambutnya masih sedikit basah saat ia keluar dari kamar. Aroma masakan tercium dari dapur dan membuat perutnya terasa lapar. Kinara terlihat sibuk di dapur. Tangannya dengan cekatan mengaduk masakan yang ia buat. Begitu mendengar langkah Farhan, ia menoleh.
“Sudah selesai?” tanya Kinara pada suaminya.
“Iya.”
“Duduk dulu mas. Sebentar lagi makanannya matang.”
Farhan duduk di kursi makan. Ia memperhatikan Kinara dari jarak beberapa meter. Cara perempuan itu memasak. Cara ia fokus pada apa yang ia lakukan. Sesekali Kinara mencicipi masakan, lalu mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
“Aku masak sederhana aja,” kata Kinara tanpa menoleh. “Takut mas terlalu lapar.”
Farhan menelan ludah.
“Apa pun nggak masalah.”
Kinara tersenyum kecil mendengarnya.
Tak lama kemudian, Kinara menyajikan makanan di meja. Nasi hangat, ayam goreng dan perkedel kentang yang disertai dengan sup bening. Tidak mewah tapi terlihat nikmat jika dimakan dalam keadaan perut kosong.
“Makanannya udah matang, dimakan ya mas,” kata Kinara yang membuat Farhan mengangguk.
“Makasih.”
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Sesekali Kinara melirik Farhan, untuk memastikan suaminya makan dengan baik. Farhan sendiri lebih banyak diam dan tenggelam dalam pikirannya. Kotak cincin itu terasa seperti ada di sakunya, meski sebenarnya tersimpan aman di tempat lain.
Ia masih belum menemukan cara untuk memberikan kejutan itu kepada Kinara. Setelah makan, Kinara langsung membereskan meja makan. Farhan membantu membawa piring ke dapur tanpa diminta. Kinara menoleh, merasa sedikit terkejut dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya.
“Biar aku aja, mas.” katanya.
“Nggak apa-apa, biar mas bantu.” jawab Farhan singkat.
Kinara tidak membantah. Ia hanya tersenyum kecil. Malam semakin larut. Suasana rumah terasa damai. Dan di balik ketenangan itu, Farhan tahu, ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ia harus memberikan kejutan itu kepada Kinara. Ia ingin memilih waktu yang tepat dan cara yang tepat. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Farhan tidak ingin melakukan sesuatu dengan setengah hati.
Malam kian larut ketika pasangan suami istri itu selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga mereka bersama sama. Kinara mengelap tangannya dengan lap kecil, lalu menata piring terakhir ke rak makan. Farhan berdiri di sampingnya, lalu menaruh gelas yang baru saja ia keringkan.
“Udah semua,” ujar Farhan pelan yang membuat Kinara mengangguk.
“Iya. Makasih ya, mas, udah bantu Kinara cuci piring.”
“Sama-sama.”
Ada jeda kecil setelah itu. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang terasa akrab. Mereka lalu melangkah bersama keluar dari dapur, berjalan beriringan menuju kamar. Langkah Kinara terlihat ringan, sementara Farhan berjalan sedikit di belakangnya dan memperhatikan punggung istrinya tanpa sadar.
Artinya harus siap menerima akibat atau hasil dari setiap pilihan dan tindakan yang telah kamu lakukan, baik itu baik maupun buruk, karena semua perbuatan pasti memiliki dampak yang harus dihadapi sebagai bagian dari hukum sebab-akibat untuk belajar tanggung jawab dan berkembang.
Ini melibatkan keberanian untuk menghadapi hasil, tidak menyalahkan orang lain, dan belajar dari pengalaman tersebut...🤗
maaf hanya sbg koreksi sj🙏
Memang dalam beberapa budaya, benda yang pecah, terutama yang berhubungan dengan seseorang atau kenangan tertentu, dianggap sebagai tanda akan datangnya musibah.
Mitos ini sering kali dikaitkan dengan kepercayaan bahwa roh atau energi tertentu mencoba menyampaikan pesan melalui peristiwa tersebut.
Di beberapa tradisi, khususnya di negeri konoha, pecahnya kaca dianggap sebagai pertanda buruk karena kaca sering dikaitkan dengan refleksi jiwa seseorang.
Ada juga yang percaya bahwa jika foto seseorang jatuh dan pecah, itu bisa menjadi pertanda bahwa orang tersebut akan mengalami nasib buruk atau bahkan kemalangan...🤭😊