Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Satu minggu terasa seperti satu tahun bagi Kayla. Setiap pagi, ia sudah keluar dengan map lusuh berisi fotokopi ijazah SMP-nya. Setiap siang, ia pulang dengan langkah lebih berat dari sebelumnya. Setiap sore, ia menenangkan diri dengan menyapu kontrakan kecilnya sambil menahan tangis agar adik-adiknya tidak melihat kelemahannya.
Kayla sudah mendatangi belasan tempat. Rumah makan, kedai kopi, toko pakaian, minimarket, hingga laundry kecil di ujung gang. Sebagian menatapnya dari ujung rambut hingga kaki, bukan dengan niat menilai kemampuan, tetapi menilai rupa.
“Ada pengalaman kerja?” tanya seorang pemilik warung dengan suara datar.
Kayla menggeleng pelan.
“Kalau begitu susah, Mbak.”
Kalimat itu terus berputar di kepala Kayla. Selalu saja soal lulusan, gelar sarjana, dan pengalaman kerja yang menjadi penghalang.
Hingga suatu pagi, saat mentari baru naik, Kayla berhenti di depan sebuah rumah makan sederhana, tetapi ramai pembeli. Spanduk besar bertuliskan “Butuh Pelayan” terpasang di kaca depan.
Napas Kayla tertahan sejenak. Ia masuk dengan ragu, jantung berdegup kencang.
Pemilik rumah makan, seorang ibu paruh baya bernama Bu Ratna, menatap Kayla dari balik etalase.
“Cari kerja?” tanya Bu Ratna tersenyum manis.
“I-iya, Bu,” jawab Kayla, suaranya sedikit bergetar. “Aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak dan mencuci piring, aku bisa. Jika Ibu memerlukan batuan tenaga, insya Allah, aku siap. ”
Bu Ratna mengamati wajah Kayla beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada kecantikan alami di sana, tetapi lebih dari itu, ada kesopanan dalam caranya berdiri, caranya berbicara.
“Kamu bisa melayani pelanggan? Ramah? Cepat tanggap?” tanya Bu Ratna.
Kayla mengangguk mantap. “InsyaAllah bisa, Bu. Aku akan berusaha.”
Entah mengapa, ada keyakinan di mata Kayla yang membuat Bu Ratna tergerak.
“Baik. Kamu coba dulu seminggu. Kalau cocok, kita lanjut.”
Dada Kayla terasa seperti akan meledak. “Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak,” ucapnya dengan suara bergetar, hampir menangis.
Hari pertama bekerja, Kayla pulang dengan kaki pegal, tetapi senyum tidak lepas dari bibirnya. Gajinya memang tidak besar. Jauh dari cukup untuk hidup nyaman. Namun, bagi Kayla, itu terasa seperti anugerah yang tak ternilai.
Sebelum berangkat kerja, Kayla tetap bangun lebih pagi. Menyiapkan sarapan sederhana untuk adik-adiknya, membangunkan mereka dengan lembut, membantu Nayla mengikat rambutnya, dan memastikan Fattan serta Fattah berpakaian rapi.
“Kak Kayla pulang cepat, kan?” tanya Nayla sambil memeluk pinggangnya.
“Iya, Nayla. Nanti malam kita belajar lagi, ya?” jawab Kayla sambil mengecup kening adiknya.
“Kakak, bekerja yang semangat, ya! Jangan buat bos marah,” celetuk Fattan.
“Kak Kayla itu orang hebat, pastinya bekerja selalu benar," timpal Fattah dengan penuh bangga.
Kayla terharu mendengar perkataan adik-adiknya. Mereka tidak tahu seberapa kotor dirinya, dahulu. Jangankan kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri dia menyembunyikan pekerjaan yang pernah menjadi psk.
Setelah pulang kerja, meski tubuhnya letih, Kayla tetap duduk di lantai bersama mereka, membantu mengerjakan PR, mengeja huruf bersama Nayla, dan menjelaskan pelajaran matematika sederhana kepada si kembar.
Di sela-sela rutinitas itu, Kayla menemukan ketenangan baru. Setiap malam, setelah adik-adiknya tertidur, ia membuka buku-buku keagamaan bekas yang dibeli dari toko loak. Ia juga mendengarkan ceramah dari ponselnya, air matanya sering menetes tanpa sadar.
“Ya Allah, semoga pintu taubat terbuka lebar untukku. Dan Engkau mengampuni semua dosa-dosaku.”
Beberapa kali seminggu, ia berjalan kaki ke masjid dekat kontrakan untuk mengikuti pengajian. Duduk di saf belakang, mengenakan pakaian tertutup yang ia punya, ia mendengarkan dengan hati bergetar. Ada rasa damai yang perlahan menyelimuti jiwanya.
