Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Malam semakin larut, namun amarah di dada Alexander Eduardo justru semakin berkobar. Di dalam mobil sport mewahnya yang melaju membelah jalanan Jakarta, genggaman tangan Alex pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Laporan dari rumah sakit tentang adanya "yayasan anonim" yang mencampuri administrasi ibu Almira adalah kepingan puzzle terakhir yang ia butuhkan.
Hanya ada satu orang yang cukup berani, cukup licik, dan punya motif cukup kuat untuk melakukan itu: Elara.
Alex mengerem mobilnya dengan suara decitan ban yang memilukan di depan penthouse pribadi Elara. Tanpa mempedulikan satpam yang mencoba menyapanya, ia melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap hingga orang-orang di lobi menepi dengan ketakutan.
Elara sedang duduk santai di balkonnya, menyesap anggur merah sambil menatap gemerlap kota, saat pintu depan apartemennya didobrak paksa. Ia tersentak, menjatuhkan gelas kristalnya hingga pecah berkeping-keping.
"Alex! Kau gila?! Apa yang kau lakukan?" teriak Elara, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan.
Alex berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman lonceng kematian. Ia menyudutkan Elara ke pagar balkon, mencengkeram kedua sisi pagar dengan tangannya, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim namun mematikan.
"Di mana dia, Elara?" suara Alex rendah, parau, dan mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
"Siapa? Gadis pembantu itu? Bukankah dia sudah pergi? Dia sendiri yang menulis surat itu—"
"Jangan coba-coba membodohiku lagi!" raung Alex. Ia meraih dagu Elara, memaksanya menatap matanya yang memerah. "Aku tahu tentang yayasan itu. Aku tahu kau yang memindahkan administrasi ibunya. Tidak ada orang lain yang punya akses dan alasan untuk menyingkirkan Almira selain kau. Katakan di mana kau menyembunyikannya, atau aku bersumpah, besok pagi semua aset keluargamu akan menjadi sejarah!"
Wajah Elara memucat. Ia belum pernah melihat Alex semurka ini. Selama sepuluh tahun ia mempermainkan pria ini, Alex selalu bertekuk lutut padanya. Namun malam ini, pria di depannya bukan lagi Alex yang memujanya; ini adalah Alexander Eduardo, sang predator bisnis yang tidak mengenal ampun.
"Kau membela dia?" Elara tertawa histeris, air mata mulai merusak riasannya. "Gadis miskin itu? Dia hanya rahim bayaran, Alex! Aku melakukan ini untukmu! Aku menyelamatkan reputasimu!"
"KAU MENGHANCURKANKU, ELARA!" bentak Alex. "Dia membawa anakku! Dan kau membantunya pergi agar dia bisa membunuh anak itu? Di mana dia?!"
Elara gemetar hebat. Ia menyadari bahwa kekuasaannya atas Alex telah sirna, digantikan oleh obsesi baru pria itu terhadap Almira. "Aku tidak tahu dia di mana sekarang! Aku hanya memberinya uang dan tiket bus ke Jawa Tengah! Orang suruhanku menurunkannya di terminal. Setelah itu, aku tidak tahu lagi!"
Alex melepaskan Elara dengan perasaan muak yang luar biasa. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena pernah mencintai wanita sekejam ini. "Jika terjadi sesuatu pada Almira atau anak itu, Elara... kau akan berharap kau tidak pernah lahir ke dunia ini."
Alex melangkah pergi, meninggalkan Elara yang terduduk lemas di lantai, menangis meratapi kehancuran rencananya.
Sementara itu, di sebuah desa terpencil yang dikelilingi perbukitan, Almira terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di perut bagian bawahnya. Rumah kayu kecil yang ia tempati terasa sangat dingin. Hujan di desa ini lebih ganas daripada di kota, suaranya menderu-deru menghantam atap seng yang sudah berkarat.
Almira mencoba bangkit untuk mengambil air, namun kakinya terasa lemas. Ia merangkak di lantai tanah yang lembap, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Nak... tolong bertahan," bisiknya sambil meremas perutnya.
