Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 9
"Berani kau membawanya ke rumah sakit maka aku pastikan akan ku patahkan kedua kakimu!" ancam Bima.
"Lalu apa anda akan membiarkan ibuku kesakitan seperti ini karena ulah mu! Jika memang Anda tak mau pihak ruang sakit tahu kelakuan anda dan melaporkan kepada polisi, panggil dokter kesini! Kalau tidak aku akan benar-benar nekad membawa ibuku ke rumah sakit!" emosi Aruna menebak yang ada dalam pikiran Bima.
Bima akhirnya segera menghubungi dokter untuk datang ke rumahnya segera dan mengatakan keadaan istrinya yang mengalami keguguran. Dia juga terlihat sangat panik saat melihat wajah Mutiara semakin pucat.
"Sudah ku katakan jadilah wanita yang menurut padaku maka aku tak akan menyakitimu seperti ini!" tegas Bima berdiri di depan Mutiara dengan sombongnya.
"Tak usah mencari alasan! Anda menyakiti kami dengan alasan yang di buat-buat, bahkan sampai saat ini Anda tak bisa membuktikan tuduhanmu kepada ibu. Apa susahnya anda katakan jika tak menginginkan saya sebagai anak. Tinggal usir saya tanpa harus menyakiti ibu seperti ini. Bukan salah ibu jika dia harus melahirkan anak pertama perempuan. Tidak seperti yang anda inginkan. Jika alasan Anda memiliki wanita lain tinggal lepaskan ibu. Kenapa anda malah menyik-sa kami seperti bina-tang untuk menutupi kesalahan Anda sendiri! Bahkan bina-tang saja tak pernah menyiksa anaknya sendiri!", tatapan Aruna semakin tajam dan berani kepada Bima.
Aruna menggenggam tangan ibunya dengan erat. Hanya ibunya yang dia miliki saat ini, hanya dia yang membuatnya bertahan sampai sejauh ini. Mereka harus bisa keluar dari neraka ini bersama-sama dan hidup bahagia setelahnya.
"Bu ..." panggil Aruna mengusap kening ibunya yang penuh dengan keringat.
"Ibu baik-baik saja Nak!" jawab Mutiara tersenyum.
Melihat ketegaran ibunya membuat Aruna tak kuasa menahan air matanya dan menciumi tangan ibunya dengan penuh kasih dan harapan yang sangat besar untuk kesembuhannya. Wajah Mutiara semakin pucat dan cairan merah semakin banyak keluar bahkan sampai merembes ke tempat tidur. Aruna dan Bi Asih sudah mencoba untuk menekan penda-/rahan.
Namun nyatanya malah semakin banyak, di depannya Bima terlihat menatap istrinya yang bahkan malah tersenyum ke arah dirinya. Bukan senyuman manis maupun penuh cinta. Tapi senyum kebencian dan penuh dendam kepada suaminya. Tubuh Bima terasa kaku, di saat seperti ini malah kebencian yang ada di dalam diri istrinya. Sejujurnya Bima sangat mencintai Mutiara. Tapi entah mengapa dia malah menyik-sanya seperti ini. Sisi lain dalam dirinya yang egois mengatakan jika ini adalah balasan yang setimpal untuk istrinya.
"Tuan, dokternya mana? Bu Mutiara sudah mengalami penda-/rahan hebat. Kalau memang dokter tidak bisa ke sini lebih baik kita ke rumah sakit saja," Bi Asih panik.
"Saya baik-baik saja Bi, jangan terlalu mengkhawatirkan saya," jawab Mutiara lemah.
"Tapi Bu, ini ..." Bi Asih sudah menangis tak bisa menahan rasa sedih dalam dirinya.
Melihat keadaan Mutiara seperti ini, wanita yang selalu bersikap baik kepadanya selama belasan tahun dia bekerja di rumah ini. Dia tahu apa yang akan terjadi jika sampai Mutiara telat mendapatkan tindakan. Bi Asih menatap ke arah Aruna yang sedari tadi mencoba untuk menghentikan pendarahan ibunya. Gadis kecil itu tidak patah semangat untuk membantu ibunya. Walau dia sadar semua usahanya sia-sia, karena cairan merah itu tidak mau berhenti.
