Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Surat yang Tak Bisa Ditolak
Pagi itu, langit Bandung menggantung rendah, kelabu, seolah ikut menyimpan amarah yang tak terucap. Arga baru saja selesai mengenakan jas kerjanya ketika bel rumah berbunyi. Suaranya pendek, datar, namun entah mengapa membuat dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
Ia melirik jam di pergelangan tangan. Masih terlalu pagi untuk tamu. Maya belum datang—dan sejujurnya, akhir-akhir ini Arga justru menghindari kehadirannya. Ada perasaan tidak nyaman yang terus menggerogoti, seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun ia melangkah.
Bel berbunyi lagi. Kali ini lebih lama.
Arga melangkah ke pintu dan membukanya dengan gerakan sedikit kasar. Di hadapannya berdiri seorang pria muda mengenakan jaket kurir berwarna cokelat tua, membawa map besar berlogo pengadilan.
“Selamat pagi, Pak Arga Pratama?” tanya pria itu dengan suara formal.
“Iya. Saya sendiri. Ada apa?” jawab Arga, nadanya dingin.
Kurir itu mengeluarkan sebuah amplop tebal bersegel resmi. “Saya mengantarkan surat panggilan dan gugatan dari Pengadilan Agama Bandung. Mohon ditandatangani sebagai bukti penerimaan.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Arga menatap amplop itu lama, terlalu lama, seolah berharap tulisan di sana berubah atau lenyap dengan sendirinya. Matanya membaca cepat nama penggugat yang tercetak jelas di sudut kanan atas.
Rania Putri Wijaya.
“Tunggu,” ucap Arga tajam. “Ini pasti salah. Istri saya tidak akan—”
“Mohon maaf, Pak,” potong kurir itu dengan sopan namun tegas. “Saya hanya menjalankan tugas. Jika Bapak menolak menerima, saya tetap akan mencatat bahwa surat telah disampaikan.”
Tangan Arga gemetar ketika akhirnya meraih pena dan menandatangani kolom penerimaan. Dadanya naik turun, napasnya berat. Begitu kurir itu pergi, pintu ditutup keras hingga terdengar gema di dalam rumah yang terasa mendadak asing.
Arga berdiri terpaku di ruang tamu. Perlahan, ia membuka amplop itu. Setiap lembar yang ia baca terasa seperti tamparan.
Gugatan cerai.
Alasan-alasan yang disusun rapi.
Tanggal sidang pertama.
Dan nama kuasa hukum Rania—Pak Haryanto.
“Tidak mungkin…” gumam Arga. “Dia tidak mungkin berani sejauh ini.”
Tangannya mengepal. Amarah yang selama ini ia tekan kini meledak tanpa kendali. Ia membanting map itu ke meja, membuat gelas kopi terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Namun rasa sakit di dadanya jauh lebih parah dari serpihan kaca mana pun.
Rania tidak hanya menggugat cerai.
Ia melakukannya dengan resmi.
Dengan persiapan.
Dengan keyakinan penuh.
Ini bukan gertakan. Ini perang.
Tanpa berpikir panjang, Arga meraih ponselnya dan menekan nomor Rania. Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali. Lalu terputus.
Ia mencoba lagi. Tidak diangkat.
“Rania, angkat!” bentaknya pada layar kosong.
Pesan singkat ia ketik dengan cepat.
Kita harus bicara. Sekarang.
Pesan itu terkirim, namun tak kunjung dibalas.
Amarah Arga berubah menjadi kepanikan. Ia mengambil kunci mobil, keluar rumah tanpa sempat merapikan pecahan kaca di lantai. Mesin mobil dinyalakan dengan kasar, dan dalam hitungan menit, ia sudah melaju menuju rumah Rania.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi satu hal: ia harus menghentikan ini. Apa pun caranya.
Hujan mulai turun lagi ketika Arga tiba di depan rumah Rania. Rumah besar itu tampak tenang, terlalu tenang, seolah tidak peduli dengan kekacauan yang sedang mengamuk di dalam dirinya.
Ia memarkir mobil sembarangan dan berjalan cepat ke pintu depan. Bel ditekan berkali-kali, lebih seperti pukulan daripada permintaan.
Tak lama, pintu terbuka—bukan oleh Rania, melainkan oleh seorang asisten rumah tangga yang wajahnya terlihat ragu.
“Bu Rania tidak menerima tamu, Pak,” ucapnya pelan.
“Suruh dia keluar. Sekarang,” kata Arga, berusaha menahan nada suaranya namun gagal menyembunyikan kemarahan.
Asisten itu menelan ludah. “Maaf, Pak. Bu Rania berpesan… jika Bapak datang, beliau tidak ingin bertemu.”
Arga tertawa pendek, sinis. “Ini rumah saya juga. Katakan padanya, saya suaminya.”
“Pak,” suara itu sedikit bergetar, “Bu Rania sudah memberikan instruksi tegas. Saya tidak bisa melanggarnya.”
Arga mendorong pintu lebih lebar, namun langkahnya terhenti ketika dua petugas keamanan keluarga Rania muncul dari samping rumah. Wajah mereka serius, tubuh mereka membentuk penghalang yang tak bisa ia tembus.
“Silakan pulang, Pak Arga,” ujar salah satu dari mereka dengan suara rendah namun penuh wibawa. “Ibu Rania tidak ingin bertemu.”
“Dia tidak bisa melakukan ini!” teriak Arga. “Dia tidak bisa menceraikan saya begitu saja!”
Dari lantai atas, di balik tirai jendela yang sedikit terbuka, Rania berdiri diam. Ia melihat semuanya—wajah Arga yang merah karena marah, gerak tubuhnya yang gelisah, dan kepanikan yang kini tak bisa ia sembunyikan.
Namun hatinya tetap tenang.
Tangannya menggenggam ponsel, dan ia menekan satu pesan singkat yang telah ia siapkan sejak pagi.
Kita tidak perlu bertemu. Semua akan dibicarakan melalui pengadilan dan kuasa hukum. Tolong hormati keputusan saya.
Pesan itu terkirim tepat ketika Arga kembali meraih ponselnya. Ia membacanya, dan wajahnya berubah drastis. Amarahnya runtuh, digantikan ekspresi tak percaya.
“Kamu pengecut, Rania!” teriaknya ke arah rumah. “Sembunyi di balik pengacara dan pengadilan!”
Namun tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Tidak ada pergerakan.
Hanya hujan yang semakin deras.
Di dalam rumah, Rania menutup tirai jendela dengan tangan yang mantap. Dadanya terasa sesak, namun bukan karena ragu—melainkan karena ia akhirnya benar-benar melepaskan sesuatu yang selama ini membebaninya.
Ia tahu, menghadapi Arga secara langsung hanya akan membuka luka lama dan memberi ruang manipulasi. Ia tidak lagi ingin mendengar pembelaan palsu, janji kosong, atau kemarahan yang dibungkus penyesalan semu.
Keputusan sudah diambil.
Bukti sudah disiapkan.
Langkah sudah ditentukan.
Di luar, Arga berdiri lama sebelum akhirnya kembali ke mobilnya. Tangannya menghantam setir berkali-kali, napasnya berat, pikirannya kacau. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan:
Rania tidak lagi berada dalam genggamannya.
Dan kali ini, ia tidak bisa memaksa.
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan genangan air dan kemarahan yang tak tersalurkan. Sementara di dalam rumah yang kembali sunyi, Rania duduk perlahan di kursi dekat jendela, memejamkan mata, dan menghela napas panjang.
Ini menyakitkan.
Tapi ini perlu.
Bab baru telah dimulai—dan tidak ada jalan untuk kembali.