NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya bisa menangis

Aku masih membeku di halaman rumah.

Pandangan mataku kosong ke arah jalan yang tadi dilewati mobilnya. Debu yang sempat terangkat sudah turun kembali. Suasana kembali biasa.

Tapi hatiku tidak.

“Zahra…” suara Ibu lembut dari belakangku. “Masuk dulu, Nak. Makan siang.”

Aku menggeleng pelan. “Nggak lapar, Bu.”

Ibu menghela napas kecil. Ayah mendekat, berdiri di sampingku sambil ikut melihat jalan.

“Lihat tuh putrimu,” kata Ibu pada Ayah, setengah berbisik tapi sengaja terdengar olehku. “Sudah bisa nangisin laki-laki. Padahal dulu hampir menolaknya.”

Ayah langsung tertawa pelan.

Aku menoleh, wajahku memerah. “Ayah…”

Ayah tersenyum lebar. “Dulu waktu dia pertama kali datang, kamu malah sembunyi di kamar. Sekarang baru dua hari ditinggal sudah begini.”

Aku hanya diam.

Malu.

Tapi juga tidak punya tenaga untuk membalas.

Ayah menepuk pundakku pelan. “Dua hari itu nggak kerasa. Tahu-tahu juga sudah pulang.”

Aku mengangguk kecil, walau rasanya tetap berat.

Aku akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahku terasa lambat, seperti setiap pijakan memikirkan sesuatu.

Rumah yang tadi terasa hangat karena kehadirannya kini terasa terlalu luas.

Aku langsung menuju kamar lamaku.

Pintu kututup perlahan.

Dan begitu sendirian, napasku terasa sesak.

Aku duduk di tepi kasur. Tanganku memegang ujung sprei, menatap kosong ke dinding yang penuh foto lama.

Di salah satu sudut ada foto keluargaku saat aku masih SMA. Wajahku terlihat canggung, tersenyum tipis.

Dulu aku pikir hidupku akan berjalan biasa saja. Tidak pernah kubayangkan akan ada seseorang yang kepergiannya selama dua hari saja bisa membuatku seperti ini.

Air mataku kembali jatuh.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

Kenapa rasanya seperti ditinggalkan lama sekali?

Padahal baru beberapa menit.

Ponselku bergetar.

Aku langsung mengangkat kepala, buru-buru meraih ponsel di atas meja kecil.

Satu pesan.

Dari dia.

Aku baru sampai bandara. Jangan nangis lagi.

Aku terdiam.

Bagaimana dia tahu?

Tangisku justru semakin deras.

Aku membalas cepat.

Aku nggak nangis.

Tak lama balasan muncul.

Bohong. Pasti matamu merah.

Aku bisa membayangkan ekspresinya saat mengetik itu—senyum tipis yang selalu membuatku kalah.

Aku cuma capek, balasku lagi.

Beberapa detik hening.

Lalu pesan berikutnya muncul.

Aku pergi bukan buat ninggalin kamu. Ingat itu.

Dadaku kembali terasa hangat sekaligus perih.

Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Hati-hati ya.

Baik. Kamu makan dulu.

Aku menatap pesan itu lama.

Makan?

Rasanya bahkan menelan air pun sulit.

Tiba-tiba pintu diketuk pelan.

“Zahra?” suara Ibu.

“Iya, Bu.”

Ibu masuk perlahan, membawa segelas air.

“Ibu tahu kamu nggak nafsu makan. Tapi minum dulu.”

Aku menerima gelas itu pelan.

Ibu duduk di sampingku.

“Cinta itu memang begitu,” katanya lembut. “Awalnya kamu takut. Sekarang kamu takut kehilangan.”

Aku menunduk.

“Aku cuma nggak suka rasanya, Bu. Kayak kosong.”

Ibu tersenyum tipis. “Kosong itu bukan karena dia pergi. Kosong itu karena kamu terbiasa ada dia.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana. Tapi benar.

Sejak menikah, aku hampir selalu ada di dekatnya. Bahkan dalam diam pun, kehadirannya terasa.

Sekarang tiba-tiba sunyi.

Ibu berdiri pelan. “Istirahatlah. Nanti sore bantu Ibu di dapur biar kamu nggak kepikiran terus.”

Aku mengangguk.

Setelah Ibu keluar, aku kembali melihat ponselku.

Statusnya sudah centang dua.

Mungkin dia sedang boarding.

Mungkin sebentar lagi pesawatnya lepas landas.

Aku berbaring di kasur, memeluk bantal.

Air mataku masih jatuh pelan.

Aku merasa konyol.

Dua hari saja.

Tapi kenapa rasanya seperti ujian besar?

Aku menutup mata, mencoba mengatur napas.

Di kepalaku terbayang wajahnya tadi sebelum masuk mobil. Senyumnya. Cara ia mengusap kepalaku. Cara ia bilang “dua hari” dengan yakin.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Kalau begini saja aku sudah menangis…

Bagaimana nanti kalau benar-benar harus berjauhan lebih lama?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sampai akhirnya entah kapan aku tertidur.

Tangisku mungkin masih basah di pipi saat kesadaranku hilang.

“Zahra… Zahra bangun, Nak.”