Semuanya diperparah dengan pukulan bertubi-tubi sebelumnya didapatkan dari Bima. Mungkin hal itulah yang memicu ibunya mengalami penda-/rahan hebat seperti ini. Tak lama dokter datang dan melakukan tindakan medis untuk Mutiara. Bima masih berdiri kaku di tempatnya, tak ada kata yang terucap. Tatapannya kosong ke arah istrinya yang sudah tidak berdaya.
Aruna tetap berada di samping ibunya, menggenggam tangan ibunya memberi kekuatan. Agar wanita itu tetap kuat, dan berada di sampingnya sampai nanti mereka bisa keluar dari neraka ini. Dokter dan perawat kewalahan untuk menangani penda-/rahan yang terus terjadi.
"Pak, sepertinya kita harus segera membawa pasien ke rumah sakit. Jika di rumah sakit adalah alat yang bisa membantu kami, di sini kami tidak memiliki alat apapun. Jalan satu-satunya adalah membawa pasien ke rumah sakit sebelum terlambat. Apalagi cairan merah yang keluar sangat banyak. Saya juga tak membawa stok da-/ah. Karena tidak tahu juga golongan da-/rah istri anda!" dokter meminta izin kepada Bima belum lagi melihat tanda-tanda ke-ke-ra-san di dalam tubuh Mutiara membuat mereka semakin khawatir.
"Tak boleh ada yang membawanya keluar dari dalam rumah ini! Lakukan apakah yang bisa kamu lakukan di sini. Kau butuh alat apa akan kubawakan!" jawab Bima yang tetap pada pendiriannya tidak mau membawa Mutiara ke rumah sakit.
Bima tak mau kejahatannya diketahui oleh semua orang. Padahal yang dilakukan di kantor kepada Aruna diketahui banyak orang, akan tetapi di kantor berbeda. Mereka semua akan bongkar karena takut dipecat oleh Bima. Lain hal dengan pihak rumah sakit yang pastinya akan langsung melaporkannya kejadian yang menimpa Mutiara ke kantor polisi. Dia tak mau reputasinya hancur karena hal itu.
"Saya baik-baik saja Dok! Lakukan saja sebisa anda!" jawab Mutiara lirih.
Bima menatap tak rela mendengar jawaban istrinya. Bibirnya bahkan sudah sangat pucat. Apa dia merasa bersalah dengan yang sudah di lakukannya kepada Mutiara saat ini? Entahlah, hanya dia yang tahu. Kakinya mulai melangkah mendekat ke arah sang istri. Memastikan jika dia baik-baik saja. Apa itu cukup untuk menebus segala dosa yang sudah dia lakukan? Tentu saja tidak sama sekali.
Mutiara bahkan memalingkan wajahnya saat tak sengaja tatapan mereka bertemu. Dia lebih memilih menenangkan anaknya yang terus menangis di sebelahnya. Aruna akhinya tak bisa menahan air matanya. Dia masihlah anak kecil, sekuat apapun dia menghadapi takdir hidupnya. Dia masih anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Walau dia sudah di paksa dari umur lima tahun menjadi tangguh. Tetap saja sisi anak kecilnya tak akan tahan saat melihat sang ibu dalam keadaan seperti ini. Wanita yang menjadi sumber kekuatannya saat ini harus terbaring lemah. Bahkan mungkin melihat keadaannya yang seperti ini, nyawanya tak akan bisa tertolong.
Mengharap kepada ayahnya untuk menolong sang ibu agar selamat? Sepertinya tidaklah mungkin. Buktinya dia menentang saat akan membawanya ke rumah sakit, karena takut ketahuan semua yang di lakukannya kepada mereka. Sungguh miris nasib mereka, bersama dengan orang yang salah. Orang yang malah memberikan luka mendalam selama hidup bersama.
Neraka di balik rumah mewah nan megah. Tak seindah rumah mereka yang terlihat oleh orang luar. Keindahan yang menyimpan kebusukan di dalamnya. Penuh luka dan air mata bahkan setiap hari harus menahan sakit karena cam-bukan dan pukulan. Makian sudah biasa di dengar setiap saat, mungkinkah mental mereka masih baik-baik saja? Siapa yang akan menjamin. Apalagi untuk Aruna.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/