Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 - garis yang tidak dilangkahi
Gudang Batu Lama masih diselimuti kabut pagi saat Qing Lin tiba.
Zhao Ming sudah di sana.
Ia duduk di atas peti batu, satu kaki terangkat, pedang tergantung santai di pinggang. Tatapannya menyapu Qing Lin tanpa emosi—seperti menilai barang.
“Datang juga,” katanya.
Qing Lin mengangguk tipis, lalu langsung bekerja.
Ia tidak berbicara.
Tidak menantang.
Namun justru itu yang membuat Zhao Ming tidak nyaman.
“Dengar,” kata Zhao Ming setelah beberapa saat, “kau tahu kenapa murid luar harus patuh?”
Qing Lin terus mengangkat batu. “Karena sistem.”
Zhao Ming tertawa pendek. “Karena lemah.”
Ia berdiri.
Qi tipis muncul di sekitar tubuhnya—hijau pucat, jelas terlihat.
“Kalau kau memang aneh,” lanjutnya, “tunjukkan. Jangan sembunyi.”
Qing Lin meletakkan batu.
Ia menatap Zhao Ming.
“Aku tidak ingin masalah.”
Zhao Ming menghela napas, seolah kecewa.
“Sayang.”
Ia melangkah maju.
Tanpa aba-aba, Zhao Ming menghantamkan tinju ke arah dada Qing Lin.
Tidak mematikan.
Namun cukup untuk mematahkan tulang murid luar biasa.
Qing Lin menggeser tubuhnya setengah langkah.
Tinju itu mengenai bahu.
Rasa sakit menjalar.
Namun Qing Lin tidak terpental.
Zhao Ming terkejut.
“Hmm?”
Qing Lin mundur satu langkah.
Ia tidak menyerang balik.
“Aku sudah bilang,” katanya pelan, “aku tidak ingin.”
Zhao Ming tersenyum dingin.
“Kalau begitu, bertahan.”
Qi Zhao Ming melonjak.
Ia menyerang lagi—lebih cepat.
Qing Lin mengangkat lengan, menangkis.
Benturan terjadi.
Buk!
Tubuh Qing Lin terdorong mundur beberapa langkah, namun tetap berdiri.
Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya.
Sutra Darah Sunyi bergejolak.
Bukan karena luka.
Melainkan karena tekanan hidup dan mati.
Qing Lin menutup mata sesaat.
Ia mengatur napas.
Menekan kitab itu.
“Jangan,” bisiknya.
Ia membuka mata.
Tatapannya tenang.
Zhao Ming mulai kesal.
Ia mencabut pedang.
“Cukup main-main.”
Pedang menyambar.
Qing Lin menghindar sempit.
Bilah pedang menggores lengan.
Darah jatuh ke lantai batu.
Saat itu—
Sutra Darah Sunyi menyerap tanpa izin.
Qi melonjak.
Bukan meledak.
Melainkan memadat.
Qing Lin merasakan dunia melambat.
Ia melangkah masuk ke jangkauan Zhao Ming.
Satu pukulan.
Tidak diarahkan ke jantung.
Melainkan ke rusuk.
Krakk.
Zhao Ming terlempar, menghantam peti batu.
Ia batuk darah.
Sunyi.
Qing Lin berdiri terdiam.
Tangannya gemetar hebat.
Ia mundur.
“Aku tidak ingin membunuhmu,” katanya dengan suara serak.
Zhao Ming menatapnya dengan mata melebar.
Takut.
Bukan karena luka.
Melainkan karena ketiadaan aura yang seharusnya tidak mungkin.
Langkah kaki terdengar.
Liang He muncul di pintu gudang.
Wajahnya pucat.
“Apa yang terjadi di sini?”
Zhao Ming tidak menjawab.
Qing Lin menunduk. “Dia menyerang lebih dulu.”
Liang He menatap Zhao Ming.
Ia tahu.
Ini bukan pertarungan seimbang.
Namun tidak ada mayat.
Tidak ada saksi qi liar.
“Masalah ini akan dilaporkan,” kata Liang He kaku.
Qing Lin mengangguk.
Malam itu, di Aula Batu Tengah, Gu Yan membaca laporan.
Ia menutup mata lama.
“Dia menahan diri,” katanya akhirnya.
Penatua Shen mengangguk. “Tapi garisnya makin dekat.”
Di asrama, Qing Lin membalut lukanya.
Ia duduk bersila.
Sutra Darah Sunyi berputar lebih cepat dari sebelumnya.
Ia menekan.
Menekan.
Menekan.
“Aku tidak akan melangkah lebih jauh,” katanya.
Namun di dunia kultivasi—
garis sering kali ditarik oleh orang lain.
Dan takdir sering mempermainkan manusia......jadi inilah dunia kultivasi