Rasa mual yang biasanya datang kini berganti dengan rasa melilit yang mencekam. Batin Almira bergejolak. Ia merasa sangat kesepian. Di Jakarta, meski ia disiksa secara mental oleh Alex, setidaknya ada Bi Inah yang memperhatikannya, ada fasilitas yang menjamin hidupnya. Di sini, ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah orang asing yang bersembunyi.
Ia teringat wajah Alex saat terakhir kali mereka bertemu. Kecupan di dahinya... apakah itu nyata? Atau hanya imajinasinya yang merindukan kasih sayang? Almira menggeleng kuat-kuat. Tidak, Alex adalah monster yang menginginkan nyawa anaknya. Ia lebih baik mati di sini daripada kembali ke tangan pria itu.
Namun, rasa sakit itu semakin menjadi. Saat ia melihat ke bawah, ada noda merah yang mulai merembes di kain sarungnya.
"Tolong! Siapa saja... tolong!" teriak Almira, namun suaranya tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar.
Beruntung, Pak Darmo, pria yang menjemputnya kemarin, datang untuk mengantarkan nasi bungkus. Ia terkejut melihat Almira tergeletak pingsan di dekat pintu dengan pendarahan.
Alex kembali ke kantornya di tengah malam. Ia mengumpulkan seluruh tim elit pencari bakat dan detektif swasta terbaik yang bisa dibeli dengan uang.
"Cari setiap bus yang berangkat menuju Jawa Tengah semalam. Periksa setiap CCTV terminal di sepanjang rute utara dan selatan. Aku ingin koordinat akurat dalam waktu tiga jam!" perintah Alex.
Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap jendela yang basah oleh hujan. Penderitaan batin yang ia rasakan kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Dulu ia sombong, menganggap Almira hanya alat. Kini, ia merasa seperti orang gila yang kehilangan separuh jiwanya.
"Maafkan aku, Almira..." bisiknya pelan.
Arogansinya yang dulu setinggi langit kini runtuh. Ia mulai menyadari bahwa sikap kasarnya selama ini hanyalah cara untuk membentengi hatinya yang rapuh. Ia takut mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis yang seharusnya ia benci. Cinta itu tumbuh seiring waktu, melalui sentuhan-sentuhan yang awalnya ia klaim sebagai nafsu, namun perlahan berubah menjadi ketergantungan.
Ponselnya bergetar. Sebuah laporan masuk.
"Tuan, kami menemukan rekaman di Terminal Purwokerto. Seorang gadis dengan ciri-ciri Nona Almira terlihat turun dari bus pukul lima sore kemarin. Dia dijemput oleh seorang pria lokal dengan motor tua."
"Lacak motor itu! Cari tahu siapa pemiliknya!" perintah Alex dengan mata yang berkilat penuh harapan.
Di sebuah puskesmas desa yang sangat sederhana, Almira terbaring lemah dengan selang infus terpasang di tangannya. Dokter desa mengatakan bahwa ia mengalami ancaman keguguran akibat stres berat dan kelelahan.
Almira menatap langit-langit puskesmas yang mengelupas. Ia merasa sangat lelah. Lelah berlari, lelah bersembunyi, dan lelah mencintai pria yang tidak seharusnya ia cintai. Ya, dalam diamnya yang paling dalam, Almira menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Alexander Eduardo—monster yang menghancurkan hidupnya, namun juga satu-satunya pria yang pernah mengisi kekosongan harinya dengan gairah yang membakar, meski gairah itu berbalut luka.
"Tuan Alex... jika Anda tahu saya masih mempertahankan anak ini, apakah Anda akan tetap membenci kami?" gumamnya lirih sebelum kembali jatuh ke dalam tidur yang tidak tenang.
Di tempat lain, Alex sudah berada di dalam helikopter pribadinya, terbang menuju Jawa Tengah menembus badai. Ia tidak peduli pada risiko penerbangan di cuaca buruk. Baginya, setiap detik tanpa Almira adalah siksaan yang lebih berat daripada kematian.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, jika ia berhasil menemukan Almira kali ini, ia tidak akan pernah lagi merendahkan harga diri gadis itu. Ia akan membangun kembali apa yang telah ia hancurkan, meski ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk memohon ampunan.