Semakin Kayla belajar, semakin ia sadar betapa jauh dirinya dari versi Kayla yang dulu. Rasa sedih sering menyelimuti dirinya karena sudah melalukan hal-hal yang dilarang oleh agama.
Suatu malam, setelah pulang dari pengajian, Kayla berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Ia memandang lemari pakaiannya. Gaun-gaun ketat, dress terbuka, dan pakaian mencolok yang dulu menjadi bagian dari hidupnya tersusun di sana.
Tangannya gemetar. Air mata mengalir tanpa suara. Satu per satu, ia mengeluarkan pakaian itu, membawanya ke halaman kecil belakang kontrakan.
“Aku harus melakukan ini.”
Korek api menyala. Kayla pun melemparkan ke tumpukan kain itu. Api perlahan menjilat kain, menghitamkan masa lalunya.
Kayla terisak, bukan karena menyesal membakar pakaiannya, tetapi karena ia merasa seperti membakar bagian tergelap dalam hidupnya.
Sejak hari itu, Kayla mulai berpakaian lebih tertutup. Dia sekarang memakai celana panjang, kemeja longgar, dan jaket tipis bila keluar rumah. Ia ingin berjilbab, tetapi belum punya uang untuk membeli gamis dan jilbab yang layak.
“Suatu hari aku akan memakainya,” gumam Kayla pada diri sendiri.
***
Tiga bulan berlalu....
Kayla bekerja dengan rajin. Pelanggan menyukainya karena sikapnya sopan, senyumnya hangat, dan cara bicaranya yang santun. Rumah makan itu semakin ramai, sebagian karena kehadirannya.
Namun, tidak semua orang datang dengan niat baik. Seorang pria kaya dan terkenal, Pak Danu, sering mampir hampir setiap hari. Dia selalu datang di jam makan siang.
Pak Danu akan duduk di meja yang sama, memesan makanan yang sama, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Kayla. Tatapan yang membuat Kayla tidak nyaman.
Suatu siang, saat rumah makan sedang penuh, Kayla membawa pesanan ke meja Pak Danu.
“Silakan, Pak,” kata Kayla singkat, berusaha profesional.
Saat ia berbalik, tiba-tiba—
Plak!
Sebuah tangan kasar meremas pantatnya.
Kayla terkejut, tubuhnya menegang. Darahnya mendidih. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan menampar wajah pria itu sekuat tenaga.
Plak!
“Jaga tangan Bapak!” seru Kayla dengan suara bergetar, bukan karena takut, tetapi karena marah.
Pak Danu berdiri, wajahnya merah. “Berani kamu memukul saya?! Kamu tahu siapa saya?!”
Seluruh pengunjung di ruangan itu menoleh ke arah meja itu. Mereka penasaran apa yang sudah terjadi.
Beberapa rekan kerja Kayla langsung berlari mendekat. Mereka melindungi Kayla.
“Ada apa ini?” tanya pria paruh baya yang duduk membelakangi meja Pak Danu.
“Wanita itu sudah melakukan kekerasan!” ucap Pak Danu sambil menunjuk ke arah Kayla.
“Pak, Bapak yang salah duluan!” ujar Rini, salah satu pelayan, melakukan pembelaan terhadap Kayla.
“Iya, kami semua lihat!” tambah Dimas, pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja Pak Danu dan melihat kejadian tadi.
“Seharusnya pelayan itu memberikan pelayanana terbaik untuk pelanggan,” kata Pak Danu sewot. Dia menunjukan sifat arogan dan merasa tak bersalah.
Orang-orang di sana menatap kepada Pak Danu. Namun, dia tidak peduli.
“Wanita itu harus minta maaf sama aku. Kalau tidak ... aku akan melaporkannya ke polisi.” Pak Danu malah mengancam akan melaporkan rumah makan itu atas tuduhan penganiayaan dan pencemaran nama baik.
Tak lama kemudian, Bu Ratna memanggil Kayla ke ruang belakang. Wajahnya tampak dilema.
“Kayla ... Ibu tahu kamu benar. Semua karyawan tahu kamu benar,” kata wanita paruh baya itu pelan.
Kayla menunduk, menggenggam ujung celemeknya.
“Tapi, orang itu punya pengaruh besar. Kalau dia melapor, rumah makan ini bisa hancur,” lanjut Bu Ratna dengan suara berat.
Hati Kayla mencelos. “Jadi, apa yang harus aku lakukan, Bu?” tanyanya lirih.
up LG Thor