NovelToon NovelToon
Pilot'S Barbaric Triplets

Pilot'S Barbaric Triplets

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Konglomerat berpura-pura miskin / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Office Romance
Popularitas:26k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞

______________________________________________

"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?

Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.

Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.

Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.

Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah luka-luka mereka diobati, keheningan singkat menyelimuti markas The Mavericks. Cia, yang merasa sedikit canggung dengan situasi tersebut, mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menghadap ke lapangan basket di samping bangunan. Matanya berbinar, seolah menemukan pelarian dari kecanggungan yang ia rasakan.

Aksa, yang tak pernah kehilangan kesempatan untuk mencuri perhatian Cia, mengikuti arah pandang gadis itu. Senyum tipis menghiasi bibirnya saat melihat Cia tertarik pada lapangan basket. "Lo bisa main basket?" tanyanya, dengan nada suara yang sedikit menggoda.

Cia menoleh, menatap Aksa dengan tatapan menantang. "Tentu!" jawabnya singkat, namun penuh keyakinan. Matanya memancarkan semangat kompetisi yang membuat Aksa semakin tertarik padanya.

"Benarkah? Tapi gue kok ragu ya?" balas Aksa, dengan senyum yang semakin lebar. Ia sengaja memancing Cia untuk menunjukkan kemampuannya. Ia ingin melihat sisi lain dari gadis bar-bar ini.

Cia mendengus kesal, merasa diremehkan oleh Aksa. "Ck! Ayo kita tanding one by one! Siapa yang menang, bisa mengajukan satu permintaan apa aja. Yang kalah wajib memenuhinya!" tantang Cia, dengan nada suara yang meninggi. Tangannya mengepal, siap untuk membuktikan bahwa ia tak hanya jago berkelahi, tapi juga jago bermain basket.

"Kau yakin?" tanya Aksa, dengan senyum penuh arti. Matanya menatap Cia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Ya, yakin lah! Dalam kamus Cia nggak ada kata mundur!" jawab Cia tegas. Ia memasang kuda-kuda, siap untuk bertanding. Matanya menatap Aksa dengan tatapan penuh keyakinan.

"Oke! Tapi janji ya, siapapun pemenangnya nanti, wajib memenuhi permintaan si pemenang tanpa protes," ucap Aksa, memastikan kesepakatan mereka. Ia tak ingin Cia mengelak jika ia kalah nanti. Ia ingin Cia memenuhi janjinya, apapun permintaannya.

"Iya, bawel!" ujar Cia dengan nada jengkel. Ia sudah tak sabar untuk membungkam mulut Aksa dengan kemampuannya bermain basket. Ia membayangkan bagaimana ekspresi terkejut Aksa saat ia mengalahkannya.

Dalam hati, mereka masing-masing sudah mempersiapkan permintaan. Cia berharap jika ia menang, ia ingin Aksa tidak lagi kepo dengan kehidupannya. Ia ingin Aksa berhenti mengganggunya dan membiarkannya hidup tenang. Ia ingin Aksa menjauh darinya.

Sedangkan Aksa, ia ingin Cia menjadi kekasihnya. Ia ingin Cia mengakui perasaannya dan membuka hatinya untuknya. Ia ingin Cia menjadi miliknya.

Keduanya bersiap di lapangan basket. Para anggota The Mavericks, yang merasa bosan dengan keheningan di markas, ikut antusias menyaksikan pertandingan mereka. Sorak sorai dan teriakan dukungan menggema di seluruh markas. "Go Cia! Go Aksa!" teriak mereka dengan semangat.

Monica, yang sedari tadi memperhatikan Cia dengan tatapan sinis, juga ikut memberikan dukungan pada Aksa. Namun, dukungannya lebih didasari oleh rasa benci dan cemburu pada Cia. Ia berharap Aksa menang dan mempermalukan Cia di depan semua orang. Ia ingin Cia tahu bahwa ia tak pantas untuk Aksa.

Vano dan Varo, yang tak ingin ketinggalan keseruan, memberikan dukungan penuh pada Cia. Mereka yakin Cia akan menang karena mereka tahu Cia sangat jago bermain basket. Mereka sering berlatih bersama di mansion, dan Cia selalu menunjukkan kemampuan terbaiknya. "Semangat, Cia! Tunjukkan pada mereka siapa yang terbaik!" teriak Varo, dengan nada penuh semangat.

Pertandingan dimulai dengan sengit. Cia dan Aksa saling menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Cia dengan kelincahan dan kecepatannya, Aksa dengan kekuatan dan akurasinya. Keduanya saling mencetak skor, membuat pertandingan semakin menegangkan. Sorak sorai penonton semakin riuh, menambah semangat bagi kedua pemain.

Cia melakukan dribble bola dengan lincah, melewati hadangan Aksa dengan mudah. Ia melompat tinggi dan melakukan lay-up yang sempurna. Bola masuk ke dalam keranjang, menambah satu poin untuknya.

"Yes!" teriak Cia, dengan nada penuh kemenangan.

Aksa tak mau kalah. Ia merebut bola dari Cia dan berlari menuju keranjang. Ia melompat tinggi dan melakukan slam dunk yang memukau. Bola masuk dengan keras, membuat keranjang bergetar.