Aku merasakan pundakku digoyang pelan.

Mataku terbuka perlahan. Cahaya matahari sudah tidak seterang tadi. Langit di luar jendela berwarna jingga lembut.

“Sudah sore,” kata Ibu lembut. “Mandi dulu ya. Habis itu bantu Ibu di dapur.”

Aku hanya mengangguk pelan.

Tubuhku terasa berat. Bukan karena kurang tidur, tapi karena hatiku seperti tertinggal di tempat lain.

Setelah Ibu keluar, aku duduk beberapa detik di tepi kasur. Kamar terasa sunyi. Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada pesan baru.

Mungkin dia sudah di pesawat.

Aku bangkit perlahan menuju kamar mandi. Air yang mengguyur kepalaku terasa dingin, membuatku sedikit tersadar. Tapi tetap saja, semangatku seperti hilang entah ke mana.

Biasanya aku akan bersenandung pelan saat mandi. Sekarang bahkan untuk mengangkat kepala pun rasanya malas.

Aku menatap bayanganku di cermin setelah selesai.

Mataku sedikit sembab.

“Kenapa sih kamu lebay banget,” gumamku pada diri sendiri.

Tapi jauh di dalam hati, aku tahu ini bukan soal lebay.

Ini soal terbiasa.

Di dapur, aroma bawang goreng dan tumisan sayur mulai memenuhi ruangan.

Ibu sedang memotong cabai, Ayah duduk di meja kecil sambil membaca koran lama.

“Kok lemes begitu mukanya?” goda Ayah begitu melihatku masuk.

Aku memaksakan senyum tipis. “Biasa aja.”

Ibu menyerahkan aku talenan. “Tolong potong ayamnya ya.”

Aku mulai memotong pelan. Gerakanku lambat. Pisau di tanganku terasa lebih berat dari biasanya.

Beberapa kali Ibu melirikku.

“Kamu ini kayak orang kehilangan sesuatu,” katanya sambil tersenyum tipis.

Aku terdiam.

Ayah tertawa kecil dari meja. “Baru juga berangkat beberapa jam.”

Aku mendengus pelan. “Ayah sama Ibu kompak banget sih ngeledek aku.”

Ibu mendekat sedikit, suaranya lebih lembut. “Bukan ngeledek. Ibu cuma senang.”

“Senang?” aku mengerutkan kening.

“Iya. Dulu kamu selalu takut dekat dengan siapa pun. Sekarang kamu takut jauh.”

Aku berhenti memotong.

Kalimat itu membuat tanganku gemetar sedikit.

Ayah menambahkan, “Artinya kamu sudah benar-benar menerima dia.”

Aku menunduk lagi.

Menerima.

Ya.

Mungkin inilah rasanya menerima seseorang sepenuhnya—ikut merasakan kosong saat dia tak ada.

Tiba-tiba ponselku yang kutaruh di meja bergetar.

Refleks aku langsung meraihnya.

Satu pesan.

Dah landing.

Dadaku langsung terasa hangat.

Aman? balasku cepat.

Beberapa detik kemudian:

Aman. Kamu udah makan?

Aku melirik Ibu yang pura-pura sibuk, tapi jelas sedang memperhatikan ekspresiku.

Udah, jawabku singkat, walau sebenarnya belum.

Bohong lagi ya?

Aku spontan tersenyum kecil.

Ibu langsung berbisik pelan ke Ayah, “Nah kan, hidup lagi itu wajahnya.”

Ayah terkekeh.

Aku memutar mata, tapi tidak bisa menahan senyumku.

Kamu jangan lupa makan juga, ketikku.

Siap. Jangan melamun terus.

Aku terdiam sejenak membaca pesan itu.

Melamun.

Ya, dari tadi memang itu yang kulakukan.

Aku menyimpan ponsel, lalu kembali membantu Ibu. Kali ini gerakanku sedikit lebih cepat.

Walau semangatku belum sepenuhnya kembali, setidaknya ada rasa hangat yang menyelip di sela kosong tadi.

Selesai memasak, kami makan bersama.

Aku memang tidak terlalu lapar, tapi kupaksa diri untuk menghabiskan sedikit.

“Gitu dong,” kata Ayah puas. “Jangan sampai dua hari ini kamu cuma nangis.”

Aku menunduk malu. “Aku nggak nangis lagi kok.”

Ibu tersenyum lembut. “Rindu itu wajar. Tapi jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Aku terdiam.

Kehilangan diri sendiri.

Jangan sampai hanya karena dua hari aku jadi orang yang berbeda.

Malam mulai turun perlahan.

Setelah membereskan dapur, aku kembali ke kamar. Kali ini tidak seberat tadi siang.

Aku duduk di kasur, menatap ponselku.

Tidak ada pesan baru.

Mungkin dia sedang sibuk.

Aku menarik napas pelan.

Hari pertama belum selesai.

Dan ternyata… bertahan tanpa dirinya tidak semudah yang kubayangkan.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu—

Aku memang kehilangan semangat sesaat.

Namun di sela rasa kosong itu, ada satu hal yang tumbuh semakin jelas:

Aku benar-benar merindukannya.

Dan ini baru hari pertama.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!