"Wooo!" teriak para penonton, kagum dengan kemampuan Aksa.

Monica tersenyum sinis, merasa senang karena Aksa kini terlihat unggul. "Aksa memang yang terbaik!" gumamnya dalam hati.

Namun, pada akhirnya, Aksa berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis. Ia mencetak skor terakhir dengan tembakan tiga angka yang memukau. Bola meluncur mulus ke dalam keranjang, membuat para penonton bersorak kegirangan.

Aksa tersenyum lebar, puas dengan kemenangannya. Ia menatap Cia dengan tatapan penuh kemenangan.

"Gimana, Cia? Lo siap?" godanya, dengan nada mengejek.

Cia hanya bisa pasrah. Ia membuang muka kesal merasa kecewa dengan kekalahannya. Ia berharap Aksa tidak meminta yang macam-macam. Ia sedikit panik Aksa akan memintanya melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. "Terserah lo deh," jawabnya lesu sambil mengelap keringatnya dengan kasar.

Namun, saat Aksa hendak membuka mulut untuk mengungkapkan permintaannya, tiba-tiba Cia malah teringat jika sekarang sudah sore dan ia harus segera pulang sebelum mamanya mengamuk. Ia melirik jam tangannya dan terkejut. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore! Mamanya pasti sudah menunggu mereka di depan mansion.

"Gue duluan ya!" teriak Cia, dengan nada panik. Ia gegas berlari mengambil jaket dan tasnya, lalu berlari ke arah motornya yang terparkir di depan markas.

Vano dan Varo, yang juga baru menyadari jika mereka dalam masalah besar sekarang, ikut mengejar Cia. "Cia, tunggu!" teriak Vano, dengan nada khawatir.

Aksa hanya bisa menatap punggung ketiganya itu dengan sedikit rasa kecewa. Ia tak menyangka Cia akan melarikan diri seperti ini. Ia menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Dasar gadis nakal," gumamnya lirih, tapi senyum gemas menghiasi bibirnya.

Namun, ia tak menyerah. Ia akan mencobanya lain waktu. Ia akan menagih janji Cia esok hari iya yakin Cia tak dapat mengelak lagi. Dan Cia akan menjadi miliknya. Ia tersenyum tipis, membayangkan saat-saat indah yang akan mereka lalui bersama.

Di tengah kekacauan itu, Bayu datang membawa nampan berisi snack dan minuman kaleng dingin. Ia menatap Aksa dengan tatapan bingung. "Ketua, ini snack dan minumannya. Tapi ... pada kemana semua?" tanya Bayu, garuk-garuk kepala.

Aksa menghela napas panjang. "Kau telat, Bay!" jawab Aksa lesu. Ia mengambil satu kaleng minuman dan membukanya. Ia meneguknya hingga tandas, berharap bisa menghilangkan rasa kecewanya. Ia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi oranye.

Monica, yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, tersenyum sinis. "Dasar gadis pengecut!" gumamnya dalam hati. Ia merasa senang karena Cia tak bisa memenuhi tantangan Aksa. Ia berharap Aksa akan segera melupakan Cia. Ia akan melakukan segala cara untuk merebut perhatian Aksa dan membuatnya mencintainya. Ia tak akan membiarkan Cia merebut Aksa darinya.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
heh jalang kenapa kamu harus sewot? kan kamu ga harus bayar makanan mereka, kamu kalau ga tahu kebenarannya, sudah jangan cari masalah
Dwie Artum
owk g up lg kk.dh lma q tunggu
Dwie Artum: y kk.q tunggu y kk🙏🙏
total 2 replies
Ariany Sudjana
owh papa viona hanya asisten CEO? baru begitu saja sudah sombong, berarti kalah kelas dong dibanding anak-anak owner 😄
Azizah Sby
seneng dgn novel kyk bgini ank muda pinter .dan berjiwa ksatria... ada bumbu cinta dan deg degan Dlm mnjlnkn misi . good author
Tri Rahayuningsih
kesel jg jadi ratu ya...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
Dwie Artum
jangan lma" up nya kk.lgi seru"nya ini.
Dwie Artum
double upny kk.🙏🙏
Tri Rahayuningsih
pria bertopeng itu pasti Aksa..
waah mereka emang berjodoh ya😄
riniandara
siap
riniandara
siap Kak!
Dwie Artum
lanjut lg kk🙏🙏
Muft Smoker
lanjuut kaaak ,,
Muft Smoker
dtggu next episode ny yx ,,
Muft Smoker
dtggu next episode ny kak author ,,. sehat2 selalu
Muft Smoker
dtggu next bab ny yx kak, ,,
suka banget ma story ny kk
Muft Smoker
gx usah di ladenin cia ,, yg km hadapi cuma segerombolan ondel2 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
beda level sama km
Muft Smoker
waah waah ad yg cemburu nii ,,
🤭🤭

kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,
Surya
ya Thor lebih tegas lagi Cianya
Surya
lanjut kak keren banget ceritanya
Juli Restiarini
lanjutnya jangan lama2 lgi seru ni
riniandara: mohon maaf belum bisa up rutin karena, author lagi berduka ayah author meninggal dunia.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!